BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sembilan puluh tiga


__ADS_3

Tiba waktu pagi aku kembali seperti biasa menjalani aktifitasku. Mengajar di sekolah, dan kuliah. Sore ini di kampus, Dini menghampiriku dengan tergopoh-gopoh.


" Fannyyyyyy. . . sepulang kuliah nanti kau harus menemaniku nongkrong di kafe. Aku pengen curhat banyak hal padamu, aaaaarght. . . aku bingung harus memulainya darimana, aku gak tau harus bahagia atau sedih saat ini " Ucap Dini dengan sikap nya yang mondar mandir sesekali memukuliku dengan gemas.


" Aaaduuh Dini, sakit. kau memukuliku gemas sekali, ada apa sih??? Santai lah sedikit " Jawab ku dengan sedikit menghindar.


" Ukh, aku akan menceritakannya saat tiba di Kafe nanti. yah yah yah, mau yah temani aku nongkrong di kafe. . . " Ucapnya lagi merengek manja padaku.


Uugh dasar Dini, penampilan aja yang tomboy dan galak. Tapi hatinya itu tetap aja hello kitty, hahahaa sisi manja nya begini membuatku selalu gemas padanya.


" Ya ya baiklah, aku temani. Tapi berhenti lah merengek begitu. . . kau ini, hampir semua orang di kampus ini sedang mengarah padamu " Ucap ku setengah berbisik.


Kemudian Dini menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri dan berlalu melangkah setengah berlari dari ku hendak menuju kelas.


Selama mata kuliah dimulai Dini terlihat tidak fokus dan begitu gelisah.


Sampai akhirnya mata kuliah selesai begitu cepat dari biasanya, haha. . . keberuntungan berpihak pada Dini kali ini.


" Yess. . . Fan, yuk come on cus " Ucap nya dengan gembira. Aku tersenyum menanggapinya, dengan menggelengkan kepala.


Tiba di sebuah kafe, aku dan Dini memesan sebuah minuman dan berbagai makanan sebagai teman ngobrol.


" Kali ini gue yang traktir " ucap nya.


" Hahaha ya ya ya, ok. Lakukan semua yang kau mau " Jawab ku meledeknya.


" So, ceritakan apa yang membuat mu seperti ini Dini??? " Ucapku kembali. Ku lihat Dini sudah kebingungan dengan berbagai ekspresi di wajahnya.

__ADS_1


" Fan, gue. . . gue di jodohin ma anak temen bokap gue " Ucap nya dengan wajah lesu.


" Waaaaah akhirnya, selamat ya Din. Ikut bahagia deh, hahaha "


" Kan, puas kan lu ketawa. Jangan bercanda dong, ini serius tau " jawab Dini kesal.


" hahaha sory sory, astaga. Aku hanya tidak habis pikir, dalam hidup mu ada kisah perjodohan juga. Hahaha "


" Fannyyyyy. . . dengerin dulu " ucap Dini dengan setengah teriak dan mencubit ku. Aku merintih kesakitan. . .


" Kau tau, aku sudah bertemu dengan cowok itu kemarin orang tua kami ngadain acara untuk makan malam bersama. Cowok itu emang cakep, tapi sayang. . . masih brondong. Gila gak sih " jawab nya dengan bersungut-sungut.


" Wah, enak dong dapat brondong cakep Din. . . hahahaha "


" Fannyyy. . . stop ledekin gue " Dini mulai tampak serius menatap ku yang terus tertawa.


" Ok ok, sory. Mmh. . . lalu kenapa harus begitu sikap mu??? harusnya kau bahagia Din, di jodohin dengan seorang lelaki pilihan yang membuat hatimu terenyuh karena ketampanan nya. Walau dia brondong belum tentu dia tidak dewasa kan??? kamu bisa menjalaninya dulu. . . mengenalnya secara lebih dekat akan membuatmu tidak perlu khawatir lagi " ucapku panjang kali lebar.


" So what??? secepat itu??? aaaaah. . . aku terharu mendengarnya " Ucap ku sembari berdiri dan memeluk nya.


" Makasih Fan, meski gue belum siap tapi. . . gue gak pengen ngecewain mama papa dalam hal ini. Dan. . . gue ngajakin elu kesini karena gue mau minta tolong satu hal ma elu "


" Apa??? bantuin acara elu??? tenang aja beibeh. . . aku akan selalu menemanimu hingga acara selesai. Okeh " ucap ku penuh semangat.


