
Dengan langkah kaki berat aku berjalan pelan menghampiri perdebatan sengit antara Kevin dan Ammar yang juga tengah di saksikan oleh kakak ku Rendy.
Berakhirlah semua hari ini tuhan. . . aku benar-benar takut melihat wajah mereka.
" Fanny. . . kakak tidak percaya kau bisa berada dalam posisi sulit seperti ini " Ucap kak Rendy dengan nada panik.
Aku masih terdiam menunduk tidak berani menatap wajah mereka satu-satu.
" Fanny. . . kak Kevin yakin kau sudah menyaksikan ini semua daritadi kan??? Jika kau bisa memberikan jawaban dan pilihan diantara kami, kak Kevin harap sekarang juga kau jawab " Ucap Kevin.
Aku terkejut mendengar ucapan Kevin itu, aku memberanikan menatap wajah mereka semua.
Ku lihat kak Rendy memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya pada ku.
" Fanny. . . jangan pernah mencoba mengkhianati cinta kita sayang. . . kau hanya milikku ". Ucap Ammar dengan nada tegas.
Oh tuhan, aku benci dengan kondisi ini. seakan benar-benar mencekikku perlahan, lalu aku harus bagaimana??? aku tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka. . . Kevin sangat baik, dan Ammar. . . aku tau dia telah berkali-kali menyakitiku, tapi aku masih sangat mencintainya Tuhan. . .
" Fanny. . . " Panggil Kevin dengan sangat lembut.
Membuat hatiku semakin sakit mendengarnya. . .
" Fanny, kita akan segera bertunangan sayang. Aku akan menjadi milikmu seutuhnya begitu juga kau. . . " Ucap Ammar seakan tak mau kalah.
Lama ku terdiam. . . aku tidak bisa berpikir dengan tenang dan fokus, semua seakan buntu. Tapi yang ku sadari. . . mereka semua orang tengah berusaha membahagiakan ku, bagaimana jika aku saja yang menanggung semua sakitnya nanti. . . aku tidak ingin melihat mereka semakin mendendam satu sama lain nantinya.
" Fanny. . . apa kau baik-baik saja? " Tanya kak Rendy membangunkan lamunan ku.
Kemudian aku tersenyum menanggapinya.
" Maafkan aku, aku telah menyebabkan keributan diantara kalian. Aku yang bersalah dalam hal ini, aku tidak pernah membayangkan semua akan semakin rumit begini akhirnya. Dan. . . kak Kevin, kau orang yang baik. Kau dewasa, kau unik, kau pria pertama yang membuat ku terkagum-kagum dengan sikapmu yang selalu tenang dalam menghadapi sikap Ammar yang sudah berulang kali kasar padamu. . . Sedangkan. . . kau Ammar. Kau tau aku sangat mencintaimu, aku selalu takut jika pada akhirnya hubungan kita tidak akan bertahan lama, tapi kau. . . apa kau pernah sekali saja berpikir untuk benar-benar menghargai perasaan ku itu??? Kau justru mengulang kembali rasa sakit yang pernah kau torehkan ". Ucap ku dengan panjang kali lebar hingga tanpa sadar airmata ku mulai menetes.
" Fanny. . . aku. . . "
" Berhenti disitu Ammar, jangan mendekat. Biarkan aku menyelesaikan ucapan ku dulu. . . " Ucapku menghentikan langkah Ammar yang hendak mendekatiku.
__ADS_1
Ammar terdiam kaku di tempat,
" Dan. . . aku, aku bukan barang yang bisa saja kalian perebutkan dengan alasan apapun itu. Aku tidak ingin menyakiti salah satu dari kalian, aku hanya ingin bisa di cintai dan mencintai satu orang yang benar-benar tulus padaku. . . tapi setelah kondisi apa yang saat ini aku lihat dari kalian. . . ku mohon maafkan aku, biarkan aku hidup tenang setelah ini, belajar lagi untuk bisa lebih dewasa dari beberapa hal yang sudah aku alami kemarin, dan. . . biarkan aku sendiri saja untuk kembali menata hati ku, tanpa. . . Kau Ammar, dan juga. . . tanpa kau kak Kevin ". Ucap ku dengan sedikit terbata-bata menahan sesak di dada. Aku tidak tau apakah ini adalah jawaban yang tepat untuk kebaikan kami semua atau. . . Ah entahlah.
