BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#142


__ADS_3

Selesai membersihkan diri aku dan Kevin hendak keluar untuk sekedar berjalan-jalan dan menemani ku makan. Sembari melangkah keluar dari kamar hotel, aku bersenda gurau manja pada Kevin.


Kami sengaja hendak pergi diam-diam tanpa mengajak kak Rendy beserta istrinya karena kami ingin menikmati waktu disini berdua saja. Meski dulu aku bisa terbilang cukup sering berkunjung ke kota A, namun belum pernah Ammar mengajakku keliling menikmati tempat wisata maupun kuliner di kota ini. Kami lebih banyak menikmati waktu berdua di ranjang, itu pun Ammar yang memaksaku. Aku. . . aku mengiyakan karena aku dibutakan oleh cintanya saat itu.


Rasanya penyesalan ini tak akan pernah pupus meski aku sudah akan berhasil melupakan Ammar nantinya.


Dan siapa sangka setelah aku dan Kevin tengah berjalan hendak menuju lobby, dari kejauhan aku melihat Ammar berjalan menuju ke arah ku.


Oh Tuhan, mau apa lagi dia???


Langkah ku terhenti dengan menggenggam erat tangan Kevin. Langkah Kevin terhenti juga dengan raut wajah heran menatap ku.


" Ada apa sayang??? " tanya nya padaku.


" Ammar ". Jawab ku dengan menunjuk ke arah depan.


Dan benar saja, Ammar menghampiri kami namun tatapannya begitu tajam pada ku.


" Fanny, aku ingin bicara berdua saja dengan mu "


" Apa kau sudah tidak waras Ammar??? ". Jawab Kevin sembari menarik ku lebih dekat berada di belakangnya.


" Aku tidak ada urusan dengan mu "


" Tapi Fanny sudah jadi urusan ku " Jawab Kevin dengan tegas.


" Fanny, pliss. Aku harus berbicara dengan mu sebentar "


" Ammar, kau. . . "


Kevin hendak menjawabnya lagi namun ku tahan dengan menyentuh lengan nya perlahan.


" Apa lagi yang ingin kau bicarakan pada ku Ammar??? Katakan disini saja ". Ucap ku dengan cetus.


" Pliss. . . Fan, aku hanya ingin kita berdua saja "


" Ammar, jangan membuatku semakin membencimu ".


" Katakan padaku apa kau satu kamar dengan Kevin??? "

__ADS_1


" Wah. . . apa kau kemari hanya untuk bertanya hal yang bukan lagi urusan mu??? ". Kali ini Kevin kembali menyela, menjawab pertanyaan Ammar.


" Fanny, jawab aku !!! " Ammar mulai meninggikan nada bicaranya sehingga semua orang yang melewati kami saling menatap heran.


" Ammar Stop !!! Kau bukan siapa-siapa ku lagi. Kau tidak berhak membentak ku seperti itu ".


" Fanny, apa kau sungguh semudah itu melupakan semua kenangan kita begitu saja??? "


Oh tuhan, bolehkah aku melenyapkan laki-laki di hadapan ku ini??? aku sangat benci. . . aku benci. . .


" Apa kau sungguh sudah gila Ammar??? Apa jawaban ku masih belum jelas kau dengar tadi hah??? "


" Kevin, ayo kita pergi dari sini. Berlama-lama di hadapan nya membuat ku muak " ucap ku kembali menarik tangan Kevin.


Namun Ammar meraih tangan ku dengan cepat, aku terkejut dan menoleh nya.


" Ammar, kau brengsek " . Jawab ku dengan menepis tangan nya. Mengetahui hal ini Kevin mulai terpancing emosi menghampiri Ammar dan menarik kerah leher baju Ammar.


" Kau sungguh mendobrak batas sabarku semulai tadi Ammar, sadar lah. Kau sudah putus dengan Fanny, Fanny milikku saat ini apa matamu buta??? "


" Heh, kau terlalu percaya diri dari dulu Vin. Lepaskan aku ". Jawab Ammar melepas cengkraman tangan Kevin dari kerah bajunya.


" Fanny, maafkan aku saat itu bukan maksud ku menghilang begitu saja tanpa mengabarimu tapi aku ada urusan mendadak "


" Urusan pertunangan mu yang kau maksud Ammar??? Sudah lah jangan menjelaskan apa-apa lagi. Bagiku kau hanya masa lalu saat ini, dan sebaiknya jangan lagi menemuiku sampai kapan pum dan dimana pun itu aku tidak ingin mengenal mu lagi "


" Tapi aku masih merindukan mu Fanny "


Degh !!!


Kembali aku tertegun oleh kata-katanya itu. Ku tarik nafas dalam-dalam menatap wajah nya, dan matanya mulai memerah berkaca-kaca menatap ku dengan pilu, kemudian ku lihat Kevin melihatku penuh dengan keraguan. Aku tau apa yang sedang ia pikirkan saat ini. . .


