
Hari berjalan seperti biasanya. Dan Kevin sudah kembali beraktifitas di tempat ia bekerja, aku masih belum berani bertanya soal formulir Nayla pada Kevin. Aku gak ingin terlihat terlalu mengekang nya. Ini akan membuat suatu ketidak nyamanan dalam suatu hubungan.
Drrrt. . .Drrt. . .
Sebuah pesan singkat dari Kevin untuk ku siang ini. Dia memintaku menemani nya makan siang di kantin tempat nya bekerja. Kebetulan jadwal ku sudah selesai hari ini di sekolah. Dan ini, baru pertama kali nya aku akan menghampirinya di tempat kerja.
Tak perlu berpikir lama, aku bergegas kemudian menuju alamat yang dia berikan pada ku. Dengan menaiki Taxi aku pergi menemuinya.
Tiba di tempat, aku menelponnya dahulu. Aku sedikit malu, ini kali pertama aku datang ke hotel tempatnya bekerja. . . ini sedikit aneh dan membuatku kikuk.
** **Sayang, aku sudah di loby nih. Jemput aku, aku malu tau gak ?
Astaga, kau sudah di loby kenapa baru bilang? ok aku akan menjemputmu**.
bip bip bip. . .
Kevin mematikan telepon begitu saja.
Sambil clingak clinguk di loby mataku tertuju pada Nayla yang berjalan dengan tergesa-gesa. Dia pun melihat ku dengan tanpa sengaja kemudian menghampiriku dengan ragu.
" Kak Fanny, sedang nunggu siapa??? "
" Kau pikir aku menunggu siapa disini hah??? " Jawab ku cetus.
" Kak, sampai kapan sih kakak akan terus bersikap dingin pada Nay??? Nay juga gak terima kalo kak Fannu terus saja begitu. Itu semua sudah berlalu. . . lagipula kakak kan sudah putus sama Ammar. Untuk apa lagi kakak terus membenci Nayla??? "
Aku tersenyum menyeringai mendengar ucapannya itu. Dia menatap ku tajam.
" Nay, apa kau tau bagaimana hatiku saat itu??? aku mulai jatuh hati dan mempercayai Ammar adalah laki-laki baik untuk ku. Dan saat itu aku yakin kau pun tau hubungan ku dengan Ammar sudah status pacaran bukan??? "
Nayla terdiam mendengar ucapan ku ini, dia menundukkan wajah nya seolah gugup dan ketakutan.
" A,a. . aku. . . "
" Cih, kesengajaan mu itu yang membuatku hingga detik ini membuatku sangat kecewa pada mu Nayla. Kenapa??? kau pikir aku tidak tau jika kau berniat bersaing dengan ku saat itu hanya karena kau jauh lebih mengenal perihal pacaran, style, dan semua hal-hal yang berbau ****??? kau pikir kau bisa merebutnya dengan Ammar dan merasa menang dari ku??? begitu??? "
" Ok ok, aku akui itu semua benar. Tapi itu dulu kak, bukan kah Ammar lebih memilihmu??? dan pada akhirnya dia mencampakkan aku begitu saja "
" Lalu sekarang apa lagi??? Apa kau berniat akan melakukan hal yang sama seperti dulu lagi Nayla??? "
" A. . . apa maksud kakak??? "
Nayla kembali menatapku dengan terperangah. Bibirnya tampak gemetaran.
" Nayla. . . Nayla, sebenarnya aku sebagai orang yang sudah kau anggap kakak tidak ingin bersikap begini pada mu. Tapi jujur, kali ini Aku tidak akan membiarkan mu sedikitpun berharap lebih pada Kevin. Kami segera menikah dalam waktu itu dekat ".
__ADS_1
" Hahaha menikah??? Upz, maaf. Apa kakak yakin akan semudah itu ??? Emang udah dapat restu??? "
Degh !!!
Apa yang Nayla katakan barusan??? apa dia berniat menantang atau menggoyahkan hatiku???
