BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Dua puluh empat


__ADS_3

Aku masih menatap tajam wajah Ammar yang seketika mematikan panggilan telepon dari Abel.


Dengan segala macam pikiran negativ tapi berusaha aku singkirkan, mengingat bagaimana usahanya untuk tetap mempertahankan hubungan kami, menjaga ku ketika sakit sampai akhirnya dia berani memutuskan Nayla di hadapan ku langsung.


Bukankah itu demi membuat ku kembali percaya padanya? Iyya kan?


Dan tentang Abel, yang ku sebut tante girang itu. Panggilan ini memang pantas untuk cewek ganjen seperti dia. Huh.. Bisa saja kan, dia yang selalu merayu Ammar ?


Ammar tidak mungkin lah tergoda pada nya, secara dia cuma pintar berdandan untuk memikat para lelaki.


" Sayang, sayang. Fanny... Hei, apa yang kau pikirkan? Hayo.. Mikir yang macam-macam lagi kan? " Tanya Ammar mengejutkan lamunanku.


" Siapa sih yang menelepon mu barusan? Abel? " Tanya ku dengan cetus.


Ammar menatap wajah ku lekat-lekat.


" Tuh kan.. Mulai curiga yang bukan-bukan lagi? "


" Ya abisnya dia manja begitu sama kamu Ammar, laki-laki yang sudah memiliki pacar. Dan itu.. Maksud kata dia terakhir tadi apa? Kenapa kamu langsung mematikan panggilannya hah.. Takut aku dengar? " Tanya ku mulai ngoceh.


" Sssst... Sayang, percaya sama aku ya. Kita cuma sebatas temen kok, sebenarnya dia juga orang yang baik, periang, setia, penurut, pokoknya baik banget, gayanya dia emang selalu gitu suka ceplas ceplos. tapi hatinya baik kok." Jawab Ammar memujinya.


" Tuh kan.. kau memujinya, sadar gak? Nyebelin banget sih."


" Bukan memuji sayang ku, tapi kami sudah saling mengenal semenjak masa ospek di kampus berapa tahun yang lalu. Dan kau tau, sebenarnya dia menyukai Andi loh.. "


Aku terkejut mendengarnya menyukai Andi.


" What? Andi? Hahaha astaga. Andi temen kelasnya Farel kan? Bukannya dia baru kelas dua SMA? Gila. Hahaha dasar tante girang. Ya cocok lah kalo carinya daun muda gitu. " Ucapan ku mulai kasar.


" Fan, kasar banget sih ngomongin Abel? Kamu hanya belum kenal saja bagaimana dia sebenarnya, dia cewek yang sangat baik tau gak. Jangan menghinanya begitu kenapa sih? "


" Ammar, kenapa kau jadi marah begitu?" Aku terkejut mendengarnya berbicara dengan nada marah padaku, hanya karena aku meledek Abel habis-habisan.


" Ah, eh.. Ehm, maksud ku.. aku tidak suka kau berbicara kasar sayang, aku ingin kau tetap menjadi wanita ku yang lembut. " Jawab Ammar kikuk.


Ku tatap matanya lekat-lekat. Dia memalingkan wajahnya dengan helaan nafas yang berat, kemudian tersenyum pada ku dengan paksa.


Aku tau Ammar, kau berbohong lagi pada ku. Tapi aku sadar diri, ini di tempat umum. Hanya akan mempermalukan diriku sendiri jika aku mengajak mu berdebat kembali, sama seperti malam itu.


" Ya sudah aku minta maaf, ". Jawab ku cetus, dengan berat hati tetap aku yang berusaha mengalah dan berpura-pura tidak mengetahui kebohongannya.


" Tidak Fanny, aku lah yang harus minta maaf. Aku terbawa emosi tadi, karena sedikit lelah kurang tidur semalaman karena aku terus memikirkan mu di kamar bawah ". Jawab nya kemudian setengah berbisik.


Aku tersipu malu, seolah rasa kesal ku hilang seketika. Ku cubit manja perut Ammar, kemudian Ammar memelukku.


