BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Lima puluh enam


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, pertunangan ku dengan Ammar sudah berjalan 6 bulan lama nya. Waktu yang berlalu dengan sangat cepat bagi ku, setelah kami kembali menjalani hubungan jarak jauh lagi, jarak antara kota ku dengan kota Ammar tinggal sudah tidak lagi terasa sejauh seperti awal aku menginjakkan kaki dirumah Ammar.


Ammar mengunjungiku seminggu sekali terkadang dua minggu sekali jika dia sedang sibuk. Kau tau, semenjak malam itu. . . malam pertunangan ku dengan Ammar, yang membuat kami merasa punya hak sepenuhnya untuk melakukan hal yang diluar batas pacaran bagi ku, tapi semua membawa kebahagiaan untuk ku.


Hubungan ku dengan Ammar berjalan mulus, tanpa halangan atau godaan atau perubahan dari sikap kami masing-masing. Justru kami semakin dibuat kasmaran setiap harinya, ammar benar-benar menunjukkan keseriusannya pada ku. Dia benar-benar menjauhi teman-teman wanita yang selalu genit pada nya.


Dan rasanya. . . aku sudah di mabuk cinta oleh Ammar. setiap kali kami berjumpa dan berada di posisi yang hanya ada kita berdua, selalu aku yang menggodanya lebih dulu untuk bercumbu mesra.


Bahkan pernah suatu ketika aku mengunjungi Ammar ke apartemen tempat dia tinggal, meski sudah bertunangan Ammar tetap tidak ingin lagi kembali tinggal dirumahnya yang entah apa alasannya hingga kini aku tidak mengetahuinya. Saat itu hujan turun dengan sangat deras, karena di kota tempat Ammar tinggal memang sering terjadi hujan meski bukan di musimnya.


Aku sangat kedinginan karena tanpa sengaja kehujanan saat bepergian ke minimarket di dekat apartemen nya. Dan kondisi ku ini seolah sangat ingin selalu berada di pelukan hangat Ammar.


Seperti terhipnotis saja, aku dan Ammar menggila bercumbu mesra hingga hampir saja aku nekat memberikan Ammar kesempatan merenggut keperawanan ku meski berkali-kali Ammar menyentuh dan memainkan inti milikku, dia belum pernah berani memasukkan miliknya ke lubang milikku. Seliar apapun kami bercumbu. . . tapi selalu berhasil kami melawan segala godaan itu.


Dan sampai detik ini, aku masih terbilang perawan. . . meski sudah habis seluruh tubuh ini di grepe-grepe habis oleh Ammar.


Dan enam bulan berlalu. . .


Jam menunjukkan pukul 11 siang. Aku masih berada di kantor sekolah tempat ku mengajar. . .


Ponsel ku bergetar, dan betapa bahagianya aku melihat layar ponsel nama Ammar memanggil.


**Halo. . . aku masih di sekolah yank


Oh maaf mengganggu mu sayang, jika sibuk nanti saja ku telpon lagi**.


ucap Ammar yang terdengar seperti terburu-buru.


**Tidak tidak, bicara saja jika ada hal penting Ammar.


Baiklah, sayang. . . apa kau akan. . . mengijinkan jika aku memintamu berbagi kamar dengan Abel 2 hari saja**.


Aku terkejut dengan ucapannya itu, apa maksudnya berbagi kamar???


Maksud mu apa Ammar???


Tanya ku dengan nada marah.


Maaf sayang, yang ku maksud. . . bisakah kau mengijinkan Abel meninap dirumah mu??? 2 malam saja. Hanya malam nya saja, karena dia akan ikut Andi pulang besok. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk bertemu dengan keluarga Andi.


Aku bingung harus menjawab apa, jika ku tolak. . . dengan alasan apa, karena jelas-jelas Ammar mengetahui rumah Andi cukup dekat dengan rumah ku.

__ADS_1


Namun jika ku menerimanya. . . aku. . . bagaimana mungkin??? Akan tahan satu Atap dengan wanita yang pernah ku cemburui???


**Halo. . . halo Fanny, apa kau mendengarku??? 2 malam saja sayang, boleh ya. Pliss. . . Abel gak mungkin menginap di hotel, biayanya mahal kan. . . dan kalaupun dia menginap di rumah Andi apa kau bisa bayangkan bagaimana mereka akan nekat melakukan itu dikamar Andi yang berdekatan dengan kamar orang tuanya. Andi sudah panik akan hal itu. . .


Ammar. . . apa Abel segila itu dengan Andi sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak. . . ehhem**. . .


Aku menghentikan ucapan ku mengingat ini masih di kantor.


Abel ini sangat hyper pada Andi sayang, ayo lah. . . bantu mereka ya, kasihan mereka. Ku dengar orang tua Andi kurang menyukai Abel karena jarak usia mereka sangat jauh.


Hah. . . rasanya aku sudah tidak memiliki jawaban yang pas untuk menolaknya.


