
Dengan sedikit jurus manja ku, kak Rendy dan istrinya akhirnya mau ikut serta untuk bergabung dengan dengan ku di restorat tempat Kevin bertemu clien, perut ku yang sudah sangat kelaparan. Duduk berlama-lama dalam mobil selama perjalanan tadi membuatku seolah kehilangan banyak tenaga.
Kali ini kami pergi dalam satu mobil, kak Rendy yang bertugas ambil alih mobil di temani Kevin di depan sementara kak Shishi, istrinya bersama ku di kursi belakang.
Seperti biasa, ketika bersama mereka dalam satu mobil selalu aku yang paling ribut mengisi suasana meski rasa lapar dan haus menyerang ku.
Kami tertawa riang bersenda gurau tanpa henti sepanjang perjalanan menuju restoran yang akan kami tuju. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah restoran tempat Kevin akan bertemu clien nya.
Aku bergegas turun lebih dulu yang disusul kemudian oleh kak Shishi dan lainnya. Kevin tersenyum pada ku dengan tatapan matanya seakan memberi isyarat agar aku selalu berada di sisi nya. Aku menghampirinya lebih dekat kemudian ku rangkul tangan Kevin tak peduli meski di hadapan kak Rendy dan Istrinya.
" Ehhem hem hem uhuk uhuk ". Kak Rendy mulai beraksi dengan sikap nya itu, ia sengaja menggoda ku.
Aku mengabaikannya dan terus melangkah bersama Kevin melewati kak Rendy dan istrinya. Hingga tiba di dalam ruangan aku melihat sekeliling untuk mencari meja dengan posisi senyaman mungkin dan ternyaman bagi kami saat bersantai nanti.
Beruntung di dekat jendela ada meja kosong untuk kursi 4 orang. Pas banget, kata ku dalam hati. Kemudian aku kami menuju ke tempat itu dan mendudukinya yang kemudian kak Rendy bersama istrinya pun ikut duduk bersama kami.
Aku sudah langsung sibuk membuka lembaran menu yang sudah tertera di meja untuk memesan banyak makanan dan minuman. Lalu datang seorang pelayan yang sudah mempersilahkan kami untuk menunggu pesanan kami siap di hidangkan.
Sementara Kevin sudah mulai merogoh ponsel di kantong jas yang di pakainya dan di utak atiknya keyboard di layar ponsel nya.
" Halo. . . pak, saya sudah tiba di restoran X. Saya akan menunggu, mohon datang tepat waktu ". Ucap nya dengan seseorang yang di telponnya barusan.
" Ha. . halo, apa??? eh maaf pak suara anda bisa di perkeras lagi??? halo. . . "
Kevin tampak seperti sedang kebingungan dan mencoba mengeraskan volume ponsel nya. Aku yang melihat nya hanya melongo tanpa kata, karena dia begitu kebingungan seolah sedang mencari-cari sinyal dan mengutak atik layar ponsel nya itu.
Dan. . .
Terdengar suara yang membuat nafasku bagai terhenti sejenak.
** Halo ya halo pak, saya sudah di jalan sebentar lagi sampai. Maaf ponsel saya sepertinya sedang rusak.
" Oh baik lah saya akan menunggu bapak, hati-hati di jalan "
Klik !!!
" Clien lu aneh Vin, hahaha " canda kak Rendy pada Kevin.
Sementara aku. . . aku masih terdiam kaku, mencoba menetralisir dan menormalkan nafas ku kembali.
Oh Tuhan, suara tadi. . . oh tidak. Bagaimana mungkin. . . ku harap ini hanya sekedar mirip saja. Tapi. . . tapi. . . sampai detik ini aku masih mampu mengenali logat nada bicaranya, suara nya yang sedikit. . . ah, itu bukan Ammar. aku yakin bukan Ammar, suara di ponsel memang kebanyakan selalu mirip kan. . . iya kan???
Aku terus saja beradu argumen dengan hati ku sendiri, sampai-sampai aku di kejutkan dengan panggilan kak Rendy yang sedikit membentak ku.
" Ah iya ada apa kak??? ehm, maaf " Ucap ku dengan wajah panik menatap nya.
" Ada apa dengan mu??? kenapa melamun begitu lama??? Kevin sudah memanggilmu berkali-kali daritadi.
" Eh. . . aaah. . . maafin aku Vin. . . aku terhanyut dalam lamunan ku "
" Fanny, ada apa dengan mu hari ini??? saat berangkat pagi tadi kau juga gelisah, dan sekarang kau melamun saja. jangan membuatku takut, apa kau tidak nyaman dengan perjalanan kita kesini??? " Ku lihat di raut wajah Kevin mulai timbul kekhawatiran.
