BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#104


__ADS_3

Aku bergegas mengikuti Ammar begitu saja ketika dia menarik tangan ku dan menuntunnya segera naik ke dalam mobil lalu di kendarainya mobil itu dengan kecepatan yang lebih. Aku tidak peduli lagi meski sebelumnya aku sangat takut jika Ammar melajukan mobilnya diluar batas.


Bathin ku. . .


Ammar, kau tau. . . betapa aku selama ini menguatkan diri untuk tetap setia, menahan diriku dari segala godaan demi godaan. Bahkan aku. . . aku sudah memberikan segalanya padamu, tanpa terkecuali sedikitpun. Apa masih belum puas setelah apa yang ku relakan untuk mu semua???


Ku tarik nafas dalam-dalam. Sadar akan mobil yang di lajukan oleh Ammar begitu cepat aku semakin kesal.


" Hentikan mobilnya " Ucap ku dengan singkat. Ammar mengabaikan ucapan ku dengan terus melajukan mobilnya fokus ke arah depan.


" Aku bilang hentikan mobilnya, Ammar " Ucap ku lagi dengan lebih tegas. Tapi Ammar tak bergeming


" AMMAR BLIYANTAMA " Ucapku kali in setengah teriak menyebut namanya.


Seketika Ammar membanting setirnya untuk mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan. Kemudian aku keluar dari mobil dan membanting pintu begitu keras. . .


Ammar menyusulku keluar. . .


" Fan, kau. . . " ucapnya terhenti ketika ku tatap wajahnya dengan tajam.


" Apa kau sungguh percaya pada wanita gila itu??? " Ucapnya lagi.


"Jadi ini yang kamu lakukan selama menghilang tanpa kabar dua bulan terakhir ini Mar??? Iya??? Kamu brengsek Ammar, kamu tega lakuin ini di belakang ku, kamu tega mengkhianati ku, aku benci kamuuuuuu. . . aku benci kamu, hikst. . ."


Aku terus memukuli tubuh sosok lelaki di hadapan ku ini, aku tidak peduli lagi bagaimana orang-orang yang melihat kami di jalanan.


"Fan. . . dengerin dulu penjelasan ku, ini tidak seperti yang wanita itu ceritakan pada mu. semua hanya rekayasanya untuk membuatmu menyerah dan meninggalkan ku. percaya lah pada ku sekaliii ini saja. . . pliss. . ."


Ammar terus memeluk ku sementara aku terus memberontak melepaskan pelukannya. Aku benar-benar ingin membunuh sosok lelaki di depan ku ini.


Plakkk!!! Sebuah tamparan dari ku mengenai pipi kanan nya,


"Aku benci kamu Ammar, aku benci, aku tidak akan pernah memaafkan mu. aku jijik dengan tubuh mu ini, lepasin. . . lepasin. . . Kamu. . . kamu jangan pernah berharap lagi hubungan kita akan lanjut. mulai detik ini kamu bukan tunangan ku lagi"


Aku berhasil melepaskan diri dari pelukannya, dan berlari. . . terus berlari tanpa arah, sejauh mana langkah ini akan mampu berlari menjauh dari lelaki brengsek ini.

__ADS_1


"Fanny. . . fanny. . . tunggu. . ."


Aku terus berlari tanpa memperdulikan teriakan Ammar yang terus memanggil ku dengan geram.


Beruntung nya aku berhasil menghentikan taxi yang bwrlalu lalang yang memang sudah ku tunggu dan ku cari semulai tadi sembari ku berlari jauh terus menjauh dari Ammar.


Ku hentikan salah satu Taxi yang sudah berlalu lalang sejak tadi, bersyukur Tuhan masih berpihak padaku. Sebuah taxi mendarat di hadapan ku sebelu pada akhirnya Ammar mengejarku. Aku. . . aku sudah tidak tahan lagi, aku ingin segera pulang dan sampai dirumah lebih dulu.


" Pak sopir lebih cepat lagi ya ke alamat xxxxxx " Ucap ku pada sopir taxi sembari ku menahan sesak di dada yang teramat sakit.


Tiba dirumah, aku meminta pak sopir menunggu sejenak untuk menunggu ku membayar semua biaya tagihan. Karena tadi Ammar mengajakku keluar secara paksa tanpa aku membawa uang sepeserpun.


Setelah itu. . . kembali langkah ku sembrautan, aku hendak mencari ayah dan ibu yang entah dimana. Dengan teruz berkeliling ruangan di dalam rumah, ku lihat ayah dan ibu sedang berbincang di halaman belakang.


" Ayah. . . bunda. . . " sapa ku dengan suara yang tiba-tiba serak.


" Astaga, sayang. . . kau " Ucap ibu ku dengan heran dan terkejut melihat ku yang mungkin terlihat lusuh ini sekujur tubuh.


" Ada apa Nak??? Mana Ammar ?" Tanya ayah ku kemudian.


" Apa maksud mu Fanny??? " Tanya ibu dengan tegas.


" Bunda, terlalu banyak hal yang ku sembunyikan dari bunda dan ayah yang terjadi antara aku dan Ammar selama 4 tahun ini, jika pertunangan ini terus di pertahankan semua tidak akan baik "


" Fanny, apa kau tau. Ammar sudah meminta persetujuan kami bahwa bulan depan kalian akan segera menikah, tapi kenapa kau begitu hah??? Jangan membuat kami bingung " Jawab Ayah kemudian.


