
Dua minggu berlalu, segala kegelisahan dan kegundahan tiada hentinya menyelimuti ku. Ketika hari ini, kedua orang tua Kevin akan datang ke indonesia menemui kedua orang tua ku.
Bukan kah aku harus senang??? Tidak. Aku justru semakin takut, dalam hati aku selalu menyebut nama Tuhan. Agar pertemuan ini berjalan dengan lancar dan kedua belah pihak mendukung keputusan kami nantinya.
" Sayang, apa kau sudah siap??? cepat turun ya, kau harus lebih dulu menyambut kedatangan orang tua Kevin ". Teriak ibu ku di luar pintu kamar ku.
" Ya bunda sebentar lagi ". Jawab ku.
Sementara aku terus memandangi wajah ku di depan cermin, menarik nafas dalam-dalam berulang kali.
Dalam hati ku. . .
Hai, ciye. . . yang sebentar lagi mau nikah, senyum dong. Semangat dan berbahagia lah Fanny, sudah saatnya kau bahagia. Keluar lah dari limgkaran masa lalu mu dahulu, bersama Kevin kau akan menyongsong masa depan yang sangat indah.
Aku hanya tersenyum di hadapan cermin mendengar bisikan itu di hati ku. Yah. . . aku memang sangat bahagia, sampai rasanya ingin menangis. Tangisan bahagia !!!
Lalu aku bergegas turun untuk menyambut kedatangan orang tua Kevin, dengan segala kegelisahan ku, aku berniat untuk minum segelas air putih yang sudah tersedia di sofa mini ku.
Kemudian ponsel ku berdering, dengan cepat aku meraih dan menerimanya tanpa berpikir panjang dan melihat nomor yang memanggil.
**Halo.
Jawab ku tergesa-gesa.
Fanny. Ini aku. . .
Degh !!!
Ini suara Ammar.
**Oh, kamu.
Tunggu tunggu, jangan di tutup dulu**.
Dengan cepat dia meminta ku untuk tidak segera mamatikan telepon nya, seolah dia sudah bisa menebaknya.
**Fanny, apa kau kini sungguh tidak peduli dan mau menerima ku lagi???
Kau mulai lagi Ammar. Kau sungguh sangat gila, jika kau menelpon ku hanya untuk hal seperti ini aku tutup.
Fanny, apa kau sungguh rela aku menikah dengan wanita lain**???
Jleb !!!
Ucapannya kali ini sedikit menusuk hati ku.
**Terserah kau Ammar. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Terserah jika kau ingin menikah ya menikah saja, lagi pula aku pun sama disini. aku akan segera menikah dengan Kevin, dan malam ini orang tuanya akan datang melamarku secara resmi.
Apa??? bagaimana bisa kau melakukan ini pada ku Fanny. . . aku**. . .
Klik !!!
Aku mematikan panggilan telepon Ammar begitu saja dan memasukkan nomor nya ke daftar blacklist.
__ADS_1
Aku tau, dia hanya ingin memgancam ku saja. Aku tidak peduli lagi.
Lalu Kemudian aku melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruang bawah.
Tiba diruang tamu, ayah dan ibu sudah duduk berdua menyambut ku dengan senyuman. Aku membalasnya meski dengan ragu-ragu aku melangkah untuk menghampiri mereka.
" Cantik sekali anak bunda ". Ucap ibu ku
" Siapa dulu punya anak??? " Ayah tak mau kalah.
" Ih dia cantik persis seperti bunda waktu muda dulu, iya kan??? "
" Hemm. . . iya deh iya, tapi puteri kita jauh lebih cantik malam ini ". Jawab Ayah kemudian memujiku. Beliau terus saja menatapku seolah dia tak ingin terlewatkan sedikitpun apapun dari ku malam ini. Ini tak seperti biasanya ketika ku ketahui matanya selalu berkaca-kaca setiap kali menatapku.
" Ayah. . . boleh kah Fanny bertanya sesuatu??? " Tanya ku menghampiri.
" Apa sayang??? "
" Ayah kelihatan sangat sedih, apa ada sesuatu yang ayah pikirkan??? "
" Ah tidak, ayah hanya bahagia kau akan segera menikah nak. tapi ayah juga sedih, setelah ini tidak akan ada lagi yang memanggil ayah dengan manja "
" Ayaaah jangan begitu. sampai kapan pun aku hanya akan memangilmu ayah dengan manja. aku akan tetap menjadi puteri kecil mu "
" Tidak nak. Saat kau menikah nanti, kau harus menjadikan suami mu raja. kau harus menuruti semua yang di perintahkannya, hormati dia seperti kau menghormati ayah. Dan ayah sangat berharap kau benar-benar menikah dengan nak Kevin "
" Ayah. . . aku sayang ayah ".
POV KEVIN
** Halo pa, papa sibuk gak? Kevin mau ngomong sesuatu yang penting.
Ada apa Nak? bicara saja, Papa sambil dengerin.
Bisakah papa datang ke indonesia bersama mama juga minggu besok?