" Cerita saja pada kami jika ada yang mengganggu pikiran mu Fanny " ucap kak Shishi menambahkan.
" Vin, apa kau sungguh tidak mengenal siapa clien mu kali ini??? apa dia clien yang sangat penting atau bagaimana hah??? " tanya ku menghadap Kevin dengan penuh kepanikan.
__ADS_1
" Aku sungguh tidak mengenalnya Fanny, ini clien juga bukan aku yang menerimanya. Melainkan hotel tempat ku bekerja di luar negeri, tapi. . . apa kau mengenalnya dari suaranya barusan??? "
Aku tertegun kemudian, aku tidak tau harus menjawab nya bagaimana.
Tuhan. . . tolong aku. . . !!!
Ponsel Kevin kembali berdering, aku sedikit tertolong. Dan Kevin langsung menerima panggilan di ponselnya itu.
" Halo. . . ya pak??? "
" Oh udah sampai??? saya duduk di dekat jendela dan sudah saya pesankan meja kosong untuk kita pak "
" Baik. . .baik pak "
Kevin sudah berdiri menghadap pintu untuk menanti clien nya itu. Sementara kegelisahan ku ini teralihkan dengan datangnya hidangan makanan dan minuman yang ku pesan tadi.
" nih makan yang banyak setelah ini, supaya lebih fokus " ucap kak Rendy ngedumel. Sedangkan kak Shishi yang duduk tepat di hadapan ku terus menerus menatap dengan tatapan yang biasa.
Ah sebaiknya aku makan banyak saja, sampai kenyang seperti yang kak Rendy bilang. Agar aku bisa mengendalikan kegelisahan ku ini. Baru saja hendak ku santap makanan di depan ku, niat ku terhenti dan menoleh seketika saat ku dengar Kevin berkata dengan lirih.
" Am. . .mar??? "
Perlahan aku alihkan pandangan ku ke pintu masuk. Hahaha, aku masih sempat menertawai diriku sendiri dalam hati. Seakan aku bagai berada dalam mimpi yang buruk setelah melihat sosok lelaki yang tengah berjalan kearah ku dengan langkah berat dan ragu.
Lelucon apa ini Tuhan??? setelah sekian lama, bahkan aku baru saja beberapa hari yang lalu berjanji pada diriku sendiri untuk benar-benar menghapus semua ingatan ku tentang nya tanpa sedikitpun tersisa. Tapi saat ini kau malah mempertemukan kami. . .
Apakah kali ini kau sedang ingin mengujiku???
Sungguh aku semakin tak percaya setelah dia benar-benar kini berdiri di hadapan ku secara nyata.
Baik lah Tuhan. . . mari kita bermain sejenak jika begitu ingin mu.
" Fanny. . . " ucap nya lebih dulu menyapa ku.
" Ternyata kau Ammar " sapa Kevin mewakiliku yang masih terdiam kaku tanpa kata.
" Vin, apa kabar??? " sapa nya dengan mata tetap mengarah pada ku.
" Oh baik. Bagaimana dengan mu??? dan apakah kau clien yang memintaku datang??? "
" Clien??? oh jadi itu kau??? aku. . . ehm, aku tidak tau jika itu kau. Bukan kah kau sedang diluar negeri??? "
sepertinya kak Rendy sudah tidak tahan yang semulai tadi diam dengan menggertakkan gigi nya melihat kedatangan Ammar.
" Hai coba lihat siapa yang datang . . . wah, tak di sangka. Mantan tunangan adik ku yang brengsek itu kah ini??? " ucap kak Rendy dengan geram menyela pembicaraanya dengan Kevin.
ingin rasanya aku yang memakinya demikian, tapi kenapa justru kak Rendy yg mendahuluiku???
kakak emang paling ter the best. Tapi itu belum cukup bagiku. . .
" Rend, aku. . . bisa gak jangan sekasar itu terhadap orang yang baru kau temui " ucap Ammar tampak kesal.
" Dasar **** lu Mar " kak Rendy hendak memberikan sebuah pukulan untuk Ammar namun terhalangi oleh Kevin yang tetap terlihat tenang.
" Rend, ini di restoran. Banyak orang yang memperhatikan kita " ucap Kevin dengan lembut.
__ADS_1
" Kak Rendy. . . sudah lah " aku memberanikan diri bersuara.
" Apa kabar Ammar, wah. . . akhirnya Tuhan mempertemukan kita sesuai pintamu saat itu, ketika kau memintaku menerimamu sebagai teman. Apa kau ingat itu??? itu yang selalu kau minta bukan??? "
" Fanny, aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud mempermainkan mu "
" Lalu dimana tunangan mu??? apa dia juga ikut kemari??? "
" Fanny. . . kau. . . "
" Apa lagi yang akan kau jelaskan kali ini Ammar??? Hah. . . apa lagi??? sudah cukup kau membuat adik ku menderita selama ini, brengsek !!! " kak Rendy kembali menyela dengan nada marah, Ammar menunduk terdiam.
