BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Tujuh puluh dua


__ADS_3

Malam ini Kevin mengajakku dinner diluar. Tapi entah kenapa aku tidak ingin beranjak dari kamar ku, pikiran ku selalu gelisah seharian ini tanpa sebab. Hingga gemetar sekujur tubuh, tiba-tiba sesak di hati.


Pikiran dan hati ku seperti terus menyebut dan memanggil nama Ammar.


Oh tuhan. . . ada apa dengan ku hari ini, apakah Ammar baik-baik saja??? kenapa seolah aku terus memikirkannya. . .


Ku raih ponsel untuk menelponnya, mungkin dengan begini aku akan tau apakah dia baik-baik saja. . .


Tuuuuuttt. . . tuuuut. . . .


Panggilan telepon ku kembali diabaikannya. Aku tidak berhenti sampai disini, aku kembali mengulang panggilan telepon ku untuk Ammar berkali-kali. . .


Ku coba mengiriminya pesan singkat juga.


Ammar, apa kau sedang sibuk??? apa kau baik-baik saja??? tolong angkat telepon ku Ammar, jangan terus mendiamiku. . . apa kau sungguh akan terus menghukumku begini. . .


Lama ku tunggu Ammar membalas atau paling tidak membaca pesan singkatku saja sudah cukup. . .


15 menit kemudian, aku kembali melihat pesan yang ku kirim pada Ammar. Tapi tak juga terbaca. . .


Aaaaaaaarght. . . kau sungguh berhasil menghukumku kembali Ammar. Kau sungguh menyiksa bathin ku. . .


Di tengah kacaunya pikiran ku, Ponsel ku berdering. . . yang ku pikir itu Ammar, aku langsung mengangkatnya tanpa melihat ke layar lagi.


Halo Ammar. . .


Jawab ku.


Fanny. .. ini aku, Kevin !!! Apa kau sedang menunggu telepon dari Ammar. . . **Maaf jika aku. . .


Tidak tidak. . . Maafkan aku, aku hanya. . . ah lupakan saja. Tidak penting di bahas, Ada apa menelpon ku**???


Tanya ku mengalihkan pembicaraan, hah. . . aku jadi tidak enak hati. . .


Aku sedang menunggu mu. . . apa kau lupa kita akan dinner malam ini, tapi. . . jika kau sedang. . . ada urusan lain, tak apa. lain kali saja Fanny. . .


Terdengar suara Kevin tampak kecewa.


**Tidak tidak. . . kita dinner malam ini, aku akan bersiap-siap. Kau kemari saja menjemputku. . .


Baik lah sayang, aku segera kesana**.


Bip bip bip. . . Panggilan telepon berakhir.


Hah. . . Kevin, dia selalu sabar dan memilih mengalah setiap kali mendengarku salah menyebutnya dengan nama Ammar.


Terkadang, aku merasa kasihan dan sangat berdosa menjadikan sosok lelaki baik dan penyabar ini, sebagai pelarian ku dari Ammar.


Dengan memakai dres mini berwarna putih senada dengan hight heel aku bergegas menuruni anak tangga satu per satu.


Ku lihat Kevin sudah di bawah sedang berbincang santai dengan ayah dan bunda.


Dia tersenyum melihatku turun menapaki anak tangga dengan pelan. . .


Ku hampiri mereka dan ku sambut Kevin dengan senyuman hangat. . .


" Bunda, ayah. . . Mmm. . . Fanny sama kak Kevin mau makan diluar. Boleh gak??? " Tanya ku ragu. . .

__ADS_1


" Sudah ijin Ammar sayang??? " Jawab ibu.


Jleb !!! Pertanyaan ibu sangat menusuk. Menyadarkan status ku kali ini. . . tapi. . .


" Sudah tante, tadi Kevin yang menelpon Ammar langsung. Kevin sudah menjelaskan kami hanya seperti adik kakak saja kok " Jawab Kevin dengan tegas.


Aku terperangah menatap kearah Kevin. . .


" Oh sudah baiklah, kalian jalan gih nanti pulang jangan larut malam ya " jawab ibu dengan senyuman hangat yang terpaksa. Aku tau, sepertinya ibu sudsh mencurigai kedekatan ku dengan Kevin.


" Baik bunda. . . " Jawab ku lirih.


Sedangkan Ayah hanya mengangguk pelan, tanda setuju.


Kemudian aku dan Kevin melangkah berlalu, Kevin melewatiku melangkah lebih cepat untuk segera menuju mobil dan membukakan pintu untuk ku.


**********♡-♡*********


Tiba di sebuah restoran, aku keluar lebih dulu yang kemudian di susul oleh Kevin yang menggenggam tangan ku. Aku tersenyum menanggapinya. . .


Hendak memasuki pintu, seseorang ku lihat keluar dari pintu restoran bersama dua tiga orang teman lelaki. Wajahnya tidak asing bagiku. . . langkahku sedikit tertahan agar lebih pelan untuk bisa memastikannya.


Dan benar saja, dia menatapku ketika aku masih memandanginya.


Langkah kami terhenti. . .


" Kau. . . " Ucap kami bersamaan.


Kevin terkejut melihat ke arah kami begitu juga dengan tiga lelaki di hadapanku.


" Wah. . . ini dinner ma pacar nih??? " Sapanya pada ku. Ya. . . dia cogan gramedia, Tristan.


