
Pov Ammar
Selama dua bulan tiada kabar. . .
Ammar mendapatkan tugas dari kampus sebagai panitia penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru yang saat ini masih sedang berlangsung di kampusnya. Dan di sekolah tempat dia mengabdi pun dia di tunjuk sebagai pengasuh untuk melatih para siswa yang mengikuti lomba olimpiade.
Tapi di lain itu. . .
" Ammar. . . apa kau ada waktu sebentar??? Papa ada yang ingin dibicarakan dengan mu, ini penting Nak. . . " ucap papa Ammar menghampirinya yang sedang menyeruput teh di ruang santai, sambil membolak balik sebuah buku pelajaran Ammar mempersilahkan papanya. . .
" Ada hal penting apa pa, mari duduk dulu. Aku akan membereskan buku-buku ini dulu " Sembari merapikan buku-buku yang sudah berserakan di depannya.
" Ammar, anak ku. . . apa kau. . . masih berpacaran dengan wanita yang waktu itu kau bawa kemari??? "
" Namanya Fanny pa. . . iya, masih. selamanya juga akan tetap begitu, aku berniat akan menjadikannya istri pa. . . tolong jangan halangi aku lagi dalam hubungan ini " Jawab Ammar dengan wajah lesu.
" Tidak Nak. Papa tetap pada pendirian papa, kau harus menikah dengan Eliez ".
" Pa. . . ayo lah, jika ini yang akan papa bahas maaf ammar sibuk " jawab Ammar dengan cetus.
" Ammar, kenapa kau keras kepala begitu hah??? kau satu-satunya harapan papa di keluarga ini. Eliez adalah wanita yang pantas untuk mu daripada wanita itu. . . "
" Pa. . . namanya F A N N Y. Tidak bisakah papa menyebut namanya saja??? itu akan lebih sopan terdengar " Jawab Ammar memalingkan wajahnya.
" Apa yang di lihat dari wanita biasa itu. . . Bahkan dia baru saja lulus sekolah, belum kuliah. . . atau malah tidak akan kuliah nantinya " ucap papa Ammar dengan menyeringai. . .
" Stop pa. . . papa belum mengenal Fanny lebih dekat. Dia memang terlihat seperti wanita biasa di mata papa, tapi tidak untuk Ammar. Dia wanita yang luar biasa pa, dan asal papa tau. . . dia mendapatkan bea siswa untuk kuliah di universitas terbaik di kota nya, tapi dia rela melepasnya memilih untuk kuliah di kampus Ammar hanya karena Ammar yang memintanya pa. . . Dia sangat tulus pada Ammar, dia selalu setia pada Ammar, dia selalu menuruti apa yang selalu Ammar minta, dia berhati lembut dan mandiri. . ."
" Jangan bodoh anak ku. . . kau begitu memujinya hanya karena dibutakan oleh cinta, bahkan cinta tidak akan bisa mencerahkan masa depan mu nanti. Lihat Eliez, dia sekarang sudah magang di Rumah sakit terkenal diluar sana. Selain dia cantik dan dewasa, dia jauh lebih memiliki attitude yang tinggi. Kau akan lebih bahagia bila menikah dengannya "
" Bahagia??? Haha. . . Kembali hidup bersama orang yang dulu pernah menyakiti hati anak papa ini??? yang dulu bahkan aku hampir mengakhiri hidupku karena dia meninggalkanku begitu saja tanpa kabar pa. . . apa papa sudah melupakan hal itu hah??? " Ucap Ammar dengan nada marah kali ini.
" Semua orang bisa berubah Nak. . . tanpa terkecuali juga pada Eliez saat ini. Papa sudah pernah bertemu dengan orang tuanya dan hari ini Eliez akan pulang dari luar negeri. Besok malam orang tuanya mengundang kita makan malam bersama dirumahnya "
" Aku tidak peduli, papa saja yang. . . "
" Ammar. Jika kau masih keras kepala menolaknya, jangan harap kau bisa bertemu kembali dengan Fanny. Papa akan mempercepat pertunangan mu dengan Eliez "
Kemudian papa Ammar pergi meninggalkan Ammar begitu saja diruang tamu.
Aaaaaaaaaaarght. . . Ammar tampak begitu marah dengan keputusan yang dibuat oleh papanya itu.
__ADS_1
Fanny. . . kenapa sampai saat ini kau belum mencoba menghubungiku. . . apa kau benar-benar marah dengan sikapku ketika itu??? Aku sama sekali tidak ada maksud untuk lebih membela Abel di depanmu Fanny, hanya saja. . . aku ingin kau mulai belajar dewasa dalam bersikap, membangun kembali kepercayaan yang dulu pernah kau berikan untuk ku. Betapa saat ini aku ingin mendengar suara mu Fanny. . . aku merindukan mu, tapi kau membuat ku mulai ragu dengan sikap egomu itu.
Malam pertemuan dengan keluarga Eliez. . .
Akhirnya, dengan terpaksa pun Ammar menuruti kata papanya itu. mengingat ancamannya, Ammar takut jika papanya benar-benar nekat mempercepat pertunangannya dengan Eliez.
Aaaarrrght. . . ini benar-benar membuatku gila. Bahkan mendengar nama Eliez kembali, aku ingin memakinya. Sakit hati ini belum sembuh, setelah aku menemukan cintaku kembali kenapa kau kembali lagi di kehidupanku Eliez . . .
Selama jamuan makan malam berlangsung, Eliez tampak ragu dan kikuk duduk di sebelah Ammar yang hanya terdiam semulai tiba dirumah Eliez.
" kau makin gagah nak Ammar, setelah sekian lama kami tidak bertemu. . . " Sapa papa Eliez.
" Iya loh, makin ganteng lagi " ucap mama Eliez menyambung.
