BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh delapan


__ADS_3

Tiba waktu pagi, suara kicauan burung begitu berisik hingga membangunkan ku dari lelap tidurku. Ku regangkan sekujur tubuhku yang terasa kaku, rasanya sangat pegal. Ku lihat sekeliling dengan mengucek kedua mataku. . .


Ah, sejak kapan aku sudah tertidur di kasur dengan balutan selimut. Lalu Ammar??? oh astaga. Apa aku sudah mengabaikannya semalaman???


Dengan tergesa-gesa aku hendak turun dari kasur dan merapikan ranjang ku terdahulu. Dan betapa aku sangat terkejut yang di sertai bahagia kemudian mengetahui pada akhirnya tamu bulanan ku tiba.


Terimakasih Tuhan. . . !!!


Ucapku dalam hati.


Aku jadi malu jika mencari Ammar dalam kondisi begini kan??? Sebaiknya aku membersihkan diri saja dulu.


Dengan tergesa-gesa aku membersihkan diri dan kemudian memakai baju ala kadarnya saja, kemudian turun untuk segera mengetahui apakah Ammar masih disini. . .


Tiba di bawah ku lihat Ammar sudah berbincang dengan senda gurau bersama Ayah. Sedang ibu. . . dimana??? sepertinya sedang di dapur.


" Eh tuan puteri, sudah bangun??? " Sapa ayah ku,


Seketika Ammar menoleh dan menghampiriku dengan tergesa-gesa.


" Fanny, kau sudah bangun??? Bagaimana? apa sudah baikan??? " Sapa Ammar dengan mengerutkan alis menatapku dengan serius. Aku tau. . . sepertinya yang dia tanyakan adalah. . .


Aku mengangguk pelan dengan senyuman hangat, Ammar tampak menghembuskan nafasnya dengan lega.


Kemudian Ammar memapahku dengan melangkah pelan menuju sofa.


Dengan perlahan aku terduduk, ayah memandangku dengan heran.


" Apa kau sudah baikan Nak??? Bagaimana sakitmu hari ini??? " Tanya ayah ku kemudian.


" Gapapa Ayah, Fanny sudah baikan kok. . . hanya sedikit lemas saja " jawab ku.


" Eh sayang, kau sudah bangun??? Bagaimana kondisimu hari ini Nak??? " Tanya ibu kemudian yang keluar dari arah dapur.

__ADS_1


" Sudah baikan bunda, cuma masih sedikit lemas saja " Jawab ku, sementara Ammar membelai rambutku dengan lembut.


" Ayo sarapan sudah siap, kita sarapan saja dulu. Mmh . . . Fanny, bunda sudah membuatkan mu bubur sayur sayang. Mumpung masih hangat, kau pasti akan lahap menyantapnya pagi ini " ucap ibu merayuku.


" Hmm. . . baiklah baiklah. . . hari ini aku akan memakannya yang sampai habis " ucap ku yang di sertai dengan tawa dari semua nya.


Kemudian kami semua bergegas menuju meja makan, yang dimana sudah tersajikan berbagai macam makanan. Haha, ibu terniat sekali pagi ini masak begitu banyak makanan.


" Sayang, makan lah yang banyak ya hari ini. Aku ingin kau cepat sembuh, kasihan Ammar harus terus menerus dibuat khawatir oleh mu " Ucap ibu ku,


Sementara Ammar hanya tersenyum menanggapinya.


Selesai sarapan, aku mengajak Ammar untuk bersantai ria di taman halaman belakang. Ammar menuruti dengan melangkah bersama.


Hah. . . rasanya sudah lama aku tidak pernah bersantai ria di taman ini, mengingat awal berjumpa dan jadian dengan sosok lelaki di hadapan ku ini. Rasanya. . . masih tidak percaya pada akhirnya kini. . . dia menjadi tunangan ku. Meski terlalu banyak hal rumit yang kita lalui bersama, tapi masih belum pernah salah satu dari kami berusaha pergi meninggalkan lebih dulu untuk selamanya.


Mungkin kah dia benar-benar akan jadi pelabuhan cinta terakhir ku???


" Sayang ,apa yang kau pikirkan??? hayo. . . senyum-senyum begitu " Tanya Ammar mengejutkan ku dari lamunan.


" Fanny, aku sungguh tidak tau lagi bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih ku pada Tuhan karena telah mempertemukan ku pada wanita yang baik dan lugu sepertimu. Kau begitu baik dan sabar, bahkan kau. . . selalu menurutiku, memberikanku segalanya. Aku mencintaimu Fanny. . . " Ucap nya dengan mengecup kedua tangan ku.


