
Tak butuh waktu lama, hanya dalam sebulan saja Tristan berhasil mengubah diriku kembali seperti yang dulu dia kenal. Aku kembali menata hati kembali, bangkit dari segala keterpurukan ku dan kembali memulai perlahan aktifitas ku yang tertunda lama di kampus. Meski aku harus mengejar banyak yang sudah tertinggal jauh baik di kampus maupun profesiku sebagai guru.
Aku mencoba beranikan diri mendaftar sebagai guru sekolah dasar, meski aku ragu akan di terima. Tapi. . . sepertinya, Tuhan sedang memberikan satu kesempatan untuk ku kali ini atau. . . ini hanya suatu keberuntungan ku. Aku bisa di terima di sekolah dasar sebagai guru IPA, hahaha aku bahkan belum punyai skill yang lebih di mata pelajaran itu. Tapi aku akan mencobanya dulu demi masa depan. . .
Ayah dan ibu sangat bahagia mengetahui hal ini, bahkan Tristan pun ikut berbangga. Karena dia lah orang pertama yang ku beri kabar. . . Kami semakin dekat saja, bahkan sepertinya di hati ini. . . kembali tumbuh benih-benih cinta yang entah sejak kapan aku masih berusaha menepisnya jauh-jauh. Aku tidak ingin Tristan tau hal ini, aku takut dia merasa risih kemudian jijik berdekatan dengan wanita yang sudah hancur dan tak suci lagi seperti ku.
Meski. . . aku bisa membaca setiap bahasa tubuh Tristan mendekatiku, dihatinya. . . dia mulai jatuh cinta pada ku, tapi mungkin sudah sejak lama lebih dari ku tapi tak pernah sedikitpun dia berani mengungkapkannya padaku.
POV AMMAR
Wanita gila, brengsek. . . aaaaaarght. Kau memang gila Siska, semua gara-gara kau. Fanny akhirnya memilih putus dengan ku. . . padahal baru saja aku ingin melamarnya jadi istriku.
Ammar terus memaki dalam hati nya, dan berniat menemui Siska setelah ini.
Dia raih ponselnya lalu menelpon nomor Siska dengan amarah yang memuncak.
** **Halo Tama, akhirnya kau mau menelpon ku lagi aku senang sekali.
Kau. . . kau dimana****?
Ammar berusaha menahan amarah nya dahulu.
****Aku sedang makan di restoran X bersama teman-teman ku.
Baiklah tunggu aku, aku segera menyusul****.
Klik !!! panggilan telepon nya dia akhiri. Kemudian melajukan mobilnya lebih cepat lagi. . .
Tiba di restoran yang di tuju, Ammar bergegas turun untuk segera masuk dan menemui Siska.
Tampak Ammar melihat sekeliling mencari sosok Siska yang kemudian melambaikan tangannya di pojok ruangan.
Dengan langkah tergesa-gesa Ammar menghampiri Siska yang sudah duduk santai bersama 3 orang teman nya.
" Siska, bisa kita bicara di mobil sebentar??? " Sapa Ammar kemudian.
3 orang teman wanita Siska tampak kebingungan melihat sikap Ammar.
" Apa kau tidak merindukan ku, ayo lah duduk dulu. Oiya temen-temen ini Tama. Calon suami gue " ucap nya dengan genit merangkul lengan Ammar dan memperkenalkannya pada ketiga temannya itu.
Ammar menepis tangan Siska begitu saja, tapi sikap Siska semakin menggila dan mencium pipi Ammar seketika. Sontak membuat Ammar terkejut dan ketiga teman Siska menyeru melihat nya.
" Siska. . . kau " Ammar mulai membentaknya.
__ADS_1
" Aku tau, kau ingin ini kan??? sampai marah begitu, karena kau sudah lama tidak merasakan belaian ku. . . "
Ucap siska memeluk lengan Ammar kembali.
" Siska, kau jangan gila " Ucap Ammar dengan nada marah lalu menarik paksa tangan Siska di bawanya hingga keluar dari restoran hingga sampai di mobil Ammar, siska di paksanya untuk masuk.
" Tama. . . kau, sangat kasar sekali. Sakit tau " ucap Siska sambil menepis dan merapikan rambut beserta pakaiannya.
Amma sudah menaiki mobilnya kemudian melajukannya dengan sangat cepat hingga jauh dari restoran tadi. Siska tampak kebingungan dengan terus memijit-mijit lengannya bekas cengkraman tangan Ammar tadi.
" Tama, ada apa??? kenapa kau kasar begini hah??? Dan kau. . . kau mau membawaku kemana??? " tanya siska dengan sedikit rasa takut melihat Ammar melajukan mobilnya sangat cepat.
Ammar masih terdiam tanpa kata, dan mengabaikan ucapan Siska yang berulang kali mengajaknya bicara semulai tadi.
Tiba disebuah rumah, Amamr menghentikan mobilnya di sebuah halaman yang begitu luas. Siska semakin terheran-heran. . .
" Tama, ini dimana??? "
Dengan tarikan nafas yang dalam, Ammar berusaha meredam emosinya kembali.
" Ini rumah ku, ayo kita turun "
" Apa??? kenapa tiba-tiba??? bahkan aku belum mempersiapkan apa-apa untuk bertemu orang tua mu Tama " ucap siska dengan terkejut.
Siska terdiam dengan kepala menunduk.
" katakan padaku Tama, apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? setelah apa yang ku berikan semuanya padamu. . . Bahkan kita. . . kita sudah terlanjur melakukan hubungan intim, padahal kita baru saja memulai hubungan " Ucapnya dengan suara lirih.
