BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#100


__ADS_3

Hari ini hari minggu. Sudah tiga hari berlalu semenjak ibu menamparku, suasana dirumah jadi semakin menegangkan. sehingga membuatku merasa canggung dan kikuk berada dalam rumah ku sendiri, tak seperti biasanya.


Aku tau, semua ini memang terkesan salah ku yang terlalu dekat dan sering memberikan ijin pada Tristan berkunjung kerumah sementara Ammar hilang kabar. Aku sudah terpengaruh dengan nasehat Tristan yang selalu memintaku menguatkan diri keluar dari lingkaran kelemahan ku, butanya hati ku yang akhirnya membuatku terlihat begitu bodoh. Tapi kau tau, disisi lain. . . aku tidak ingin mengecewakan ayah dan ibu yang begitu berharap dan memandang seorang Ammar adalah jodoh yang terbaik untuk ku dari segala aspek kehidupan.


Hah. . . bagaimana mungkin bukan, aku akan mengewakan harapan mereka yang begitu besar itu. . . jika saja aku mengungkap segala apa yang terjadi.


Hingga jam menunjukkan pukul 10 pagi, aku hanya berdiam diri di kamar setelah sarapan pagi tadi. Aku jadi takut untuk keluar rumah di hari libur begini, ayah dan ibu membatasinya.


Ah. . . sungguh ini sangat membosankan di hari libur segala aktifitasku harus menahan diri begini disaat aku ingin menghibur diri dari segala masalah belakangan ini. Aku ingin keluar rumah, aaaaaaaaaarght. . . !!!


Tok tok tok. . .


Terdengar suara ketukan pintu yang mengagetkan ku ketika aku mondar mandir semulai tadi di kamar.


" Fanny, keluar sebentar. Ada tamu Nak, turun lah "


Terdengar suara ibu dari luar, tapi tamu siapa? kenapa aku harus turun??? dan dari suara ibu, sepertinya ibu tidak marah lagi padaku. Ah senangnya. . .


Kemudian aku bergegas membuka pintu ku lihat ibu sudah mendahului menuruni anak tangga aku mengejarnya, tapi ibi sudah lebih dulu sampai diruang bawah.


Dan. . .


Betapa aku sangat terkejut tapi juga senang, melihat Ammar berdiri di ruang tamu bersama ayah dan ibu. Langkah ku terhenti seketika, yang semulai tadi setengah berlari tergesa-gesa menuruni anak tangga. Setelah melihat ku sudah berdiri di bawah tangga, ammar menghampiriku dengan tiba-tiba memelukku erat. aku tercengang mendapatinya bersikap demikian. . .


" Aku sangat merindukanmu, syukur lah kau baik-baik saja " Ucap nya berbisik.


Aku. . . aku tidak tau akan menjawabnya apa, hanya saja. . . sadar bahwa Ammar memelukku di hadapan ayah dan ibu aku melepaskan pelukannya dengan paksa.


" Kau. . . Disini??? " Tanya ku dengan ragu. seolah ini seperti mimpi. . .


" Ini aku sayang, ini bukan mimpi. Kenapa kau seperti tidak percaya aku berada disini, di hadapan mu. . . " jawab nya dengan terheran-heran.

__ADS_1


Aku masih tidak tau harus menjawab apa, dan bersikap bagaimana melihatnya yang sudah menghilang tanpa kabar selama dua bulan ini kemudian tiba-tiba datang dirumah bahkan tanpa menelpon ku dulu.


" Ammar, duduk lah dulu Nak biar tante buatkan kau minum dan cemilan. Agar kalian bisa ngobrol lebih enak berdua " Ucap ibu menyela.


" Ehm tante, om. . . boleh gak Ammar ajak Fanny keluar sebentar??? " jawab Ammar menghampiri ibu dan ayah ku kembali.


" Kau baru saja tiba Nak. . . apa tidak lelah??? " ucap ayah ku kemudian. Lalu ibu menahan ayah yang berukata demikian, seolah sudah mengerti.


" Tante tau, kalian sedang menghadapi masalah yang rumit saat ini. itu wajar dalam suatu hubungan yang sudah terjalin lama apa lagi hubungan kalian berjalan dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Pergi lah, jika kalian ingin menyelesaikannya " Ucap ibu ku mengijinkan. Sedang aku masih berdiri mematung menyaksikan ini semua yang ku rasa masih seperti mimpi.


" tante. . . makasih banyak sudah memahami kami " Jawab Ammar dengan sura lirih.


" Kami juga pernah muda seperti kalian, tapi. . . om pinta satu hal, apapun masalah diantara kalian. . . jangan sampai berpikir untuk mengalah begitu saja salah satu diantara kalian. Pikirkan baik-baik, om percaya padamu Ammar " Jawab ayah menambahkan.


" Tante juga, sangat berharap kalian akan menjadi suami istri nantinya " Ucap ibu kemudian yang di jawab anggukan oleh Ammar.


Tanpa menunggu aba-aba, tanpa memberikan ku kesempatan untuk sekedar merapikan diri atau mengganti baju ku yang ku pakai hari ini, begitu minim. Sebab hanya bersantai ria di kamar. . . Ammar langsung menarik tangan ku, menggenggamnya, berjalan mengikuti langkahnya menuju mobil di halaman.