" Hahaha. . . tepatnya hanya ngumpul bareng teman-teman sambil makan malam " Jawab nya dengan senyum ramah.


Kevin mulai meremas tangan ku, seakan memberi kode untuk ku agar segera meninggalkan mereka dan masuk ke dalam bersama Kevin.


" Mmm. . . ya udah aku masuk dulu ya, hehe selamat malam " Jawab ku dengan singkat.


" Oh ya silahkan, selamat menikmati makan malam mu " Jawab nya dengan tersenyum ramah, serta melirik ke arah Kevin dengan ramah pula.


Kemudian kami saling berlalu. . .


Kevin langsung menuju meja kosong, yang sepertinya sudah di booking dahulu.


" Sayang, kamu mau makan apa??? " Tanya Kevin sembari membolak balik daftar menu di tangannya.


" Mmh. . . apa aja, minumnya aku mau jus melon "


Kevin tersenyum. . .


" Baik lah. . . sepertinya kau sedang butuh yang segar-segar "


" Hehe. . . gak juga ah " jawab ku sembari melihat sekeliling.


Sambil menunggu makanan dan minuman yang sudah di pesan, aku clingak clinguk melihat sekeliling dengan tangan di atas meja ke remas-remas menahan kegelisahan hati yang masih berlanjut.


Kevin menyentuh dan menggenggam tangan ku dengan hangat, membuatku terkejut.

__ADS_1


" Fanny, kenapa kau begitu gelisah daritadi ??? "


" Aku baik-baik aja Kevin, apa aku terlihat begitu. . . " Jawab ku mengalihkan. . .


" Fanny, apa kau sedang memikirkan Ammar??? atau. . . kau sedang menunggu kabar darinya??? "


Ku lihat wajah Kevin berubah ekspresinya, seperti memendam rasa kecewa. Tapi walau begitu dia tetap tersenyum padaku. . .


" Kevin. . . aku baik-baik saja, hanya. . . ntah kenapa aku gelisah dan tidak tenang seharian ini, bahkan sampai seluruh tubuh ku gemetar. Aku. . . aku juga tidak tau kenapa, jujur. . . hatiku seolah terus menyebut dan memanggil nama Ammar dengan sendirinya "


Mendengar jawaban ku ini, Kevin menghembuskan nafasnya begitu dalam. Kemudian melepas genggaman nya dari tangan ku perlahan. . .


" Apa kau sudah menelponnya??? "


" Sudah. . . bahkan aku sudah puluhan kali menelpon dan mengirimnya pesan singkat, tapi. . . " Aku menunduk menggelengkan kepala.


Belum sempat Kevin kembali berbicara, makanan san minuman yang kami pesan sudah tiba dan siap di santap.


" Fanny, ayo makan dulu. Supaya pikiran mu lebih tenang. . . setelah ini, kita langsung pulang ya "


Aku mulai tidak nyaman dengan ucapan Kevin, seolah terburu-buru mengajakku untuk pulang. Apa dia marah???


Rasa lapar ku jadi hilang, berkurang mood ku untuk menyantap habis makanan di atas meja. Padahal sepertinya enak. . . uuugh. . .


Aku hanya menyeruput jus melon saja semulai tadi tanpa mencicipi makanan yang di pesan oleh Ammar untuk ku.


" Fanny, coba ini. . . a aaa . . " Kevin mencoba menyuapiku dengan makanan yang sudah lebih dulu dia cicipi.


Aku tersenyum, dan menerimanya untuk ku cicipi. Rasanya memang enak, tapi sulit ku telan di tenggorokan.


Kau. . . sangat baik Kevin, sikap sabar dan sifat tenang mu ini. . . membuatku semakin merasa bersalah. Aku memang jahat telah menjadikanmu pelampiasan. . .


Selesai makan, tak perlu menunggu aba-aba dariku lagi. Kemudian Kevin mengajak ku untuk langsung pulang kerumah. . . Aku mengikutinya begitu saja keluar restoran hingga masuk ke dalam mobil.


Tanpa kata Kevin melajukan mobil dengan tenang, sesekali ia hanya melirikku dari sebuah kaca yang tergantung di atas kepalanya.


Sepertinya dia ada yang ingin di bicarakan hanya ragu untuk menyampaikannya padaku. . .


" Vin, aku gak mau pulang kerumah dulu. Ajak aku ke suatu tempat yang bebas dan tenang ,yang hanya ada kita saja jika perlu " Jawab ku memulai lebih dulu.


" Apa tidak apa-apa jika pulang lambat??? " Tanya Kevin pelan.


" Gapapa, aku sudah menyiapkan alasan yang tepat. biar itu jadi urusan ku saja nanti dirumah."


Aku terdiam sesaat.


" Heeey apa yang kau pikirkan, aku tidak akan macam-macam. Hahaha kau ini," Ucap Kevin lagi.


" Ih apaan sih, siapa juga yang memikirkan hal begituan.." jawab ku dengan wajah manyun.


" Ciye, aku gak bilang demikian loh. " Jawab nya meledek ku.


" Iiih apaan sih, tauk ah."


" Hahaha. . . hanya sebentar, aku perlu berdua berbicara bebas dan santai denganmu Fanny. . . bukan melakukan hal buruk lainnya lagi. Apa kau mau??? "


" Hmm. . . ya sudah baik lah, terserah kau saja "

__ADS_1


Kemudian Kevin tersenyum geli cekikikan dan melajukan mobilnya lebih cepat.


__ADS_2