" Heeey, apa kau lupa Siska. Bagaimana kita memulainya??? kau yang menjebakku, kau yang memulainya lebih dulu menggodaku "
" Tapi kau menikmatinya Tama, kau bahkan selalu meminta ku untuk mengulanginya sampai kau puas " ucap Siska dengan tegas kemudian dan menatap wajah Ammar dengan geram.
Ammar terdiam sejenak, mengatupkan kedua bibirnya yang mulai gemetar karena emosinya kali ini sungguh sudah memuncak.
" Apa kau tau??? Aku hanya menjadikanmu pelarian saat itu, karena jujur. . . aku hanya tergoda oleh tubuhmu itu. Tapi aku. . . aku sudah memiliki tunangan Siska, aku sangat mencintainya. Dan wanita yang ku cintai itu yang sudah kau ceritakan semua hubungan intim kita. Dengan mudahnya mulutmu itu penuh percaya diri menceritakan semua hubungan kita padanya hingga dia memutuskan pertunangan kami begitu saja "
" Kau brengsek Tama, jadi kau hanya menjadikan ku alat pemuas nafsu mu selama ini??? tapi kenapa kau berjanji pada kedua orangtua ku untuk menikahiku? " jawab siska dengan tangisan yang mulai mengalir di pipinya.
" Lalu aku bisa apa setelah sikap baikmu dan orang tua mu pada ku? aku tidak bisa mengecewakan mereka secara langsung " Jawab Tama dengan tegas tanpa rasa bersalah.
" Kau. . . kau laki-laki brengsek Tama, aku benci kau. Ku harap selamanya kau tidak akan bahagia, walau aku masih mencintaimu tapi jujur aku bahagia tunangan mu memilih putus dari laki-laki bejat sepertimu "
" Lalu kau apa??? kau bahkan menggodaku begitu genit. Kau pun bukan hanya sekali dengan ku melakukannya bukan??? hah??? "
__ADS_1
" Hentikan Tama, aku benci kau. . . aku benci "
Kemudian Siska turun dari mobil dan berlari keluar halaman rumah Ammar begitu saja entah kemana berlalu begitu cepat menghilang.
Ammar berteriak dalam mobilnya, dan menarik-narik rambutnya dengan satu jali jambakan. Tak sedikitpun ada niat di hatinya untuk mengejar siska atau meminta maaf padanya, meski dia sadar bahwa dia sangat kasar dan menghina Siska. Wanita yang selama ini sudah baik dan menghiburnya selama kegiatan KKN berlangsung.
Kemudian Ammar turun dari mobil dengan langkah lunglai dia hendak memasuki rumahnya yang megah itu.
Hah. . . sudah lama rasanya, aku tidak menginjakkan kaki di rumah ku sendiri semenjak aku memutuskan untuk pindah ke apartemen. Bahkan saat kegiatan KKN selesai aku tidak pulang kerumah ku, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama siska.
Sampai di depan pintu rumah, ammar menghentikan langkahnya karena terkejut dengan suara teriakan yang di sertai hentakan barang-barang yang sengaja di banting. Tanpa berpikir panjang Ammar membuka pintu dan melihat seisi ruangan sudah hancur berantakan, sementara Mama dan papa nya saling menudingkan telunjuknya pada wajah masing-masing.
" Pa, ma. . . ada. . . ap. . .pa ini??? " Tanya Ammar dengan sedikit terbata-bata menghampiri mereka.
" Nak, kemana aja kau selama ini sehingga tidak menyempatkan diri berkunjung kerumahmu sendiri??? " Ucap mama ku sambil memelukku dengan tangisan.
Aku menatap membalas pelukannya dan menatap wajah papa dengan kedua alis yang ku satukan. . .
" Ammar, maafin papa. Tapi papa. . . harus terpaksa memilih jalan ini. Tapi walau bagaimanapun kau dan adik mu tetap anak papa sampai kapan pun " ucap papa dengan kepala menunduk.
" Pa. . . apa yang di maksud oleh papa??? " Tanya ku heran sementara mama semakin saja terisak dengan tangisan yang mendera deru ku dengar. Aku ikut sakit merasakannya. . .
Kemudian perlahan mama melepas pelukan nya pada ku, dan berkata dengan terbata-bata dalam tangisan.
" Ammar, pa. . .pa. . .mu. . . sudah. . . berselingkuh di. . . belakang. . . mama. Hingga. . . wanita itu. . . kini. . . tengah hamil anak dari papamu ini "
Jeddeerrrr !!!
Ku rasakan bagai kilatan petir di siang bolong menerjang tubuh ku hingga terasa gemetar memanas hingga ubun-ubun.
" Maafkan Papa Nak, papa harus pergi. Jaga baik-baik ibu mu dan adik mu " Kemudian papa Ammar berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu sepatah kata pun dari Ammar yang mematung semulai tadi.
Mama nya kini mulai terjatuh dan duduk bersimpuh di lantai menyaksikan ini semua.
Ammar masih mematung tanpa kata menatap mama nya yang kini sudah berderai air mata tanpa henti.
Seakan tak percaya dengan semua yang terjadi, sungguh ini bagai mimpi. Kenapa seakan terjadi bersamaan dengan sengaja???
Apakah tuhan sedang menghukum ku detik ini???
Tidak. . . ini tidak adil, kenapa harus orang tuaku yang menanggungnya. . .
Kenapa Tuhan??? kenapaaaaaa???
__ADS_1