BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#118


__ADS_3

Kau tau, di saat aku sudah menjalani hubungan pacaran dengan Ega. Hubungan kami tidak berjalan mulus, selalu saja di hiasi suatu pertengkaran.


Sosok Ega begitu egois, hanya mau di manja dan di mengerti serta dituruti maunya. Berulang kali dia memintaku melakukan hal yang intim, tapi selalu ku tolak. Aku hanya bersedia dia cium, dia peluk, dan terkadang pun. . . ketika aku merindukan belaian dari Tristan, aku mulai kalap. Lupa diri dan hampir saja melampiaskannya dengan Ega, namun. . . selalu saja hati ini mampu menahan diri ketika memandang wajah Ega yang selalu tersenyum menyeringai padaku. Seolah dia sudah terlihat dari awal jika hanya menginginkan tubuh ku saja.


Dan dia. . . selama kami berpacaran, masih belum pernah Ega menginjakkan kakinya di rumah ku seperti Tristan sebelumnya. Dengan banyak alasan yang tak masuk akal, aku pun tak banyak menuntut dalam hal itu. . . dan, ku mulai risih karena dia selalu memintaku bertemu di tempat-tempat sepi yang dimana dia bebas menggerayangiku.


Aku mulai jengah dengan hubungan yang sudah berjalan satu bulan lamanya ini. . . haha, aku ingin segera putus saja. Aku ingin meluapkan segala kekesalan ini. . . hingga seiring waktu berjalan dengan cepat, aku memutuskan hubungan ku dengan Ega.


" Kau keterlaluan Fanny, apa salah ku??? kenapa kau tiba-tiba ingin putus dariku??? " Tanya Ega dengan kesal.


" Kau tidak salah apa-apa Ega, aku yang salah disini. Dari awal aku sudah ragu, ku pikir dengan menerimamu aku akan bisa melupakan dan lepas dari bayangan Tristan. Tapi justru ini membuat ku makin sakit karena merindukannya. . . "


" Kau wanita jahat yang pernah ku kenal Fanny, aku sama sekali rak menyangka jika dari awal aku hanya kau jadikan pelarian. Pantas saja kau selalu banyak menolak perlakuan tulus ku "


" Tulus??? hahaha sudah lah Ega, aku tau dari awal kau juga hanya menginginkan tubuh ku saja bukan??? "


" Kau keterlaluan Fanny, serendah itu kau berpikir tentang ku. Aku sungguh mencintaimu. . . aku sungguh jatuh hati pada mu " Ega mulai berbicara dengan nada keras, bersyukur ini tempat lumayan sepi. sehingga tak ada satupun orang yang mengetahui dan mendengarnya.


" Sudah lah Ega, jangan memaksa ku lagi. Aku ingin kita putus sekarang juga, makasih atas semua kebersamaan kita selama ini "


" Gak Fanny, aku gak mau putus. Plisss jangan tinggalin aku Fanny, aku janji. aku tidak akan memaksamu lagi untuk melakukan hal intim lagi, aku tau kau. . .kau belum siap saja setelah putus dari Tristan "


Mendengar jawaban itu, aku menolehnya seketika dengan tatapan tajam.


" Aku bosan. Aku bosan dengan ucapan mu yang selalu mengataiku seperti itu, apa aku sebegitu rendahnya di hadapan mu hah??? Terserah setelah ini kau akan berpikir apa aku sudah muak, aku bosan, aku jengah dengan semua ini Ga. . . "


Kemudian aku pergi meninggalkan Ega begitu saja tanpa menolehnya lagi, hah. . . sudah lah, terserah dia akan menganggap aku wanita seperti apa. Yang penting aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan nya. Karena sudah ku coba berulang kali untuk perlahan mencintainya, tapi tak bisa. Tristan kian semakin terbayang oleh ku, malah kini. . . Tristan semakin jauh dariku semenjak dia tahu hubungan ku dengan Ega.


*************♥♥♥*************


Terlepas dari itu semua, Ega masih saja mengejarku dan memaksa ingin kembali padaku apapun persyaratannya.


Ini semakin membuat ku benci, syarat??? syarat apa??? cinta tidak pernah membutuhkan sebuah syarat tertentu bukan???


Sore ini, seusai jam mata kuliah ku. . . aku hendak pulang, tapi. . . entah kenapa niat ku berubah, seolah di tarik untuk melangkahkan kaki menuju gramedia.

__ADS_1


Setiba di ruangan, ku lihat Tristan sedang terduduk melamun tanpa aktifitasnya yang selalu ramah menyambut kedatangan para pengunjung.


" Tristan. . . " Panggil ku dengan pelan, tapi mendengar suaraku Tristan terbangun seketika dengan wajah gelagapan.