Aku sudah siap, biarlah aku saja yang menahan sakit sendiri disini.
" Fanny, kau. . . apa yang kau maksud ha??? apa kau ingin mengakhiri hubungan kita??? Jangan konyol Fanny. . . ini tidak adil. . . " Jawab Ammar membantah.
" Fanny. . . apa kau yakin ini adalah pilihanmu yang terakhir??? apakah ini memang dari hati mu??? Jangan memaksakan diri begitu. . . jangan bodoh. . . " Tanya kak Rendy menyambung, yang kemudian mendekatiku dan memeluk erat tubuh ku.
Aku masih berusaha untuk menahan diri agar tangisku tidak pecah. . .
" Fanny. . . jika ini memang yang kau mau. . . aku tidak akan memaksa, kak Kevin akan tetap mendukungmu jika kau anggap ini adalah yang terbaik. Tapi bukan berarti kak Kevin menyerah begitu saja pada cinta kakak. . . " Ucap Kevin dengan lembut.
Dia memang selalu tampak tenang dalam hal sulit seperti ini sekalipun.
" Fanny, jangan membuatku resah. . . aku janji aku tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama tapi sayang. . . pliss jangan mengakhiri hubungan kita dengan cara seperti ini ". Jawab Ammar sembari mendekatiku, meraih tangan ku dengan genggamannya yang terasa dingin. . . sangat dingin ku rasa kali ini.
" Maafkan aku Ammar. . . jangan memaksaku lagi. Aku hanya ingin sendiri dulu " Jawab ku melepas genggaman tangannya.
" ammar, jangan semakin membuat hatiku sakit dengan melihatmu seperti ini, jangan gila kau Ammar " Aku mulai kesal dibuatnya.
Kak rendy mulai tertegun kebingungan melihat Ammar demikian.
" kak Rendy, anterin Fanny pulang kerumah sekarang juga " Pintu ku pada kak Rendy.
Kak Rendy tampal gelagapan, kemudian menyusulku yang sudah melangkah pergi lebih dulu.
Oh tuhan kenapa begitu sakit ku rasakan kenyataan ini. . . hingga rasanya aku tidak mampu lagi bernafas.
Biarlah. . . biarlah aku yang merasakan ini semua meski begitu sangat teramat sakit ku rasa.
aku tidak ingin mereka tersakiti oleh pilihan ku jika harus memilih salah satu dari mereka.
Dan Ammar. . .
__ADS_1
Jika saja aku bisa jujur, aku sangat bahagia kau melamarku pagi ini Ammar. Tapi. . . semua terlambat.
Selama dalam perjalanan, aku hanya terdiam membisu dengan isakan tangis yang cukup membuat dadaku sesak. Dan kak Rendy yang mengantarkan ku pulang saat ini, dia pun terdiam seakan tak berani menegurku dengan sepatah katapun.
Aku terus menatap jalanan di depan, hingga tersadar ini bukan jalan menuju rumah ku.
Aku menoleh menatap wajah kak Rendy,
" Udah. . . nangis aja sepuasnya, kamu juga tau kakak bakalan bawa kemana kamu hari ini. Gak mungkin kan. . . kamu pulang dalam kondisi nangis-nangisan begini ketemu om dan tante dirumah??? "
Mendengar ucapan kak Rendy tangisku mulai pecah di dalam mobil yang di kendarainya. Dia memang kakak yang selalu paling mengerti kondisi hatiku, beruntung sekali rasanya memilikinya sebagai kakak dalam hidup ku.
