
Aku masih tak percaya dengan sosok lelaki yang berdiri di hadapan ku ini, benarkah dia Kevin yang ku kenal??? Aku hampir tak mengenalnya.
Rasanya aku ingin sekali langsung memeluknya, oh tuhan. . . tapi tubuh ini mematung dengan keras sehingga aku tak mampu tergerak sedikitpun, ingin aku berucap banyak kata tapi bibir terasa terkunci.
" Apa yang terjadi ??? "
Suaranya masih terdengar lembut seperti dulu, Oh Tuhan. . . dia benar-benar Kevin.
Air mataku semakin mengakir deras, sesak di dada. Aku mundur satu langkah dari tempat ku berdiri, seakan aku. . . aku tidak ingin dia mengetahui bahwa saat ini aku sungguh telah hancur oleh laki-laki pilihan ego ku, tanpa berpikir ulang bahwa seharusnya Kevin lah yang aku pilih saat itu.
Setelah dia mengetahuinya, dia pasti akan menertawakan ku. . . dan bersorak gembira atas kekalahan ku, atas kesalahan ku memilih lelaki brengsek seperti Ammar.
Tapi kau tau, selanglah aku mundur dari hadapan nya Kevin seketika langsung menarik tubuhku untuk berada dalam pelukan nya.
Aaaaaarght. . . rasanya aku semakin menggila disini, berada kembali dalam pelukan lelaki yang sudah ku buang sia-sia.
" Apa yang kau tangisi??? kau masih tetap saja cengeng " ucap nya dengan lembut.
Hah. . . kali ini, ku pikir tangisan ku tak akan terlihat dan di sadari oleh semua orang yang melihatku karena wajah ku sudah mulai basah oleh rintikan hujan. Tapi nyatanya tidak. . .
Hai, hujan. . . sampaikan kepada langit, bilang padanya aku sangat membencinya. Dia membuatku malu di hadapan lelaki yang pernah berada di sisiku. . .
Aku masih terdiam dengan isakan tangis ku yang kian makin jadi.
Kemudian perlahan aku lepaskan pelukan hangat Kevin dari tubuh ku, ku tengadahkan wajahku melihat dirinya. . . tatapannya begitu pilu pada ku.
" Sejak kapan kau datang? " tanya ku.
" Aku sudah di indonesia sejak siang tadi, tapi. . . butuh waktu untuk benar-benar menguatkan hatiku kembali melihatmu Fanny. . . kenapa kau terlihat kurus begini??? " tanya nya sembari menyentuh kedua pipiku. Aku semakin kikuk dengan jantung yang menggebu. . .
" Lalu untuk apa kau masih disini bersama ku??? violet sedang menunggu mu " Jawab ku dengan memalingkan wajah ku dari tatapan nya.
" Ayo kita bersama kembali ke acara pernikahan Rendy, eh tapi. . . kau sudah basah kuyup begini. Apa kau bawa baju ganti??? "
" Apa kau pikir aku sengaja ingin bermain hujan jadi harus bawa baju ganti??? " ucap ku cetus.
Namun dia tetap tersenyum lembut melihat tingkah ku.
" Ayo pergi bersama ku " Ucap nya dengan lembut sembari meraih tangan ku, kemudian ditarik untuk melangkah mengikutinya dari belakang.
" Kevin, lepaskan !!! "
Cengkramannya begitu kuat. Sehingga aku terus saja meronta dengan mengikuti langkah nya menuju gedung hotel kembali.
__ADS_1
Oh tidak, saat ini Violet sudah pasti mencari-cari ku lagi. Bagaimana jika nanti dia kembali melihatku lalu datang bersama lelaki yang dicintanya???
" Kevin, apa kau tidak dengar ??? " ucap ku dengan nada lantang.
Langkahnya terhenti seketika lalu menoleh kebelakang melihat ku dengan tatapan tajam. Membuatku menunduk kemudian dan mengatupkan kedua bibirku rapat-rapat. . .
" Fanny, nanti kau bisa sakit jika terus terkena air hujan seperti ini "
Oh tuhan, dia masih sangat lembut dan tenang seperti dulu yang ku kenal.
Kevin. . . jangan lagi seperti ini, aku kini wanita hina. . . aku tidak pantas mendapatkan perhatian mu lagi.
" Aku tidak ingin membuat Violet cemburu " Jawab ku perlahan. Lama terdiam, ku dengar dia menghela nafas panjang.
" Apa kalian sudah berbincang begitu banyak hal??? "
Aaarght. . . dia malah melempar tanya balik pada ku. Menyebalkan. . . tidak bisakah kau menjawabnya saja Kevin???
" Dia sangat mencintaimu "
" Apa kau tidak merindukan ku??? "
" Kevin. . . plisss " Ucap ku dengan nada tegas kembali. Ku tatap wajah nya dengan tajam, dia terdiam sesaat.
" mari kita kembali saja dulu ke hotel, ganti pakaian mu disana. Aku akan meminta seseorang mengirimkan baju ganti untuk mu " jawab nya dengan lembut kembali menggenggam hangat tangan ku. Membuatku pasrah saja kali ini apa yang akan dia perbuat sesuka hati nya.