Ammar hanya tersenyum datar menanggapinya. . .
" Eliez, apa kabar nak??? kau makin cantik dan dewasa saat ini " Sapa papa Ammar.
" Apa kabar Eliez. . . " Sapa mama Ammar.
" Ha. . . halo, tante. . . om. . . lama tidak bertemu kalian terlihat awet muda " sapa Eliez dengan senyuman ramah.
Seketika semua tertawa geli mendengar sapaan Eliez itu. . .
Selesai makan malam, mereka lanjut berbincang-bincang dan Ammar pamit untuk keluar dengan alasan mencari angin.
Kemudian Eliez mengejarnya. . .
" Ammar tunggu. . . " Sapa nya.
Ammar terus saja berjalan menuju teras yang dimana ada kolam renang besar di sekitarnya. . .
" Ternyata. . . kau masih ingat dimana saja arah rumah ku, tempat kami biasa ngobrol menikmati malam dulu, Ammar. . . " Ucap Eliez lagi.
" Eliez, aku gak mau basa basi lagi. Aku langsung memberi ketegasan padamu, saat ini aku tengah menjalani hubungan dengan seorang wanita. aku sangat mencintainya, hari ini, esok atau kedepannya hanya dia yang akan tetap ku cintai, dan aku hendak melamarnya. Karena hubungan kami telah berjalan satu tahun lamanya " Jelas Ammar panjang kali lebar tanpa menoleh sedikitpun pada wajah Elis.
Eliez terdengar menghela nafas panjang.
" apa kau begitu sangat membenciku hingga detik ini Ammar??? " Tanya nya dengan suara lirih. . .
" Bahkan mendengar nama mu kembali di sebut dalam hidupku saja aku sudah muak " Jawab Ammar dengan cetus.
__ADS_1
Eliez meneteskan air mata mendengar ucapannya itu.
" Ammar. . . ini bukan seperti kau yang ku kenal dulu, yang selalu tenang dan tidak pernah berucap kasar atau marag sekalipun kau sakit hati dan membenci seseorang, tapi kini. . . kau. . . " Eliez semakin terisak dalam tangis.
" Berhentilah menangis, agar aku tidak semakin membenci dsn mengutukmu dalam hatiku "
" Ammar. . . kau keterlaluan, kau sangat berbeda. Tapi walau demikian, aku sangat menantikan kesempatan ini Ammar, bisa bertemu lagi denganmu meski kau telah berubah kasar pada ku. Aku. . . aku masih. . . berharap kita bisa seperti dulu lagi "
" Apa kau tuli dengan yang ku jelaskan panjang lebat tadi hah??? Aku sudah memiliki wanita lain yang akan segera ku lamar nantinya "
" Baik lah Ammar. . . Baik lah. . . terserah apa mau mu, bagaimana kau akan mengatur jalan hidupmu. Tapi aku yakin, suatu saat nanti pads akhirnya kau akan memilih dan kembali pada ku. Setelah semua yang pernah kita lakukan dulu setiap harinya, aku yakin kau tidak akan mudah melupakannya. Karena hanya aku yang bisa memuaskan mu bukan??? "
" Tutup mulut mu itu. . . jangan membuat ku semakin muak ".
" Tidak bisakah kau memanggil namaku sekaliii saja Ammar. Aku ingin mendengarnya dari bibir mu. . . "
Ucap eliez memaksa. . .
Hal ini membuat Ammar semakin kalap, memandang wajah Eliez dengan sangar. Kemudian berlalu pergi meninggalkannya yang tengah berdiri di dekat kolam renang.
Eliez menangis tersedu-sedu melihat sikap Ammar demikian.
Sementara Ammar pergi keluar rumah Eliez dan mengendarai mobilnya untuk pulang lebih dulu tanpa menunggu orang tuanya yang tengah asyik ngobrol di dalam.
Di tengah perjanalan, Ammar berteriak memukul-mukul dadanya sendiri dengan tangan kanannya. . .
Kenapa Eliez. . . kenapaaaaaaaa. . . kenapa kau hadir kembali disaat aku sudah hampir berhasil mengobati luka ku sendiri. . . disaat aku sudah membuka kembali hati ku untuk wanita lain, kenapaaaaaaa kenapaaaaa??? Kenapa kau kembali dengan senyuman itu. . . kenapa kau kembali dengan kata rindu itu. . . .
Aaaaaaaaarrrrrrrrght. . . .
Ammar terus berteriak dengan isakan tangis di dalam mobilnya, melaju dengan sangat cepat tak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti.
Kemudian dia teringat Fanny, wanita yang membuatnya jatuh cinta kini.
Dia menghentikan mobilnya seketika di pinggir jalan, meraih ponselnya untuk menelpon Fanny. Karena hanya dengan mendengar suaranya Ammar bisa sedikit tenang dari amarahnya itu. . .
Namun, setelah dia berharap penuh pada Fanny. . . yang menerima panggilan itu melainkan Rendy Kakak sepupu Fanny, yang kemudian menyebut Kevin dan bercerita bahwa mereka sedang menikmati makan malam dengan happy fun seharian.
Dan. . . Ammar tetap memutuskan untuk menyembunyikan hal ini dari Fanny, untuk membuat wanita yang dicintainya itu akan semakin tidak lagi mempercayai Ammar sepenuhnya.
**❤ Hayo. . . bagaimana nih setelah tau apa yang terjadi sebenarnya pada Ammar setelah dua bulan terakhir tanpa kabar. . .
__ADS_1
Apakah keputusan Ammar untuk mengajak Fanny tunangan adalah pilihan terbaik???
Jangan lupa tekan like nya ya, dan di tunggu komentarnya untuk penyemangat author ❤**