
Tak banyak kesempatan ku dengan Kevin untuk saling berbicara dan bercerita satu sama lain. Hari ini, pertemuan ini, kebersamaan ini, kami hanya fokus pada hubungan kak Rendy dan Shishi yang akhirnya akan melangsungkan tunangan minggu depan.
Aku sangat bahagia mendengar ini, akhirnya. . . kak Rendy akan bertunangan. Dan calonnya ini. . . orang yang sangat di kenal dekat sebelumnya.
" Fanny, pokoknya nanti saat pertunangan kakak kamu yang harus bantuin nyiapin semua keperluan Shishi ya. Kan elu udah lebih dulu ngejalanin dan ngerasainnya ,hehe. . . "
" Udah kakak tenang aja, semua keperluan kak Shishi Fanny yang urus " Ucap ku penuh semangat pada kak Rendy.
" Lalu tunangan mu dimana tinggal Fanny??? Kenapa tidak kau undang kemari ikut berkumpul dengan kita-kita??? " Tanya Shishi
" Ah. . . eh dia. . . dia bukan dari kota ini kak. Hehe, kami. . . kami menjalani hubungan jarak jauh " Jawab ku kikuk.
" Wah hebat dong, bisa ngejalanin hubungan jarak jauh gini. . . bagi tips dong, kali aja nanti kakak dan kakak mu Rendy akan berjauhan sementara??? " tanya Shishi lagi dengan wajah polosnya.
" Mmm. . . hahaha apa ya tips nya kak, tetap jaga kepercayaan aja sih dan komunikasi lancar. Ya. . . yah itu aja "
Hahaha kau sangat pintar Fanny, apaan itu jaga kepercayaan dan komunikasi lancar. . .??? Hahahaha coba lihat bagaimana Ammar saat ini??? dan bagaimana komunikasi kalian detik ini??? Hey. . . kau sudah di abaikaaaaaaan. . . kepercayaan Ammar tidak pernah ada untuk mu.
Dengan susah payah aku memasang ekspresi wajah untuk tetap ceria, untuk tetap baik-baik saja. Tapi, ah. . . kenapa malah aku ingin menangis??? mata ku sangat panas menahan diri untuk tetap ceria.
Di tengah usahaku ini, ponselku bergetar di dalam tas, ku raih untuk melihatnya. Dan betapa aku sudah sangat ingin berteriak, ketika ku baca pesan dari Abel yang ntah dia mengetahui nomor ku darimana??? Mungkin. . . Ammar yang memberitahunya.
Hai cewek, makasih ya udah mau nemenin aku dan ngijinin aku bermalam dirumah mu, makasih juga sudah merepotkan. aku gapapa kok, semua yang aku rasain hari ini adalah salah ku. Nasi goreng buatan bunda mu sangat lezat, hehe. Maaf ya Fan, aku harus balik hari ini ke kota A. Ammar memaksaku untuk segera balik begitu juga dengan Andi, dan aku sudah memaksa Ammar untuk segera menemuimu dulu tapi dia menolaknya. Maafin aku sekali lagi. . .
Hah. . . aku sudah tidak tahan, sungguh tidak tahan. Bagaimana aku akan mengekpresikan ini semua hah??? Bagaimana. . . Ammar benar-benar marah pada ku, tatkala berpikir ini memang kesengajaan ku pada Abel. . . Tuhan. . . kuatkan hatiku detik ini saja, aku tidak ingin pertahanan ku semulai tadi akan hancur begitu saja di depan mereka ini.
Sekuat tenaga aku tetap tenang, dan berbicara pada semua. . .
" Mmm. . . Fanny. . . Fanny ke toilet dulu ya "
Tanpa mendengar apapun tanggapan mereka lagi, aku bergegas menuju toilet dengan terburu-buru karena air mataku sudah mau jatuh. . . sembari aku setengah berlari hendak mencari toilet, air mataku sudah merembes sana sini.
Aaaah pertahanan ku sia-sia. . . sungguh sangat sesak aku ingin menangis, aku ingin teriak, aku ingin berontak dalam hati. Oh tuhan. . . kenapa, kenapa lagi-lagi aku merasakan sakit ini dari orang yang ku cintai, Aku salah menilai Ammar yang ku anggap dia sudah berubah dan tidak lagi ada sosok Abel yang mengusik hubungan kami. . .
Tapi kenapa???
__ADS_1
Kenapa jarak toilet ini begitu jauh sih, langkah kaki ini belum juga tiba ku pikir. Aku berkeliling melihat dan mencari-cari bacaan dimana toilet disini berada, sambil menahan sesak dan tangisan ku. . . aku tidak peduli semua orang melirikku dengan heran.
Ketika hendak aku memasuki ruangan toilet wanita yang sudah di depan mata, seseorang menarik tangan ku dari belakang. Sontak ini membuat ku reflek dan terkejut menoleh kebelakang.
" Kak Ke. . .vin. . .??? " Tubuh ini mematung seketika, saat aku melihat sosok lelaki yang kadang selalu membuatku rindu dalam suasana hati yang merasa bersalah tiada henti, tengah berdiri dan melihatku dengan deraian air mata begini.
Ah tidak, kenapa selalu laki-laki ini yang melihatku menangis seperti ini. . .
Aku hendak menghapus air mata ku, tapi kedua tangan ku masih tertahan oleh Kevin. Aaaaaah. . . ayo lah jangan begini, aku maluuu. . .
Dia terus menatapku tanpa bertanya sepatah katapun, aku tidak tahan. . . sungguh aku semakin merasakan sakit saat dia menatapku demikian. Tolong jangan begini Kevin. . . lepasin tangan ku. . .
