
Tak banyak yang aku bicarakan bersama Abel dan Andi. mereka hanya terlihat sedikit canggung dirumah ku, sesekali Abel memandangku dengan ekspresi yang tidak nyaman.
" Kak Fanny, Andi mau bawa Abel kerumah dulu ya. Nanti Andi balik sini lagi "
" oh ya udah sebaiknya emang begitu. Kamu ajak Abel kerumah kamu terlebih dahulu "
" Ya udah yuk yank " Ajak Andi menarik tangan Abel.
Sementara Ammar hanya diam menyaksikan ini semua.
" Fan, makasih sebelumnya ya. nanti kita ngobrol-ngobrol semaleman hehe " ucap Abel pada ku. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.
Selepas mereka pergi aku menghempaskan tubuh ku di sofa ruang tamu, aku masih mengabaikan Ammar yang tengah menyusulku duduk di samping.
" Sayang, udahan dong ngambeknya. Yah yah yah??? Nanti sore aku sudah harus balik ke kota yank. . . masa gak kangen sih ma aku, aku kan udah dua mingguan gak kesini. . . " Ucap Ammar merayu.
" Kamu kenapa sih Yank, masih segitu pedulinya dengan hubungan Andi dan Abel ?" Ucap ku dengan cetus
" Ya ampun yaaank, kamu masih aja bahas soal ini. Sumpah yank, aku tu kesini emang mau ketemu kamu tadi. Bukan semata-mata nganterin Andi dan Abel "
" Tauk ah yank, aku masih kesel tau liat wajahnya si Abel. Tumbenan tadi dia tu sok manis biasanya juga. . . cih "
" Ya udah deh gimana kalo kita jalan-jalan nge mall atau nongkrong di Kafe, makan-makan di restoran atau. . . ehhem " Ammar mencium pipi ku. sontak aku mendorong dan menghindarinya dengan melihat sekeliling ruangan.
" Ammar, kamu ini. ih, nanti ayah ma bunda liat " Jawab ku dengan berbisik.
Ammar tersenyum geli melihatku demikian.
" Ya udah, mau gak kita ke mall aja??? "
" Ya deh aku juga ada sesuatu yang mau ku beli ".
Lalu Ammar meminta ijin terlebih dahulu pada ibu sementara aku bersiap-siap di kamar ku raih tas mini yang biasa ku kenakan kemanapun ku pergi.
**********♡-♡**********
Sepanjang jalan, Ammar hanya membahas bagaimana hubungan Abel dan Andi selama ini sampai pernah ngapain aja pun Ammar mengetahuinya dsn menceritakannya padaku.
Aku mulai kesal mendengarnya yang begitu antusias bercerita.
" Sayang, aku kasih tau ya. Untuk jaga-jaga aja, Abel gak suka makanan seafood. Dia hanys bisa makan sayuran, gak suka nasi lembek dan semua harus serba hangat dan higienis, buah yang dis suka sebagai cemilan buah-buahan yang mengandung serat "
" Ammar, gimana kalau kamu sewain pembantu khusus untuk Abel selama dirumah ku? atau kamu aja yang nyiapin apa-apanya dia selama dirumah aku " Jawab ku dengan cetus.
Mendengar ucapan ku Ammar menghentikan mobilnya di pinggir jalan begitu saja.
__ADS_1
" Yank, kamu ikhlas gak sih ngijinin Abel menginap dirumah mu 2 hari kedepan??? " Tanya nya dengan ekspresi nyolot
" Kamu sadar nanya gitu ke aku??? "
" Aku heran aja gitu, kamu kayak kurang suka Abel menginap dirumah mu Fanny. . . "
" Kamu gila ya Mar, harusnya kamu paham posisi aku yang sedaritadi mendengarmu membahas tentang mereka saja. dan sekarang kau malah memintaku untuk menyiapkan segalanya kesukaan Abel, segitunya kamu mengenal Abel yank??? "
" Eh maksud aku, takut nanti abel merasa tidak nyaman yank. pola makannya jadi terganggu terus sakit kan kamu juga yang kerepotan nanti "
" Hahahaha. . . kamu lucu Ammar, sangat lucu. Dari saking lucunya sampai aku muak lama-lama melihat sikap mu ini. Kau. . . kau sebegitu detail peduli tentang Abel??? Wah. . . ternyata tunangan aku memiliki sifat peduli yang lebih ya pada wanita lain selain tunangannya "
" Fanny. . . udah deh jangan mulai " Jawab nya menanggapi ucapan ku yang mulai tak terkontrol.
" Coba kau pikir, apa kau juga mengenalku secara detail sama seperti kau menjabarkan tentan Abel pada ku hari ini??? Enggak kan. . . Kau memang keterlaluan Ammar. Kau memulainya lagi "
" Fanny, kau. . . ayo lah jangan begini, hargai kedatangan ku kemari. Aku kangen banget sama kamu yank. . . " Ammar memaksa mencium bibir ku, aku menolak dengan memalingkan wajah ku.
Ammar terdiam dengan nafas yang terdengar ia hempaskan. Sepertinya dia mulai kesal hanya mencoba menahannya padaku. lalu melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan yang lebih. Aku hanya terdiam menanggapi sikap itu, biarkan saja kali ini jika dia akan benar-benar marah.
Lalu apa aku salah bersikap begini???
