
Tristan masih terus memohon dengan sangat padaku, memang tak seharusnya aku menghindar darinya. Dia begitu baik, dan selalu menjadi sandaran serta tempat curahan hatiku setelah Dini.
" Tristan, apa kau sungguh tidak malu berjalan dengan ku yang kini sudah hancur ini ??? "
" Oh Tuhan, bicara apa kau Fanny??? Hey. . . kau tetap wanita mengagumkan yang pernah ku kenal dulu hingga detik ini. . . kau. . . tetap demikian "
Aku semakin tersentuh dengan ucapannya yang begitu keras ingin sekali menghiburku, menarik ku keluar dari keterpurukan ini.
Mungkin, memang ada baiknya aku menerima semua nasehat dan suportnya kal ini.
Tapi. . .
" Tristan, aku hanya akan membuatmu malu jika terus bersama wanita hina sepertiku. Pergilah, biarkan aku sendiri dengan kehancuran ini "
" Fanny, kenapa kau begitu bodoh hah??? apa kau pikir setelah putus dari tunangan mu yang telah menghancurkan mu seperti ini, dunia pun menolak mu untuk tetap hidup??? Kenapa kau hilang kepercayaan diri hah??? Simpan kehancuran mu dalam hati, dan cukup biarkan Tuhan yang menjadi saksinya. Kau berhak bahagia dan bangkit lagi, dan satu hal yang harus kau ingat. . . apakah kau ingin mantan tunangan mu semakin merendahkan mu??? jika saja dia tau kau begitu terpuruk setelah putus darinya, maka dia akan bangga akan dirinya. Tapi baik lah, jika kau tetap ingin menghindar dari semua yang telah mendukungmu, mereka akan pergi karena kecewa. Termasuk aku, semua sia-sia "
Aku terperanjat memandang wajah Tristan kembali setelah ucapannya yang semulai tadi mengiris hatiku lebih dalam lagi.
Aku tidak mau di pandang bodoh dan di rendahkan oleh seorang lelaki lagi.
" Tristan, tunggu aku di bawah. Aku akan membersihkan diri sebentar lalu. . . ajak aku jalan-jalan sepuasnya sore ini " Jawab ku menegaskan.
Terlihat Tristan yang begitu puas dan riang gembira hingga mungkin dia akan melompat tinggi karena bahagia. Usahanya tak sia-sia kali ini.
30 menit kemudian, aku sudah siap dengan segala penampilan khas ku yang sedikit tomboy. Lalu aku bergegas turun ke bawah untuk menemui Tristan. . .
Tiba di ruang tamu ku lihat Tristan sudah bersama ibu dan ayah ku, tampak berbincang serius entah itu apa.
" Sayang, bunda senang sekali akhirnya kau. . . kau mau keluar rumah lagi. Ah. . . bunda sangat menyayangimu, jangan lagi mengurung diri seperti itu Nak. Kau pantas bahagia setelah apa yang kau lalui selama ini jangan lagi mengingat pahitnya masa lalu mu. Itu semua salah kami. . . " Sapa ibu menghampiriku dengan mata berkaca-kaca.
Oh Tuhan, betapa mungkin selama aku mengurung diri di kamar. . . ibu dan ayah pun ikut sedih dan terpukul, aku sudah membebani mereka.
" Tidak bunda, tidak. . . tidak ada yang salah. semua sudah terjadi, maafkan Fanny telah membuat Bunda dan juga ayah sedih selama ini " ucap ku dengan membalas pelukan pada ibu.
" Nak Tristan, terimakasih dengan segala usahamu ini. Kali ini om dan tante percayakan kepadamu untuk membawa Fanny keluar rumah sore ini " ucap ayah ku kemudian.
" Terimakasih Om, tante. . . tak perlu kalian khawatir. Aku akan menjaga puteri kesayangan kalian dengan sangat baik kali ini " Ucap Tristan yang begitu semangat hingga matanya berbinar-binar.
" Bunda. . . Fanny. . . "
" Pergilah Nak, tak apa. Pergilah bersenang-senang, Kali ini Bunda percaya padamu dan nak Tristan " ucap ibu ku dengan mengecup keningku.
Kemudian aku melangkah pergi bersama Tristan, meski dengan hati masih penuh keraguan. Dan. . . aku pun sedikit heran, kenapa. . . ibu berubah? Padahal dari awal dia kurang begitu menyukai kedekatan ku dengan Tristan.
__ADS_1
Ah sudah lah. . . biar itu jadi urusan nanti.
Setelah di tengah perjalanan, Aku masih terdiam dengan tatapan kosong.
" Fanny, sore ini kita mau kemana dulu??? "
Tanya nya yang menyadarkanku dari lamunan.
" Mmh. . . mau kah kau mengantarkan ku ke sebuah salon??? "
" Salon??? " tanya nya lagi dengan heran.
" Ya. . . salon, aku ingin merubah sedikit diriku "
" Hmm. . . baik lah aku akan menemanimu "
" Apa kau yakin akan menemaniku di salon? " Tanya ku meragukannya. . .
