
8 bulan berlalu, hubungan ku dengan Ammar putus dan dimulai sengan menjadi teman baik yang berlangsung sudah hampir 3 bulan lamanya.
Selama ini, hubungan pertemenan kami bisa terbilang cukup baik.
Tidak ada lagi obrolan-obrolan pahit yang hanya membuat kami saling merasakan sakit memgenang masa kami berpacaran. Kami hanya saling mengabari sekedarnya saja, membahas soal perkuliahan, saling bercerita di tempat kami menghabiskan waktu untuk bersama anak didik, terkadang saling menelpon hingga tiba menjelang pagi, mengirim pesan singkat, yang pasa akhirnya Ammar mengetahui nomor baru ku kembali.
Aku menceritakan hal ini pada Dini, teman dekat ku di kampus. Sontak dia berteriak memelukku dengan gembira, bahkan ibu dan ayah menyambut dengan senang mendengar cerita ku mengenai hubungan pertemanan dengan Ammar.
Aku sudah mengetahui alamat apartemen pribadi Ammar, hanya saja aku belum ada kemauan diajaknya kesana. Sementara masih ada kesibukan lain di kampus dan di sekolah tempat ku mengajar.
Hari ini, kebetulan hari minggu. Aku berniat mengisi hari liburku dengan membantu ibu memasak hari ini, haha entah ini dorongan darimana. Aku geli menertawai diriku sendiri.
" Bunda. . . masak apa??? Fanny bantu ya, yaaah sekalian belajar Hehe. . . " Ucap ku mnghampiri ibu yang sedang memotong sayuran.
" Hmm. . . yang udah baikan sama mantan, sekarang jadi semangat belajar masak. Ada apa ini??? hihihi " Jawab ibu meledekku.
" bunda. . . udah ah, apaan sih. sini biar Fanny aja yang potong sayurnya " Ucap ku sambil meraih sayuran dan pisau di tangan nya.
" Hati-hati sayang. . . jangan sambil melamun ya, nanti jarimu ikut teriris "
Aku tersenyum mengangguk tanda mengerti apa yang di ucapkan oleh ibu.
Baru sebentar ku memotong sayuran ini, ponsel yang sedaritadi ku kantongi di celana berdering.
Aku meraihnya, ternyata Ammar yang menelpon. Aku tersenyum menerima panggilan telpon dari Ammar.
** Halo, ammar. . . ada apa pagi-pagi sudah menelpon ku? **
Ibu sudah senyum-senyum melihatku.
Ku dengar suara Ammar sangat serak dan terbatuk-batuk dengan nafas sedikit sesak tersengal-sengal terdengar di telinga.
** **Apa kau sibuk Fanny. . . maaf mengganggumu pagi-pagi. Kau sedang apa??? Uhuk uhuk. . . uhuk ehhem **
** Ammar, kau. . . kau kenapa??? kau sakit??? sudah minum obat???? dan. . . kau. . . apa sudah sarapan**??? **
Aku sedikit merasa khawatir dengan suaranya yang sedikit sengau, sepertinya dia flu dan demam. Duuuuh kasian. . . bagaimana dia merawat dirinya yang hanya tinggal sendiri di apartemennya.
" Ada apa sayang, kenapa dengan Ammar??? kenapa wajahmu khawatir begitu??? " Tanya ibu menyela pembicaraan kami di telpon.
__ADS_1
** **Fanny, apa kau sedang bersama tante pagi ini??? sampaikan salam ku. Dan. . . aku baru saja merebus air untuk memasak mie **
** Hey kau, bagaimana bisa melakukan itu saat kau sakit. Jangan memakannya, nanti batuk mu semakin parah** **
Aku masih mengabaikan pertanyaan Ammar. Aku memang belum cerita jika Ammar kini tinggal di apartemen sendirian.
** **Lalu apa tante Lina tau??? kau sakit begitu. . . apa kau demam??? **
** Mama. . . mama sedang menemani papa dinas diluar kota Fanny, karena papa sedang tidak enak badan kemarin, jangan khawatir aku baik-baik saja hanya demam sedikit. Ya sudah selamat menikmati hari minggu ya, aku lanjut masak mie dulu** **
Klik !!! Tanpa mendengar aba-aba dariku dia mematikan panggilan teleponnya. Aku hanya terdiam kaku, dengan sedikit rasa khawatirku.
" Sayang, apa Ammar sakit??? Kenapa kau khawatir begitu setelah mendapat telepon dari nya??? "
" I iya bunda. . . sepertinya Ammar sedang demam. Tapi suaranya terdengan sengau dan sedikit serak terbatuk-batuk. Dan mama papa nya masih di luar kota, dia sendirian hari ini. . . "
" Lalu kemana pembantu rumah itu??? bukannya kau pernah bilang ada seorang pembantu disana. . . ? " Tanya ibu ku heran.
