
Ini sudah dua bulan berlalu. . . Ammar tetap menghilang tanpa kabar. Sementara aku, aku mulai mengikuti arus kehidupan ku sehari-hari yang semakin asyik dan dekat dengan Tristan. Yang hampir setiap hari menemaniku kemanapun aku pergi, dan lebih sering berkunjung kerumah ku.
Aku tidak menyadari bahwa sikap ku ini, menjadi sorotan ayah dan ibu setiap hari nya.
Hingga kini, ayah dan ibu memintaku untuk meluangkan waktu berbincang sejenak dengan nya.
Aku sedikit gugup, bagaimana aku akan bersikap jika nantinya mereka bertanya tentang Ammar.
" Fanny, kemari sebentar " panggil ibu ketika melihat ku baru tiba dirumah. Sepertinya ibu melihat ku diantar pulang oleh Tristan pulang mengajar barusan.
Aku melangkah dengan ragu kemudian, menghampir ayah dan ibu yang sudah menantiku di ruang tamu.
" Duduk lah dahulu " ucap Ayah dengan wajah serius.
" Fanny, bunda tidak akan basa basi lagi karena kau sudah dewasa sudah mengerti kemana arah perbincangan kita kali ini. Apa hubungan yang sebenarnya antara kau dan Tristan Nak??? " Tanya ibu dengan wajah yang benar-benar serius, sehingga membuatku takut meski hanya sekedar menghela nafas panjang.
" Bunda, Fanny. . . fanny hanya teman biasa dengan Tristan. Tidak lebih. . . "
" Tapi ayah lihat sikap dan caranya menatapmu bukan demikian Nak. . . apa kau sungguh tidak menyadarinya atau sengaja mengabaikannya hah???" susul ayah ku menambahkan.
Aku terdiam sesaat. Aku memang sudah menyadari nya, sangat sadar akan hal itu. Hanya saja, aku. . . aku takut untuk bertindak. Lagi pula, di hati ku. . . masih terukir nama Ammar tak kan terganti.
" Ayah, percayalah pada Fanny kali ini. Lagi pula. . . Fanny tidak mungkin menyukai lelaki yang berbeda keyakinan dengan Fanny. . . " jawab ku dengan suara lirih.
Hah. . . kau bohong Fanny, diam-diam kau sudah mulai mengagumi sosok Tristan yang selalu membuatmu teringat akan sosok Kevin.
" Lalu bagaimana dengan kabar Ammar??? Bunda perhatikan kalian sudah jarang berkomunikasi bahkan sudah dua bulan terakhir ini dia tidak berkunjung kemari. . . ada apa??? apa kalian bertengkar??? atau. . . Ammar mulai marah mengetahui sikap mu ini Fanny??? " Tanya ibu ku yang kini mulai mendetteku habis-habisan.
Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh ku mendengar ucapan ibu ku kali ini, harus kah aku jujur???
__ADS_1
" Ammar. . . dia. . . dia baik-baik saja bu, Kami juga masih komunikasi dengan baik dan lancar. Hanya saja, terakhir dia bilang akan mulai sibuk menyusun skripsi setelah kegiatan KKN nya berakhir "
Ayah dan ibu menatap ku dengan tajam setelah mendengar penjelasan ku ini,
" Ayo lah. . . jangan menakuti Fanny begitu. Kami baik-baik saja. . . "
" Minta Ammar datang kemari minggu besok " ucap Ayah dengan Tegas.
" Tapi yah. . . Fanny "
" Kami tunggu minggu besok kedatangan Ammar disini " susul ibuku menegaskan.
Aku hanya terpaku diam tanpa kata melihat mereka yang begitu terkesan memaksa. Apa yang harus ku lakukan kini??? Sedangkan Ammar. Ammar sudah menghilang tanpa kabar. Jikapun aku harus menemuinya langsung apakah tidak terlihat aku sangat memaksa dan merendahkan diri??? Lagipula kenapa harus aku yang selalu mengalah dan memohon selama ini??? apakah aku tidak boleh menahan diriku kali ini, dan biarkan Ammar yang berusaha mempertahankan semuanya.
Hingga akhirnya, seminggu sudah pikiran ku tetap buntu untuk mencari cara meminta Ammar datang menemui ku. berulang kali ku hubungi pun tak kunjung dia respon, apakah kali ini aku harus tetap memaksakan diri mendatanginya jika sudah begini???
