
Seminggu setelah kejadian itu, kejadian yang membuatku ingin menggila rasanya. Aku sempat mengabaikan panggilan dan pesan singkat dari Ammar.
Tapi Ammar tetap bersikap baik dan lembut seperti biasanya bagaimana selema kita berteman.
Poin plus buat Dia, tidak menyerah usahanya untuk membuat ku tidak lagi merasa malu dan terlihat murahan.
Akhirnya dengan mudah aku kembali bersikap biasa saja pada Ammar. Karena aku merasa sikap ku padanya ketika itu, manusiawi. . . mulut ku menolaknya untuk kembali padaku sebagai pacar. Tapi soal hati dan perasaan, tetap aku tidak bisa mengontrolnya ketika nafsu ku berbicara.
Bukan kah dia lelaki yang pernah ku cintai??? Dan selama satu tahun kami pacaran pun bukannya kami memang sudah sering bercumbu mesra???
Dan kau tau. . . aku sudah semakin hilang akal ketika kami bertemu kembali, ntah aku yang menemuinya di apartemennya atau Ammar yang menemuiku di kota ku, dimana pun kami ada kesempatan berduaan kami lagi lagi dan lagi melakukan hal yang sama. Bercumbu mesra dengan penuh gairah, bahkan lebih liar. Setiap dekat dengan nya selalu reflek seperti kecanduan di cumbu mesra olehnya meski tanpa ikatan kepastian dalam hubungan kami.
Aku tetap bersikap keras kepala menganggap Ammar hanya sebatas teman biasa, dan ammar menerima hal itu. Ntah karena rasanya cintanya dan harapannya yang begitu besar padaku, atau ntah lah.
Dan ini sudah berjalan 5 bulan kami menjalin hubungan teman tapi melebihi ikatan pacaran. Dan 3 hari juga Ammar diam tanpa kabar, aku mulai panik dan resah.
Kemana, kenapa, apa aku berbuat salah lagi??? Ammar. . . jangan memulainya lagi, apa kau kembali seperti dulu lagi???
Bathin ku.
Aku terus bergumam dan memainkan ponsel tanpa henti, memandanginya tanpa jeda. Berharap hari minggu begini dia akan menghubungi ku seperti biasanya.
Tok tok tok. . .
Kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar ku.
Dengan wajah lesu aku keluar hendak membuka siapa yang mengetuknya tanpa suara.
" Selamat pagi nona cantik "
Betapa aku sangat terkejut bukan main, lelaki yang ku nantikan kabarnya selama 3 hari ini tengah berdiri mengucapkan selamat pagi padaku, secara langsung di depan mata.
Aku masih tertegun dengan wajah penuh heran, percaya tidak percaya. Apakah ini mimpi???
Tapi. . . dia tersenyum manis padaku. . . sangat manis. . . aku. . . aku kesal.
" Apa begitu menyambut ucapan selamat pagi dari ku??? " Tanya Ammar seakan dia terlihat santai saja tanpa merasa bersalah setelah terdiam tanpa kabar selama 3 hari ini.
" Kemana saja kau selama 3 hari ini Ammar, ih aku kesal kesaalll "
Bugh bugh bugh. . .
Aku memukulinya hingga ia meringis meminta ampun agar aku menghentikan pukulanku di tubuhnya.
__ADS_1
" Hahaha astaga. . . kau semakin galak saja Fanny, ada apa dengan mu pagi ini??? Bukan kah aku sudah disini untuk mengabarimu??? Hahaha kau lucu sekali " Ammar menertawaiku, meledek ku yang terus memasang wajah cemberut menatapnya tajam.
" Kau keterlaluan Ammar, ku pikir kau sudah tidak mau lagi berteman dengan ku. Tapi paling tidak kau harus memberitahuku, aku tidak akan lagi mengganggu mu " Ucapan ku membuat Ammar terhenti dari tawanya melihat ku.
" Apa segampang itu kau akan menyerah jika aku tidak lagi mau berteman dengan mu Fanny??? kau selalu egois. Jujur aku kemari pagi ini memang ingin menyatakan sesuatu. . . " Jawabnya dengan wajah serius.
" Apa. . . apa lagi hah??? " Jawab ku cetus.
" Ayo turun dulu, tante dan om menunggu mu di bawah. Aku diminta menjemputmu ke atas hehe "
" Jawab dulu kenapa tidak mengabariku selama 3 hari ini dan sekarang??? kau malah mendadak nongol di depan mata. Iih aku masih marah " Jawab ku dengan memalingkan wajah dari tatapan Ammar.
" Ayo lah turun dulu, nanti ku jelaskan semua di bawah " Jawabnya dengan lembut.
" Tapi kenapa harus di bawah??? gak perlu ayah dan bunda mendengarnya juga kan. . . konyol banget ih " Jawab ku masih memaksa.
" Fanny. . . ayo lah, jangan bawel dulu. setelah di bawah kamu bebas memaki ku ". Ammar menaikkan nada bicaranya.
membuat ku sedikit terkejut. . . dan mengikuti langkah nya menuju ruang bawah.
Dan betapa terkejutnya aku ketika sampai diruang tamu, tengah duduk santai ayah dan ibu ku berbincang penuh kehangatan bersama tante Lina, mamanya Ammar.
