
Rasanya aku ingin teriak sekeras mungkin hari ini, melihat sosok wanita yang pernah mencabik-cabik hatiku selama bersama Ammar ketika itu. Bahkan hingga detik ini, melihatnya kembali aku masih sakit hati.
" Fanny. . . kenapa sayang??? Apa kau. . . mengenal wanita itu??? " Tanya Tristan menyentuh bahuku sehingga membuatku terkejut menolehnya.
" Sayang??? woah. . . Fanny, apa dia selingkuhan mu??? upz. . . aku hampir lupa, apa kabar??? lama tidak berjumpa ya. Dan. . . hmm. . . kau berubah lebih dewasa dengan seragam itu, apa kau berprofesi sebagai guru juga saat ini??? "
Hah. . . dasar tante girang, mulutnya itu memang tidak pernah berubah manis. Ku pikir dia sudah di telan bumi setelah aku tidak lagi mendengar kabarnya dari Ammar, bahkan Ammar bilang sudah tidak lagi bertemu dengannya dalam kesempatan apapun itu. Dia menjauhi Ammar tanpa sebab, itu yang ku tau dari Ammar.
" Ternyata kau masih betah dengan brondong mu itu??? Aku. . . baik, sangat baik. Seperti yang kau lihat. . . Dan kau Farrel. . . apa kau datang bersama mereka ke mall ini hah??? " Jawab ku cetus sembari melirik Farrel dengan tajam.
" Eh bibi, maafin Farrel. Tadinya Farrel gak tau kalau Andi. . . akan. . . mengajak kak Abel " Ucap Farrel ketakutan menatapku.
" Eh maaf kak Fanny, aku yang mengajak Farrel kesini menemaniku. . . tadinya aku juga gak berniat ngajak Abel kemari. Tapi. . . "
" Ih kenapa sih yank meski aku ikut kesini, kamu takut sama dia??? " ucap Abel dengan kesal.
" Abel. . . kau. . . "
" Fanny. . . sssttt. . . " Tristan menghentikan ucapanku ketika aku hendak memaki Abel. Oh Tuhan. . . tidak seharusnya aku bersikap begini lagi kan??? Toh aku dan Ammar sudah putus. Tidak ada gunanya aku tetap membenci Abel, tapi. . . mulut pedasnya itu, aaaaarght ingin rasanya ku robek.
" So, dia pacar atau selingkuhan mu Fan??? " tanya Abel sengan menyeringai melihatku.
" Halo, aku Tristan. Pacar Fanny " Ucap Tristan kemudian, yang lagi-lagi menyela ucapan yang hendak ku lontarkan.
" Pa. . .car??? jangan bilang kalo elu putus dengan Ammar Fan??? iya??? wah wah wah. . . sayang sekali ya, padahal. . . "
" Yank, udah. . . jangan memulainya lagi " ucap Andi mencoba menghalangi Abel yang terus saja memancing emosi ku.
" Farrel, pulang sekarang. Buat apa kau bergabung dengan mereka. Nanti kau ketularan Andi suka dengan tante-tante girang " Ucap ku mengabaikan Abel.
" Katakan padaku, apa kau sudah putus dengan Ammar??? " tanya Abel memaksa.
" Ya. . . aku sudah putus dengan Ammar. Apa kau puas??? atau. . . kau sedang bahagia??? bukankah ini yang kau tunggu-tungu selama ini??? sekarang. . . kau akan lebih leluasa dengan Ammar "
Ku lihat Andi hanya terdiam dengan wajah menunduk menarik paksa Abel untuk segera pergi dari hadapan ku. Aku masih tidak mengerti, kenapa Andi masih saja bertahan dengan wanita gila seperti Abel.
Dan kemudian Farrel berpamitan untuk pulang lebih dulu. . .
__ADS_1
" Fanny, ehm. . . ayo. . . kita pilih-pilih baju yang kau inginkan "
" Emm. . . gak usah deh, kita pulang aja. Mood ku hilang untuk lanjut shopping " Jawab ku yang kemudian melewati Tristan dan berjalan menuju arah pintu keluar.
Tiba di luar Tristan mengejarku lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk ku. Aku langsung saja masuk tanpa kata, ku hempaskan tubuh ku di kursi mobil Tristan dengan nafas yang memburu karena emosiku bertemu kembali dengan Abel.
Tristan perlahan menyusul masuk ke dalam mobil dan menatap wajah ku dengan serius.
Kemudian dia menggenggam tangan ku dengan lembut. . .
" Fanny, siapa wanita tadi??? kenapa kau terlihat begitu membencinya "
Aku masih terdiam dengan tatapan menunduk mencoba untuk menormalkan ini hati yang terasa sangat sesak menghujam jantungku.
" Dia. . . wanita yang selalu berhasil mencuri perhatian dan kepercayaan Ammar untuk ku dari dulu " Ucap ku dengan pandangan yang masih menunduk, kemudian tanpa ku inginkan. . . air mata mulai mengalir di pipi ku kembali.