Sadar akan hal ini, aku menurutinya begitu saja tanpa kata.


Tiba di dalam mobil Ammar langsung melajukannya dengan cepat.


Di tengah perjalanan, aku kembali membatu tanpa memulai pembicaraan dahulu. Sedang Ammar terus melajukan mobilnya yang entah mau kemana aku tidak tau, hanya saja mobil yang di kendarainya terus melaju dengan cepat. Dan sepertinya aku mulai sadar setelah setengah perjalanan kami daritadi hendak kemana mengarahnya.


Ammar menghentikan mobilnya ketika tiba di tempat yang mungkin dengan sengaja sudah ia rencanakan terlebih dahulu. Yah. . . ini di tepi pantai, yang dimana. . . ini adalah tempat pelarian ku bersama kak Rendy, dan di tempat ini pula awal mula Ammar mengenalkan ku pada susuatu yang membuatku begitu menggilai tubuh nya.


" Fanny, apa kau marah??? " Tanya nya memulai suara lebih dulu.


Heh, marah??? pertanyaan konyol. Tepat nya aku lebih ingin mencabik-cabik seluruh tubuh mu detik ini Ammar.


Aku masih terdiam dengan memalingkan wajah ku darinya. Ammar terdiam kemudian mengulangi pertanyaan nya. . .

__ADS_1


" Sayang, apa kau marah padaku??? jawab lah. . . jangan kau palingkan wajah mu itu "


Aku masih tak bergeming, diam tanpa kata. Kemudian perlahan Ammar menarik dagu ku untuk di tolehkan pada wajahnya. . .


" Fanny, aku rindu " ucapnya kembali, dan perlahan mendekatkan wajahnya padaku ketika aku menatapnya dengan tajam penuh amarah. Aku tau, dia hendak mencium ku. aku menghindarinya dengan cepat, kembali memalingkan wajah ku dari nya. Dia terdiam. . .


" Kau puas Ammar??? " Tanya ku memberanikan diri dengan sekuat tenaga angkat bicara.


" Apa maksudmu sayang??? "


" Kau. . . apa kau sungguh sengaja mengabaikan ku selama dua bulan ini hah??? Apa yang kau lakukan? apa kini kau sudah sadar akan status mu sebagai tunangan ku??? atau kah kau baru ingat akan diriku??? "


Huh, Rasanya aku ingin sekali meremas wajahnya yang tampak datar tanpa merasa bersalah membalas tatapan mataku ini.


Perlahan ia menyentuh tangan ku dan di genggamnya dengan lembut.


" Fanny, maafkan aku. . . aku. . . aku sengaja mengabaikan ponsel ku, karena aku ingin fokus menyusun skripsi ku sayang. tapi apa kau tau bagaimana susahnya aku menahan rinduku padamu sayang. . . " Jawab nya kemudian dengan lembut menyentuh pipi ku.


Kau bohong Ammar jika kau mengabaikan ponselmu, berapa kali aku mencoba menelpon mu tapi panggilan mu selalu sibuk semenjak terakhir kau datang menemuiku.


Dan. . .


Cup !!!


Ammar mengecup bibirku di tengah lamunan ku yang berpikir terlalu dalam mengingat kembali, mengorek kembali. . . Bagaimana diriku yang selalu berusaha menelponnya, yang dia ucapkan sengaja mengabaikan ponselnya. Tapi nyatanya. . . panggilannya selalu sibuk di jam-jam tertentu.


" Aku sangat merindukan mu " ucap nya kemudian dengan menarik tubuh ku dan kembali mendekatkan wajahnya padaku, aku meronta mendorong tubuhnya seketika. Tampak dia sangat terkejut dengan sikap dingin ku ini.


" Ammar, kau. . . kau sungguh keterlaluan. Selama dua bulan kau mengabaikan ku tanpa kabar, sekarang kau tiba-tiba hadir dan begini semaumu??? Kau sungguh biadab " Jawab ku dengan amarah yang tak mampu lagi ku tahan.


" Sayang, sayang. . . plisss jangan begini, apa kau sudah tidak mencintaiku??? ok ok, aku salah aku sudah mengabaikan mu. Bukan kah aku sudah bilang sebelumnya padamu, aku akan sangat sibuk setelah KKN berlangsung. Aku mulai menyusun skripsi dengan fokus, karena aku. . . aku ingin tetap bertahan di predikatku Fanny, aku ingin lulus dengan nilai terbaik. Demi masa depan ku, masa depan kita juga nantinya. Aku sampai rela menahan rindu setengah mati dari mu sayang " Jelas Ammar meyakinkan ku tanpa jeda yang kemudian menarik paksa kembali tubuhku dan di peluknya dengan erat.

__ADS_1


Aku terdiam dalam pelukan nya dengan pikiran yang bertolak belakang.


Jujur, aku bahagia melihatnya hadir terlihat baik-baik saja. Dan berada di pelukannya seperti ini, ah. . . seketika membuat darahku berdesir hebat. Tapi di sisi lain. . . aku sungguh sangat ingin memakinya sepuas hatiku. Meski aku mulai mereda dari amarah ku, mengingat kembali ucapannya yang berjuang untuk masa depan kita. . . ah, aku. . . aku tidak tau harus bagaimana.


__ADS_2