Kak Rendy yang semula mendengar tangis ku yang sudah pecah hanya bisa tertawa meledekku.
" Haduuuuh dasar bocah, masih cengeng manja gitu aja gaya-gayaan mau ngadepin dua cowok sekaligus. . . huuuh. . . Fanny. . . Fanny. . . " Kak rendy terus saja mentertawakan ku dengan menggelengkan kepalanya sesekali melihatku yang tetap menangisi diriku sendiri.
Dan. . . tepat seperti yang ku pikirkan semulai tadi.
Kak Rendy membawaku ke sebuah tempat yang dimana. . . ini memang menjadi salah satu tempat terakhir tujuan kami ketika sedang dilanda rasa sedih dan sakit yang teramat dalam. Yang sebelumnya, aku pernah mengukir tawa canda ria di tempat ini dengan Kevin. . . bersama-sama membuat suatu permohonan karena melihat bintang jatuh, dan. . . mengingat semua canda tawa yang di buatnya untuk membuatku tersenyum ceria. . . semakin sakit hati ini Tuhan. Apakah aku sudah mulai jatuh cinta padanya??? Hah. . . secepat itu??? hahaha jangan gila Fanny. . . kau hanya terbiasa bersama dengannya disaat hatimu berusaha melupakan sakit yang diberikan Ammar dua bulan yang lalu.
" Fanny. . . apa kau yakin dengan pilihan ini??? Kakak khawatir, kau hanya berusaha untuk tidak menyakiti Kevin, sehingga nantinya akan membuat Ammar semakin semena-mena karena merasa kau sudah memaafkannya bukan??? " Tanya kak Rendy yang kemudian juga duduk bersamaku menatap luas nya lautan di pantai ini.
Aku terdiam sesunggukan. . .
" Kakak tau, betapa kau sangat mencintai Ammar. Bagaimana tidak, jika kenyataannya kau bisa bertahan menjalani hubungan jarak jauh ini selama satu tahun lamanya, meski kau berulang kali tersakiti " Ucapnya lagi.
" Kak. . . kadang, inilah sifat yang sulit diterima oleh kebanyakan kaum wanita di dunia ini. Kenapa harus rela menahan rasa sakit demi tidak untuk menyakiti orang-orang yang selalu baik padanya. Ini manusiawi kan kak??? Aku tidak ingin terlihat sebagai wanita yang egois atau merasa paling cantik di dunia ini. Kak Kevin sangat baik, Fanny yakin dia akan gampang menemukan seseorang yang lebih dari Fanny. Sedangkan Ammar, biarlah dia merasa aku jahat padanya kali ini. Demi melihat seberapa keseriusan dia dalam hubungan ini, apakah dia benar-benar mencintaiku dengan tulus??? Dengan begini aku juga ingin belajar lebih dewasa dalam menghadapi setiap masalah " Ucap ku panjang lebar yang membuat kak Rendy tertegun menatap ku, kemudian dia mengelus kepalaku dan mengacak-ngacaknya dengan gemas. . .
" Tanpa kakak sadari, adikku ini sudah dewasa rupanya. . . "
Aku hanya tersenyum menanggapinya. . .
❤ Hai readers ku yang setia, semoga puas dengan episode kali ini ya. Maaf baru update, karena masih ada kesibukan lain. Jangan lupa tekan Like nya selalu ya, aku suka membaca setiap komentar kalian yang selalu menyemangati ku dalam novel ini. Harap maklum jika terlalu rumit dan bertele-tele seperti sinetron kesannya, tapi aku sebagai author selalu berusaha keras agar kalian merasa terhibur dengan karya ku ini, aku benar-benar merasa komentar baik kalian sangat mendukung ku untuk tetap berkarya.
Bocoran dikit ya, beberapa di dalam cerita ini juga aku selipkan kisah nyata yang pernah aku alami, aku dengar dan aku lihat dari dunia nyata. . .
__ADS_1
Semoga kalian tetap suka dengan karya ku ini ya, salam sayang untuk kalian semua ❤