" Bukan. . . tapi. . . ajak Tristan hadir di acara pertunangan Gue, gue pengen dia hadir dan gue puas mandangin wajahnya "


" Jangan gila Din, apaan sih kau ini??? mikir gak, gimana caranya aku harus datang di acara pertunangan mu dengan lelaki lain, sementara aku sudah memiliki tunangan. . . "

__ADS_1


" Ayolah. . . pliss. . . lagi pula Ammar tidak akan tau, apa lagi untuk hadir bersamamu. Mustahil kan, kau bilang dia sangat sibuk kan. . .??? Ayolah pliss "


Sejenak aku terdiam, sebenarnya ini kesempatan bagus bukan untuk meminta Ammar hadir menemaniku datang di acara pertunangan Dini. Tapi. . . Ammar. . . apa iya bisa??? sementara kegiatan KKN nya masih berlangsung. Aku tidak enak jika memaksanya. . .


" Fan. . . plisss yah yah yah. . . " Ucap Dini lagi dengan merengek manja.


" Ok ok, demi kau sahabat kuuuu yang terbaik. Aku akan coba mengajak Tristan hadir. Eh tapi, lu emang lebay tau gak. Meski kau sudah bertunangan, bukannya masih bisa melihat nya di gramedia??? " Tanya ku sedikit heran.


Dan ku lihat Dini menggelengkan kepalanya pelan. . .


" Dua minggu setelah pertunangan gue bakalan sangat sibuk dengan aturan selanjutnya Fan, calon tunangan gue anak berada. Banyak hal yang harus gue pelajari di keluarganya, karena setelah dua minggu itu gue bakal langsung merried "


" Menikah??? aaah. . . Aku iri padamu Din. . . kau malah lebih dulu akan menikah, hikst. . . "


Aku sungguh terharu mendengar sahabatku yang satu ini, setelah sekian lama mengejar banyak cinta lelaki tak kunjung mendapatkannya eh sekali dapat malah langsung akan segera menikah. sedangkan aku??? Sudah hampir 4 tahun tapi aku masih. . . bisa dibilang berada dalam penantian yang tak pasti. Hmm. . . rasanya ingin menyusul Dini juga. Hihi. . .


" Fan, fanny. . . woey, ngelamunin lagi. . . " panggil Dini yang membangunkan ku dari lamunan.


" pokoknya gue minta elu bawa Tristan ke acara pertunangan gue, titik " ucapnya lagi dengan wajah serius.


" Iya iya, astaga. . . kau ini, kau baru saja membuatku terharu eh sikap mu ini. . . rubah sedikit sifat tomboymu itu. Kau akan segera jadi seorang istri hahahaha " Jawab ku dengan tawa lepas.


" Aaaah Fanny, berhenti meledekku terus. . . " ucapnya lagi dengan merengek manja kemudian kami melanjutkan berbagai perbincangan dan obrolan-obrolan panas terbawa oleh suasana dalam kata menikah. Haha dasar wanita wajar kan. . . jika membayangkannya dahulu.


Tapi kini, pikir ku hanya satu. . . tentang Tristan. Bagaimana ini???


Ini akan sangat tidak nyaman, mengajaknya hadir di acara pertunangan Dini. Sama saja aku mengkhianati janjiku pada Ammar kan, untuk tidak berteman dengan seorang lelaki apa lagi pergi bersamanya hanya berduaan. Oh tidak. . . aku tidak bisa melakukan ini, Aku sudah berjanji pada Ammar.

__ADS_1


Tapi ini permintaan Dini yang terlalu dalam, dia begitu menyukai Tristan bukan??? aku juga harus membantunya melihat Tristan yang terakhir kali nya. . . sebelum pada akhirnya, Dini. . . sudah tidak memiliki hak lagi atas perasaan nya itu. Hah. . . Ammar, maafin aku kali ini sayang.


❤ Hai hai readers ku yang setia, jangan lupa tekan like nya selalu ya. Jangan pernah bosan menunggu setiap next episode nya ya, dan. . . ayo dong ayo dong ikhlaskan vote nya untuk karya ku ini, untuk membuatku lebih semangat lagi. Dan semoga selalu puas dengan isi ceritanya ya ❤


__ADS_2