
Aku masih terdiam kaku mendengar ucapan Ammar yang mengajakku bertunangan.
Antara tidak percaya atau. . . aku hanya salah mendengarnya.
" Fanny. . . " Terdengar kembali suara Ammar memanggilku dari belakang.
Aku menoleh ke belakang, dan dia berjalan menghampiriku.
" Fanny. . . Mari kita bertunangan saja, agar kau tidak akan pernah lagi lepas dari ku. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya Fanny. . . "
Ammar mengulangi kembali ajakannya untuk bertunangan, ku lihat wajahnya penuh harap kali ini.
" Apa ini caramu meminta maaf Ammar??? " Jawabku masih cetus.
" Tidak Fanny, tidaaak. . . semalam aku sengaja kemari tanpa memberimu kabar terdahulu karena ingin memberimu sureprice di hari anniv kita ini, tapi. . . mungkin Tuhan sedang menghukumku atas kesalahan ku selama dua bulan ini, karena telah mengabaikanmu " Ekspresi wajahnya kini benar-benar penuh rasa bersalah hingga memerah ku pandang.
Oh tuhan, aku tidak tega melihatnya begini. Tapi sungguh aku tetap ingin menghukumnya, tapi apa tidak keterlaluan jadinya???
Aku masih terdiam memandangnya. . .
" Fanny. . . jawab aku. . . " Ucap Ammar dengan wajah masih tertunduk.
" Lalu bagaimana kau akan memperbaiki sikapmu semalam pada Kevin??? ". Ucap ku yang membuat Ammar seketika mengangkat wajahnya menatapku.
Meski sejujurnya, ini bukan kesalahpahaman. Tapi suatu kesempatan yang salah, telah ku biarkan Kevin menyatakan cinta nya padaku. Bahkan aku sudah meng iyya kan untuk memikirkan jawaban dan pilihan yang tepat.
Ah tapi. . . biarlah ini menjadi pelajaran yang tepat untuk Ammar juga kan.
Kira-kira bagaimana tanggapan dia nantinya jika aku menyuruhnya agar dia meminta maaf pada Kevin . . . sepertinya dia akan menolak dengan kasar.
" Apa yang kau inginkan dariku Fanny, untuk memperbaiki semua ini??? " Ucap Ammar dengan lirih.
" Minta maaf lah dengan sungguh-sungguh pada Kevin, apa kau bersedia Ammar??? " Tanya ku menantang.
Ammar mengerutkan kedua alisnya. . . dengan bibir tertutup rapat.
Ku yakin dia akan menolak dan berkata kasar lagi kali ini, pikir ku dalam hati.
" Baiklah. . . aku akan menurutimu, antarkan aku kerumah kakak mu Rendy. Aku ingin menemui Kevin langsung disana ".
So what??? dia benar-benar akan melakukannya???
Oh tidak !!! Ini akan melukai hati Kevin jika Ammar menemuinya dan meminta maaf dengan alasan agar aku mau memaafkannya kemudian kami akan bertunangan. . . tuhaaaaaaan. . . apaan sih yang ada di otak mu itu Fanny. . . . .
Kini giliran aku yang gugup menanggapi, aku harus bagaimana. . .
" Kenapa Fanny??? Apa kau takut aku akan kembali terbawa emosi lalu memukulnya lagi??? "
Bukan itu Ammar. . . hanya saja. . . aku. . . aku masih ingin menjaga hatinya.
Bathin ku. . .
__ADS_1
" Jika kau berani memukulnya lagi, aku akan benar-benar menghilang dari mu Ammar. Kau tau, aku benci cowok kasar ". Ucap ku dengan tegas kali ini.
" jika begitu mari kita kerumah Rendy sekarang juga " Ajak Ammar.
Aku terdiam. . . aku ragu dengan ajakan Ammar yang menerima tantangan ku ini.
