BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#134


__ADS_3

Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar hari ini, aku takut ini hanya mimpi indah yang akan kembali hilang di saat aku membuka mata lagi.


" Fanny, mari kita mulai lagi dari awal. kali ini jadikan aku kekasihmu seorang. Pertama dan terakhir, kau mau kan??? "


Ini. . . bukan mimpi !!!


" Vin, aku. . . aku tidak tau harus menjawab apa, aku. . . aku tidak tau "


Ini terlalu cepat bagiku Vin, aku masih takut untuk memulainya. Aku sangat takut. . . jujur aku belum siap.


" Baik lah Fanny, baik lah. . . kau tidak perlu menjawab nya hari ini juga. Aku mengerti ini terlalu cepat untuk mu, aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan tetap menunggu jawab mu ". Ucap nya dengan lembut pada ku.


" Kevin, katakan dengan jujur pada ku. Kenapa kau begitu bodoh menghabiskan waktu mu begitu lama dengan menunggu ku??? apa kau tidak lelah??? apa selama ini kau tidak tersiksa??? ".


Howah. . . seperti nya mata ku mulai berkaca-kaca kali ini, aku sungguh terharu dibuatnya. Selama ini dia berjuang sendirian menanti untuk cinta ku kembali dia genggam. Selama ini dia sudah pasti tersiksa melewati hari-hari dengan terus menunggu menunggu dan menunggu.


Tuhan, kenapa kau mempertemukan aku dengan laki-laki sebaik dia? se hebat, se sabar, se tenang, dan se tampan dia. Dia begitu perfect keseluruhan.


Sedangkan aku???


Aku bahkan mengingkari janjiku pada nya saat itu untuk menjaga kehormatan ku. Dan kini. . . dia sudah tau akan hal itu tapi mengapa masih mengharapkan cinta ku Tuhan???


Dalam hatiku mu mulai bertarung dengan akal sehat ku. Ah. . . aku pasti akan menggila setelah ini.


" Apa aku terlihat bodoh bagimu Fanny??? Lalu bagaimana dengan mu??? Kau juga begitu mencintai Ammar bukan??? meski nyatanya kau terus tersakiti dan di khianati oleh nya. . . apa kau punya alasan??? beritahu padaku !!! "


Suara ku seolah telah habis, seperti ada yang mencekik leherku mendengar Kevin berkata demikian padaku.


" Aku. . . ehm, itu berbeda " jawab ku singkat.


" Tidak Fanny, tidak ada bedanya dan semua tidak akan pernah memiliki alasan khusus kenapa seseorang begitu mencintai pasangan nya meski sudah sering tersakiti. Bukan kah aku sudah pernah mengatakan pada mu sebelumnya, bahwa kita. . . tidak akan pernah bisa diarahkan harus kemana kita jatuh cinta, dan kenapa alasannya. Semua sudah mempunyai takdir masing-masing dalam kamus nya, sama seperti ku pada mu Fanny "


" Tapi aku wanita yang hina di masa lalu Vin, kau pun tau itu. Aku. . . sudah hancur, kau. . . terlalu baik untuk ku " aku menjawab nya dengan mengecilkan suara ku hingga. . . kini. . . airmata ku mulai terjatuh membasahi pipi.


Kau tau apa yang kini Kevin lakukan melihatku seperti ini??? dengan tanpa ragu dan menyadari bahwa kita sedang dimana sore ini, Kevin menarik tubuhku dan dipeluknya erat tubuh ku dalam dekapannya.


Tuhan. . . bagaimana ini, sepertinya hatiku sudah sampai di titik dimana rasa yang pernah ada dulu ku kubur dalam-dalam saat ini mulai bangkit bergentayangan di hati, jiwa dan pikiran ku. Akal sehat ku mulai melemah. . . Tolong aku Tuhan. . .


" Jangan selalu mengulang kata bahwa kau wanita hina dan sudah hancur. Semua itu masa lalu mu, semua orang pasti memiliki sisi kelam dalam masa lalu nya. begitu juga kau, atau mungkin juga aku. Tapi bagi ku. . . kau tetap Fanny yang ku kenal dulu, yang selalu ceria. . . periang, energik, penuh semangat, bawel, dan. . . tetap menggemaskan "


Dia terus berbicara tanpa henti sembari terus memeluk ku, sementara aku tenggelam bersama tangis ku dalam dekapan nya.


