BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Tujuh puluh satu


__ADS_3

Sudah seminggu, hubungan perselingkuhanku dengan Kevin berjalan. Entah ini selingkuh atau hanya pelarian rasa geram ku pada Ammar. . .


Kau tau, aku selalu tidak tenang menjalani hari-hariku. Aku mulai merasa takut ketika malam tiba, karena saat itu. . . adalah ketika dimana semua perasaan campur aduk mengusik pikiranku.


Ketika malam tiba, aku masih memaksakan diri menelpon atau sekedar mengirimnya pesan singkat. Aku hanya ingin tau kabarnya saja, egois kan. . . aku ini. . . hah. . . aku mulai bimbang dengan sikap ku ini, sulit ku mengerti.


Sementara Kevin, dia selalu setia dan sabar berada di dekatku. . . menemani hari-hari ku, sebelum dia kembali ke luar negeri nantinya.


POV Ammar


Aku tidak tau, apakah sikapku ini sungguh kelewatan pada Fanny. . . tapi bukankah dia kali ini sudah diluar batas??? Abel hampir saja kehilangan nyawanya. . .


Kring kring kring. . .


suara telepon apartemen Ammar berdering.


Hallo. . .


Ammar menjawabnya.


Ammar, aku lapar. Aku sedang malas keluar rumah. . . aku capek banget. Andi masih di tempat magang, bawakan aku makanan lalu temani aku makan.


Terdengar suara cempreng yang tak lagi asing bagi Ammar, ya. . . siapa lagi jika bukan Abel yang menelpon.


Aku sangat mengantuk siang ini, kau panggil saja jasa pengantar makanan dulu. Nanti saja ku bawakan cemilan ke kost mu ya. . .


Jawab Ammar dengan lesu.


Aku dari pagi belum makan Ammar, apa kau ingin membuat ku mati kelaparan? Aku gak mau tau, bawakan aku makan siang lalu kita makan bareng. Jika kau mengantuk tidur saja di kost, biasanya juga begitu kan. . .


Jawab Abel memaksa.


Aku benar-benar mengantuk Abel. . .


Ammar masih menolak dengan lembut.


Ya sudah aku marah nih, jangan lagi temui aku !!!


Klik !!! Panggilan terputus.


" Hah. . . Abel ini, kapan berhenti manja begitu padaku. aku sudah berusaha menjauhinya karena menjaga perasaannya dengan Andi, tapi tetap saja aku jadi tidak tega melihatnya begitu " Ucap Ammar pada diri sendiri.


Bergegas Ammar memakai baju lalu kemudian keluar dari Apartemennya hendak menuju kost Abel.


Tak lupa, sebelumnya dia menyempatkan diri membelikan beberapa cemilan dan makanan untuk Abel.


Tiba di kost Abel, Ammar langsung membuka pintu seperti biasa tanpa mengetuknya lebih dahulu.


Tanpa sepengetahuan Ammar, Abel sedang mengaitkan kancing bra nya. di balik kaos tipis yang di kenakannya, entah bagaimana sebelumnya kancing perekat bra nya terlepas begitu.


Seketika Ammar tertegun dengan salah tingkah melihat Abel dalam posisi tersebut dengan setengah kaos nya terangkat ke atas.


Abel pun terkejut. . .

__ADS_1


" Ammar, kau. . . sudah datang. Kenapa tidak memberitahuku dulu. Ih kebiasaan deh " Sapanya sembari masih sibuk mengaitkan kancing bra nya di balik punggungnya.


" Bukankah. . . mmm. .. . ta. . .di kau yang memaksaku " Jawab Ammar dengan gagap sembari berbalik badan.


" Hahahaa apaan sih, kenapa kau jadi salah tingkah begitu. . . seperti ini baru pertama saja bagimu " Abel meledeknya.


" Berhenti memulainya Bel, aku sedang dalam hati yang tidak nyaman saat ini " Jawab Ammar masih dengan posisi membelakangi Abel.


" Ugh. . . Ammar, kemarilah. . . bantuin aku dong ih, aku kesulitan mengaitkan kancing bra ku "


" apa kau gila Bel??? Bagaimana jika nanti Andi melihatnya. . . apa yang akan dia pikirkan hah??? kau ini. . . kau sudah punya Pacar, dan Andi itu murid ku, ingat itu. . ." Jawab Ammar nyerocos.


