
" Bunda, bangun. . . bunda harus kuat, saat ini yang Fanny miliki hanya bunda seorang ".
Aku terus saja menggenggam erat tangan bunda, dengan sekuat tenaga aku menghampiri nya sementara diruangan yang berbeda dokter masih mengurus jenazah ayah ku. Kak Rendy yang semulai tadi menemani ibu, menyambutku dengan isakan tangis tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Matanya sudah sembab dan sedikit bengkak, ku yakin dia sudah menangis terus menerus daritadi di samping ibu ku.
Ah. . . ini sungguh membuatku tak mampu lagi mengeluarkan air mata, sesak di dada ku begitu terada hebat hingga rasanya sekedar menghela nafas saja aku hampir tidak mampu.
Adakah kau begitu dendam padaku Tuhan??? adakah kau begitu mengutuk ku sebagai hamba mu, kenapa kau selalu memberikan ku cobaan yang seakan tiada habisnya. Kau boleh menghukum ku seberat apapun itu, tapi kenapa harus ayah ku??? kenapa???
" Fanny. . . "
" Bunda, bunda sudah sadar? ini Fanny. Fanny akan selalu di samping bunda "
" Ayah mu mana ??? Bagaimana keadaan nya??? tadi kami masih bersama menuju gedung yang akan kami sewa untuk pernikahan mu. Lalu. . . lalu kami. . . entah bagaimana bisa mengalami kecelakaan. Ayah mu membanting setir lalu memeluk bunda Nak, dia pingsan sembari memeluk bunda "
Aku yang mendengar penjelasan ibu ini, tak kuasa lagi ku bendung air mata yang sudah meluap tertahan di mata ku. kak Rendy yang melihat ku menangis seketika menepuk pundak ku seakan memberikan isyarat. Mau tidak mau aku harus memberitahu ibu kondisi ayah saat ini, tapi aku tidak mampu berkata lagi.
Aku semakin kebingungan ketika ibu beranjak membangunkan dirinya, melepas selang yang sedaritadi melekat di bagian lubang hidung nya.
" Rendy, kenapa kau menangis terus nak??? mari kita lihat kondisi ayah Fanny ". Ucap ibu ku sembari berdiri kemudian.
" Bunda, ayah. . . "
__ADS_1
" Fanny !!! " Kak Rendy menyela ucapan ku yang hendak ku lontarkan saja kebenaran semua ini meski rasanya aku tidak ingin mempercayai kepergian ayah ku.
" Tante, ayo biar Rendy papah tante. pelan-pelan aja jalan nya ya "
" Makasih Nak, adik mu Fanny itu memang cengeng. dia tidak bisa melihat kami orang tuanya sakit sedikit pasti langsung nangis begitu. kau juga, cengeng ah kalian ini ".
Aku dan kak Rendy sudah tidak bisa memberikan jawaban yang tepat lagi untuk ucapan ibu ku ini. Dengan sedikit tergesa-gesa ibu melangkah di temani kak Rendy menuju ruangan ayah terbaring kaku tadi.
Setiba disana, aku sudah menyiapkan mental dan hatiku untuk menyaksikan kesedihan ibu yang benar-benar terpukul atas kepergian ayah. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku tidak mampu mendengar teriakan pilu ibu, isakan tangisnya, suara nya yang lirih terus memanggil nama ayah.
Hah, aku tidak bisa lagi menyaksikan ini semua tapi aku harus kuat. Aku harus tegar, jika aku tidak bisa menerima ini semua dengan hati yang ikhlas lalu bagaimana ibu ku akan bisa menghadapi kenyataan juga???
Kami yang berada diluar ruangan kembali histeris ketika jenazah ayah sudah siap untuk di bawa pulang kerumah kami. Begitu pula dengan ibu yang kembal tak sadarkan diri, tak kuasa menahan semua kenyataan yang sungguh memilukan ini.
Tiba dirumah, semua keluarga besar kami sudah berkumpul di sertai dengan banyaknya orang yang menyambut kami dengan kedukaan mereka.
Kevin yang selalu setia di sisi ku, tak sedikitpun melepaskan ku dalam dekapan nya. Dia terus membelai dan menepuk-nepuk bahu ku seolah berusaha membuatku tenang. Dia hanya terdiam dengan sikap lembutnya pada ku. . .