Ammar mengerutkan alisnya memandangku sejenak, dengan helaan nafas akhirnya aku mengangguk pelan.
****************♡-♡****************
Tiba dirumah kak Rendy, langkah kakiku mulai terasa berat. . . aku memikirkan bagaimana nanti jika Kevin melihatku kemari bersama Ammar.
Ammar tersenyum hangat padaku, kemudian menarik tangan ku menggenggamnya agar aku berjalan lebih cepat.
Tiba di depan pintu rumah kak Rendy, aku masih ragu mengetuknya. . . namun Ammar mendahuluinya.
Tak lama kemudian pintu dibuka oleh tante Mery, mamanya Kak Rendy.
" Hey. . . coba lihat siapa yang datang pagi ini. . . Astaga. . . puteri ku Fanny. . . " Sambut hangat tante Mery memelukku.
" Tanteeeee, aku rinduuu. . . rasanya sudah lama tidak pernah datang menjenguk tante kemari. . . gimana kabar tante??? " Sapa ku sembari memeluknya.
" Kenapa kau jarang kemari sayang, ayo sini masuk kedalam, uuuuuh sini peluk tante lagi. . . " Aku mengikutinya masuk ke dalam yang di susul oleh Ammar kemudian Tante Mery kembali memelukku. Aku tersenyum memejamkan mata merasakan kehangatan pelukannya ini.
Memang. . . orang tua kak Rendy begitu sangat baik padaku, mereka memperlakukanku layaknya anak kandung sendiri.
" Eh. . . ini. . . dia pasti yang bernama Ammar kaaan??? " Tanya tante Mery sembari melepas pelukanku.
" Hmm. . . pasti deh bunda udah cerita ini ke tante " Jawab ku.
" Oh halooo. . . tante mamannya Rendy. Panggil saja tante Mery, huhuhu. . . kau memang tampan dan berwibawa seperti yang diceritakan oleh bundanya Fanny. . . "
" Cih. . . wibawa apanya " Ucapku dengan cetus.
" Hehe makasih tante. . . " Ucap Ammar dengan senyuman puas melirikku.
" Oiya kalian mau minum apa? sudah sarapan belum sepagi ini sudah datang kerumah tante. . . mmh. . . gimana kalau ikut sarapan bareng yuk. . . "
" Eh enggak deh tante, Fanny lagi males sarapan. Fanny kesini mau ketemu kak Rendy dan. . . kak Kevin. . . "
" Oooh mereka masih di kamar atas, kebetulan juga belum sarapan. ayo lah Fanny, gak boleh gitu ah. Gak baik melewatkan waktu sarapan, Ammar juga tentu belum sarapan kaaan. . . " Ucap tante Mery memaksa.
Ammar hanya tersenyum menanggapi. . .
" ehm . . . yaudah iya iya. . . kali ini Fanny nurut deh " Jawabku manja pada tante Mery.
" nah. . . gitu dong, ini baru puteri kesayangan tante. Yuk kita ke meja makan, yuk Ammar. . . ".
Kemudian kami berjalan menuju ruang meja makan tante Mery.
Hmm. . . rasanya sudah lama aku tidak pernah berasa satu meja makan lagi bareng keluarga ini. Aku rindu. . . semenjak kak Rendy kuliah di luar negeri aku jadi jarang ikut makan bersama dirumah ini.
__ADS_1
Suasana di meja makan masih sepi, padahal di atas meja sudah tersedia menu sarapan pagi ini.
Nasi goreng seafood buatan tante Mery yang paling aku suka. Rasanya selalu sama seperti yang biasa dibuat oleh ibuku.
" tante. . . om mana??? " Tanya ku melihat sekeliling.
" haduuh om nya lagi ada tugas diluar kota udah 3 hari ini, jadi agak sepi ini rumah. Bersyukurnya Rendy liburan bawa teman yang sangat humoris " jawab tante sambil sibuk menaruh nasi goreng di atas beberapa piring. Aku tau ini pasti untuk kak Rendy dan Kevin, pikir ku.