" Kenapa??? apa kau sudah melupakan kegilaan mu ketika baru putus dari Eliez, Kita sudah pernah melakukannya bukan??? Bagian seluruh tubuhku semua sudah kau ketahui "


" Abel, tutup mulutmu. Itu sudah berlalu, kita hanya teman. Selamanya tetap teman, aku akui malam itu aku benar-benar gila di luar akal sehat ku "


" Tapi aku belum bisa melupakan nya, gimana dong??? " Ucap Abel dengan tegas.


Seketika Ammar berbalik menghadap Abel dan menatapnya dengan mata tajam.


" Jujur pada ku, apa kau sudah menceritakan hal ini pada tunangan ku Fanny? "


" Hahahaha ayo lah, kenapa kau jadi serius begitu. . . kalaupun Fanny tau hal ini, untuk apa dia marah??? bukannya itu sudah berlalu sebelum kau mengenalnya??? "


" Huhft. . . syukur lah, aku hanya tidak ingin membuatnya semakin membenarkan pikirannya tentang ku dan kau Abel. Jaga baik-baik mulutmu di depannya, jangan pernah membahas tentang kedekatan kita, okey " Pinta Ammar dengan nada mengancam mendekati Abel kali ini.


" Upz. . . maafin aku Ammar, selama bermalam di kamarnya aku sudah menceritakan bagaimana kedekatan kita. Tapi hanya sebatas teman, aku sudah menjelaskannya. Dia hanya terdiam meski dengan wajah sedikit cetus. Haahaha dia sangat lucu malam itu "


" astaga Abel, jadi gara-gara ini Fanny begitu marah padaku tanpa sebab hingga dia mengabaikan panggilan telepon ku??? Aaaarght kau ini. . . apa kau sengaja hah??? " Ammar mulai menekankan nada bicaranya pada Abel.


Kaki ini Abel sudah berani semakin dekat


Ammar memalingkan wajahnya dari Abel. . .


" Menjauhlah sedikit, kau berpakaian sangat mini siang ini Abel. Apa kau sedang menunggu Andi??? jika begitu aku pulang saja. Jangan sampai Andi melihat kau seperti ini di hadapan ku. . . andi pasti akan cemburu "


" Ammar. . . apa kau sungguh mencintainya tunangan mu. . .??? " Tanya Abel dengan menengadah menatap wajah Ammar yang berpaling darinya.


Tubuh kecil Abel membuatnya harus menengadah keatas menatap tinggi tubuh ammar.


" Abel, sudah berulang kali aku menjawab nya padamu. Aku mencintai Fanny, aku akan segera menikahinya. Kau pun sama dengan Andi kan. . . "


Ammar mulai gelisah, seperti kepanasan.


" Katakan padaku, apa kau sudah berhasil menjamahnya??? apa dia lebih hebat dari ku di ranjang??? Apa dia jago memainkan juniormu ini. . . ?"


Tangan nya nyaris menyentuh tubuh Ammar.


Dengan keras Ammar menepis dan mendorong tubuh kecil Abel.


" Jangan memulainya, berusaha memaksaku mengingat kesalah yang sudah pernah kita perbuat malam itu Abel "


" Ammar, aku cemburu pada Fanny. Dia cantik, dia imut, dia mungil, dia sabar, dia periang, aku tau. . . selain kau pasti banyak yang mengejarnya bukan, tapi kau. . . kau juga masih menjaga kesuciannya, dia selalu bisa membuat banyak orang terhibur di sekitarnya, aku tau itu. . . termasuk kau. Kau tergila-gila padanya. . . apa karena. . . dia memiliki payudara lebih montok dariku??? "

__ADS_1


Ucap Abel tanpa henti terus mengoceh di hadapan Ammar.


" Abel Stop. Ada apa dengan mu hari ini hah??? Aku memang selalu memanjakan mu dan selalu membela mu tapi bukan berarti kau akan semena-mena lalu seenaknya mengancamku dengan masa lalu buruk kita "


Ammar mulai marah. . .


Sementara Abel terdiam dengan mata berkaca-kaca menatap wajah ammar yang penuh amarah.