Lalu. . . dengan sekuat tenaga ku ceritakan semua, bagaimana selama kami dari awal berpacaran hingga bertunangan sampai kini, tak terlewatkan satu kisah pun dari semua kesalahan Ammar begitu juga timbal balik dari ku bersama Kevin saat itu. Bahkan rekaman ucapannya bersama Nayla ketika itu aku masih menyimpan dan memutarnya di hadapan mereka langsung Hingga rasanya nafas dan suara ku sudah habis, aku tidak mampu lagi berkata. Aku tidak peduli jika setelah ku bongkar semua kebusukan Ammar di hadapan orang tua ku, pembelaan tidak akan berpihak padaku. secara, mereka begitu membela dan menginginkan Ammar yang menjadi suami ku kelak.


" Nak. . . apa kau semenderita itu selama ini???" Tanya ibu dengan mata berkaca-kaca dan melangkah menghampiriku, kemudian memelukku dengan sangat erat. Yang pada akhirnya membuat tangis ku pecah seketika. . .


" Maafin kami anak ku, maafin kami. Kami tidak pernah bisa melihat dengan benar, kami telah buta mata dan hati karena harapan kami yang begitu besar pada Ammar sehingga kami tidak bisa melihat penderitaan di mata mu begitu dalam Nak " Jawab ayah menambahkan.


Sementara tangis ku semakin terisak-isak tanpa henti dalam pelukan Ibu. Hah. . . ini sungguh sangat menyakitkan !!!


" Maafkan Fanny, fanny telah menghancurkan harapan kalian. . . tapi maaf, kali ini Fanny sunggug tidak ingin melanjutkannya lagi. Ku harap kalian mengerti " Ucap ku kemudian. Yang di tanggapi anggukan pelan oleh ibu.

__ADS_1


Dan. . . Kini, Ammar sudah tiba dirumah ku. Suasana terasa tegang saat ayah dan ibu menarikku untuk jauh dari Ammar.


" Fanny. . . " Panggilnya pada ku dengan suara sedikit lirih.


" Ammar, kami sungguh sangat kecewa pada mu. Kau. . . kau yang selama ini selalu kami banggakan kami puja puji tapi kau tega begitu bejat terhadap puteri kami " Ucap ibu dengan nada marah.


Ammar kebingungan kali ini, dan kemudian. . . dia menunduk kan kepala nya perlahan.


" Maaf tante, om, jika selama 4 tahun ini aku telah mengecewakan kalian. Kalian boleh marah pada ku, kalian boleh mencaci maki ku, jika perlu kalian boleh. . . "


Plak !!!


Sebuah tamparan dari ibu ku mendarat di kanan nya. Membuat kami semua terkejut menyaksikannya. . .


" Bahkan tante tidak ingin lagi kau berada di hadapan kami saat ini. Jangan harap kau bisa menginjakkan kaki mu dirumah kami. Pertunangan kalian batal, enyah lah kau dari rumah kami sekarang juga "


Ammar terdiam sesaat, kemudian. . . dengan berani dia menatap wajah Ibu ku dan Ayah secara bergantian. Lalu menatapku tajam. . .


" Tante, om. Kalian memang pantas bersikap demikian pada ku, tapi apakah kalian tau??? aaku justru sudah sangat lama ingin segera membatalkan pertunangan ini karena aku merasa sudah bosan dengan hubungan jarak jauh yang kami jalani selama 4 tahun ini. Tapi Fanny lah yang selalu memohon dan menerima ku kembali untuk tetap tinggal disisinya, apakah ini semata-mata karena salah ku hah??? "


Jleb !!!


Bagai panah berapi menusuk relung hati, terasa panas perih dan teramat sakit mendengar ucapan Ammar kali ini. Aku hampir tidak mempercayainya, dia begitu berani mengungkapkan hal yang membuatku sungguh terhina di matanya kali ini.


" Dasar kau anak tidak tau diri, om menyesal pernah mengenalmu Ammar " Jawab Ayah ketika hendak memberikan satu pukulan pada Ammar, aku menahannya. Ayah menatap ku dengan mata nya yang sudah memerah tanda amarah sudah meluap pada dirinya. Sedang ibu, ibu sudah menangis tersedu mematung di hadapan Ammar.


" Ammar, apa kau tau??? Aku sungguh sangat berterimakasih mendengar ucapan mu itu. Jadi, aku tidak perlu bersusah payah dan menyalahkan diri ku lagi jika hanya menyalahkanmu secara sepihak saja. Pergilah Ammar, kau bebas sekarang. Aku. . . aku tidak akan pernah menahan dan memintamu untuk tetap tinggal di sisiku, aku akan merelakan mu pergi dengan tulus kali ini. Dari awal aku memang sudah tidak pantas berada di sisi mu, bahkan aku ragu menjalani hubungan jarak jauh dengan mu. Tapi kini. . . aku sadar betul, aku wanita biasa yang tidak akan pernah bisa membuatmu bangga dan puas " Ucap ku panjang lebar tanpa sedikitpun menatapa wajah Ammar yang berdiri di hadapan ku.


" Terimakasih dengan semua kesetiaan dan cinta tulus mu selama ini Fanny, Semoga setelah ini kau bisa mendapatkan yang lebih dari ku. Selamat tinggal " ucap nya dengan suara sedikit sengau, mungkinkah dia menangis??? tanya ku dalam hati. Karena aku tidak sudi lagi memandang wajah nya itu. . . ini akan membuatku semakin terhina.


Hingga perlahan ku pandangi punggungnya yang berlalu pergi dari hadapan ku, aku kembali terisak dalam tangis yang hebat. Sesak di dada ku, sakit teramat dalam, hingga aku tiada mampu lagi menopang tubuh ku dengan tetap berdiri seperti ini.


**FLASHBACK OFF


❤ Hai readers ku, terimakasih selalu setia menanti setiap episode nya. Semoga kali ini bisa puas dan cukup menghibur. Jangan lupa tekan Like nya ya, dan plisss bagi vote nya di karya ku ini ❤**

__ADS_1


__ADS_2