
Sebelum penutupan acara seminar, kampus kami sebagai tuan rumah menyediakan beberapa hiburan sebagai berakhirnya acara ini agar semua kelelahan terbayar oleh kesenangan ini.
Semua sedang menikmati acara pemutupan ini dengan meriah riang gembira dan bersenang-senang. Semua tampak puas dengan acara ini. . .
Hingga jam menunjukkan pukul 9 malam acara hiburan ini masih berlangsung. Aku mulai bosan berada di aula yang cukup bising itu, Lebih baik aku keluar ruangan saja. Menikmati udara malam di kampus sepertinya lebih menyenangkan, pikir ku.
Tiba di suatu halaman kampus, yang tak beratap. Disini semua bisa memandang langit dengan luas saat malam tiba. Aku berdiri sambil memeluk tubuh ku sendiri merasakan sejuknya angin malam.
Kemudian terdengar suara yang tak lagi asing mengejutkan ku.
" Ini malam terakhir aku ada di kampus ini Fan. Terimakasih dengan semua sambutan yang menyenangkan ini "
Aku memberanikan diri menatap wajah Ammar yang ku rasa, mungkin ini akan benar-benar jadi yang terakhir aku bertemu dengan Ammar dalam kesempatan ini.
" Bagimu sambutan ini menyenangkan??? Sambutan yang mana Ammar??? " Tanya ku sembari menatap wajahnya di balik kegelapan malam. Hanya cahaya lampu dari kejauhan sedikit menyinari wajah Ammar. Namun aku tetap bisa melihatnya dengan jelas, di wajahnya tersimpan banyak kesedihan, pilu, rasa sakit dan kekecewaaan yang mendalam.
" Fanny. . . terimakasih sudah mau menatap ku kali ini " Ucapnya dengan tatapan mata yang sendu.
Seketika aku kembali memalingkan wajah ku dari tatapan Ammar. aku merasakan kembali ada getaran hebat si hati ku, jantung ku berdebar dengan keras.
" Ba. . . bagaimana. . . kabar tante Lina??? " Tanya ku dengan bibir gemetar.
" Mama. . . baik, dia sering menanyakan mu Fanny. Dan sore ini mama menelpon ku, beliau titip salam untuk mu "
Aku tertegun mendengarnya. Tante lina. . . aku rindu sosok nya yang hangat. Maafkan aku tante, telah merubah anak tante jadi dingin dan kurus begini. Apakah selama ini dia tidak makan dengan baik??? aaah ingin rasanya aku bertanya, tapi mengapa serasa tersangkut di tenggorokan.
" Syu. . . syukurlah. . . jika tante. . . baik-baik saja. Titip salam balik untuk beliau, jaga selalu kesehatan nya. Dan. . . juga. . . untuk om haris " Jawab ku menunduk dengan suara lirih.
" Mama. . . ingin sekali bertemu lagi dengan mu Fanny, tapi. . . mama sudah mengetahui hubungan kita. . . sudah putus. Dan aku jarang menemuinya setelah tinggal di apartemen, aku selalu sibuk. tepatnya, menyibukkan diri "
Ntah kenapa aku semakin bergetar mendengar ucapan Ammar ini, sekujur tubuhku memanas seakan udara sejuk malam ini tidak lagi terasa di tubuh ku.
" Ke. . . kenapa. . . kau memilih untuk menyewa apartemen sendiri Ammar, bukan kah tinggal dirumah sendiri lebih nyaman " Tanya ku tiba-tiba.
Uuuft. . . akhirnya aku jadi kepo kan. Dasar mulut ku. . . Aku memaki dalam hati.
__ADS_1
Ammar menatapku semakin tajam. . .
" Karena mu Fanny. Karena mu !!! sejak kau memutuskan hubungan kita secara sepihak, Aku mulai jengah setiap berada di kamar ku sendiri. Bayangan tentang apa yang sudah pernah kita lakukan yang pertama kali di kamar ku ketika itu. . . seakan terus menghantui ku membuat ku terbawa emosi dan menyakiti tubuhku sendiri "
" Ammar stop. Ku mohon jangan lagi mengingat dan membahasnya " Aku menutup kedua telinga ku dengan mata menunduk.
" Fanny, apa kau membenciku karena kau mulai muak dengan sikap ku yang selalu kau bilang mesum itu??? sehingga kau tega memutuskan ku secara sepihak "
" Ammar. . . kau. . . Hah, kau sungguh sudah gila Ammar " Jawab ku mulai kesal.
" Tidak bisakah kau memberiku kesempatan lagi Fanny, untuk bisa bersamamu lagi??? tolong beri aku syarat jika memang ada untuk ku agar bisa membuatmu kembali memaafkan dan bersamaku "
Aku kembali menatapnya dengan lekat.
Sejujurnya. . . aku masih menantikan kesempatan ini tuhan, boleh kah aku kembali merindukannya???
