
Selama perjalanan pulang hingga sampai dirumah aku masih memikirkan ucapan Tommy yang membuatku sedikit tertarik.
Berteman dengan mantan adalah cara yang dewasa??? Hahahaha ajaran darimana itu???
Kemudian ponsel ku kembali berdering, aku terkejut dari lamunan ku yang semulai tadi menatap kosong langit-langit kamar.
Kembali nomor baru memanggil, ku yakin Ammar lah yang menelpon ku kembali.
Baik lah Tommy, aku akan berusaha sesuai yang kau sarankan tadi. Huh. . . mari tenangkan hatimu sejenak Fanny. . .
Ku tarik nafas dalam-dalam untuk menerima panggilan telepon Ammar.
** **Ha. . . Halo. . .
Kau sudah dirumah** ???
Dug dug dug, jantungku kembali bergetar semakin cepat mendengar suaranya.
Oh, kau lagi.
Jawab ku singkat.
****Apa kau sudah melupakan nomor ku Fanny??? aku bahkan masih mengingat nomor mu.
Apa lagi yang ingin kau bicarakan Ammar****???
Lama tak terdengar suaranya. . . membuatku ikut terdiam sembari mengepal tangan ku di atas bantal.
****Apa kau masih belum memaafkan ku Fanny??? Apa kau sungguh akan membenciku selamanya???
Sudah lah Ammar, aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku sudah memaafkan mu. . . maka dari itu aku sudah melupakan dan tak ingin membahas masa lalu kita.
Lalu apa kau sudah memiliki pacar ???
Kenapa kau terus mendetteku hah??? langsung saja sampaikan apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya****.
Aku mulai menjawabnya dengan nada marah.
Aku ingin kita bisa berteman baik Fanny. . .
Degh !!!
Kenapa tiba-tiba??? setelah sekian lama kau dan aku sudah tak ada hubungan lagi Ammar. . . ada apa dengan mu???
Berteman??? emm. . . aku tidak akan menjawab nya, jalani saja hari-hari kita setelah ini seolah kau dan aku memang baru kenal Ammar.
__ADS_1
Dan. . . hatiku semakin kacau menerima tawarannya seperti itu. Hingga semalaman suntuk, banyak hal yang kami perbincangkan. sampai akhirnya aku tertidur pulas tanpa ku sadari sudah tiba waktu pagi. . .
Suara bising kicauan burung yang terdengar bersahut-sahutan mengusik telingaku, hingga aku terbangun dengan sedikit meregangkan tubuh ku di atas kasur.
Ku lirik ponsel ku yang tergeletak begitu saja di sebelah ku. . . aku meraihnya dan. . . kembali tubuhku terasa bergetar dengan degub jantung yang berdetak cepat.
Selamat tidur teman baru ku, semoga tidur mu nyenyak. Maaf aku mengajak mu bicara terus daritadi sampai kau tertidur dengan suara mendengkur.
Aaaaaaaakh. . . sial, ada apa dengan hatiku??? kenapa masih ku rasakan bergetar menerima pesan ucapan selamat tidur dari Ammar.
Ayo lah Fanny. . . jangan lengah, jangan goyah. Ingat, dia hanya bagian dari masa lalu mu saja. Tak perlu terbawa perasaan begitu. . .
Hatiku mulai menggerutu lagi karena perasaan campur aduk ku pagi ini. Ada sedikit rasa bahagia yang menyimpulkan sedikit senyuman di bibir ku pagi ini. . .
Kyaaaaaaaarght. . . aku menutup wajahku dengan bantal dan menggebu-gebu di atas kasur dengan ke dua kaki ku. Aku akan gila jika begini terus. . .
POV AMMAR
" Sayang, maafkan aku harus kembali ke luar negeri dalam waktu beberapa minggu ke depan. Aku hatus menyelesaikan tugas-tugas ku dulu disana, kau jaga diri baik-baik ya. Aku mencintaimu "
Ucap Eliez sembari memeluk erat dan mengecup mesra bibir Ammar.
" Aaaah. . . aku pasti akan sangat merindukan mu, Kau juga harus menjaga diri juga hatimu untuk ku disana, jaga kesehatan mu jangan sampai kelelahan sayang. Aku juga mencintaimu " Aku membalas pelukan Eliez dengan sangat erat.
Rasanya, aku masih ingin memeluknya lebih lama. Seakan aku takut Eliez akan kembali meninggalkan ku. . .
" Semalam aku masih belum puas, ayo kita lakukan lagi " Ucapku menggodanya nya sembari mengecup mesra bibir tebalnya itu.
" Ammar, kau. . . kau nakal " ucap Eliez dengan mendorong keras tubuh Ammar dari pelukannya.
" Ya sudah, aku harus pergi sekarang sayang. pak sopir sudah lama menunggu ku di bawah "
" Maafkan aku sayang, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara "
" Tak apa sayang, aku mengerti. pekerjaan mu lebih penting hari ini, kau harus kejar target untuk bisa mendapatkan proyek ini. Semangat ya, dan. . . jangan coba-coba menggoda clien mu. Atau aku??? aku akan membunuh mu, heh. . . "
" Hahaha astaga, kau mengancam ku??? baik lah baik lah. . . aku tidak akan pernah menggoda wanita lain selain dirimu " Ucap Ammar yang kembali memeluk tubuh Eliez dan kami berciuman lagi.
