
Selesai mandi aku bergegas turun untuk segera menemui Kevin. Yang ku lihat dari ekspresi wajah nya, sepertinya tengah ada perbincangan yang serius entah itu apa antara ayah ibu dan Kevin.
" Kevin. . . " panggil ku menyapa nya. Dia tersenyum pada ku.
" Nak, duduk lah kemari ". Ucap ibu kemudian, aku mulai panas dingin apa yang akan ibu sampaikan kali ini.
" Kevin, katakan sekali lagi pada kami. Apa kau sungguh akan menjadikan Fanny istrimu??? Tante bahagia mendengarnya, tapi bisakah setelah menikah kalian tetap tinggal disini ??? " Tanya ibu sembari melirik ku.
" Bunda. . . " Jawab ku menyela.
" Akan saya pertimbangkan dulu tante, tapi jika itu akan menjadi suatu kebahagiaan untuk Fanny. Kevin akan lakukan asal Fanny bahagia menikah dengan Kevin "
" Kevin. . . apa kau yakin??? " tanya ku menatap wajah nya yang terlihat seolah memaksakan diri.
" Tapi bagaimana dengan kedua orang tua mu Nak??? apa tidak keberatan??? lalu kapan mereka akan kesini secara resmi melamar ? " Tanya ayah ku kemudian. Kevin tampak kebingungan kali ini.
" Sesegera mungkin. . . om. . . tante. . . " Kevin semakin terlihat gugup. Aku tau dia mulai terdesak tapi walau bagaimanapun ini harus dia lakukan.
" Ayah, bunda. . . jangan terlalu mendesaknya begitu dong ah, lagipula pernikahan kita masih bulan depan "
" Fanny. . . gapapa. lebih cepat lebih baik sayang "
Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapan nya kali ini. Aku tau, dia sedang berusaha menghibur ku.
" Ya sudah kalian ngobrol saja dulu ya tante dan om kebelakang dulu ". ucap ibu ku kemudian.
" Ehm, kita. . . kita mau jalan-jalan sebentar tante, boleh kan??? "
" Oh boleh, ya sudah hati-hati ya " Jawab ibu ku dengan senyuman yang kemudian di susul oleh ayah.
Aku hanya terdiam menurutinya saja, tanpa ku tau kemana dia hendak mengajak ku pergi.
Di tengah perjalanan aku memulai berbicara lebih dulu padanya, membangunkannya dari lamunan semulai tadi.
" Kevin, kau mau mengajak ku kemana??? "
" Toko perhiasan " Jawab nya singkat. Aku terperangah mendengarnya.
" Apa tidak terlalu cepat??? Pernikahan kita masih bulan depan ".
" Aku ingin semua serba cepat sayang, aku ingin kita segera menjadi pasangan yang bisa memiliki seutuhnya tanpa gangguan dan penghalang apapun "
Oh tuhan. . . aku semakin takut, rasanya sudah kehabisan kata-kata padanya. Andai saja bisa ku pinta dengan semua kemudahan, agar di percepat saja pernikahan ini.
" Kevin, kau. . . membuatku tak mampu berkata apa lagi " Jawab ku dengan helaan nafas panjang.
__ADS_1
Tiba di toko perhiasan. Aku dan Kevin sudah sibuk berkeliling memilih sebuah cincin yang pas di jari manis ku.
" Sayang, kau mau yang ini??? " Tanya Kevin dengan lembut pada ku.
Seorang penjaga toko yang melayani kami mulai beraksi dengan keramahannya memberikan penjelasan ini itu beserta harga dari cincin tersebut yang membuat mata ku terbelalak mendengarnya.
" Kevin, ini sangat mahal. Aku tidak mau " Jawab ku menolak dengan tegas.
" Jari manis mu cantik dengan cincin ini sayang " Jawab nya mengabaikan ucapan ku kemudian mengecup mesra jemariku.
Tanpa sadar air mata ku menetes, tepat mengenai punggung tangan ku yang dalam genggaman Kevin. Kevin yang mengetahui itu seketika menengadahkan wajah nya pada ku.
" Fanny. . . kenapa kau menangis sayang??? sssttt. . . cup cup cup, apa kau sungguh tidak menyukainya??? maafkan aku jika memaksa mu. Kita tukar saja ya cincin nya sesuai keinginan mu " Ucap Kevin sambil memeluk ku.
" Tidak. . . aku juga menyukainya. Hanya saja, aku menangis karena sangat bahagia ". Jawab ku setengah terisak dalam tangis.
" Hemm. . . sayaaang, makasih ya sudah bersedia menerima ku dalam hidup mu ".
Cup !!!
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening ku. Membuat ku tersipu malu di hadapan beberapa orang dan staff di toko ini.
Di tengah kebahagiaan ini, ponsel Kevin berdering dan dia langsung merogoh kantong celananya untuk melihat siapa yang menelpon nya. Kemudian tampak ekspresi wajah nya berubah seketika melihat layar ponsel nya.
" Siapa Vin??? " Tanya ku penasaran. Kevin terdiam sejenak, menatap ku kemudian menghadapkan ponselnya pada ku.
