
Malam pertunangan Dini. . .
Pada akhirnya aku sungguh membawa Tristan bersama ku atas permintaan Dini sebelumnya, meski aku harus terpaksa membohongi Ammar. Ku bilang, aku menghadiri acara pertunangan Dini sengan kedua orang tua ku.
Ammar percaya itu, sedangkan Tristan.. Dia tak perlu penjelasan ini itu, dia menyanggupinya untuk hadir bersama ku.
Malam ini, aku tampil lebih girly. meski tak banyak polesan make up di wajah ku, seperti permintaan Ammar padaku untuk tidak berlebihan berdandan saat menghadiri suatu acara jika tanpa nya disisiku. Haha. . . kadang ini membuatku tertawa geli, sebesar itukah kecemburuannya untuk ku???
Dan Tristan, penampilannya malam ini sungguh berbeda. Lebih klasik dan menawan.
Dari kejauhan Dini sudah terlihat senyum sumringah melihatku datang bersama Tristan. Ku balas senyumnya dengan mengacungkan jempol ku diam-diam.
" Ehm.. Tristan, kau nikmati saja dulu acara ini ya aku ingin menemani Dini dulu " Ucap ku.
" Baik lah, nanti ku susul. " jawab nya dengan senyuman.
" Heem, baik lah !!! "
Kemudian aku menghampiri Dini beserta calonnya itu, di perkenalkannya padaku dengan sikap kikuknya yang masih tolah toleh melihat sekeliling. Yang sudah bisa di pastika dia mencari sosok Tristan.
" Din, fokus dikiiit. ini acara pertunangan mu, jangan bersikap seolah kau mencari seseorang, ah kau ini. " Ucap ku berbisik,
Dan Dini melihatku dengan ekspresi sedikit cemberut.
Emang dasar..
Acara tukar cincin dimulai, aku ikut bahagia menyaksikannya. Kembali aku terbayang akan malam pertunangan ku dengan Ammar ketika itu, betapa bahagianya. Meski setelah itu Ammar mengajakku melakukan hal yang membuat virus pada kehidupan ku hingga saat ini.
Ah.. Lagi-lagi aku mengingat Ammar, ini hanya akan memancing pikiran negatif ku lagi, Kemudian aku melihat sekeliling, Tristan tak nampak batang hidungnya. Kemana dia???
Selama acara berlangsung aku hendak mencari Tristan , tapi dia lebih dulu menghampiriku. Aku terkejut melihatnya yang tiba-tiba muncul di hadapan ku. . .
" Eh. . . Tristan. Kau kemana saja daritadi??? " Tanya ku dengan gelagapan menahan rasa terkejutku.
" Apa kau sedang mencariku??? " Tanya nya dengan wajah panik.
__ADS_1
" Eh tidak, aku hanya takut kau pergi begitu saja. "
Tristan tersenyum mendengar jawaban ku ini, aku mengerutkan kedua alisku dengan heran.
" Apa kau takut aku meninggalkan mu sendirian disini??? "
" Kau mulai GR. " jawab ku cetus dan melewatinya.
" Hey aku hanya bercanda saja, kenapa kau marah begitu. "
Aku terus melangkah pergi jauh dari langkah Tristan yang terus memanggil dan mengikutiku. Sambil ku lihat layar ponsel di genggaman ku semulai tadi, ada sedikit rasa kecewa karena tak satupun ada jawaban dari pesan singkat yang ku kirim pada Ammar tadi.
Langkah ku terhenti. Ku coba untuk menelpon nya, tapi panggilannya sibuk.
Kenapa???
Bukan kah harusnya ini jam istirahat bagi nya? Ini semakin membuatku tidak nyaman jika terus berdiam diri.
" Fanny, ada apa? " Tanya Tristan pada ku, ketika dilihatnya aku meremas ponsel di genggaman tangan ku.
" Kenapa buru-buru Fan??? Acara belum selesai." Tanya nya heran.
" Tristan, jika kau masih ingin disini biar aku pulang sendiri saja setelah ini. " Jawab ku dengan nada marah.
" Hey hey, baik lah ayo kita pulang setelah ini ya. . . ayo kita temui Dini dulu. "
Mendengar ucapannya itu, aku memandangnya sejenak. Sikapnya ini, kenapa seolah dia selalu takut jika aku akan marah dan pergi darinya.