" kau tau Ammar, setiap kata yang kau lontarkan pada ku detik ini. Itu hanya akan menambah luka yang mendalam di hati ku, jujur saat kau kembali hadir di hari-hariku sebagai teman. . . betapa aku sangat bahagia dan berharap kita bisa kembali bersama, kemudian kau menghilang begitu saja disaat hatiku kembali mengharapkan mu, bagi ku itu adalah suatu kebodohan terbesarku kembali percaya pada mu setelah aku mengetahui kau menghilang begitu saja karena telah bertunangan "


" Maafkan aku Fanny. . . ". Kata singkat yang dia lontarkan dengan tetesan bening di pipinya itu, entah kenapa membuatmu semakin sesak dan membencinya.


" Semua sudah terlambat dan berlalu Ammar. Sekarang biarkan aku bahagia dengan kisah baru ku, dengan kehidupan baru ku bersama Kevin "


" Tapi kenapa harus Kevin??? "

__ADS_1


" Ammar, apa kau lupa ucapan ku dulu??? Aku akan tetap menunggu dimana ada kesempatan kau melepaskan Fanny begitu saja, aku lah orang pertama yang akan menggenggam erat tangan nya "


" Heh, apa kau sungguh bersedia menerimanya dengan tulus setelah apa yang sudah aku lakukan dengan nya selama 4 tahun ini??? "


" Aku memang harus menyumpal mulut kotor mu itu Ammar "


Bugh !!!


satu pukulan keras dari Kevin mengenai wajah pelipis mata Ammar. Walau demikian Ammar tetap menyeringai pada Kevin yang sudah termakan emosi sembari menyentuh bagian pelipisnya yang mulai membiru.


" Cih, sejuta pukulan keras pun yang kau berikan padaku tidak akan mengubah keadaan jika kau memang hanya akan mendapatkan bekas ku "


" Ammar. . . hentikaaaan "


Plak !!!


" Kau sungguh gila, kau brengsek, kau **** Ammar. Apa ini yang kau bilang masih merindukan ku??? kau bahkan hanya merendahkan ku saat ini Ammar ".


" Kau **** Ammar, kau pikir aku tidak bisa marah dan menghajarmu hah??? Kau tidak pantas lagi berkata apapun tentang Fanny meski sekedar menyebut namanya. Dia milik ku, sampai kapan pun dia tetap milikku "


Kevin mulai mengepalkan tangan kanan nya lagi, dengan cepat aku menghentikan niatnya yang sudah pasti hendak menghajar Ammar kembali.


" Vin, pliss jangan mengotori tangan mu untuk berurusan dengan orang gila sepertinya. Ayo kita pergi dari sini dan nikmati waktu kita berdua dengan happy "


" Fanny, Aku yakin di hatimu masih ada aku. Kau hanya sengaja ingin membuatku cemburu bukan??? jawab aku Fanny, jawab aku sekali saja pliss ku mohon "


Aku menatapnya lagi dengan tajam, hatiku semakin terkoyak melihatnya memohon dengan tangisan seperti itu.


Bagaimana bisa kau menggila demikian Ammar??? apa kau lupa akan status mu yang kini sebagai tunangan orang lain???


Kau sengaja Ammar, kau sengaja. Kau bukan merindukan ku, atau cemburu. Tapi kau hanya meluapkan egomu dengan kebencian mu terhadap Kevin dari dulu.


" Di hati ku, kau. . . sudah mati Ammar, sejak Kevin memberikan ku cinta yang lebih tulus darimu. Dan perlu kau tau, meskipun aku dengan nya berada dalam satu kamar hotel. Dia masih memperlakukan ku dengan sopan, meski dia sudah tau bahwa kesucianku telah hancur bersama mu. Apa kau masih menolak jika aku tetap kembali memilih dia sebagai kekasih hatiku??? "


Ammar terdiam tanpa kata menatapku. Ku perhatikan Kevin mulai mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya bak seorang kakak yang menggoda adiknya. Ammar terlihat semakin murka yang tertahan, sejenak aku ingin menertawai sikap Kevin. Tapi di sisi lain. . .


Hatiku sungguh sakit melihat Ammar memohon seperti itu. Dari sini aku semakin yakin, bahwa dia begitu dendam pada Kevin seperti di masa lalu. Kemudian aku dan Kevin melangkah bersama melewatinya begitu saja. Sembari ku genggam erat tangan Kevin dalam langkah kami menuju luar Hotel, dan Kevin mengecup keningku dengan mesra. Ku yakin Ammar melihat nya dari kejauhan. . .


Bathin ku. . .

__ADS_1


Selamat tinggal masa lalu ku. . . bahagia lah dengan kisah baru mu nanti Ammar.


__ADS_2