" Terima saja " jawab ku singkat. Hatiku mulai menggerutu, ugh. . . bisa-bisanya dia menyimpan nomor Nayla di ponsel nya.
Aku hendak menghindarinya, namun dia menarik tangan ku ketika aku melewatinya.
Halo kak Kevin, sibuk gak???
Terdengar suara Nayla dari kejauhan ketika Kevin sengaja mengeraskan volume nya hingga terdengar oleh ku.
" Bicara lah ". Ucapnya memberi perintah pada ku. Aku terdiam, namun dia memberi syarat seolah memaksaku.
Hmm. . . Kevin sibuk. Sibuk banget. Dia sedang bersama ku bercumbu mesra tanpa henti, malah memintaku tidak melepaskan pelukan ku dari tubuhnya yang setengah telanjang di hadapan ku.
Bip bip bip. . .
Panggilan Nayla berakhir begitu saja. Entah kenapa nafasku tersengal-sengal setelah berbicara dengan Nayla. Emosi ku terlalu meledak-ledak. Apa kali ini aku sudah terlalu berani? hingga aku lupa ini sedang dimana. semua melihat ke arah ku, membuatku malu.
Sementara Kevin yang berada di hadapan ku, dia. . .
" Hahaha. . . ahahahaha. . . Aduh perut ku sakit sekali ".
__ADS_1
" Apaan sih??? lucu??? ketawa aja terus " Jawab ku kesal.
" Kau menggemaskan sekali Fanny, hahahahaha ". Kevin terus saja menertawaiku. Aku kesal dan melewatinya melihat-lihat kembali perhiasan lainnya.
Dalam hati aku ingin sekali mengumpat dengan kasar pada Nayla, dan Kevin. . . juga membuatku kesal saja. untuk apa dia menyimpan nomor Nayla segala hah???
Jangan-jangan mereka sering komunikasi diam-diam di belakang ku. Kalau aja demikian, hmm. . . akan tau akibatnya.
Kemudian, sesuatu terasa bagai melingkar di leher ku dari belakang. Membuatku kembali terkejut. . .
" Sangat pas, syukur lah. Ku pikir tidak akan pas di leher jenjang mu sayang ". Terdengar suara Kevin sangat dekat di telinga kanan ku. Membuatku menoleh nya dengan kilat.
" Kevin, kau. . . " Ucap ku terhenti.
" Apa kau sedang cemburu??? " Tanya nya dengan lembut.
" Tau ah " jawab ku cetus memalingkan wajah.
" Kau membuatku gemas saja. Maafkan aku, aku terpaksa menyimpan nomor Nayla di ponsel. Karena selain dia adalah bawahan ku saat ini, aku juga bisa menolak panggilannya jika tahu itu adalah nomor Nayla. Apa alasan ini cukup menjawab semua kekesalan mu tuan puteri ku sayang??? ". Jawab Kevin dengan setengah duduk bersimpuh di hadapan ku.
Aku yang melihatnya kebingungan, dia sudah gila. Tidak pedulikah dia ini dimana??? Ucap ku dalam hati.
Tapi, dia memang selalu peka soal ini. Dan hanya dia yang mampu membaca hati dan pikiran ku di saat begini.
" Kevin, ih apaan sih bangun lah. Jangan membuatku malu ".
" Maaf. . . jika kau terus marah aku tidak akan bangun ". Ucapnya tegas.
" Iih iya iya aku gak marah lagi. Berdiri lah ". Jawab ku masih dengan nada cetus. Kemudian dia berdiri dan tersenyum pada ku.
" Katakan pada ku apa lagi ini??? ". Tanya ku sembari menyentuh sebuah kalung yang bergantung sebuah liontin berbentuk Dolphin dengan permata biru di bagian mata nya.
Aaah ini sangat lucu dan manis sekali. . .
Gumam ku dalam hati.
" Hadiah. Hadiah karena kau telah bersedia menjadi calon istriku ".
" Tapi ini terlalu mewah Kevin. . . kau, kau sudah membelikan ku cincin termahal di toko perhiasan ini. Dan sekarang. . . kau memberikan ku kalung ini ". Jawab ku menunduk.
Eh tunggu sebentar, Dolphin??? lambang ini. . . Aaaaaarght. . . dulu, laki-laki pertama yang memberikan ku lambang Dolphin dengan sebuah makna yang sangat sweet hanya Ammar. Tapi kini. . . kenapa. . . kenapa Kevin juga memberikan ku lambang ini???
Seketika sesak di dada mulai terasa oleh ku seiring tarikan nafasku dalam-dalam.
" Kenapa. . . kenapa kau memberikan ku lambang ini Kevin??? " Tanya ku.
__ADS_1
" sebuah kesetiaan. Ku yakin kau tau bagaimana seekor lumba-lumba selalu setiap pada majikannya yang memelihara dan melindunginya. Ku harap cinta kita pun begitu ". Ucap nya dengan mata berkaca-kaca menatap ku begitu lekat.
Oh tuhan, sungguh dia terlalu baik pada ku. Kenapa dia selalu mampu membuatku terharu begini. . . ku mohon jangan pisahkan kami apapun keadaannya nanti. Jangan pernah kau goyahkan hati ku suatu sebelum atau sesudah kami menikah nanti.