
Satu tahun berlalu. . .
Rasanya, baru kemarin aku semua kenangan masa lalu serasa membunuhku perlahan. Rasanya, baru kemarin aku bagai mayat hidup tak berarti mengurung diri menghukum diri sendiri atas semua penyesalan di masa lalu ku.
Dan kini. . . hah, aku seperti kembali terlahir dengan dunia ku yang baru. Yang tadi nya ku pikir, aku akan semakin terhina dan di campakkan. Tapi nyatanya tidak, aku masih di kelilingi oleh banyak orang yang menyayangiku dan selalu mensuport ku hingga aku kembali bangkit dari keterpurukan.
Tentang Ammar??? hah, aku sudah lupa akan semua kenangannya. Meski. . . yah, tidak secara 100%. Tapi saat ini aku sedang berusaha menata hati kembali.
Sore ini, jam kuliah ku lebih cepat berakhir dari jam biasanya. Aku bergegas keluar dari kelas hingga halaman depan ku lihat Tristan sudah menunggu ku dari kejauhan. Tanpa ku tau sebelumnya, bahwa dia akan datang menjemputku. Dia tersenyum melambaikan tangannya padaku. . . aku membalasnya dengan senyuman pula.
" hey, kenapa tidak bilang kalau mau jemput? Apa kau tidak bekerja? " sapa ku padanya.
" Aku sengaja meliburkan diri, hehe. . . aku akan mengajak mu ke suatu tempat " Jawab nya dengan senyuman sembari mengedipkan matanya pada ku.
" Cih, ada apa nih??? apa kau akan mengajakku bertemu seseorang??? hahaha ciye. . . pacar mu??? " Jawab ku meledeknya.
" Sudah lah, masuk mobil dulu. Nanti kau akan tau setelah tiba di tempat "
" Oke. . . oke. . . baik lah, kau ini. . . membuatku penasaran saja " jawab ku dengan tertawa kecut sembari masuk ke dalam mobil yang kemudian di susul oleh Tristan.
Tak banyak yang kami bicarakan selama di mobil, karena ku lihat Tristan seperti sedang gelisah sampai keringat di keningnya mulai bercucuran. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, aku ingin meledeknya tapi tak berapa lama kemudian dia memutar setir mobilnya menuju halaman parkir di sebuah restoran ternama.
Setelah itu aku dan Tristan keluar dari mobil bersamaan, dan Tristan melempar senyumnya pada ku lebih manis dari biasanya. Sehingga membuatku sedikit kikuk. . . aku tersipu malu dibuatnya.
" Yuk. . . " Ajaknya kemudian.
" Hmm. . . ku pikir kau akan mengajakku kemana, ternyata kesini. . . bilang dong kalau mau ajak aku makan malam " jawab ku dengan lesu.
Tristan hanya tersenyum menanggapi omelan ku kemudian mendorong punggung ku dari belakang untuk segera masuk ke dalam.
Tiba di dalam ruangan, ku lihat sekeliling tampak sepi. . . membuatku heran, aku tau ini restoran mahal. Tapi pengunjungnya kenapa tak satupun ada????
" Yuk duduk " ucap Tristan lagi.
__ADS_1
" Tristan, kamu yakin mau ngajak aku makan disini??? tempat ini sepi banget, apa sedang tutup atau gimana sih??? aneh tau gak, pulang aja yuk " Jawab ku dengan panik.
" Ssstttt. . . bawel, duduk saja dulu. Tempat ini udah aku booking, hehe " jawab Tristan dengan wajah menunduk, sepertinya dia sengaja mengalihkan matanya untuk tidak menatapku.
Ada apa dengannya kali ini??? Tanya ku dalam hati.
" Tristan, apa. . . ada se. . .suatu yang akan kau sampaikan padaku??? " tanya ku mulai kikuk. Bagaimana tidak, disini hanya ada aku dan dia. Di dalam ruangan besar dan megah begini, ini restoran mahal. Apa tidak buang-buang uang??? aku terus bergumam dalam hati.
" Fan, kamu boleh pesan makan dan minuman apa saja . Jangan sungkan, makan sepuasmu sampai kenyang. Hehe " jawab nya mengabaikan ucapan ku tadi.
" Tristan. . . " Ku panggil namanya dengan tegas kali ini.
Kembali Tristan menghela nafas panjang kemudian menatap wajah ku perlahan.
" Fanny, mau kah kau jadi pacar ku??? "
Degh !!! Aku tidak salah dengar kan??? Tristan. . . menembakku??? So what??? Akhirnya, yang aku takutkan dan ku hindari sudah tiba.
Aku terdiam menatapnya dengan mengatupkan kedua bibirku rapat-rapat. . . rasanya menelan ludah ku saja terasa nyangkut di tenggorokan.
" Tristan, aku baru saja keluar dari keterpurukan ku yang mendalam. Apa kau lupa hal itu??? aku masih takut memulai suatu hubungan lagi " Jawab ku menyela.