Mata ku berkaca-kaca mendengar ucapannya itu, mata kami saling memandang. Kemudian kami di kejutkan oleh suara dering ponsel Ammar ketika hendak mencoba menciumku.


Kami jadi kikuk satu sama lain. Ku lihat Ammar melihat layar ponselnya dengan mengerutkan kedua alisnya, kemudian mengabaikannya.


" Siapa yang menelpon mu? kenapa kau tidak menerima nya Ammar??? " tanya ku penasaran.


" Oh, cuma temen. Temen satu kelompok ku untuk di KKN nanti, biarlah. Gak begitu penting juga sayang " Ucap nya cuek.


" Apa dia wanita??? "


Ammar seperti kebingungan dan sedikit panik. . .

__ADS_1


" Mmh. . . yah, dia salah satu teman wanita di kelompok kami. Jangan salah paham yank, kami hanya teman biasa saja. itupun baru akrab dan saling sapa setelah dibentuk satu kelompok, memang agak sedikit cerewet sih " Jelas nya panjang kali lebar.


" Cantik??? " Tanya ku dengan singkat


Ammar menatapku dengan wajah serius. . . kemudian tertawa dengan lepas.


" Kau tau, dia sangat sangar dalam segi penampilan. Sedikit tomboy, setiap hari gonta ganti warna cat rambut, di telinga nya penuh dengan tindikan layaknya anak punk girl. Mengerikan kan??? "


" Tapi kau asyik mengenalnya kan??? " Tanya ku lagi.


" Astaga sayang, kau. . . apa kau sedang cemburu padanya??? Apa perlu kau menelponnya balik hari ini dan bilang saja jangan lagi mengganggu tunangan ku, atau kau bisa memberikan tatto di sekujur tubuh ku dengan tulisan HANYA MILIK FANNY SEORANG " Jawab Ammar dengan tatapan wajah serius.


Aku membalas tatapannya yang tajam itu, kemudian tertawa terbahak-bahak mengingat sarannya itu. . . hahaha bagaimana mungkin aku akan membuat sebuah tatto di tubunya itu, dengan tulisan yang sedemikian lebay nya. Aaah Ammar, kau memang romantis.


" baik lah. . . aku hanya bercanda, aku mempercayaimu Ammar. Lagi pula, kau sudah berjanji tidak akan pernah lagi mengkhianatiku kan, setelah. . . apa yang sudah pernah kita lakukan dan lalui bersama selama 3 tahun ini "


Ammar tersenyum padaku, dengan lembut memelukku dan mengecup mesra kening ku.


Lama kami berbincang banyak hal, bersenda gurau, saling bercumbu mesra sesekali, bahkan banyak khayalan dan lamunan kami untuk menuju masa depan bersama. Hingga pada akhirnya, sepertinya Ammar mulai lelah dan mengantuk. Apakah semalaman suntuk dia menjaga ku??? hingga dia begitu mudah terlelap di pangkuan ku.


Ku sentuh kembut bagian kepalanya, ku pandangi lekat wajah nya yang tampan itu. . . hah. . . aku sungguh beruntung mendapatkan sosok lelaki tampan sepertimu Ammar. Ucap ku dalam hati. . .


Kemudian, ponsel Ammar kembali berdering di saku celana yang di pakainya. Tanpa ragu aku meraihnya, Ammar tak bergeming ketika aku menyentuh langsung ponsel yang tersembunyi di saku celana nya itu. Ya ampun, segitu lelapnya kah dia ini???


Sungguh aku penasaran dengan siapa yang semulai tadi menghubunginya terus menerus. Ku lihat di layar sebuah pesan dari nomor tak di kenal yang mungkin memang tidak tersimpan oleh Ammar.


** Ammar, apa kau sungguh sibuk??? lama sekali daritadi mengabaikan panggilan telepon ku, bisa ketemuan gak nanti malam ??? **


Dug dug dug. . .


Hati dan pikiran ku mulai tak karuan lagi. Tapi kali ini aku tidak mau lagi kalah dan mengalah, jangan sampai kecolongan lagi. Dengan memberanikan diri aku membalasnya. . .


** Maaf. aku sedang bersama Ammar. Tunangan ku, tolong ya jangan mengajaknya ketemuan berduaan lagi. Dia sudah bertunangan, terimakasih !!! **

__ADS_1


Ku tunggu, hingga setengah jam-an tidak ada balasan lagi. Haha nyahok lu kan. . . Kubur dalam-dalam tuh harapan elu, eh berani-beraninya ngajakin ketemuan tunangan gue.


Bisikku dalam hati memaki. . .


__ADS_2