Setiba di mall, aku turun dari mobil masih dengan wajah cemberut. Ammar menghampiriku dan meraih tangan ku untuk di genggamnya.
" Sayang, udah dong. . . jangan diemin aku terus, kalo kamu gini mulu aku teriak nih di depan umum biar semua tau kalo tunangan yang aku kangenin malah ngambek dan gak ngehargai aku yang udah jauh-jauh datang kemari "
" Cih. . . coba aja kalo berani " Ucap ku menantang. Yang sama sekali aku tak mempercayai jika Ammar akan benar-benar melakukannya.
" FANNY. . . AKU CINTA KAMUUUUU. . . TOLONG JANGAN NGAMBEK LAGIIIII. . . AKU TIDAK BISA MELIHAT WAJAH CANTIKMU SELALU BERPALING DARI MATA KUUUUU "
Sontak saja semua orang yang sekian banyak berlalu lalang menoleh ke arah Ammar yang berteriak lalu melihat ku dengan tawaan bahkan ada juga yang berbisik dengan ekspresi mengerikan, aaaah pokoknya macam-macam ekspresi mereka melihat ke arah ku dan Ammar.
Sial !!!
Aku menghampiri Ammar dengan langkah cepat yang sedikit jauh di depan ku itu.
Aku membungkam mulut nya dengan telapak tangan ku saat ia hendak berteriak kembali.
" ammar, kau membuatku malu saja. Sudah hentikan !!! Kau gila Ammar. Sungguh Gila !!! "
Ammar meronta-ronta memintaku melepaskan tangan ku yang menutupi mulutnya. Sepertinya ia kesusahan dalam bernafas.
" Hahaha. . . aku memang gila sayang, gila karena mu. Dan akan semakin gila jika kau terus ngediemin aku seperti tadi "
" Udah lah lupain. Yuk kita pulang aja, semua yang aku butuhin udah semua dapat " Ucap ku dengan senyum.
__ADS_1
" nah. . . gitu dong, senyum. Kan aku jadi makin sayang. . . mmuach " Ammar memelukku dengan kecupan di kening.
" Ammar, ini di depan umum. Ih apaan sih " Aku tersipu malu lalu berjalan lebih dulu membelakanginya.
Selama perjalanan mobil Ammar menggenggam tangan ku dengan erat sesekali mengecupnya, aku tersenyum lembut melihat tingkahnya ini. Dia selalu ingin terlihat mesra di depan umum maupun berdua saja dengan ku, aku suka sikapnya yang seperti ini.
" ammar, apa kau akan benar-benar harus pulang sore ini??? aku masih kangen tau " Ucapku merengek manja.
Seketika Ammar kembali menghentikan mobilnya di pinggir jalan, mencari tempat yang pas untuk parkir sejenak.
Aku masih menatapnya dengan wajah manyun manja, sesedih mungkin dilihat lalu mengedipkan mata ku layaknya boneka barbie agar dia tersentuh melihatku.
" Hahahahaa. . . astaga Sayang, kau sangat lucu " Ammar mencubit gemas hidung ku.
Aku meringis menahan sakitnya. . .
" Ammar, sakit tau " aku merintih memarahinya.
Lalu Ammar mendekatkan wajahnya pada ku, aku mulai gelagapan. Meski kami sudah lama mengenal dan sampai bertunangan pula, bahkan banyak yang kita lakukan melewati batas layaknya suatu hubungan tanpa pernikahan, aku masih suka gugup dengan serangan ammar yang selalu dadakan jika ingin menciumku.
Tanpa aba-aba lagi, di tengah kegugupan ku ini Ammar menciumi bibir ku. Aku membalasnya, ku kalungkan kedua tangan ku di lehernya. Ammar semakin mendekatkan tubuhnya pada ku, tangannya seperti sedang mencari-cari sesuatu di samping kursi yang ku duduki.
Ah. . . sepertinya dia sedang memencet tombol untuk merendahkan kursi mobil agar posisi ku setengah tidur terlentang.
" Ammar ini di mobil, masih siang bolong ini. . . nanti ada yang liat " Jawab ku menahan.
" Sayang, kau lupa kaca mobil ku dari luar tak tembus pandang. Dan jangan bergerak sedikitpun, agar mobil ini tidak bergoyang dengan sendirinya "
Bodohnya Aku, yang mengangguk begitu saja membiarkannya melakukan sesuka hatinya.
Kemudian dengan nafas yang sudah tak terkontrol wajah Ammar ku lihat sudah memerah. . .
" Huh Lagi-lagi aku harus menahannya kali ini sayang, waktunya tidak tepat. . . but, aku cukup puas dengan hari ini "
Aku terbangun dari posisi ku tadi dan Ammar memencet tombol kembali untuk mengembalikan posisi kursi seperti tadi lagi.
" kau gila Ammar, Kau nakal. Dasar mesum, kau tau ini dimana. . . " Ucap ku dengan wajah yang juga memerah.
" Tapi kau menikmatinya kan sayang. Hihi, makasih ya selalu memberiku kenyamanan dan menuruti mauku "
" Ya udah yuk pulang. . . " Ajak ku.
Kemudian Ammar kembali melajukan mobilnya lagi, kali ini sedikit santai. . .
sepertinya sengaja ia lakukan agar lebih lama berada di sampingku melepas rindu.
__ADS_1