" Sayang, aku sungguh mencintaimu. Dan hanya mencintaimu. Pliss.. Percaya selalu padaku, "


Aku mengangguk pelan di pelukan Ammar, dengan begini mungkin memang hanya perasaan ku saja, yang terlalu amat mencintai dan takut kehilanganmu Ammar. Iya kan?


**************♡-♡**************


Kemudian kami kembali menikmati semua yang ada di dalam mall ini, tujuan kami kali ini menuju kuliner yang tersedia di dalamnya.

__ADS_1


Aku dan Ammar bergegas menuju restoran makanan dan minuman khas luar Negeri. Ada khas korea, jepang, singapore, mandarin, dan banyak lagi.


Sibuk memilih-milih, seseorang memanggil ku dari kejauhan.


" Fanny. Hai hai.. Kemari.."


Kemudian aku berlari meninggalkan Ammar menuju ke tempat dimana seseorang telah memanggil dan melambaikan tangan padaku.


Dia kak Rendy, sepupu ku. Yang sudah lama tidak berjumpa karena dia kuliah diluar negeri.


Aku berlari memeluknya, aku tersenyum memeluk manja padanya.


Dia meledekku, mencubit kedua pipi ku dan mengacak-ngacak rambut ku.


Ku lirik seorang lelaki yang berdiri di samping kak Rendy, cukup keren sih. Kulitnya putih dan dia tersenyum ramah pada ku.


Oh ya ampun, ternyata gigi nya gingsul.


Aah.. Sweet banget dilihatnya, aku bergumam namun kembali tersadar dan memeluk manja kak Rendy.


" Kak, kapan datang? Iiih kok gak ngabarin sih, gak langsung main kerumah. Eh alamat rumah Fanny yang baru udah tau kan? " tanya ku dengan nyerocos.


" Aduh adik ku yang cerewet, satu-satu dong nanya nya. Kakak baru aja kemarin sampai di indonesia, besok deh ya kakak main kerumah. Mama dan papa kan pasti sudah tahu alamat rumah Fanny yang baru?"


" He'em. Om dan tante udah tahu kok kak. Aaah peluk lagiiii, Fanny kangen... " Aku masih merengek manja tanpa peduli apapun.


" Sudah, sudah.. Jangan peluk lagi, malu tuh dilihatin entar dikira pacar kakak lagi. Bisa-bisa gak ada cewek indonesia yang mau sama kakak mu yang ganteng ini. Hahaha.. " Kak rendy meledekku dengan tawa lepas. Kemudian terhenti memandang ke arah belakang ku.


" Iih udah dari dulu keles mulai pacarannya."


" Tapi cepet putusnya, pacaran apaan tuh namanya? Hahahha. " Kak rendy tertawa lepas lagi. Aku cemberut menanggapinya.


" Hai brow, Gue Rendy. Kakak sepupu Fanny. " Sapa Kak Rendy sembari menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Ammar.


" Hai kak, aku Ammar. Pacar Fanny, " Sambut Ammar dengan ramah.


" Ho ho jangan panggil kakak lah, kayaknya kita masih seumuran deh ya," jawab kak rendy.


" Eh ya, hampir lupa. Ini kenalin temen gue yang kuliah di Luar Negeri juga. Namanya Kevin, "


Kak rendy memperkenalkan teman yang sedari tadi sudah berdiri menyaksikan ku manja padanya, sesekali dia ikut tersenyum melihat ku.


Kemudian tersenyum datar dan bersalaman dengan Ammar.


" Fanny, ini temen kuliah kakak di luar Negeri. Namanya Kevin, "


" Hai kak Kevin, aku Fanny. Adik sepupu yang paaaling kak Rendy sayang. Hihi, "sapa ku dengan riang.


Entah kenapa, Kevin menyambut ku dengan senyuman ramah dan gemas berbeda dengan senyumannya pada Ammar tadi.


" Iya. Kak Kevin tahu kok, kalau Fanny adalah adik sepupu kesayangan Rendy. Di luar negeri dia sering bercerita tentang mu, jadi kakak sedikit penasaran dan ikut liburan disini bareng Rendy. " Sapanya panjang kali lebar dan senyumnya itu, ih.. gigi gingsulnya sangat menggemaskan.


