BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Lima puluh lima


__ADS_3

Ammar masih berdiri menanti jawaban dariku tentang lamaran mamanya kali ini.


" Fanny, apa kau tidak suka dengan surprice ku kali ini? Saat itu, di hari anniv kita yang ke 1 tahun kau sudah menolak ku tanpa berpikir panjang, dan kali ini apa kau pun tetap akan menolak lamaran mama ku??? "


Seketika aku menoleh padanya dari diam ku semulai tadi, mamanya Ammar sangat baik padaku dan begitu antusias menerimaku sebagai kekasih Ammar saat itu. Hingga mengetahui kami putus lalu berteman kembali, beliau tetap baik dan menerima ku. Dan hari ini, bahkan secara langsung dia datang kerumah ku untuk melamarku di depan ayah dan ibu.


Tapi aku, aku belum siap. Bagaimana setelah ini aku akan melewatinya sedangkan hatiku masih belum seutuhnya terbuka kembali pada Ammar.


Tapi mau sampai kapan terus begini Fanny???


Ah, aku jadi dilema dalam hal yang serba dadakan ini. Aku masih shock !!!


" Fanny, kenapa kau diam saja? "


Ammar kembali membangunkan ku dari berbagai macam pikiran di lamunanku.


" Baik lah, mari kita bertunangan saja." Jawab ku yang spontan membuat Ammar loncat memeluk ku dengan penuh rasa kegembiraan.


Berkali-kali dia memeluk ku kemudian mengecup mesra kening ku. Aku hanya terdiam dengan senyuman melihatnya seperti anak kecil yang baru saja di belikan mainan.


Bahagianya melampaui batas.


" Ya sudah yuk kita kasih tau mereka, bahwa kau menerima lamaran ku. Aku yakin mereka sudah tidak sabar menunggu kita Fanny "


Aku menyanggupi ajakan ammar yang kemudian berjalan menuju ruang tamu kembali.


Semua tampak tegang melihat kami berdua, sementara wajah Ammar tidak bisa menutupi kebahagiaan di hatinya.


Sontak semua berseru lega melihat ekspresi Ammar.


" Syukur lah semua jadi senang kalau begini. seminggu lagi kami akan kesini, pertunangan ini adakan disini saja bagaimana? " ucap tante Lina.


" Oh dengan senang hati, tentu kami akan memeriahkan acara ini menyambut kedatangan kalian " jawab ibu dan ayah.


Aku masih tak mampu ikut berbicara atau protes sesuatu apapun, rasanya masih mengganjal di hati. Bagaimana dengan om Haris, papa nya Ammar?Bukan kah dia tidak menyukaiku?


" Mmh, tante.. om haris..."


" Om haris sedang sibuk sayang, nanti diusahakan ikut kemari saat hari pertunangan kalian ya, " Jawab tante Lina menyela ucapan ku yang belum selesai.


Aku hanya tersenyum ragu.


Perbincangan masih berlanjut.


Ammar memulai obrolan di tengah kami.


" Maaf, gimana kalau hari ini Ammar ajak Fanny untuk melihat-lihat cincin yang cocok untuk pertunangan kami nanti? "


" Wah.. Kau sudah sangat tidak sabar nak Ammar, hahahaa om suka lelaki yang tegas dan tangkas seperti mu hahaha. " Ayah meledek Ammar dengan tawa riang.


" Ehhem, ya sudah.. Gih sana. Aduuuh kita ngerti kok kalau kalian juga ingin berduaan. Iya deh iya, biar mama mu tante yang menemani disini Ammar. " Susul ibu menjawab, sedangkan tante Lina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Ammar.

__ADS_1


Ammar tersipu malu, ku lihat semua tampak bahagia hari ini. Harusnya aku juga bahagia kan, sepertinya memang iya, hanya saja..


Ah, mungkin karena aku masih sedikit shock.


Kemudian tanpa persiapan apapun dengan pakaian simpel santai yang biasa ku pakai ketika dirumah, ammar bergegas mengajak ku begitu saja tanpa memberiku kesempatan untuk ganti baju dulu kek atau merapikan rambut


Huh dasar. Kesalku dalam hati.


Selama di perjalanan Ammar selalu menggenggam tangan ku dengan senyuman sumringah di bibirnya. Sesekali ia menoleh padaku dengan senyuman bahagia. . .


" Cih.. Apaan sih, lebay deh. " Ucap ku meledeknya.


" Ye.. Biarin aja, emang lagi bahagia banget kenapa tidak? hehe. " Ucapnya dengan bibir mencibir meledekku balik.


" Apa kau bersungguh-sungguh kali ini Ammar? "


Seketika Ammar memutar setir mobilnya dan memarkirnya di pinggir jalan.


Aku terkejut dengan sikapnya ini.


" Ammar, ada apa? " Tanya ku dengan nada marah.


" Fanny, aku mencintaimu hingga detik ini. Tidak ada yang berubah dari hati ku untuk mu meski sudah berlalu kau memutuskan ku secara sepihak waktu itu " Tampang Ammar tampak lebih serius kali ini.


Lama ku pandangi wajahnya kini.


" Hah.. Baiklah, baik lah. Aku mempercayainya." Jawab ku dengan wajah datar.


Tiba-tiba Ammar mengecup bibir ku dari arah samping. Aku yang mendapatinya dengan tiba-tiba mataku terbelalak melihat wajah Ammar berada di depan mataku.