Astaga aku lupa, yang ibu tau kan Ammar berada di rumahnya. Bukan di Apartemen, sebaiknya aku tetap merahasiakannya saja daripada nanti ibu akan semakin terus membahas soal ini.
" Ah iya maksud nya cuma berdua sama si mbok bunda. . . " Jawab ku mengalihkan pembicaraan.
Eh emang kenapa??? kenapa begitu khawatir??? Udah deh jangan lebay Fanny. Dia hanya demam dan batuk saja. . . sahutku dalam hat.
Hingga di meja makan pun aku masih gelisah gak karuan. Sampai rasanya sarapan pagi ini susah untuk tertelan di tenggorokan.
Aku terus memikirkan kondisi Ammar, mendengar suaranya yang sengau dan serak begitu pasti ia sedikit menahan sakitnya tapi memaksa menelpon ku hanya untuk mengucapkan selamat bersantai di hari libur. Apaan coba dia. . . iiih aku kan jadi kepikiran begini. . .
" Sayang, kau. . . terlihat gelisah semulai tadi " Tanya ayah padaku.
" biasa Yaaah. . . sang mantan yang saat ini menjadi teman baik sedang sakit. Sementara hanya ada pembantunya saja dirumah itu " Jawab ibu meledek ku dengan senyuman.
Ayah terheran-heran menatap ku. . .
" Yang di maksud bunda mu apa Ammar??? " Tanya nya lagi.
Aku mengangguk.
" Apa kau berniat menjenguknya sayang??? " Tanya ibu tiba-tiba mengejutkan ku. Kemudian Aku menoleh pada Ayah. . .
__ADS_1
Ayah tersenyum lembut padaku.
" Pergilah jika ingin menjenguknya, ayah akan menyewakan sopir untuk mengantarmu ke kota A. Apa kau masih ingat alamat rumah Ammar Fanny??? "
Seketika aku mengangguk dengan wajah berbinar. Ibu menertawaiku. . .
" Aduh. . . suami ku, kau sangat peka pada puteri kita "
" Kita juga pernah muda istri ku " Jawab Ayah mesra.
" Ayah. . . bunda. . . terimakasih banyak atas ijinnya hari ini. Fanny siap-siap dulu " aku tidak sabar beranjak dari kursi dan berdiri begitu saja.
" Eeeh tunggu sebentar, jangan pulang malam-malam jika memungkinkan. Tidak baik jika kau menginap dirumah yang bukan apa-apamu " ucap ayah dengan tegas.
" Siap bos !!! " Jawab ku dengan terburu-buru sementara ibu hanya menggelengkan kepalanya tersenyum melihat tingkah ku. Ah sebenarnya aku sangat malu pada mereka.
Tapi apa tidak keterlaluan jika aku menghampiri Ammar di apartemennya sendirian, cuma karena dia sakit demam batuk doang??? hahahah bodoh kan. . . Aku terhenti di depan pintu kamar menyadari akan hal itu.
Lagian siapa juga mau nginep segala ayah. . . huh ada-ada saja.
Eh tapi. . . ya udah lah, gapapa dong sebagai teman baik hanya sekedar menjenguknya saja. lagian dia kan saat ini pasti sedang membutuhkan seseorang di sampingnya.
Aku bergegas menuju kamar bersiap-siap dengan penampilan simpel saja. Aku meraih tas kemudian setengah berlari menuju ruang bawah.
Ku lihat ayah dan ibu sudah menunggu ku di teras depan dengan seorang sopir sekitar seumuran dengan Ayah ku.
Ku kihat dia mengangguk angguk sopan mendengar yang di ucapkan ayah dan ibu yang entah itu apa.
" Sayang, nanti bapak ini yang akan mengantar mu dan menunggu mu disana. Ayah sudah memberinya uang yang lebih jika misal kau cukup lama di rumah Ammar, bapak ini akan meninggalkan mu sebentar untuk beristirahat atau sekedar jalan-jalan dulu berkeliling " Aku mengangguk mendengar penjelasan ayah.
" Pak, tolong antar puteri saya ke alamat yang di berikannya nanti ya. Hati-hati di jalan titip anak saya ya pak di jalan. . . "
" baik bu, pak. . . saya permisi dulu kalau begitu " Dengan bergegas melangkah menaiki mobil ayah, pak sopir memberi arahan padaku untuk segera menaiki mobil di kursi belakang.
" Ayah bunda, Fanny berangkat dulu ya " pamitku dengan mencium tangan ayah dan ibu bergantian.
" Hati-hati. . . salam pada Ammar dan keluarganya, dan. . . ingat pesan ayah tadi. Jangan pulang kemalaman jika memungkinkan ya, kasian pak sopir menunggu mu lama nanti " Ucap ibu pada ku.
" Siap bos, ya udah Fanny berangkat dulu ya. Da da ayah. . . da da bunda. . . "
__ADS_1
Kemudian aku bergegas menaiki mobil ayah yang di kemudikan oleh sopir sewaan ayah. Aku melambaikan tangan sembari mobil melaju perlahan.