" Tidak ada syarat dan aku belum pernah memberikan syarat pada siapapun yang akan menjadi pacarku atau bahkan suami ku kelak " Jawab ku dengan tegas
" Aku merindukan mu Fanny. . . dan setelah ini, akan semakin sangat merindukan mu. Tapi tak apa. . . aku akan tetap menunggu kesempatan kembali datang untuk bisa bertemu dengan mu lagi "
" Ammar. . . aku. . . ah, maksud ku jalani saja hari-harimu mulai esok dengan lebih ceria lagi. Jangan bersikap dingin dan cuek begitu, masih banyak para cewek yang mengharap untuk bisa berpacaran dengan mu " Jawab ku lagi.
" Aku benci bersikap ramah seperti dulu, karena ku tau. . . itu salah satu sikap yang kau benci dari ku bukan??? " Jawab nya dengan wajah serius.
Aku terperanjat mendengarnya. . .
" Sudah lah Ammar, jangan memaksakan diri begitu. Semoga perjalanan mu besok menyenangkan dan hati-hati berkendara. Aku. . . aku duluan masuk ke aula. Acara sudah mau selesai, terimakasih sekali lagi Ammar " Sambil berlalu pergi aku melewati tubuh ammar begitu saja.
" Fanny, tidak bisakah aku cukup menjadi teman mu saja setelah ini ??? " Tanya nya lagi. Membuat ku berpikir keras. . .
Kembali aku menghentikan langkah ku dan menolehnya. . .
" apakah dengan berteman dengan ku sudah cukup membuat mu puas Ammar??? ".
Ammar terdiam. . . dengan mata berkaca-kaca menatapku.
__ADS_1
Aku semakin tidak tega melihatnya, aku ingin. . . ingin sekali memeluknya. Tapi ku tahan dengan segala penahanan terkuat.
Hah. . . baiklah, sebagai jiwa yang berperikemanusiaan, gapapa kan aku memulai silaturahmi baik dengan Ammar. Meski sudah mantan, tetep bisa berteman baik kan. . . mari kita coba. . . sahut ku dalam hati seolah banyak orang yang menunggu jawaban ku di dalam sana.
" baik lah. . . kita. . . cukup berteman saja, semoga kedepannya kita akan menjadi sepasang sahabat yang bisa saling mendukung dan memberikan yang terbaik " Jawab ku dengan mengangguk pelan, sembari tersenyum kecil padanya.
Wajah Ammar terlihat ceria lagi seketika. . . oh astaga, secepat itu???
Dengan kegembiraan yang dirasakannya itu, Ammar memeluk erat tubuh ku. Berkali-kali ia memeluk, menyentuh kedua pipi ku, menatap haru wajah ku, kemudian memeluk tubuh ku lagi, terus saja diulang nya berapa kali.
Aku mendorong tubuhnya pelan.
" Apa begini mengawali sebuah pertemanan??? Jangan lupa. Kita cuma B E R T E M A N saja Ammar " Jawab ku dengan bibir manyun dan berusaha menyembinyikan pipi ku yang merona, jantungku yang terus berdebar makin kencang, tubuhku yang mulai mematung gemetar, ah. . . aku tidak bisa mengekspresikan bagaimana diriku sendiri malam ini.
Yang ku tau, hanya. . . kebahagiaan di wajah Ammar.
Kemudian kami bersama-sama berjalan berdampingan menuju aula kembali.
Ku hampiri Dini yang clingak clinguk sedaritadi ku perhatikan dari kejauhan. Pasti sedang mencari ku lagi. . . hahaha lalu pandangannya tertuju pada ku. Dia tampak kesal, aku menghampirinya.
" Kemana aja sih bu guru satu ini, aku jadi sendirian disini tau. . . " Ucapnya sembari menatap mata ku.
" Hehe. . . iya sory, tadi aku cuma cari angin aja diluar " Jawab ku dengan tersenyum.
" Hmm. . . yakin niih cuma cari angin aja??? gak cari Ammar. . . hihihi " Dini meledek ku dengan tatapan tajam.
" Ih gak lah, ngapain coba cari mantan yang udah berlalu. . . " Jawab ku memalingkan wajah dari tatapan tajam Dini.
" Hmm. . . mata lu tuh paling gak bisa bohongin gue tauk, ciye. . . jangan-jangan udah baikan nih " Ledeknya lagi sembari menggelitiki pinggangku.
" ih apaan sih Din, geli tau sudah berhenti. . . hahahaha Dini, kau. . . hentikan menggelitiku " Aku terus menahan geli dari jari jemari Dini yang menggelitiku hingga aku tertawa lepas.
Ah. . . ada apa dengan ku??? Rasanya. . . sudah lama aku tidak bisa merasakan lega nya tertawa lepas seperti ini. . . hah. . . Ammar, semoga kita bisa menjadi teman baik kedepannya.
Saling memulai hal baru, dan menghapus kenangan lalu.
__ADS_1
Aku tersenyum memandang wajah Ammar dari kejauhan yang sedang serius ngobrol dengan seorang mahasiswa di depannya.