" Kak, maaf. Tapi mungkin kali ini aku tidak akan mengalah lagi, jujur aku jatuh hati pada Kevin sejak awal bertemu di pernikahan kak Rendy. Apa kau percaya??? Aku bekerja disini juga atas bantuan mama nya kak Kevin loh. Kami gak sengaja ketemu di butik tempat ku bekerja dulu, bukan kah jodoh juga terjadi dari suatu kebetulan??? ". Ucap Nayla dengan ekspresi wajah nya yang kini seolah menantang.
Oh tuhan, benarkah yang Nayla ucapkan ini??? apa ini salah satu alasan Kevin memintaku untuk segera menikah dengan nya secepatnya???
" Heh, kau pikir aku akan mudah goyah lagi karena mu Nayla??? "
" Aku tidak meminta begitu kak, tapi aku tidak akan. . . "
" Sayang. . . "
Ucapan Nayla terhenti seketika saat mendengar suara Kevin memanggilku dari belakang.
" Kenapa begitu lama??? "
" Aduh iya maaf, tadi aku ada sedikit kerjaan yang harus di selesaikan dulu ". Ucap Kevin mengelus rambut ku di depan Nayla. Aku melirik Nayla sejenak, dia terlihat sedikit kesal.
" Aku marah ". Jawab ku cetus, Sengaja aku merengek manja padanya di depan Nayla.
Cup !!!
" Sayang, apaan sih. Ini di depan umum, lihat tuh ada Nayla " Jawab ku sengaja menunjuk Nayla.
" Eh, Nayla??? ngapain masih disini??? maaf ya, kami lepas kontrol ".
" Gapapa kak, ehm . . . apa kalian mau makan siang??? aku. . . boleh ikut bareng gak??? "
" Yakin mau ikut makan bareng kami??? nanti kalau kami bermesraan lebih dari ini jangan risih ya ". Kevin ambil alih ucapan menghentikan ku yang hendak menjawabnya.
Aku tersenyum geli di hati mendengar jawaban Kevin, good job baby. . . Hihi.
" Ya udah yuk Yank, aku udah lapar banget nih ". Ajak Kevin kemudian sembari berjalan merangkul ku melewati Nayla yang masih berdiri kebingungan. Aku tertawa geli tanpa henti, kemudian berbalik menoleh nya dengan mengedipkan mata ku pada Nayla. Dia terlihat kesal dan memanyunkan bibirnya pada ku.
POV KEVIN
Setelah kembali ke luar negeri, dua hari kemudian kedua orang tuanya pun ikut pulang ke luar negeri.
" Kevin, mama mau bicara sebentar Nak ". Ucap mama nya ketika melihat Kevin baru saja tiba dirumah selepas bekerja.
" Ada apa ma??? " Tanya nya sembari duduk di samping nya.
__ADS_1
" Kapan kau akan kembali ke indonesia??? "
" Ehm. . . mungkin lusa " Jawab Kevin dengan singkat.
" Nak, apa kau sungguh mencintai Fanny??? "
Kevin terdiam sejenak mendengar perkataan mamanya itu.
" Pikirkan lah matang-matang dulu Kevin, dia anak tunggal di keluarganya. Mama tidak yakin dia akan bisa beradaptasi disini dan berada jauh dari kedua orang tuanya. Sedangkan mama. . . mama tidak ingin kau hidup dan tinggal di indonesia. Sedangkan adik mu Shishi tinggal disini juga kan. . . "
" Ma, apakah mama tau? Fanny adalah satu-satunya wanita yang selama ini Kevin cintai dan dinanti-nantikan. Dia gadis baik, dia periang, dan dia juga bukan anak yang manja. Kevin yakin dia akan mau tinggal dirumah ini bersama kita "
" Bukan hanya itu Nak, mama dengar. . . dia sempat mau bunuh diri ketika putus dengan tunangan nya yang sangat dia cintai selama bertahun-tahun lamanya. Apa kau yakin dia sudah melupakan mantannya itu??? apa kau yakin dia tidak menjadikan mu pelarian nya saja hah??? "
" Istri ku, apa yang kau bicarakan??? ". Ucap papa Kevin yang menghampiri di tengah perbincangan mereka.