Ya ya ya baiklah. tapi hanya dua malam ya, gak lebih. awas aja. . .


Jawab ku dengan cetus.


Terimakasih sayang, aaah kau memang tunangan ku yang sangat baik. Mmuach


Huh kalo ada maunya aja. Ya sudah nanti aja lagi ya, aku sudah mau pulang. . .


Ya sudah Fanny, hati-hati ya sayang. nanti langsung telepon aku setiba dirumah.


Hah. . . bagaimana ini, aku masih tidak bisa menghilangkan rasa cemburu ku ini seutuhnya. Ammar masih sangat peduli pada Abel.


*********♡-♡ *********


Tiba di hari yang sudah di tetapkan oleh Ammar tentang kedatangan Abel dirumah ku.


Beruntungnya ini hari minggu, jadi aku bisa menyiapkan diri dan merapikan semua kamar dan seisi rumah ku. Jangan sampai Abel menghina ku lagi, huh. . .


Aku menceritakan pada ibu ku, bahwa aku akan kedatangan seorang teman dari kota Ammar. Kebetulan dia satu kampus dengan Ammar, dan ibu menyetujuinya untuk dia bermalam dirumah ku selama 2 hari.


Sedang asyik menonton kartun di ruang TV bawah, terdengar suara klakson mobil dari luar.


Aku bergegas hendak membuka pintu rumah dan melihatnya siapa yang datang.


Dan betapa aku sangat tidak percaya, tanpa mengabariku lebih dulu. . . ku lihat Ammar tengah turun dari mobilnya beserta dengan Andi dan. . . Abel.


Hahaha vangke gak tuh, dalam hati aku mulai mengumpat tanpa sadar.


Ammar tersenyum ceria kepada ku seolah dia tidak bersalah, dia pikir aku akan diam saja.

__ADS_1


" Sayang, kenapa cemberut begitu menyambutku datang??? "


" Hai andi, dan. . . hai. . . abel, selamat datang di kota ku, dan. . . yah, ini rumah ku. Ayo masuk dulu " Sapa ku pada Abel dan Andi, ku abaikan Amamr begitu saja melewatinya.


Ammar menarik tangan ku. . .


" Sayang, ada apa??? apa kau marah pada ku? " Tanya nya lagi.


Aku menghempaskan tangan nya dari tangan ku, dia terkejut heran.


" Mari masuk, Andi. . . abel " Sahut ku kembali dengan sedikit cetus.


Ammar hanya terdiam kaku melihat tingkah ku yang demikian. Sampai akhirnya tiba di di ruang tamu pun, bertemu dengan ibu ku dan ayah aku masih tetap mengabaikan Ammar.


Semua tampak heran, hanya saja tidak ada yang berani menegur ku.


" Mmh. . . sebentar ya, aku ke atas dulu. Ponsel ku tertinggal, takut ada panggilan penting " Ucap ku dengan alasan agar Ammar bisa mengejar ku, aku sudah tidak sabar ingin memakinya.


Andi dan Abel hanya tersenyum mengangguk, yang entah kenapa Abel berubah jadi pendiam. Biasanya juga selalu bertingkah dan genit. . . sampai rasanya gerah setiap mendengar ocehannya yang ceplas ceplos.


Tiba di ruang atas, benar saja feeling ku. Ammar menyusulku ke atas dan menarik paksa lengan ku.


" Fanny, aku salah apa lagi??? kenapa kau tiba-tiba dingin begitu nyuekin aku daritadi??? " Tanya Ammar dengan wajah serius.


" Apa lagi hah??? apa kau masih tidak sadar apa salah mu??? Kau. . . tanpa mengabariku lebih dulu, tiba-tiba datang dengan mengantar Abel bersama andi. Apa mau sebegitu pedulinya, apa kau tidak percaya pada ku untuk bisa menerima Abel disini??? "


" Fanny stop. Apa-apaan kau ini hah??? aku kesini bukan hanya untuk mengantar abel dan Andi, tapi untuk bertemu juga dengan mu. . . bukan kah sudah dua minggu ini aku tidak datang menemuimu???? "


" Alasan yang basi. Turun lah, jangan dulu berbicara pada mu. Kau tenang saja Ammar, meski begitu aku tetap akan membiarkan Abel menginap disini. Dan ini bukan karena mu, ini karena aku juga wanita. aku mencoba memahami perasaannya saja ". Ku palingkan wajah ku dari Ammar lalu memasuki kamar ku.


Ammar masih berdiri di depan pintu, ketika aku keluar kamar kembali dengan membawa ponsel di tangan.


" Untuk apa masih disini??? " Tanya ku cetus.


" Sayang. . . ayo lah. . . jangan marah begitu. . . maafin aku sayang "


" Terserah. Aku tidak ingin di ganggu oleh mu dulu "


Ku berjalan menuruni anak tangga sementara Ammar masih terus mengikuti ku dari belakang dengan memanggil-manggil nama ku terus.


Aku tetap mengabaikannya begitu saja. . .

__ADS_1


__ADS_2