Langkah ku terhenti, melihat pemandangan di depan mata ku ini.
" Hai, selamat pagi Fanny sayang. . . sini sini tante kangen banget sama kamu sayang " Sapa tante Lina melangkah menghampiriku kemudian memeluk ku dengan lembut.
Ah. . . pelukan tante Lina tetap hangat dan penuh kasih sayang yang tulus. Aku sudah sangat merindukan ini darinya
" Fanny juga sangat rindu tante. . . ta. . . tapi. . . tante kenapa bisa ada disini??? "
" Loh memangnya salah??? apa tante tidak boleh bermain dan bertemu langsung dengan calon besan??? hihihi " Ucapan Tante Lina seakan lebih mengejutkan hati ku, aku terperangah dengan mulut berbentuk O.
" Sayang, sini duduk. Masa ngobrol ma tante Lina sambil berdiri gitu. . . " Panggil ibu kemudian.
Aku berjalan dengan tubuh sedikit kikuk tak karuan, penuh heran dan tanda tanya. Yang di maksud tante Lina calon besan itu apa???
Aku menoleh pada Ammar kemudian bergantian menoleh pada tante Lina yang memandangiku dengan senyuman hangat.
" Fanny, kau baik-baik saja??? "
" I iya tante, Fanny baik-baik aja. Tante apa kabar??? "
" Baik sayang, sangat baik. Tente belum sempat berterimakasih karena waktu itu kan sempat datang jauh- jauh untuk merawat yang sedang sakit "
__ADS_1
Glek !!!
Aaah lagi-lagi aku di paksa untuk mengingat hal itu, rasanya benar-benar memalukan. Ammar tertawa kecil melihat wajah ku yang mungkin sudah memerah.
" Fanny, kedatangan tante hari ini pasti sedikit mengagetkan mu kan??? Ini semua Ammar yang memintanya untuk memberikan mu kejutan. Tante sudah melarangnya agar tidak membuatmu shock, tapi dia bersikeras ingin membuatmu kesal " Ucap tante Lina dengan tawa kecil. Ammar masih memandanginku dengan senyuman ledeknya.
" Dan ibu nya Ammar kemari, adalah untuk meminta mu agar bersedia bertunangan dengan Ammar minggu depan sayang " ucap ibu menambahkan.
So what??? Tunangan??? minggu depan???
Oh tidak. . . hahahaa ini pasti hanya prank dari Ammar kan??? tapi dalam rangka apa jika dia ingin mengerjaiku???
Bibir ku masih terdiam tanpa kata, aku bingung dengan semua yang serba dadakan ini.
" Sayang. . . apa yang kau pikirkan??? " Tanya ayah ku kemudian mengagetkan ku.
" Tu. . . tunangan??? " Tanya ku dengan gugup, bibir ku serasa bergetar tanpa henti.
" Iya sayang, apa kau bersedia??? Tante sudah membahas hal ini dengan Ammar sudag cukup lama. Tante ingin kalian bertunangan saja dulu, inginnya tante sih langsung menikah lalu semakin cepat deh kita punya cucu " ucap tante Lina dengan senyuman bahagia yang tersungging dari bibirnya.
" Betul. . . kita sih inginnya begitu, tapi kita tunggu dulu bagaimana reaksi mereka, iya kan yah??? " susul ibu ku yang kemudian menyenggol bahu ayah ku, ayah ku hanya tertawa terbahak-bahak menanggapinya.
Ku lirik wajah Ammar yang hanya tersenyum menyimak ini semua daritadi.
Aku mengerutkan kedua alisku ke atas dengan menatap wajah Ammar. Dia hanya mencibir dengan senyuman sembari mengangkat kedua bahunya ke atas.
" Tapi tante. . . ini. . . ter. . .lalu mendadak untuk Fanny " seakan aku seperti seorang maling yang tertangkap basah. Kemudian di introgasi dengan hal yang sama sekali bukan aku yang melakukannya. . . ku tarik nafas dalam-dalam menanti tanggapan tante lina dan semua yang tengah duduk semua di ruangan ini.
" bukan itu jawaban yang tante harapkan darimu sayang, sejak awal Ammar mengenalkanmu pada tante, tante sudah menyukaimu dan berharap kau menjadi menantu dikeluarga kami. dan begitu mendengar kalian putus tante sangat kecewa "
Jawaban ini cukup untuk sekedar melemahkan hatiku.
" Sayang, bukankah selama ini kalian sudah benar-benar saling mengenal dekat cukup lama??? Kenapa sekarang jadi canggung begitu ".
" Emm Maaf semua. bisakah aku berbicara dengan Ammar berdua saja dulu??? aku akan mengajaknya keluar " Sahut ku sembari berdiri menarik tangan Ammar menuju ruang dapur. Cukup jauh dari atah ruang tamu.
" Fanny, berhenti. Cukup disini. Dapur ini bukankah cukup sepi??? "
Aku menghempaskan tangan Ammar yang sedaritadi aku menariknya.
" ammar, apa-apaan kau??? Apa kau gila mengajakku bertunangan minggu depan??? " Aku sedikit kesal dengan hal yang begitu mendadak ini.
Apa yang akan lakukan??? bukan kah aku seharusnya bahagia???
__ADS_1