Ah, brengsek. Kenapa aku harus menangis lagi mengingat akan hal itu. . .
Kemudian perlahan Tristan menyentuh pipi ku untuk di hadapkannya padanya saat ini. . .
" Katakan pada ku, apa kau. . . masih memiliki rasa yang sama terhadap tunangan mu itu Fanny??? " tanya Tristan dengan wajah sedih. . .
" Tapi sorot matamu berkata lain sayang "
Kembali aku terisak dalam tangis dan memeluk tubuh Tristan dengan erat, Tristan membalas pelukan ku dengan terus membelai lembut punggung ku.
" Tidak apa. . . jangan memaksakan diri membohongi hatimu sayang, jika kau memang masih mencintai Ammar " Ucap Tristan dengan lembut.
" Tidak Tristan. . . aku sangat membencinya, aku ingin benar-benar melupakannya " Jawab ku dengan isakan tangis membuat Tristan semakin mempererat pelukan nya di tubuh ku.
" Lalu aku harus bagaimana agar bisa membuatmu melupakannya dengan mudah Fanny??? "
Perlahan ku lepas pelukan Tristan, dan tanpa satu kata ku lontarkan ku kecup bibir nya dengan mesra. Namun Tristan masih terdiam tak membalas, membuatku melepas kecupan ku dari bibirnya dan memandangnya dengan mengerutkan kedua alisku.
" Apakah cara ini sungguh akan membuatmu sedikit tenang dari amarah mu ini??? " tanya nya dengan lembut.
Aku terdiam dan ku palingkan wajah ku dari tatapannya, seketika Tristan menarik wajah ku untuk di dekatkan pada wajah nya. Kemudian dia menciumi bibir ku. . . Aku membalasnya.
__ADS_1
Kali ini ciuman kami sedikit memanas. . . membuat tubuh kami sedikit berkeringat.
Lalu ku lepaskan perlahan ciuman ku dari bibir Tristan, dengan nafas yang sedikit tidak betaturan.
Oh tuhan, sial. . . ini sungguh sangat memalukan. Kenapa aku jadi agresif begini hanya karena emosi ku pada Tante girang itu. . . Hah. . . entah apa yang dipikirkan oleh Tristan saat ini melihat sikapku padanya yang begitu agresif.
" Fanny. . . aku mencintaimu " ucap Tristan tiba-tiba.
" He'em. . . aku juga " jawab ku dengan senyuman pada nya.
*******************************
POV ABEL
Hah. . . aku masih sedikit terkejut hari ini, setelah bertemu dengan Fanny. . . wanita manja yang begitu dicintai Ammar saat itu. Tapi, aku pun tidak percaya jika hubungan mereka benar-benar berakhir. . . siapa yang tidak tau jika semenjak aku dan Ammar melakukan hubungan intim saat itu, Ammar benar-benar menjauhi ku dan menghindar setiap kali melihatku dari kejauhan. dia begitu takut aku akan memaksanya lagi memuaskan nafsuku. . .
Heh, Kau memang hebat Fanny. Setelah bertahun-tahun kau menjalin hubungan dengan Ammar yang begitu tampan dan hampir semua wanita di kampus mengejarnya, namun kini. . . kau dengan mudahnya mendapat pacar baru yang lebih tampan, heh. . . kau berlagak begitu sombong di hadapan ku tadi. Seolah kau adalah wanita satu-satunya yang banyak dicintai oleh laki-laki tampan.
Tapi. . . bagaimana kabat Ammar saat ini, aku sungguh sudah lama tidak pernah bisa bertemu atau sekedar menyapanya saja melalui ponsel. Apakah dia sungguh-sungguh menyerah begitu saja??? Tapi jika benar. . . bagus lah, aku jadi bebas mendekati Ammar lagi setelah ini.
Dengan begitu. . . hubungan kita akan kembali seperti dulu lagi. Teman rasa pacar, hihi. . .
Hmm. . .
" Yank, kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu? " Tanya Andi pada Abel.
" Ah, enggak kok. Hanya membayangkan hal yang indah sedikit. . . hehe " jawab ku dengan mengalihkan pikiran kotor ku.
" Apa. . . kau. . . tidak ingin meminta maaf pada kak Fanny??? "
" Apa??? minta maaf? apa maksud mu itu Andi??? kenapa aku harus minta maaf padanya hah??? harusnya dia yang meminta maaf lebih dulu padaku.
" lalu apa salah kak Fanny, bahkan selama ini kalian tidak pernah bertemu lagi??? " Tanya Andi lagi.
" Terlalu banyak, sampai aku sangat malad untuk membahasnya " Jawab Abel dengan rasa percaya dirinya.
Dalam hati Abel
__ADS_1
Karena Fanny berani lebih manja dan menggoda Ammar serta dia. . . ku yakin dia yang membuat Ammar terus menghindariku saat ini.