
Ammar semakin membuatku salah tingkah, dia terus menatap wajahku. Aku jadi kikuk tidak karuan. . .
Aduuuh Ammar ngapain sih pake mandangin aku segala, aku kan jadi malu. . . pasti wajahku saat ini terlihat seperti kepiting rebus.
" Fanny. . . kau "
" eh Ammar, bagaimana demam mu??? apakah sudah enakan??? flu nya gimana? udah reda kan??? " Aku menyela ucapan Ammar entah apa yang akan di ucapkannya barusan aku takut dia akan menanyakan kenapa wajahku memerah. . . bagaimana aku akan menjawabnya.
" Mmh. . . sudah tidak flu lagi, hanya kepala ku masih sedikit berat Fanny. . . "
Ammar memijit-mijit tengkuk leher nya.
" Coba sini kening mu Ammar, apakah masih panas seperti tadi pagi??? " Tanpa sadar aku mendekati Ammar, dengan menyentuh keningnya dengan telapak tangan kanan ku untuk memastikan apakah masih panas atau tidak. Dan kau tau, tangan kiri ku mendarat di paha Ammar yang hanya memakai celana kain pendek hari ini.
Oh tidak !!! Kau konyol Fanny, kau memalukan. Apa yang kau lakukan ini hah??? Bathin ku memberontak dalam diriku. . .
Seketika aku hendak mundur melepas tangan ku yang menempel di kening Ammar, Ammar menangkap tangan kanan ku. Aku terkejut melihat sikapnya ini dengan bibir gemetar dan tangan ku serasa dingin bagai es batu.
" Fanny, sekali lagi aku. . . sangat berterimakasih karena jauh-jauh kau datang kemari untuk menjenguk ku, kemudian merawatku lalu sampai. . . merapikan semua yang ada diruangan ku ini, apa. . . aku harus. . . membayarmu??? " Ammar tersenyum sangat manis di depan mataku, sangat dekat. sementara tangan kanan ku masih dia genggam. . . aku jadi gemas dengan kata terakhir dan senyuman nya yang manis itu. . . apa. . . kenapaaa aku harus di bayar, ih. . . dasar.
Cup !!! Aku mengecup bibir Ammar yang terus tersenyum pada ku.
__ADS_1
So what??? Aku. . . aku mengecup bibir Ammar??? Oh tuhaaaaaaaaaaan. . . jin apa yang telah mendorong kepala ku hingga dengan berani mengecup bibir Ammar, sial. . . !!!
Bibir ku masih menempel di bibir Ammar, sementara Ammar tetap tertegun bibir nya mengatup rapat dengan mata terbelalak di depan mataku.
Aku tak kuasa lagi menahan malu ku ini, ku pejamkan mata untuk menghindari tatapannya kemudian hendak menarik diri dari wajah Ammar, seketika tangan kiri Ammar menarik leher ku sementara tangan kanan nya semakin erat menggenggam tangan kanan ku.
Dan kami. . . Ber-ci-u-man !!!
Jeddeeerrrrrr !!! Kau tau, bagaikan tersambar petir di siang bolong. Sekujur tubuh ku mematung dengan rasa panas yang menyengat hingga mulai berkeringat di keningku, udara dingin dari AC yang semulai tadi ku rasa menyejukkan barubah bagai angin yang menerpa dari kobaran api.
Oh tidak. . . rasanya, seperti aku kembali pada masa-masa kebersamaan ku dengan Ammar semasih pacaran. Bibirnya tetap hangat terasa, aroma tubuhnya, desah nafasnya tetap wangi. . . wangi yang selalu ku suka.
Menyadari akan hal itu, Ammar menarik tangan kanan ku hingga di kalungkannya di leher Ammar. Aku menuruti nya, bahkan kini sudah dengan kedua tangan ku melingkar di leher Ammar.
Dalam hati ku tetap saling beradu dengan pikiran ku.
Otak ku berada di bawah alam sadar ku, memaksa untuk segera lepas dari cumbuan mesra ini. Namun hati ku. . . seakan melayang terbang tinggi ke awan. Ntah. . . ntah apakah ini rasa rindu ku yang meluap dan terpendam lama, ataukah. . . ah entah lah aku tidak mengerti.
Aku ingin menghentikan ini semua, tapi naluri ku. . . berbicara lain. Aku ingin dengan tuntas menikmatinya hingga puas. Tak peduli setelah ini bagaimana kelanjutan hubungan pertemanan ku dengan Ammar yang sudah terbina 3 bulan ini.
Ah. . . Tunggu, kita. . . kita baru saja memulai ini semua dengan pertemanan.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Ammar. Ammar terhentak dan terkejut melihatku. . .
" Ammar. . . maafkan aku, kita baru saja berteman dengan baik. Maaf. . . maaf banget akan sikap ku tadi, aku hanya. . . reflek melakukannya, ku mohon jangan di salah artikan " Ucap ku dengan kepala menunduk.
" Fanny. . . Kata reflek yang kau lakukan bukan kah sikap jujur dari hati mu? sehingga kau terdorong tanpa menyadari akan akibatnya "
Aku menatap Ammar seketika.
" Jika kau bertanya apakah aku juga menginginkan hal ini terjadi, yaaa. . . aku sangat menginginkannya, bahkan aku sudah berusaha menahan diri dari awal pertemuan kita kembali di acara seminar kemarin. Aku sangat merindukan semua yang ada pada dirimu Fanny. . . aku sangat merindukannya "
" Ammar. . . aku. . . aku hanya. . . "
" Mari kita lakukan sekali lagi, untuk melepaskan kerinduan yang selalu menghujam ku Fanny. . . apakah kau tidak merindukan hal ini dari ku Fanny??? " Ammar terus berbicara demikian sampai rasanya aku tidak menemukan sela untuk menjawabnya.
selalu ucapan ku terhenti oleh perkataannya. . .
kau gila ammar.
Pikirku dalam hati. . .
❤ Hai readers ku yang setia, jangan lupa tekan like nya. Tekan logo love nya juga, tambahkan sebagai favorite kalian hihihi ❤
__ADS_1