Sementara aku terus meronta dalam hati air mataku semakin mengalir deras. Dan. . .
Kevin memeluk tubuh ku di depan toilet, di depan sekian banyaknya orang yang berlalu lalang melewati kami, tanpa rasa canggung dan malu sedikitpun.
Dan entah kenapa, entah kenapaaaaa aku tidak ingin meronta melepas pelukannya. Aku ingin dia terus memelukku begini. . .
" Menagislah dalam pelukan ku Fanny, aku tak apa jika setelah ini kau akan menamparku karena telah memelukku di depan umum dan membiarkan mu menangis di depan semua orang " Ucapnya dengan lembut, dengan mengelus lembut punggung ku, dengan lembut ia semakin mempererat pelukan nya di tubuhku.
Ah. . . pelukan ini yang sangat ku nantikan. Dari awal aku tiba di kafe ini dan melihat sosok Kevin kembali berdiri di hadapan ku, aku sudah ingin. . . ingin sekali memeluknya dengan erat, tapi ku tahan. . .
Aku terus tenggelam dalam pelukan Kevin yang sedikit demi sedikit membuat ku tenang dan perlahan tangisan ku mulai terhenti.
Tapi. . . betapa aku sangat egois, aku masih tidak ingin melepaskan diri dari pelukan Kevin yang hangat ini.
Aku memejamkan mata merasakan kehangat dari pelukan Kevin, dada bidangnya, aroma wangi tubuhnya, sungguh membuatku semakin terhanyut saja.
Seperti aku sedang berada di tempat yang penuh kedamaian yang hanya ada aku dan Kevin saja, tiada kebisingan dan lalu lalang orang melewati kami.
Eh tunggu !!!
Apakah aku kembali berhalusinasi? Jangan-jangan ini seperti mimpiku malam tadi ketika Kevin tiba-tiba memeluk tubuh ku dari belakang di tengah taman yang sangat indah.
Aku membuka mata dengan setengah melotot, dan menyadarkan diriku begitu saja.
__ADS_1
Sikapku yang begitu saja menjauh, membuat Kevin terkejut.
" Fanny, maaf. . . aku hanya. . . " Kevin tampak panik melihatku demikian.
Oh tidak, ini nyata. . . tuhaaan. . . ini bukan mimpi. . . aku bena-benar memeluk tubuh Kevin daritadi.
" Eh maaf kak, Fanny cuma. . . Fanny yang harus minta maaf karena sudah menangis di pelukan kak Kevin, tuh liat banyak yang melirik kak Kevin dengan tatapan tajam " Ucap ku setengah berbisik.
" Hahaha, biarkan saja mereka berpikir sesuka hati mereka. . . kakak tidak rugi pajak, hehe " Ucapnya dengan senyuman meledek ku.
Lihat. . . betapa sosok lelaki di hadapan ku ini tetap tenang menanggapi orang-orang sekitarnya yang sudah meliriknya tidak nyaman sedaritadi. Dia hanya tersenyum dan tetap cook. . . uuugh membuatku gemas saja ingin kembali memeluknya.
Hai Fanny, apa yang kau pikirkan. . . cepat sadar diri. . . jangan ngelamunin Kevin teruuuus.
" Hahaha kak Kevin ini, pajak apaan coba??? Hahaha " Aku jadi sedikit canggung dan sedikit garing.
" Hmm. . . udah bisa ketawa lagi nih??? " Tanya nya tiba-tiba. Membuatku semakin canggung.
" Ah. . .. ehm.. . . hehe, kak Kevin ngapain kesini??? mmm. . . mau ke. . . toilet juga??? " Tanyaku dengan terbata-bata, berusaha pura-pura tidak terjadi apa-apa dan bertanya balik kenapa dia tiba-tiba memelukku yang pastinya dia sudah mengetahui jika aku hari ini sedang tidak enak hati.
" Mmm. . . kakak kesini cuma mau pastiin aja, apakah benar feeling kakak masih tepat dalam menilai ekspresimu semulai tiba di kafe tadi. hehe, ternyataaa. . . feeling kakak masih tepat "
" Cih apaan sih, Fanny gak ngerti deh. . . Fanny baik-baik aja kok. . . " jawab ku dengan mata yang berusaha menatapnya sejenak kemudian ku alihkan dengan yang lain agar dia tidak semakin jadi.
" Iya deh iya. . . kak Kevin percaya, gih bersihin wajah mu dulu. Gak mau kan, kakak mu Rendy tau kalo Fanny habis nangis??? " ucap nya dengan lembut.
Aku tau, banyak yang ingin dia tanyakan tapi berusaha menahannya. Dia memang selalu begitu, tetap berusaha tenang. tidak menampakkan diri dengan rasa penasarannya dan dia selalu berhasil membodohiku dengan sikapnya itu.
" Ya udah kak Kevin balik aja duluan gih, aku masuk toilet dulu mau cuci muka "
" Yakin nih kak Kevin tinggal sendirian? gak bakal nangis lagi kan di dalam, dan teriak-teriak??? "
" Hahaha. . . ya enggak lah kak, ih apaan sih. Ya udah sana duluan aja balik " Aku mendorong tubuhnya yang cukup berat ku rasa.
Dia tertawa meledek ku, aku pun sama. Akhirnya aku bisa sedikit lega, dan Kevin berlalu pergi.
__ADS_1
Aku bergegas masuk ke toilet untuk mencuci wajah ku, bersyukur tadi bawa alat make up ala kadarnya.