*Tuhan. . . sungguh besar keajaiban mu ini, kau sungguh sangat baik pada ku kali ini. Kau memberikan ku kisah yang begitu sangat menyakitkan melalui Ammar dan Tristan , namun kini kau memberikan ku bayaran yang lebih mahal dari itu semua. Dengan menghadirkan kembali sosok lelaki penyabar ini di hidup ku. Hadiah yang sangat sempurna dan menakjubkan. . .


******************♥♥♥******************


Satu bulan berlalu, aku sudah mulai kembali menjalani tugas dan kegiatan ku. Begitu pula dengan Kevin, dia mulai sibuk dengan pekerjaan nya . Namun, di sela kesibukan kegiatan sehari-hari kami tidak pernah lupa untuk saling memberi kabar, berbincang-bincang manja melalui telepon, dan pesan singkat pun hampir setiap detik kami saling sahut-sahutan.

__ADS_1


Meski. . . setelah ungkapan perasaan Kevin sore itu di taman, aku belun memberikan nya jawaban yang pasti. Aku hanya memintanya waktu sebentar, untuk benar-benar hatiku mampu dan mental ku kembali seperti sedia kala.


Hubungan kami mengalir begitu saja meski tidak dalam suatu ikatan yang pasti. Kevin menerima pintaku ini dengan sabar, karena dia benar-benar memahami ku dan ingin aku mudah mempercayainya.


Malam ini kami akan makan malam diluar. Aku juga sudah memberitahu ayah dan ibu ku, mereka tersenyum bahagia mendengarnya. Padahal ini hanya makan malam biasa, tapi entah kenapa mereka begitu antusias memginjinkan ku untuk selalu pergi di temani oleh Kevin.


Mereka begitu sangat berharap penuh aku dengan Kevin bersatu hingga ke jenjang pernikahan. Sementara aku. . . aku masih ragu untuk memulai suatu hubungan dengan serius. Aku sungguh sangat takut, entah apa alasannya aku pun tidak tau.


Tapi jujur, aku pun tak ingin membuat Kevin kembali lama menunggu ku. Aku berniat untuk memberikan jawaban kepastian hubungan ku dengan nya setelah makan malam nanti. Ya. . . sepertinya waktu yang tepat.


Tiba malam hari, jam menunjukkan pukul 7 malam. Aku sudah rapi dan menunggu Kevin menjemputku. Ini hanya makan malam biasa, rasanya aku sedikit berlebihan melihat dandanan ku malam ini. Seolah ini. . . adalah kencan pertama kami.


**********♡♡♡***********


Sesampainya di restoran, Kevin membukakan pintu mobilnya untuk ku dengan senyuman. Dan aku membalasnya pula.


" Malam ini kau sangat cantik Fanny "


" hanya malam ini saja??? "


" Tidak tidak, kau cantik setiap harinya. Membuat aku selalu jatuh hati " ucap nya dengan senyuman hangat.


Lalu kami berjalan beriringan menuju ke dalam. Kami menuju meja kosong yang sepertinya sudah di pesan sebelumnya oleh Kevin.


Kevin mempersilahkan ku duduk dahulu, kemudian dia menyusulnya.


Aku sudah mulai gugup tidak tau harus memulainya darimana untuk menjawab penantiannya akan hatiku selama ini.


" Aku. . . sedang tidak ingin makan banyak " jawab ku singkat, dan dia melirik ku heran.


" Apa kau sakit Fanny??? "


" Ti. . .tidak, hanya saja. . . aku. . . sedikit gugup "


" Gugup??? apa yang membuatmu gugup hingga membuatmu tidak ingin makan banyak??? "


" pokoknya aku tidak ingin makan banyak "


" Baik lah setelah makan kita langsung pergi dari sini ya, kita cari udara diluar " ucapnya, aku mengangguk pelan menanggapinya.


Tak banyak yang kami bicarakan ketika hidangan sudah siap santap. rasa gugup, rasa takut, rasa malu, ah semua jadi satu di otak ku malam ini.


