BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#155


__ADS_3

Suasana berubah tegang dan terjadi salah tingkah juga sikap kikuk dari ku juga ibu dan ayah ketika kedua orang tua Kevin tiba di rumah ku.


" Jadi. . . kedatangan kami, sudah pasti kalian tau lebih dulu alasan nya. Dan. . . mengenai hal itu, kami hanya ingin memperjelas lagi bagaimana kedepannya nanti " Ucap papa Kevin dengan lembut memulai pembicaraan.


" Oh, iya pak. Saya. . . selaku ayah dari Fanny sangat. . . sebenarnya sangat terkejut dengan hal ini karena nak Kevin juga Fanny akhirnya memutuskan untuk segera menikah dalam waktu dekat " Jawab ayah ku. Sementara mama Kevin hanya terdiam dengan ekspresi sedikit kesal.


" Eh, bu. . . silahkan di cicipi suguhan nya dulu " Sapa ibu ku.


" Setelah menikah Fanny akan tinggal bersama kami bukan di luar negeri ? " ucap mama Kevin dengan sedikit cetus.


" Ah. . . eh. . . soal itu. . . apakah. . . nak Kevin belum membicarakannya??? " Tanya ibu ku dengan sedikit kikuk. Aku yang sembunyi dan menguping di ruang TV mulai berkeringat dingin menyaksikannya.


" Tapi kami. . . "


" Ma. . . sudah lah ". Papa Kevin menyela ucapan istrinya itu seolah memberikan isyarat untuk tidak memberikan jawaban. Kemudian dia terdiam dengan hembusan nafas kesal.


" Mari jangan membahas sesuatu yang hanya akan mempersulit anak-anak kami. Karena kami selaku orang tua Kevin juga sangat setuju jika Fanny menjadi bagian dari kelurga kami yaitu sebagai istri Kevin ". Ucap papa Kevin kemudian.


" Wah. . . kami sangat bahagia mendengarnya, kami juga selaku orang tua Fanny sudah cukup lama mengenal nak Kevin. Kami sangat setuju jika pada akhirnya mereka kini akan menikah, Hahaha ". Jawab Ayah ku yang kemudian di tanggapi tawa ceria. Sementara mama Kevin masih terdiam dengan ekspresi kesal. Aku sedikit kecewa dan takut. Tapi hatiku sudah mantap, aku yakin suatu hari akan bisa meluluhkan hati nya.


" Jadi lamaran kami ini di terima bukan??? "


" Oh dengan senang hati kami menerima nya, semoga kedepannya bisa kita menjadi besan atau keluarga yang baik untuk anak-anak kita ya pak " Jawab ayah ku dengan mata berkaca-kaca. Aku ikut terharu dengan semua ini. . . hatiku bergetar hebat. Meski di satu sisi ibu dan mama Kevin terlihat ada kecanggungan diantara mereka. Khususnya ibu ku, aku sangat bisa membaca pikiran ibu kali ini akan sikap mama nya Kevin.


" Pak, bu. . . bolehkah saya meminta sesuatu pada kalian??? " Kemudian Ayah ku bertanya dengan nada serius.


" Oh tentu boleh, jika kami mampu kami akan memberikan nya jika itu ada kaitannya untuk pernikahan kedua anak kita " Jawab papa Kevin.

__ADS_1


" Jika nanti Fanny sudah menjadi menantu kalian, bisakah kalian juga menyayanginya seperti kami yang selalu melimpahkan kasih sayang kami sepenuhnya??? tolong jaga dia sebagaimana puteri kalian jangan hanya di pandang sebagai menantu dari keluarga kalian. Saya. . . saya tidak tau apakah setelah ini, saya masih bisa menjaga anak kami Fanny atau. . . entah lah. Tolong dengan sangat jaga dia "


Aku yang mendengar ucapan ayah tanpa terass mengalir deras air mata di pipi. Entah Kenapa ayah selalu berbicara seperti itu, seolah dia akan pergi selamanya. Ku harap tidak Tuhan. . . berikan ia kesehatan dan umur yang panjang. agar selalu bisa berada di sisi ku sampai kapan pun hingga ia menua dan aku bisa memberikannya seorang cucu nantinya. Pikir ku dalam hati.


Di tengah kesedihan ku ini, ponsel ku yang semulai tadi ku mainkan ku genggam di tangan ku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Kevin.


Aku di teras. Bisakah kau keluar sebentar???