" ammar, Keluarga Andi tidak menyukaiku. . . mereka menentang hubungan ku dengan Andi hanya karena usia ku lebih tua dari Andi. . . Dan aku. . . aku minta putus dari Andi, hikzt. . . "


Abel mulai menangis. Ammar terdiam sejenak, kemudian menghampiri Abel kembali. . .


" Abel. . . maaf aku tidak tau hal ini, Andi belum bercerita apapun padaku "


" katakan padaku, apa aku tidak berhak mencintai laki-laki yang lebih muda dariku Ammar??? apakah aku tidak pantas berada di sisi andi? apakah aku tidak cantik hanya karena aku lebih tua darinya??? Katakan padaku Ammar. . . jujurlah padaku. . . huwwaaaa. . . "


Tangisan Abel pecah, Ammar tidak tega lalu memeluknya.


" Cup cup cup. . . sudah sudah jangan menangis begini, nanti tetangga pada mikir yang bukan-bukan. . . kau akan semakin jelek jika menangis seperti itu " Ucap Ammar sembari menepuk-nepuk bahu Abel dalam pelukan Ammar.


" Bagaimana mungkin setelah semua yang ku berikan dan ku lakukan dengan Andi harus terjadi seperti ini, kau akan segera menikah. Lalu aku??? aku bagaimana. . . apakah masih ada laki-laki yang mau menerimaku setelah tau aku tidak lagi virgin hah. . . hanya andi satu-satunya lelaki itu "


" Hey hey. . . jangan putus asa begitu. Kau masih punya aku, teman sekaligus sahabat yang akan selalu ada di sampingmu " Ucap Ammar berusaha menghibur Abel.


Abel menggelengkan kepalanya melepas pelukan Ammar.


" Kau. . . apa kau hanya akan berdiri sebagai sahabat ku??? Kau tidak mungkin menikahiku " Jawab Abel dengan wajah manyun.


" Abel. . . ku yakin kau akan menemukan orang yang tulus nantinya, meski bukan Andi "


" lalu bagaimana dengan mu, apa kau sungguh hanya menganggapku sekedar teman dekat biasa Ammar??? "


" Ayo lah Abel, jangan mempersulitku dengan pertanyaan konyol mu itu "


" Katakan dengan jujur apa kau sungguh tidak menganggapku lebih di hatimu??? "


Ammar menggelengkan kepalanya dengan wajah menunduk.


" Jika tidak, kenapa kau begitu marah mendengar Fanny dengan sengaja mencelakaiku hah??? Atau kau sengaja ingin menguji kesabaran Fanny dan cintanya padamu??? "


" Abel, berhenti memojokkanku. . . atau. . . aku balik ke apartemen saja kau makan lah sendiri "


Ammar berbalik hendak pulang, tapi dengan gesit Abel menarik tangan Ammar.


" Ammar, jika kau. . . sungguh mencintai Fanny, mari kita lakukan sekali lagi sama seperti pada malam itu "


" Jangan gila kau, Abel. Selama ini aku berusaha baik dan selalu membela mu hanya untuk berterimakasih karena kau sudah selalu setia membantu dan menemaniku ketika aku terpuruk dari Eliez, ok. . . aku tau, aku memang salah telah melakukan hal itu dengan mu. Tapi kau yang memulainya lebih dulu, dan kini kau jadikan hal itu untuk mengancamku. Aku sudah lelah Abel. . . mengertilah, aku sudah tunangan dengan Fanny, selangkah lagi aku sudah akan memilikinya sebagai istri "


" Ammar, pliss. . . sekali lagi, aku ingin melakukannya lagi dengan mu. Hanya sekali ini saja, dan setelah itu aku janji aku tidak akan lagi mengancammu dengan hal itu "


Tanpa menunggu aba-aba dari Ammar, abel menarik tubuh ammar dan mendorongnya hingga tersungkur terduduk di tepi ranjang Abel.


" Abel. Jangan begini. . . aku tidak ingin kita kembali menodai pertemanan kita dengan hal ini, aku tidak ingin mengkhianati tunangan ku "

__ADS_1


Abel menciumi bibir Ammar kemudian berpindah mengecup telinga Ammar. Dan akhirnya terjadi lagi, mereka melakukan hal yang seharusnya tidak pantas di lakukan.


Sampai waktu malam hari Abel terus meminta Ammar kembali mengulangnya, tanpa ampun. . .


__ADS_2