" Tristan, kenapa kau selalu baik dan menuruti apa kataku hah??? " Tanya ku dengan tegas, aku mulai penasaran dari awal melihat sikapnya itu, selain selalu mencuri pandang padaku, dia juga selalu sabar dan tetap lembut serta tersenyum ramah padaku.
Bagaimana pun aku selalu mengabaikan dan cuek padak nya.
Kembali dia tersenyum mendengar pertanyaan ku, menatap wajah ku dengan lembut.
" Aku hanya tidak ingin kau berubah pikiran untuk menjadikan ku teman mu, jujur.. Sejak awal melihat mu aku sudah tertarik untuk bisa mengenalmu lebih jauh. Tak apa jika hanya sebatas teman saja, paling tidak aku ingin kau menjadikan ku sandaran layaknya seorang sahabat yang kapanpun butuh teman untuk curhat atau butuh bantuan "
__ADS_1
Gila. . . ini konyol, kenapa dia terang-terangan gini sih. . . aku harus jawab apa. . . aku gak mungkin menerima teman dari lawan jenis lagi. Ammar bisa murka tau hal ini. . .
" Tristan, maafin aku, bukannya aku gak mau untuk bersikap lebih dengan mu. Kita sudah jadi teman kan saat ini??? " Ku harap dia bisa menerima jawaban ku ini.
" Kenapa? Apa kau takut aku jatuh cinta padamu?atau sebaliknya? "
" Tristan, apa kau lupa status ku? aku sudah punya tunangan.. Aku tidak ingin mengingkari janjiku padanya, aku tidak ingin tunangan ku marah hanya karena aku berteman dengan lawan jenis selain dia seorang " Jawab ku tanpa ragu. Tanpa berpikir ulang lagi, tanpa berpikir resikonya bagaimana jika Tristan tau akan hal ini.
Huhft, aku sudah salah bicara.
Ku lihat Tristan menatap wajah ku dengan tatapan yang tak biasa, aku mulai canggung mendapatinya demikian.
" Apa aku boleh tanya satu hal padamu Fan??? " Tanya nya kemudian.
" Ap,apa yang ingin kau tanyakan lagi padaku hah??? " Jawab ku kikuk.
" Apa kau juga memberikan syarat yang sama pada tunangan mu yang jauh disana? Apa kau percaya jika dia pun mampu menjalaninya sama sepertimu hah??? " Ucap nya dengan serius.
Oh tuhan, dia memang gila. Apa dia lupa saat ini sedang berada dimana? tidak peduli kah dia banyak mata yang mulai mengarah pada kami saat ini?
" Apa kau kini mulai berniat mempengaruhiku Tristan? " Jawab ku dengan menekan suaraku lebih tegas.
" Bu.. Bukan, bukan begitu maksud ku. Aku hanya.. Aku hanya kasihan melihat sikap mu yang terlalu over begitu. Fanny, aku juga lelaki. Sama seperti tunangan mu itu, mustahil kan jika bisa menghindari pertemannya dengan lain jenis? "
Kau tau, mendengar jawaban nya kali ini membuat hatiku terketuk sangat keras. Apakah aku sudah kelewat batas kali ini??? Apakah benar apa yang Tristan katakan barusan??? semua lelaki itu sama.
Aaaaaaarght. . .
Rasanya aku ingin marah, sebodoh itukah aku di pandang oleh Tristan??? Aku percaya Ammar, dia tidak akan begitu kan???
" Fanny, maafin aku.. Aku gak ada maksud memaksa mu untuk menganggapku lebih dari sekedar teman sapa saja. Entah kenapa aku begitu ingin, ingin sekali kita bisa saling mengenal dekat sebagai sahabat. Kau bisa berbagi cerita padaku, begitupun sebaliknya aku padamu " Ucapnya lagi.
" Aku mau pulang. " Jawab ku spontan. Dengan melewatinya lagi melangkah menghampiri Dini untuk berpamitan.
Sementara Tristan masih mematung memandangiku berlalu melewatinya, entah apa yang dia pikirkan itu.
__ADS_1