" Pa. . . Mama gak mau anak-anak kita jauh dari kita nantinya. Mama ingin semua ngumpul dirumah ini ". Bantah mama Kevin pada suaminya itu, sementara Kevin terdiam dengan wajah nya yang pilu. Dia memang tidak pernah berani berdebat lama dengan mama nya itu.
" Sayang, anak kita ini lelaki. Sudah sewajarnya jika dia ikut tinggal dimana rumah istrinya nantinya. Jangan mengekangnya, biarkan dia memilih dimana dan dengan siapa dia akan menikah nantinya. lagi pula papa lihat Fanny gadis baik, dia santun, dan periang. Papa suka sikap luwesnya itu, meski terlihat manja itu karena dia hidup sebagai anak tunggal, tentunya banyak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang lebih ".
Mendengar hal ini Kevin tampak tersenyum sumringah karena merada ada yang membela nya akan hal ini.
" Ma, percayalah pada ku. Aku akan membuktikan nya pada mama, jika Fanny adalah wanita baik bukan wanita manja seperti yang mama pikirkan ma. . . dia juga sangat mencintai Kevin. Tolong restui Kevin untuk menikahi Fanny "
" Coba kamu lihat foto ini, dia gadis yang mama temui di butik saat mama berbelanja. Dia bekerja sebagai pelayan fashion bagi para pembeli. Namanya Nayla, mama lihat dia pekerja keras dan menarik dan tegas. Dia cantik kan??? ". Ucap mama Kevin sembari menyodorkan sebuah amplop.
" Kevin sudah mengenalnya secara gak sengaja. Fanny juga mengenalnya cukup dekat ". Jawab Kevin memalingkan wajah nya.
" Oh ya??? wah kebetulan dong ya, jadi mama tidak perlu menceritakan secara detail lagi. Lagi pula kita sudah cukup mengobrol banyak saat makan siang mama menemuinya dan berbincang banyak hal. Dia bilang hobby nya memasak loh, dia anak pertama dari 3 bersaudara. Dia juga pandai menanggapi obrolan mama yang sedikit cerewet "
" Ma. . . pliss. . . cobalah untuk lebih mengebal Fanny juga, bukan kah mama sudah lebih dulu mengenal dia cukup lama??? "
" Yah. . . memang benar, tapi itu dulu sebatas kenal saja ketika dia masih bertunangan. Dia begitu nempel manja pada tunangan nya itu "
" Maa. . . "
" Pokoknya mama mau kamu kenal lebih dekat dulu dengan Nayla. Mama akan lebih senang jika kau memilih nya sebagai calon istri dan bawa dia tinggal dirumah kita. Gak akan ada tawar menawar nantinya karena dia bukan anak tunggal ".
Dengan tegas mama Kevin berkata demikian lalu pergi memasuki ruangan kamarnya begitu saja. Sementara Kevin menunduk diam tak berkutik melihat mama nya yang begitu keras akan hal ini. . .
" Nak, jangan dengarkan apa kata mama mu. Kau anak laki-laki. Kau akan menjadi kepala keluarga untuk keluarga kecilmu kelak. Lakukan apa yang memang terbaik untuk mu, papa selalu mendukungmu. Pertahan kan Fanny jika itu memang pilihan terbaik mu. Ajak lah secepat mungkin dia menikah, tapi sebelumnya kalian harus punya komitmen bersama agar tidak saling menyalahkan dan menyesal nantinya harus menjadi tuntutan di akhir pernikahan kalian ".
" Terimakasih pa. . . selalu mendukung Kevin, Kevin akan buktikan pada mama. Bahwa Fanny adalah calon menantu idaman ".
" Fighting son ". Ucap Papa Kevin dengan menepuk bahu Kevin.
__ADS_1
Dalam hati Kevin mulai sesak dan pilu. . .
Tuhan, ini pertama kalinya aku memohon dan meminta padamu. Biarkan Fanny dengan ku hidup bersatu dan bahagia nantinya. Karena aku tidak ingin membuatnya menderita lagi. Sudah cukup dia menangis dalam deritanya yang di berikan oleh orang-orang terkasihnya dulu.