" Eh maaf jika aku mengejutkan mu " ucap ku lagi dengan panik.


",Tak apa, aku hanya. . . Fanny, apa kau sungguh memutuskan Ega??? "


Tanya nya kemudian.


Wah, hebat sekali. Ega langsung memberikan laporan yang akurat pada Tristan. . . heh


" Kenapa??? apa kali ini kau yang akan memaksaku secara langsung untuk kembali pada sisi Ega??? iya??? "


Dia terdiam dengan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat kemudian menggelengkan kepalanya. . .


" Lalu apa??? " Tanya ku lagi.


" Maafkan aku Fanny, tapi. . . Ega sungguh mencintaimu. Aku hanya ingin kau tau akan ketulusan perasaannya padamu "


" Kau memang brengsek Tristan "


" Kau tau, aku masih mencintaimu. Apakah semudah itu kau memintaku untuk berpindah hati hah??? apa kini kau sungguh tidak peduli padaku meski sebatas teman saja??? "


Tristan menatapku dengan mata berkaca-kaca. . . Aku mulai sesak.


" Sudah lah Fanny, jangan memaksakan diri " Jawab nya kemudian.


" Katakan Tristan, apa kau masih mencintaiku??? "


" Tidak " ucap nya singkat dengan mengalihkan tatapan matanya dari ku.


" Jawab dengan jujur, apa kau masih mencintaiku??? "


Aku berteriak membentaknya tak peduli semua orang di dalam ruangan ini menoleh ke arah ku dan berbisik mencemooh ku.

__ADS_1


" Fanny, pelankan suara mu. Kita tidak sedang berdua " jawab Tristan dengan lembut berusaha menenangkan ku.


" Lalu apa??? jawab aku dengan jujur Tristan " aku mengulanginya lagi, dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras di pipi ku.


" Aku. . . maafkan aku Fanny, aku sudah mengubur rasa ku padamu dulu. Aku tidak ingin semakin tersiksa, kau. . . kau berhak bahagia dengan laki-laki lain yang lebih dari ku dan satu keyakinan dengan mu " Ucap nya kemudian dengan wajah menunduk.


Aku tau Tristan, jauh di lubuk hatimu. Kau masih mencintaiku, bukan layaknya sebagai teman atau sahabat. Melainkan memang masih terukir indah nama ku di lubuk hatimu. . . kau. . . kau hanya ingin memaksaku dan mendorongku jauh darimu kan???


" Baiklah Tristan, baik lah jika itu mau mu. Aku tidak akan lagi memaksa mu, ini terakhir kalinya aku menemuimu. mulai detik ini, jangan lagi menganggapku sebagai teman atau sahabat. Lebih baik kita tidak lagi saling mengenal "


Kemudian aku berlari keluar ruangan, aku terus berlari hingga sampai di halaman luar aku hendak memanggil taxi tapi seseorang menyapaku dari samping.


" Fanny, fanny kan??? iya. . . kau sungguh fanny pacar Tristan " Ucap nya berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri ketika aku menolehnya dengan deraian air mata.


" Kau siapa??? " tanya ku sembari mengusap air mata ku.


" Aku Tommy, teman kerja Tristan. Kita pernah bertemu sekali di taman waktu itu, eh tapi. . . kau. . . kau menangis??? " Tanya nya dengan heran.


" Eh ya, maaf aku tidak mengingat mu. ya udah ya aku buru-buru "


" Eh tunggu. . . tunggu sebentar, tak baik jika wanita cantik sepertimu pergi sendirian dengan sebuah tangisan. Biar ku antar kau akan pergi kemana??? "


Aku terdiam sesaat. Sepertinya, dia orangnya baik. Gak ada salahnya kan aku. . . menerima tawarannya???


Eh tapi. . . aku. . . aku bahkan tidsk tau harus pergi kemana setelah ini, tidak mungkin aku pulang dalam keadaan wajah ku kucel dengan air mata begini.


" Baik lah " aku mengangguk pelan menerima tawaran Tommy.


Kemudian kami melangkah bersama menuju mobil Tommy, dan melaju pergi keluar dari halaman parkir gramedia.


Di tengah perjalanan, Tommy tak banyak bicara. Hanya terdiam fokus melajukan mobilnya yang entah akan kemana. . .


" Tommy, Antarkan aku kafe X " ucap ku kemudian. Kafe ini. . . adalah Kafe pertama aku bertemu dengan Tristan saat aku bersama Ammar saat itu.


" Baik lah. Kita kesana sekarang ya " jawab nya dengan lembut.

__ADS_1


Kemudian Tommy melajukan mobilnya lebih cepat lagi tanpa perbincangan sedikitpun dengan ku. . . dia memang sedikit cuek kah???


tanya ku dalam hati. . .


__ADS_2