Aku terus mengikutinya melangkah masuk menuju hotel hingga langkah kami ku sadari melewati aula gedung di acara pernikahan kakak ku.
Hingga tiba langkah kami di sebuah kamar di hotel ini, aku semakin yakin ketika dia mengeluarkan kunci dari kantong jas nya.
Oh jadi, semulai siang tadi dia berdiam diri di hotel ini??? tanpa sepengetahuan ku???
Aaarght sial. . . kenapa aku baru mengetahuinya??? jika saja aku tahu dari awal, aku memilih tidak hadir di acara kakak ku Rendy.
" Ayo masuk " ajaknya pada ku.
" Aku. . . aku pulang saja " Jawab ku dengan kikuk.
" Setelah ini aku akan meminta kurir mengirimkan baju pengganti untuk mu. Masuk lah dahulu Fanny, ayo. . . " Ajak nya lagi dengan menarik tangan ku kembali memasuki ruangan kamarnya.
Aku tidak berani melihat sekeliling, meski ini hotel berbintang yang sudah pasti menakjubkan tapi berada di satu kamar kembali bersama orang yang dulu pernah menjalin suatu hubungan karena keegoisan ku, membuatku sedikit gugup. . .
" Kau bisa mengganti baju mu dengan piyama handuk dulu, hangatkan tubuh mu sebelum terserang flu " Ucap nya sembari menyeduhkan teh untuk ku dan ku lihat kemudian dia menelpon seseorang dengan menatap tubuh ku.
__ADS_1
Gila. Bagaimana mungkin aku memakai piyaman handuk di hadapannya begitu saja, sementara kami. . . hanya berdua di kamar ini. Meski aku tau, dia tidak akan macam-macam seperti lelaki lain nya yang pernah ku kenal. Tapi. . . bukan kah tidak sopan???
Aku masih terdiam tak berkutik berdiri di hadapannya menerima seduhan teh yang dia buatkan untuk ku. Ah aroma teh ini sangat nikmat tercium oleh hidung ku. . .
" Fanny, ganti baju mu dulu. Sebentar lagi kurir akan membawakan baju ganti untuk mu " jawab nya dengan lembut.
Aku mulai kedinginan, dengan udara yang di keluarkan oleh penyejuk ruangan yang mulai merasuki tubuh ku hingga bibir ku jadi gemetaran.
Tidak ada pilihan lain bukan. . . selain menerima tawarannya untuk mengganti piyaman handuk.
Aku berjalan melangkah begitu saja melewatinya menuju kamar mandi yang entah di sebelah mana aku masih berusaha mencarinya, kamar ini cukup luas.
Dengan tergesa-gesa aku mengganti pakaian ku dengan piyama handuk yang beruntung cukup menutupi seluruh pahaku hingga betis.
Perlahan aku keluar dari kamar mandi, ku lihat Kevin sudah menungguku di depan pintu. Membuatku kembali terkejut.
" Ini baju ganti mu Fanny " ucap nya dengan lembut sembari menyodorkan sebuah kotak besar. Aku menerimanya dan kembali masuk ke kamar mandi.
Sebuah gaun panjang berwarna merah jambu, dam betapa aku dibuatnya kembali terharu. . . ukuran nya sangat pas di tubuh ku. Bagaimana dia begitu mudah mengenali ukuran tubuh ku??? Ini gaun juga tidak begitu seksi dan terbuka. Aku nyaman memakainya. . .
tanpa ku sadari, aku tersenyum melihat tubuhku berbalut gaun ini di hadapan kaca wastafel yang terbentang begitu besar memanjang di kamar mandi ini.
Setelah ku rapikan semua nya, dengan langkah ragu aku keluar dari kamar mandi. Kevin sudah tak terlihat sedang menunggu ku di depan pintu seperti tadi.
aku melihat-lihat sekeliling, ku lihat Kevin sedang menyeruput teh hangat di sofa.
Pandangannya tertegun menatapku yang datang menghampirinya, kemudian berdiri seketika melempar senyum pada ku.
" Kau masih tetap cantik, syukur lah baju itu pas di tubuh mu "
" Ehm, makasih Kevin " jawab ku kikuk.
" Minum lah teh ini dulu, lebih baik kita tunggu semua tamu undangan pergi agar kau lebih leluasa bertemu dengan kakak mu Rendy "
Aku mengangguk pelan, kemudian duduk di samping nya dengan jarak yang sedikit jauh. Dia tersenyum geli melihat tingkah ku.
" Apa kau tidak nyaman berada di satu kamar dengan ku Fanny??? " Tanya nya dengan lirih.
" Ti. . .tidak, aku. . . aku hanya. . . "
" Hahaha sudah lah, jika kau ingin aku pergi aku akan keluar lebih dulu "
" Tunggu. Aku gak mau disini sendirian " jawab ku dengan cepat. Membuatnya tersenyum kembali melihat ku.
__ADS_1
" Baik lah, aku akan menemanimu disini. Asal kau tersenyum pada ku, jangan menekuk wajah mu terus menerus begitu. Itu membuatku takut "
" Cih, apaan sih " jawab ku singkat sembari tersenyum kecut mendengar ledekannya itu pada ku, ku yakin dia memang bermaksud merayuku untuk membuatku senyaman mungkin setelah ini berdua bersamanya dalam satu kamar.