Aku menanggapinya dengan senyuman, dan Kevin selalu memujiku. Membuat ku sedikit canggung.

__ADS_1


" Udah ah ngobrolnya jangan disini kalian, gimana kalau sambil cari makan? " Ucap kak Rendy menyela.


" Yeay.. Ayooo. Kak Rendy yang traktir ya, hehe.. " Jawab ku masih dengan manja merangkul tangan kak Rendy.


Tanpa memperdulikan Ammar yang sedaritadi hanya diam seribu bahasa sesekali helaan nafasnya terdengar seperti sedang marah.


" Gimana kalo kak Kevin aja yang traktir Fanny? Ayo Fanny mau apa aja, kakak jabanin deh." ucap Kevin pada ku.


" Serius? Yeay.. Kak Kevin baik ya. Hihi.. "


" Fan. . . "


Kemudian Ammar menarik tangan ku yang sedaritadi merangkul lengan kak Rendy.


Aku terkejut melihat sikapnya yang sedikit tidak sopan kali ini, karena menarik tangan ku cukup kasar.


" Eh, Ammar. Ada apa? Ayo kita makan bareng mereka," Jawab ku seadanya.


" Aku masih kenyang, ayo kita pulang. Lain kali saja kita makan bareng Rendy. Ok Rend, gue ajak Fanny pulang aja ya. Dia baru saja sembuh dari sakit, hari ini kami sudah cukup lama berkeliling takut nanti Fanny kelelahan, " Ucap Ammar panjang kali lebar pada kak Rendy.


Kak Rendy tertegun sejenak melirikku, aku mengatupkan bibir ku.


Pliss.. kak Rendy jangan bilang iya, aku masih kangen ma kakak.


Gumam ku dalam hati.


" Oh ya sudah, Fanny hari ini pulang aja dulu temani Ammar. Kasihan loh, besok kan kakak mau kerumah Fanny. Tunggu aja dirumah ya sayang, ". Jawab kak Rendy, aku mengangguk pelan dengan terpaksa.


" Kak Kevin, maaf ya. Kapan-kapan aja kita ngumpul dan janji ya harus traktir," Ucapku.


" Yah.. Sayang sekali ya, ya sudah deh mungkin besok aja kakak ikut Rendy main kerumah Fanny ya, " Jawab Kevin dengan ramah dan lembut.


Kemudian Ammar merangkul tangan ku dan menggenggamnya, menarik ku untuk segera pergi dari kak Rendy dan Kevin.


Selama dalam perjalanan, di mobil Ammar hanya sekali dua kali menjawab semua pertanyaan dan menanggapi cerita-ceritaku padanya.


Ammar hanya terdiam dengan hembusan nafas buruk banget.


" Ammar, apa kau marah pada ku? Tapi apa salah ku?Sehingga daritadi kau hanya berdiam diri dan cuek padaku." Tanya ku pada Ammar.


" Aku tidak suka kau manja begitu pada laki-laki lain selain aku. "


" What? Apaan sih kamu Ammar? Kak Rendy itu sepupu ku loh, dan kak Kevin juga baru ku kenal tadi kan? Masa gitu aja kamu marah sih?" bantahku lagi.


" Tapi Kevin, apa kau tidak bisa melihat dia begitu ingin mencari kesempatan agar bisa dekat dengan mu. Aku tidak suka !!!" Jawab nya dengan nada kesal.


" Hahahaha astaga Ammar, jadi kau cemburu pada kak Kevin? "


**Hai hai hai. . . Mohon maaf ya, up datenya satu-satu dulu. Aku sedikit kurang sehat nih, ntah akibat kurang istrahat atau efek cuaca buruk beberapa hari ini.


Mohon tetap sabar dan jadi pembaca setia novel ku ya, mohon doa dan semangatnya.


jangan lupa like dan komentar ya, salam sayang untuk kalian ❤**

__ADS_1


__ADS_2