Hatiku seketika berubah suatu kebahagiaan. Dan ku balas untuk menyuruhnya menuju ke halaman belakang diam-diam. Karena rasanya aku tidak mampu untuk melewati ketegangan di antara mereka para orang tua saat ini.


Kemudian dengan tergesa-gesa aku berlari menuju halaman belakang untuk menemui Kevin disana. Aku yang lebih dulu tiba di halaman belakang melihat sekeliling Kevin belum juga tiba, jelang beberapa menit dia sudah tiba dengan senyumannya yang khas.


" Kau ikut kemari juga??? Dasar. tidak bisakah kau sabar menunggu mereka pulang dari rumah ku??? "


Ucap ku padanya langsung.


" Hatiku gelisah terus menerus Sayang, aku takut semua tidak berjalan sesuai harapan ku "


Cup !!!


Dengan sigap Kevin mengecup bibir ku. Aku terdiam seketika dan tersipu malu. . .


" Kevin " ucap ku kemudian memanggilnya dengan nada kesal.


" aku sangat bahagia Fanny, aku tidak menyangka. Ini masih seperti mimpi bagiku, kau. . . kau akan menjadi istriku sebentar lagi "


Kembali aku dibuat nya tertawa geli melihat tingkah lucu nya ini.

__ADS_1


Ya ampun sangat menggemaskan sekali. . .


Kemudian aku memeluk tubuh nya yang kekar itu, ku rasakan aroma parfum tubuh nya yang selalu energik.


" Semoga setelah ini, tidak ada lagi halangan lainnya. Aku juga sangat bahagia karena kau. . . kau yang akan menjadi suami ku pada akhirnya. Kau pilihan terakhir hati ku Kevin ".


Tanpa aba-aba lagi Kevin menyerangku dengan sebuah ciuman. Ciuman lembut dan hangat bibirnya membuat sekujur tubuh ku merinding kaku menikmatinya.


Ku balas ciuman hangat nya itu, dengan perlawanan yang membuatnya semakin mempererat pelukannya di tubuh ku. seakan takut aku akan lepas dan menjauh dari nya. Hingga nafas ku mulai tak beraturan, perlahan kami melepaskan ciuman kami ini.


" Kevin. . . kau. . . membuat mu malu ". Ucap ku dengan tersipu malu.


" Maaf sayang, aku terlalu bahagia. Dan sangat gemas melihat mu malam ini, kau. . . begitu cantik malam ini. Apa kau sengaja berdandan untuk menyambut calon mertua mu??? hehe "


" Ooh jadi kemarin-kemarin aku tidak cantik, begitu??? "


" Aaah tidak tidak. Kau selalu cantik setiap hari nya di mata ku, dan mungkin di mata lelaki lainnya juga. Tapi khusus malam ini. . . kecantikan mu ada pancaran kebahagiaan sebagai calon nyonya Kevin, hehehe "


" Iiih kau menggoda ku lagi " Jawab ku mencubit perut nya Kevin dengan sangat keras. Dia sengaja menggoda ku, membuat ku malu saja. Tapi ku akui memang lah kebahagiaan ku malam ini tiada tandingan nya, bahkan berbeda ketika Ammar melamar ku pertama kali saat itu.


Meski di hatiku masih sedikit kecewa dan gelisah mengingat sikap mama Kevin yang terlihat sangat terpaksa berada di tengah perbincangan tadi, aku. . . aku kesampingkan saja dulu. Karena melihat wajah Kevin yang sumringah di depan ku kini, seolah semua rasa takut dan kegelisahan itu musnah seketika.


Lalu kemudian, Kevin yang meringis kesakitan menahan cubitan ku tadi kembali memeluk ku dengan erat. Dia berbisik di telinga ku. . . yang membuatku semakin terbang melayang tinggi ke langit sana.


" Bisakah kita menikah malam ini saja sayang? aku sudah tidak sabar, tapi aku harus menahannya dengan sekuat tenaga " ucap nya setengah berbisik di telinga ku, membuat ku mendadak panas dingin kembali.


" Kau gila, sungguh gila Kevin " Jawab ku dengan melepas pelukannya.

__ADS_1


Kembali aku tertawa untuk menggodanya, Kevin terdiam mengerutkan kening nya. Dan kami kembali berciuman di bawah langit malam yang tampak cerah seakan ikut menikmati kebahagiaan hati kami.


❤ Halo semua, apa kabar kalian??? Semangat selalu ya, jangan lupa like dan vote nya selalu. Makasih. . . ❤


__ADS_2