Untuk apa Nak? kenapa begitu mendadak. Papa harus atur jadwal dulu. Apa lagi mama mu itu, tau sendiri kan?
Pa, pliss untuk Kevin kali ini saja. Kevin mohon sama papa untuk melamar Fanny secara resmi pada orang tuanya. Kevin tidak bisa menunda lebih lama lagi pa, Kevin tak ingin kehilangan Fanny untuk yang kedua kali nya.
Papa Kevin terdiam sejenak mendengar ucapan anak lelaki nya itu.
Pa. . . papa. . . halo. . .
Eh ya. Papa dengar, ehm. . . papa usahakan untuk meyakinkan mama mu dulu. ini bukan lah hal main-main nak, kau tau itu kan???
Iya pa, Kevin tau. maka dari itu Kevin minta tolong sama papa.
Ya ya ya, papa akan coba. Dan. . . apakah kau sudah yakin dengan pilihan mu itu Nak???
Sangat pa. Kevin sangat mencintai Fanny dan hanya akan selalu mencintai serta menjadikannya istri Kevin.
Kau. . . rupanya sudah dewasa Kevin. Papa bangga kau menjadi sosok gentle man seperti itu. Jika kau sungguh mencintainya, pertahankan.
__ADS_1
Pa. . . makasih banyak, Kevin sangat berharap mama akan luluh dan menerima Fanny tanpa syarat apapun untuk masuk ke keluarga kita sebagai istri Kevin.
Biar itu menjadi urusan papa Kevin, kau tenanglah dan tunggu kedatangan kami di indonesia.
Baik pa, Sekali lagi terimakasih.
Klik !!!
Panggilan telepon berakhir.
" Dor !!! "
Nayla mengagetkan Kevin dari belakang.
" Nayla. . . apaan sih kau ini, mengagetkan saja "
" Hehe sory habisnya kak Kevin bengong Nayla perhatiin daritadi " Ucap Nayla yang kemudian duduk di kursi kosong dekat Kevin duduk semulai tadi untul makan siang.
Kemudian Kevin beranjak bangun untuk pergi dari sisi Nayla.
" Kak, mau kemana sih??? "
" Kakak sudah kenyang, duluan ya. Maaf " Ucap Kevin dengan singkat.
" Kak Kevin !!! " Panggil Nayla dengan nada meninggi. Kevin menoleh pada nya dengan heran.
" kenapa sih kak, selalu menghindari Nayla??? Apakah Nayla segitu buruknya sehingga kakak tidak suka Nayla dekat dengan kakak??? "
" Nay, kak Kevin akan segera menikah dengan Fanny. Kakak harap kamu paham maksud ucapan kakak ini ya " Ucap Kevin secara terang-terangan.
" Tapi kak, Nayla. . . Nayla suka sama kakak " Ucap Nayla tak tanggung-tanggung menatap Kevin dengan berani.
Kevin tersenyum kecut mendengar ucapan Nayla.
" Nayla, kau cantik. Kamu juga baik, kakak yakin di luar sana banyak cowok yang sangat ingin menjadi kekasih mu, kau masih muda. Kau belum mengerti apa-apa. Maaf ya, kakak hanya mencintai Fanny. Tak akan terganti sampai kapan pun "
" Bagaimana jika Nayla memaksa untuk tetap menyukai kak Kevin??? Bahkan mama nya kak Kevin. . . "
" Kakak tau, tujuan mu bekerja di hotel ini juga bukan atas dasar keinginan mu sendiri. Tapi mama yang memaksamu kan??? "
Nayla terdiam menundukkan wajah nya mendengar Kevin bertanya demikian.
" Nayla. . . memang sudah jatuh cinta pada kakak, jauh sebelum bertemu dengan mama nya kak Kevin saat itu "
" Kakak sangat berterimakasih kau menyukai kakak, tapi alangkah lebih senang lagi jika kau menyukai kakak layaknya saudara, ya. . . mengerti??? "
" Gak bisa. Nayla suka kak Kevin karena pengen jadiin pacar "
" Nay, jika kau masih ingin kakak berbuat baik pada mu. . . Jaga sikap dan simpan semua keinginan mu itu, percuma. Karena hati kakak sudah mati rasa kecuali untuk Fanny seorang. Ya sudah ya, kakak tinggal dulu "
Kevin melangkah pergi tanpa menoleh pada Nayla lagi yang masih berdiri menatapnya dari belakang. Sementara dalam hati Nayla menggerutu kesal.
Aku tidak akan menyerah begitu saja kak Kevin, semoga pernikahan mu batal karena sesuatu hal yang buruk menimpa pada kak Fanny. Aku sudah cukup menahan diri dan mengalah dari hubungan cintanya dengan Ammar dulu. namun tidak kali ini, kau jauh lebih ok dari Ammar si pengecut itu. Kau pasti jauh lebih segalanya dari Ammar bukan??? sehingga kak Fanny begitu lengket padamu dan berani mengancam ku.
__ADS_1