" Memang kenapa??? "
" Bukan kah membosankan??? " Tanya ku lagi, bagiku ini menarik. Haha. . . berbeda dengan Ammar ketika itu yang melarangku serta menolak ajakan ku untuk pergi ke salon lagi meski sekedar untuk merawat rambut ku. Dengan alasan, aku sudah cantik. Jangan memolesnya lagi, dan di salon itu sungguh membosankan.
Ukh, kenapa semua jadi mengingatkan ku pada Ammar kembali. . . **** !!! aku memaki dalam hati.
" Ya ya baik lah. . . temani aku jika kau mau, tapi kau tak perlu sungkan jika ingin pergi lebih dulu " Jawab ku kemudian.
Sampai di sebuah salon, aku bergegas turun dari mobil bersamaan dengan Tristan.
Kemudian salah satu pelayan salon menyambutku dengan ramah, aku menjauh dari Tristan dan memberikan arahan seperti yang ku ingin kan.
Di tanggapinya anggukan tanda mengerti oleh pelayan tersebut, aku menurutinya menuju ke ruangan yang berbeda.
Hah. . . Yah, aku ingin kembali terlihat cantik dan energik. Hingga semua yang di sukai oleh Ammar dari setiap tubuh ku ini, aku ingin merubahnya.
Sudah 1 jam lamanya, semua yang ku inginkan sudah hampir selesai. Sepertinya, Tristan memilih sebuah salon yang handal. Hmm. . . dia memang baik, sangat baik usahanya kali ini untuk membuatku senang.
Setelah semua selesai dengan baik, ku pandangi wajah ku di cermin. . . Yah, rambut yang selama ini selalu jadi kebanggaan dan pujian dari Ammar. Aku sudah memotongnya jadi lebih pendek. Dan ada beberapa lagi yang semulai tadi aku merubahnya. . .
Aku ingin tampil beda, lebih ingin lagi terlihat dewasa. Bukan gadis 17 san lagi. Iya kan???
Kemudian aku bergegas untuk segera keluar karena hari mulai petang, ketika aku menemui Tristan kembali di ruang tunggu sebelumnya aku hendak membayar semua tagihan dulu. Tapi seorang pelayan penjaga meja kasir menolak nya, dia bilang pacar ku sudah membayar semua tagihannya malah memberinya lebih.
So what??? pacar??? apa yang dia maksud Tristan???
__ADS_1
Oh tuhan. . . dia berlebihan kali ini. Aku jadi tidak nyaman dibuatnya. . . ini bukan seharusnya jadi tanggungan nya kan. . . ah. . . dasar Tristan.
Dan. . .
Setelah aku menghampirinya, dia sedikit tercengang melihat ku hingga bibirnya berbentuk O. Seakan tak percaya bahwa ini aku. . . aku yang datang bersamanya tadi.
Tapi, apa sebegitu berubahnya aku ini??? Atau jangan-jangan aku. . . aku terlihat tidak pantas??? aku terlihat lebih tua atau. . .
" Kenapa sih??? " Tanya ku singkat dan cetus.
" Ah. . . ehm, kau. . . sangat cocok dengan rambut seperti itu Fan, sangat. . . cant. . .tik " ucap nya ragu.
" aku cantik karena uang mu " Jawab ku dengan cetus lagi.
" Cih, apaan sih? hahahaa aku hanya ingin membantu mu saja tidak lebih " Jawab nya yang kemudian tertawa.
" Mmh. . . makasih ya Tristan, kau. . . sungguh baik "
" Ah, apaan sih. Sudah seharusnya kau mempercantik diri lagi, kau harus lebih bangkit dari keterpurukan mu selama ini Fanny. Jangan mengurung diri lagi. . . atau aku. . . aku akan. . . "
" Akan apa hah??? " Jawab ku dengan mata melotot padanya.
" Aku akan menculik mu dan menjadikan mu ratu ku, hahahaa " jawab nya dengan tawa geli.
" Apaan sih, kebanyakan baca buku dongeng lu " Jawab ku meledeknya.
Sejenak Tristan menghentikan tawa nya. . .
" Tapi. . . kau memang pantas jadi ratu di setiap hati seorang lelaki Fanny " Jawab nya tiba-tiba dengan wajah serius .
Membuatku merasa canggung lagi. . . sedikit kikuk dan salah tingkah.
Hey, ada apa dengan hatiku ini. . . kenapa seperti ada getaran kecil. . .???
" Ayo kita makan " Ucap ku mengalihkan keadaan. ku coba menepis getaran kecil di hati ini. . .
" Hmm. . . baik lah tuan puteri. Mari pangeran antarkan tuan puteri ke sebuah restoran termahal dan terenak di kota ini " Jawab nya lagi menggoda ku.
Kemudian aku tertawa lepas melihat tingkahnya ini, dan mencubiti perutnya. Dia tertawa menahan geli hingga kami berjalan terus keluar dari salon.
Dalam hati ku. . .
Terimakasih Tristan, kau selalu menghiburku semulai tadi. Kau sangat baik. . . semua usahamu membuatku sadar. Jika aku memang pantas untuk kembali bangkit dan berbahagia. Meski aku belum sembuh dari luka hati ku, tapi dunia masih membuka lebar pintu kedudukan ku yang semestinya.
__ADS_1