Sementara, pandangan ku tanpa sengaja tertuju pada mama Kevin dan kak Shishi yang kini tengah berdiri menatap ku dengan wajah kesedihan. Dan Nayla. . . berada di antara mereka menatapku dengan ekspresi datar sedikit menyeringai.
Aku tidak ingin peduli dengan pandangan sekitar, hanya saja saat ini. . . aku tidak tau harus bagaimana menjalani hari-hari ku setelah ini, bersama ibu berdua saja.
__ADS_1
Dan sosok lelaki di sampingku kini, yang selalu setia menemani dan terus menerus merangkul tubuh ku yang lemah ini, menggenggam erat tangan ku walau sentuhan tangan nya begitu dingin ku rasa. Aku tidak yakin jika setelah ini, apakah dia akan tetap mencintaiku yang kini hanya memiliki satu orang tua saja. Yaitu ibu. . .
Ah kepala ku terasa sakit sekali, dada ku sesak. Mata ku. . . mataku seperti sangat berat tak mampu ku paksakan untuk tetap terbuka, kemudian semua terlihat perlahan mulai gelap. Mungkin aku mulai tertidur. . . tapi. . . sayup ku dengar suara Kevin yang terus memanggi nama ku tanpa henti dan berbagai suara banyak orang berusaha membangunkan ku. Tapi walau begitu aku tak mampu membuka mata ku. . .
Aku seperti terbawa pada masa kecil ku lagi, ketika dimana ayah selalu menggendong ku dan mengejar ku bermain bola, bermain layangan. Dan kami hidup sangat bahagia meski masih serba kekurangan dan hidup sesederhana mungkin dahulu.
Antara ayah dan ibu aku memang lebih takut jika membuat ayah marah dan kecewa, beliau sosok yang tegas dan pekerja keras. Namun beliau juga sosok yang penyayang dan rela melakukan apapun demi membuatku dan ibu bahagia.
Hingga aku mulai teringat kembali akan semua nasehat dan pesan terakhir ayah sebelum beliau pergi untuk selamanya. jika saja ucapannya itu akan menjadi terakhir kali nya beliau bersama ku, aku tidak akan pernah jauh dari beliau sedikitpun. Aku akan terus memohon agar ayah tetap hidup menemaniku hingga akhir waktu.
Tiba waktu pagi aku yang merasakan sakit di bagian kepala dan sekujur tubuh ku terasa lemah, kembali di kejutkan ketika terdengar suara yang begitu berisik dan ricuh dirumah ini. Aku berusaha membangunkan diri namun sesuatu menahan tangan ku. Aku terkejut ketika melihat Kevin tertidur di samping ku. Apakah dia menemaniku semalaman?
" Eh, kau sudah bangun sayang??? " Ucap nya sembari mengucek kedua matanya.
" Kevin, bagaimana keadaan bunda??? kenapa aku bisa tertidur di kamar ku? dan kau. . . " Tanya ku heran.
" sayang, jangan banyak berpikir dulu. ayo kita harus siap-siap mengantar ayah ke peristirahatan terakhirnya. Kau harus tegar dan ikhlas. Sabar ya sayang "
Mendengar ucapan Kevin kembali membuatku menangis pilu. Semua ingatan tadi memang hanya mimpi. . . mimpi indah ku ketika bersama ayah. Tanpa mampu berkata, aku menuruti apa yang di katakan Kevin pada ku. kemudian dengan ragu-ragu Kevin memapah ku untuk segera tidur dari ranjang tidur ku.
Di ruangan bawah sudah tampak begitu banyak orang berbela sungkawa. sekujur tubuh mu semakin tsk berdaya namun bergetar hebat ku rasa. Kevin yang melihat ku langsung memeluk ku dengan erat.
__ADS_1
" Kau harus kuat sayang, demi ibu mu " Ucap nya dengan lembut di telinga.
❤ Hai semua, para readers setia ku. Mohon maaf jika mengecewakan kalian, dalam episode ini dan sebelumnya. karena Author mengutip dari beberapa kisah nyata, dan sayang sekali karya ini akan segera ku akhiri saja. jangan lupa terus like dan vote nya ya, makasih. . . ❤