Perlahan Eliez melepas pelukan dan ciuman ku, kemudian dia berlalu pergi keluar dari apartemen ku. Aku mengantarnya hingga di halaman bawah. . .
Rasanya masih berat, melihat nya pergi jauh dari ku setelah sekian lama pada akhirnya kami kembali membangun suatu hubungan dalam ikatan pacaran kembali saat ini. Dan. . . aku ingin serius menjalaninya, sama sepertinya.
Setelah seminggu berlalu, kepergian Eliez. kami jarang berkomunikasi karena ku tau dia sangat sibuk sebagai dokter muda yang berprestasi. Aku bangga, meski ku bosan karena merindukannya.
Entah kenapa, di tengah kerinduan ku ini. . . aku kembali teringat akan ucapan Abel tentang Fanny yang kini sudah memiliki kekasih yang lebih tampan dari ku.
__ADS_1
Ah. . . aku jadi penasaran tentang kabarnya saat ini, semudah itu kah dia menemukan pengganti yang lebih tampan dariku???
Lebih baik aku menemui Abel saja. Tapi. . . apakah tidak keterlaluan kesannya jika aku kembali menemui Abel karena hal ini???
Setelah lama berpikir, aku rapikan meja kerjaku yang sedikit berantakan. Dan berniat untuk menemui Abel, pada akhirnya aku kalah dengan rasa penasaran ku akan kehidupan Fanny saat ini. Mendengarnya memiliki pacar yang lebih tampan dariku membuatku sedikit kesal. . . entah apa alasannya. Padahal kini, aku pun sama. Sudah kembali memiliki Eliez, cinta pertamaku dulu.
Tiba di sebuah apartemen yang kini abel tempati, aku memencet tombol masuk di pintunya. Tak lama kemudian pintu nya terbuka. . . Abel terkejut melihatku berdiri di apartemen nya.
Ini memang kali kedua aku pernah menginjakkan kaki disini, itupun bersama andi karena terpaksa menerima undangannya untuk makan malam atas kelulusan kami mendapat gelar sarjana.
" Wah, lihat siapa yang datang malam ini??? " Ucap abel menyapaku.
" Boleh aku masuk??? apakah. . . ada andi di dalam??? "
" Kau kemari mencariku atau andi??? Andi sedang tidak disini. Dia ada kesibukan lain, masuk lah jika mau "
Lalu aku melewati Abel untuk masuk ke dalam ruangan nya begitu saja.
" Katakan ada apa??? " Tanya abel dengan cetus.
" Katakan bagaimana. . . kau bisa tahu jika Fanny sudah memiliki pacar, kau bilang dia lebih tampan dari ku "
" Aapaaah??? kau kemari hanya untuk menanyakan hal tentang mantan mu??? hahahahaa kau gila Ammar. Kau. . . kau bahkan sudah kembali pada eliez bukan??? " Ucap Abel menertawaiku dengan keras.
" Jangan menghakimi ku Abel, kau lebih buruk dariku "
" Oh ya, tapi kau pernah meminta kepuasan dariku bukan??? "
" Abel, jika kau tidak mau menjawab nya lebih baik aku pulang saja. Percuma aku menemuimu, ternyata kau tidak pernah berubah " ucap ku kesal.
" Hey, baik lah baik lah. . . astaga, apa kau sungguh sangat penasaran??? " Tanya nya lagi.
Aku terdiam dengan memalingkan wajah ku dari nya.
" Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan nya di mall ketika aku ikut bersama andi ke kota B. Dan disitu juga ada Farrel yang datang bersama kami, Farrel berkenalan sangat riang dengan lelaki itu Ammar. Dan kau tau, Lelaki itu sangat tampan dan begitu lembut pada Fanny. Sepertinya dia sangat menyayangi Fanny, begitu juga Fanny. Dan. . . fanny juga berubah. Aku hampir tidak mengenalnya. Dia sangat cantik dan anggun juga terlihat dewasa dengan seragam guru yang di pakainya saat itu, aku yakin. . . jika kau melihatnya lagi saat ini. . . kau akan kembali jatuh cinta "
Jelas Abel panjang kali lebar membuatku semakin memanas hingga berkeringat dan bimbang. Entah perasaan apa ini. . .
" Terimakasih, atas penjelasan mu yang tidak penting itu. Aku akan pulang dulu " Ucap ku sembari berdiri hendak keluar dari ruangan. Aku tidak tahan mendengar cerita tentang Fanny lagi, apakah Abel sengaja melebih-lebihkannya untuk membuatku cemburu???
" Yakin tidak penting??? Ya ya ya semoga benar demikian. Takutnya sih, kau akan diam-diam menghubunginya kembali karena jauh di lubuk hatimu kau masih sangat menginginkannya bukan??? "
Ucapan Abel menghentikan langkah ku, dan ku menolehnya kebelakang dengan tatapan mata yang tajam.
" Bagi ku, dia hanya bagian kecil dari masa lalu yang tidak akan pernah kembali seperti aku dan Eliez. Karena aku juga sadar diri, telah terlalu menyakitinya selama 4 tahun menjalin hubungan ".
__ADS_1
Lalu aku berlalu pergi keluar dari ruangan ini begitu saja tanpa menunggu ucapan Abel lagi.