" Fanny. . . plisss. . . jangan membuatku kecewa dan terus menunggumu, aku sudah lama menahan diri untuk tidak mengungkapkannya padamu. Karena aku tidak ingin di cap sebagai lelaki yang ambil kesempatan di dalam kesempitan "
" Tapi Tristan, kau begitu baik. sangat baik, sedangkan aku. . . ah sudah lah, pantasnya kau harus mendapatkan seorang wanita yang lebih dari ku. Bukan wanita hancur sepertiku. . . " ucap ku menegaskan.
" Bagiku kau tetap wanita yang ku sukai dan ku inginkan sejak lama, bahkan sejak awal pertemuan kita aku sudah tertarik ingin menjadikanmu tambatan hatiku. plisss Fanny, jadikan aku pacar mu. Aku tidak akan menuntut banyak darimu, hanya saja. . . mau kah kau memberikan tempat untuk ku sebagai kekasihmu??? Kau masih bisa menganggapku sahabat, kau masih bisa curhat dan menjadikan ku sandaran serta pelarian dari setiap masalah dan kesusahanmu, tapi ku mohon. . . pertemanan kita terikat dalam hubungan sebagai pacar ya ? "
Oh tuhan. . . bagaimana ini??? apa yang harus ku lakukan saat ini, kenapa dia begitu menginginkan ku jadi kekasihnya. . . aku malu, aku merasa buruk dengan hal itu. Sedang dia terlalu baik. . . sangat baik. Tapi jujur, di hatiku sudah lama mulai tumbuh benih cinta. tapi aku masih ingin menolaknya, ku takut ini hanya sesaat. Tapi. . .
" Fanny. . . " Dia kembali memanggil namaku dengan tatapan lembut.
" Tristan, kau tau kita beda keyakinan bukan??? " Ucap ku mencoba mengalihkan.
__ADS_1
" Apa kau merasa risih berpacaran dengan orang yang berbeda keyakinan dengan mu??? " Tanya nya dengan ekspresi mengiba.
" Ah tidak tidak, bukan begitu maksudku. Tapi. . . "
Uuugh aku jadi merasa bersalah kan. . .
" Kalau begitu mari kita coba menjalaninya dengan ikatan pacaran " pintanya lagi dengan mengulang permintaan yang sama.
Sejenak aku terdiam. . . mencoba berpikir, tapi otak ku sedang buntu saat ini. Karena ini terlalu mendadak, meskipun aku sudah mengira sebelu.nya ini pasti akan terjadi. Hah. . . my God.
Ku lihat Tristan begitu sangat berharap bahwa usahanya selama ini akan membuahkan hasil yang indah kali ini. Mengingat semua kebaikan dan usahanya membantuku untuk bangkit dari keterpurukan, dan jujur. . . dia lah yang selalu menyadarkan ku untuk bepikir dengan tegas, bahwa hubungan yang di jalani jarak jauh dengan orang yang sudah pernah berselingkuh dari kita, tidak menutup kemungkinan sudah pasti akan mengulangnya lagi. . . haha. . . yah, ku akui itu memang benar.
Lama ku terdiam, Tristan mulai menundukkan pandangannya dari tatapan mata ku. Dan perlahan menarik genggamannya dari tangan ku semulai tadi. . .
Dengan cepat aku menahannya agar tidak lepas dari tangan ku. Dia tampak terkejut menatap ku. . .
Aku tersenyum, dan mengangguk pelan tanda aku menerima ungkapan hatinya.
" Mari kita mencobanya " Jawab ku dengan senyuman.
Tristan begitu sumringah dengan senyuman lebar, membuatku tertawa geli melihat tingkahnya.
" Aku bahagia banget Fanny "
" Iya aku tau, wajah mu sampai merah begitu seperti kepiting rebus. Hahaha "
" Ih biarin aja, yang penting aku bahagia kau bersedia menerimaku sebagai pacar " ucap nya lagi dengan wajah nya yang semakin memerah.
Aku tidak tau, apakah keputusan ku ini benar atau tidak. Aku sudah berusaha menghindari perasaan ini, tapi semakin ku abaikan semakin kuat getarannya dalam hati.
Dan. . . meski ku tau, ayah dan ibu ku sudah pasti akan menentang hal ini jika mengetahuinya. Karena sejak awal ibu sudah terus saja mengkritikku, mengingatkan ku untuk tidak melangkah lebih jauh dari sekedar teman terhadap Tristan.
Hah. . . biarlah ini jadi urusan belakang nantinya. . . Melihat senyuman Tristan yang begitu bahagia, aku tidak ingin mengecewakannya. Dia lelaki baik. . .
__ADS_1
❤ Hai hai. . . readers setia ku, jangan lupa tekan like dan vote nya ya. Komentar kalian selalu jadi semangat ku. . . semoga berkenan selalu setiap episodenya di hati kalian, aku sayang kalian semua. . .❤