Ammar tersenyum kemudian sekali lagi dia mengecupnya, aku memejamkan mata merasakan hangat bibirnya.


Tak peduli kami masih berasa di dalam mobil bahkan di pinggir jalan.


Setelah lama kami beradu bibir di dalam mobil, aku mendorong pelan tubuh Ammar.


" Kapan sampainya kalau kau terus menciumiku begini? " ucap ku lirih.


Ammar tersenyum lembut mengusap-usap bibir ku dengan jemarinya.


" Entah kenapa, aku selalu merasa tidak puas jika hanya melakukannya sebentar dengan mu Fanny. "


" Sebentar apanya, kau sudah menciumi ku hampir setengah jam-an tau. " Ucap ku dengan mata melotot melihatnya.


" Aku masih belum puas. Aku masih ingin lagi lagi dan lagi Fanny "


Tanpa menunggu aba-aba dari ku Ammar kembali menciumi bibir ku, mengecup nya berkali-kali. Dia benar-benar melakukannya lagi.


" Ammar, ayo lah.. Cukup dulu ciumannya, apa kau tidak bosan? " ucap ku sedikit kesal.


" Kenapa harus bosan. Bibir ini sangat manis ku rasa, ingin rasanya ku telan habis saja. Hehe.. " Jawab Ammar dengan mengedipkan matanya padaku.

__ADS_1


" Tapi aku sudah haus, tenggorokan ku serasa kering. Iih, ayo lah." Jawab ku merengek.


" Hahaha astaga, baiklah tuan puteri kita jalan sekarang cari minum dulu lalu ke toko perhiasan ya. " Ucap Ammar sambil menertawaiku.


Lalu Ammar melajukan mobilnya kembali, dengan cepat serta mencari-cari sebuah kafe terdekat untuk sekedar duduk santai dengan menikmati minuman segar.


Tiba di sebuah kafe, aku dan Ammar memasuki ruangan dan memilih menu minuman segar di sertai cemilan ringan. Penglihatan ku langsung saja fokus pada sebuah meja dan kursi kosong di pojok ruangan ini. Lalu ku bergegas menarik tangan Ammar menuju ke tempat itu.


Sambil menunggu pesanan datang, Ammar menggenggam tangan ku.


" Fanny, aku bahagia banget. Akhirnya kita akan bertunangan dan kau mau menerima lamaran ku yang ke dua kalinya hari ini. " Ucap Ammar yang kemudian mengecup tangan ku.


" Hmm.. Tapi bukan berarti aku sudah sepenuhnya percaya padamu Ammar. " Jawab ku dengan menatap wajah nya.


" Iya aku paham, gapapa kok. Pelan tapi pasti aku akan kembalikan semua kepercayaan mu padaku. "


Kemudian seorang pelayan Kafe datang membawa pesanan kami. Aku langsung menyeruput minuman dingin yang ku pesan ini, hah rasanya sudah sangat haus dan lelah bibir ku ini gara-gara Ammar yang mengajaknya adu panco. huh


Sedang asyk menyeruput minuman, terdengar suara perempuan menyebut nama Ammar dengan nada terkejut dari belakang ku. Suara ini cukup tidak asing bagi ku. . .


" Aa. . . Ammar? kau disini? "


Yah.. Dia Nayla. Tanpa terduga, Nayla muncul di kafe ini dan menyapa Ammar dengan terkejut.


Ammar tertegun diam tanpa kata mendapati Nayla yang berdiri di tengah kami. Ada sedikit rasa kesal yang sudah terpendam lama kembali bangkit di hati ku, namun berusaha ku tetap tenang dan melihat bagaimana reaksi Ammar kali ini.


" Oh hai. I,iya nih, aku disini bersama Fanny. Tunangan ku !!! "


Glekh !!!


Minuman yang ku seruput seolah berubah bagai biji buah rambutan yang tanpa sengaja ku telan.


" Tu,tunangan??? Sejak kapan kalian..."


" Hai Nay, apa kabar??? Ehm, iya nih aku mau tunangan dengan Ammar minggu depan. Elu datang ya, kalau sempat. Pasti pengen dong ngeliat Ammar lagi??? hehe. " sapa ku menyela pertanyaannya pada Anmar dengan senyuman kecut.


" Oh.. Fanny, eh kak Fanny. I,iya. Nanti aku usahakan datang " Jawab nya dengan wajah kecewa.


" Eh Nay, kamu tau tempat toko perhiasan paling bagus di kota kita? Ammar mengajakku membeli cincin untuk pertunangan nanti. " ucap ku lagi.


Haha sakit kan lu, gue sengaja begini.


Nayla masih terdiam menatap wajah Ammar.


Ammar memalingkan pandangannya pada ku,


" Udah hausnya sayang? Ya udah yuk kita cari sendiri aja toko perhiasan mana yang nanti kamu sukai aku antar dimana pun itu, ya udah ya Nay kami duluan "


Ucap Ammar sembari menarik tangan ku dan menggenggamnya di depan Nayla. Aku hanya tersenyum sinis pada Nayla dan melewatinya begitu saja bersama Ammar.


Nayla terus saja memandang kami hingga keluar dari ruangan Kafe.

__ADS_1


Dan kau tau, betapa bahagianya aku melihat sikap tegas Ammar di depan Nayla. Hah,serasa aku membalas semua godaan dan rayuan Nayla pada Ammar dulu. Huh


__ADS_2