Kemudian selesai kami menyantap makan malam Kevin mengajakku untuk segera keluar dari restoran ini.


Sampai di dalam mobil, aku sudah gelisah untuk memulai obrolan.


" Malam ini mau ku antar kemana??? untuk membuatmu tidak gelisah lagi seperti itu Fanny. . . " sapanya lebih dulu.

__ADS_1


" Tidak perlu Vin, kita. . . ngobrol disini aja sebentar "


" di dalam mobil??? apa kau punya masalah berat yang kau hadapi Fanny??? beritahu aku. barangkali aku bisa membantu mu "


" Kevin, apa kau. . . sungguh masih mencintaiku??? "


Mendengar ucapan ku dia tersenyum hangat memandang wajah ku dengan tatapan lama.


" Apa sampai saat ini kau masih meragukan ku Fanny??? apa kau perlu bukti lain? atau kau boleh memberiku syarat agar kau percaya "


" Tidak. Aku hanya. . . sedikit malu dengan diriku sebagai wanita yang. . . "


" Sssssttttt. . . jangan diucapkan lagi di hadapan ku ,pliss. . . biarkan itu menjadi cerita rahasiamu dengan Tuhan "


Aku terdiam sesaat ketika jari telunjuk nya menyentuh bibir ku. Kemudian dia melemparkan senyuman manisnya lagi pada ku.


Di raihnya lembut tangan ku kemudian dia genggam dengan hangat.


" Aku mencintaimu, apapun dan bagaimanapun dirimu di masa lalu. . . kau tetap Fanny ku "


" Mari kita memulai semua dari awal Vin, aku menerimamu sebagai kekasih ku "


Hah. . . akhirnya aku mampu mengeluarkan jawaban ini yang sudah dari kemarin hingga tadi sore aku mempraktekkan nya di hadapan cermin.


Aaah aku tidak berani menatap wajah Kevin kali ini. . . entah bagaimana ekspresinya aku malu untuk melihatnya.


" Fanny. . . kau. . . tidak melakukannya karena terpaksa bukan??? Jika kau belum siap, aku masih bisa menunggu mu Fanny. . . " ucap nya dengan lembut, membuatku menoleh ke arahnya dengan cepat.


" Apa aku terlihat terpaksa kali ini??? Kau bisa melihatnya dari mata ku jika aku berbohong kali ini "


Seketika Kevin mendekatkan wajah nya padaku, membuat ku mengedipkan mata sejenak menahan rasa terkejutku.


Dia terus terdiam dengan menatap mataku secara dekat. Hembusan nafasnya mulai tercium dari kedua lubang hidung ku. . .


" eh. . . ehm vin, kau. . . kau ter. . .lalu. . . dekat " jawab ku kikuk. Kemudian,


Cup !!!


Dengan cepat dia mengecup keningku. Hingga membuat ku semakin terkejut, kedua mataku terbelalak mendapatinya. Bahkan nafasku bagai terhenti sejenak. . .


" Ehm, maafkan aku Fanny. Aku. . . aku hanya. . . aku sangat bahagia dengan jawaban mu itu, aku. . . aku tidak tau harus bagaimana mengekspresikannya, aku. . . aku sungguh sangat bahagia pada akhirnya kau mau menerima ku kembali, aku sangat bahagia "


Dia kembali menjauh dari ku, dan senyumnya itu. . . dia terlihat sangat bahagia dan puas. Tingkahnya seperti anak kecil yang baru saja di turuti keinginannya untuk di belikan balon.


Untung saja ini di dalam mobil, sehingga dia tidak mungkin melompat-lompat dan menari dengan riang gembira.


Kemudian dia kembali meraih tangan ku dan di genggamnya erat, dikecupnya dengan lembut. Hangat terasa bibirnya di tangan ku membuat jantungku kembali berdetak cepat.

__ADS_1


" makasih sayang, makasih sekali lagi. Penantian ku. . . tidak sia-sia selama ini. Aku mencintaimu, aku mencintaimu Fanny "


" Aku juga Kevin, kau. . . selalu berhasil membuatku jatuh hati setiap harinya pada mu "


__ADS_2