Tidak Ammar, tidak. . . !!!
Malam ini, aku pulang terlambat dari jam kuliah ku. Karena sepulang kuliah tadi aku langsung menemui Tristan untuk menemaniku makan malam. Ya. . . sekalian curhat lagi, meski pada ujungnya Tristan mulai menunjukkan hatinya perlahan. Aku masih berpura-pura tidak mengerti dan mengabaikannya, aku tidak mau kesalahan sebelumnya saat bersama Kevin kembali terjadi. Meski jujur, sungguh aku mulai terhanyut akan sikap Tristan yang mengingatkan ku pada sosok Kevin.
Pulang kuliah, seperti biasa aku diantar pulang oleh Tristan. Setiba di rumah ku lihat ibu sudah berdiri di teras, dengan tatapan marah melihatku dengan bersama turun dari mobil.
" Malam tante " sapa Tristan. Yang di abaikan begitu saja oleh ibu. Membuat Tristan jadi canggung seketika.
" Tristan, pulang lah. Nanti ku telepon kau sampai dirumah " ucap ku perlahan.
" Tapi Fan. . . "
" Sudah lah, turuti saja kata ku " jawab ku kesal. sementara ibu sudah berlalu masuk lebih dulu ke dalam rumah.
__ADS_1
Tristan mengangguk dengan ragu kemudian berlalu pergi, aku melangkah memasuki rumah dengan degub jantung yang semakin kencang tak beraturan. Ibu terlihat tidak seperti biasanya, tapi ada apa??? apa aku berbuat salah??? atau. . . ibu sedang bertengkar dengan Ayah???
Tiba di ruang tamu, ayah dan ibu sudah berdiri menatapku dari jauh.
" A. . .ay. . .ayah, bun. . .da. . . tumben??? ma. . .masih belum tidur??? " tanya ku dengan gugup, serasa gemetar ini bibir.
" Dimana Ammar??? Bukan kah kami meminta dia datang kesini minggu ini??? apa kau tidak menelponnya??? " tanya ibu ku dengan nada sedikit lantang.
" Am. . .mar. . . masih sibuk Bunda " jawab ku memberi alasan.
Lalu Ibu mendekatiku dengan tatapan yang menyeramkan
" Fanny, jawab dengan jujur apa sungguh kau baik-baik saja dengan Ammar??? "
" Bunda, kami. . . kami baik-baik saja kok, hanya saja Ammar masih. . . "
PLAK !!!
Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Sakit dan perih ku rasa di sela rasa terkejut ku, kau tau. . . ini kali pertama ibu menamparku tanpa sebuah alasan yang kuat kesalahan apa yang sudah ku perbuat.
" Bunda. . . " ucap ku meringis dengan memegangi pipi ku. rasanya aku sudah ingin menangis. . .
" Sejak kapan kau pintar membohongi kami hah??? kau sudah menghancurkan kepercayaan kami sebagai orang tua Fanny, kau pasti sudah membuat kesalahan besar pada Ammar sehingga dia sengaja mengabaikan kami, jangan kau pikir kami sebagai orang tua mu tidak memperhatikan jika selama ini kalian memang sudah tidak membaik di hari terakhir ammar kemari bukan??? " Jawab ibu dengan panjang lebar tanpa jeda sedikit pun.
Air mata ku sudah mengalir deras membasahi pipi, sesak ku rasa di dada.
" Jawab !!! Kau pasti sudah berselingkuh dengan Tristan di belakang Ammar bukan??? Apa matamu buta Fanny, Ammar jauh lebih baik dari Tristan yang jelas-jelas beda keyakinan dengan kita. Apa yang membuatmu lebih memilih Tristan daripada tunangan mu Ammar hah??? " ucap ibu ku kembali menerjang dengan berbagai pikiran konyolnya.
Oh tuhan. . . bahkan kali ini, ibu dan ayah mulai menyalahkan ku dalam hal ini. Apa yang harus ku jelaskan pada mereka, jika ku buka mulut dengan semua yang sudah Ammar lakukan dari awal kami mengenal, akan kah mereka percaya pada ku??? Tapi ku rasa ini masih belum waktunya kan???
__ADS_1
**❤ Hai semua, duh maaf banget baru up. Author sedang sibuk dalam acara pernikahan sepupu. . . jangan lupa tekan like nya selalu ya, dan plissssssss. . . vote yang banyak dong untuk karya ku ini.
I love you semua😘😘😘 ❤**