Ku lihat Ammar sudah gelisah mendengar nama Kevin di sebut, aku meliriknya tajam. Kemudian dia tersenyum pada ku. . .
lima menit kemudian terdengar suara canda tawa kak Rendy dan Kevin. . . mereka terdengar saling gulat-gulatan seperti biasanya.
Aku mulai salah tingkah, oh tuhan. . .
Aku gak sanggup melihat bagaimana ekspresi Kevin saat melihat ada aku dan Ammar disini. Dan kami. . . akan satu meja makan pagi ini. . .
Dan. . . benar saja. Tawa riang mereka terhenti ketika sampai di meja makan. suasana hening sejenak. . . kami hanya saling menatap tanpa kata.
" Eeeeh ada apa ini??? kok pada diam. . . Rendy, Kevin. . . ayo duduk. Rendy. . . ada adikmu Fanny, kenapa malah tercengang begitu???" Ucap tante Mery memecah keheningan.
" Eh bocah pagi-pagi udah disini. . . ada apa nih??? Udah kangen ya ma kak Rendy. . . atau. . . kangen ma Kevin, upz. . . " Sapa kak Rendy meledekku dengan mengabaikan keberadaan Ammar yang tengah duduk disampingku.
" Kakak ih apaan sih. . . lagi kangen aja ma masakan tante, weeeekkkk. . . " Aku membalas ledekannya dengan menjulurkan lidah ku.
Kevin tertawa melihat tingkah ku, kemudian berubah sinis melihat ke arah Ammar.
" Ya udah. . . habisin ya sarapannya, apa perlu kak Rendy tambahin nih "
" Eeeeh udah kak udah, ini udah cukup banyak kok. . . kak Rendy mah, gitu. Fanny sedang diet tauuuk " jawab ku lagi.
" Halaaah diet untuk siapa??? kakak gak suka kau menyiksa diri begitu, apa lagi demi orang yang cintai. heh kebodohan apaan itu. . . " Jawabnya lagi sembari menyeringai melirik tajam pada Ammar.
Aku tertegun tanpa kata, Kevin hanya tersenyum memeluk bahu kak Rendy dan menepuk-nepuknya.
Aku paham ini adalah sebuah sindiran pedas untuk Ammar, astaga. . . aku jadi merasa panas dingin di posisi ini.
" eeeh sudah sudah jangan ngomong lagi, ayo makan. . . Rendy, kau sapa dong Ammar. Apa kau sudah mengenalnya??? dia pacar Fanny. Tampan kan??? Adikmu sudah pintar memilih cowok, hihihi " Ucap tante Mery.
" Oh ya Ammar, selamat datang dirumah ku ya. Dan ini Kevin, sahabat ku. . . apa kau masih mengingatnya. . .? " Tanya kak Rendy lagi dengan senyuman sinis.
" iya terimakasih Rend, aku masih ingat dengan Kevin kok. Malah akan selalu mengingatnya. . . " Jawab Ammar dengan berani.
Glekk !!! Tenggorokanku terasa kering, hingga menelan ludah saja terasa perih oleh ku.
Suasana apa ini tuhaaaan, kenapa terasa menegangkan. . . sementara tante Mery sudah mulai mengerutkan kedua alisnya melihat kami secara bergantian.
Dan Kevin. . . dia tetap tenang dengan senyuman manisnya, ku lihat di ujung bibirnya masih ada luka bekas tinjuan Ammar malam tadi.
Aaaaakh. . . pasti itu sangat perih di rasanya.
Aku terus memandanginya, kemudian Kevin melihat ke arahku yang memandanginya daritadi.
__ADS_1
Aku berpura-pura memalingkan wajah dan menyendok nasi yang sudah ada di depan ku. . .
Sementara Ammar, ku dengar helaan nafasnya sudah mulai terhempaskan. . .