" Fanny, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti yang kau pikirkan saat itu "
Aku menyeringai mendengar ucapan maaf darinya. terdengar menggelitik di telinga ku. . .
" Sudah lah Ammar, aku justru berterimakasih dengan mu. Karena berkat mu aku bisa seperti sekarang, kau tau??? saat ini aku dan Kevin sedang menjalin hubungan serius. kami akan menikah setelah ini, jadi ku harap kau pun sama. Berbahagia lah dengan tunangan mu "
Lalu dengan berani aku mengecup pipi Kevin dari samping. Entah kenapa. . . entah kenapa aku jadi menggila seperti ini. Kevin tampak kikuk namun dia tetap berusaha tenang melempar senyumnya pada ku.
" Kau. . . apa kau sengaja melakukannya di depan ku dan berharap aku akan cemburu??? begitu??? "
Ammar mulai geram, entah dibalik ini semua dia masih menyimpan rasa cemburu atau memang merasa di remehkan olehku.
" Cih, apa kau sungguh merasa aku demikian Ammar??? "
" kau justru terlihat seperti wanita gampangan di depan ku Fanny, kau akhirnya kembali pada seseorang yang dulu kau jadikan alat pelarian mu dariku bukan??? "
" Ammaaaaarrrrr. . . kemari kau, aku perlu bicara dengan mu " Kak Rendy menarik kerah baju Ammar di bagian lehernya dan meninju nya begitu saja tak tertahankan lagi.
Bugh !!! sebuah pukulan mendarat di ujung bibir nya. Tampak semua para tamu berdiri dan berseru memandang ke arah kami.
" Ini untuk sikap mu yang telah membuat adik ku menderita selama ini dan kau merendahkan nya begitu di hadapan ku, siapa kau hah??? sehingga berhak merendahkannya? " ucap kak Rendy dengan lantang menarik erat kerah leher baju Ammar, sementara aku yang menyaksikan ini semua hendak melerai kak Rendy namun Shishi memberikan isyarat pada ku untuk tetap diam di tempat.
" Vin, pliss jangan begini ".
kemudian aku mencoba memohon pada Kevin, tapi kau tau??? dia tersenyum begitu lembut dan tetap tenang pada ku dengan sebuah kecupan di kening ku.
Kemudia dia beranjak untuk membantu Ammar terbangun dari posisi nya yang tersungkur akibat sebuah pukulan dari kak Rendy tadi.
" Aku sudah berjanji dalam hati ku saat itu Ammar, jika kau menyakiti dan melepas wanita sebaik Fanny. Kau akan menyesal seumur hidup, tapi sungguh aku berterimakasih pada mu karena telah memberiku kesempatan mencuri hatinya kembali dari masa lalu mu dan ku pastikan jika nama mu di hati Fanny dan semua kenangan masa lalu kalian aku akan menghapusnya dalam waktu sekejap saja hingga kau benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan nya "
Mendengar ucapan Kevin, aku justru ingin menangis. Tapi berusaha ku tahan. . . aku harus tetap tenang, agar Ammar tidak semakin merendahkan ku.
" Sayang, jika dia clien yang mau kau temui hari ini selesaikan segera. Lalu kita pergi ke hotel, aku sudah gerah ingin mandi segera. Itu pun jika kau berniat melanjutkannya " ucap ku menghampiri Kevin dan merangkul manja lengan nya di hadapan Ammar.
Ini memang kekanakan, tapi aku terpaksa melakukan nya.
" Ammar, sekali lagi aku minta maaf. Kekasih ku sedang ingin di temani mandi, aku harus mengakhiri hubungan pekerjaan dengan mu. Eh satu lagi, jikapun aku akan merugi dalam hal ini. Fanny adalah yang terpenting bagi ku "
Di genggam nya erat tangan ku di depan Ammar, dan aku menuruti langkah Kevin melewati Ammar yang kemudian di susul oleh kak Rendy dan istrinya. Namun aku masih menghentikan langkah ku sejenak, dan menoleh ke belakang.
Sedikit membuatku terkejut melihat mata nya yang merah berkaca-kaca memandangiku, aku berusaha melempar senyum pada nya.
" Semoga ini jadi pertemuan terakhir kita Ammar, sekalipun itu untuk kebaikan di kehidupan yang selanjutnya "
__ADS_1
Kemudian aku bergegas melangkah kembali keluar bersama Kevin, ku genggam erat tangannya walau dengan hati yang pilu dan nafas yang sedikit menyesakkan dada.