
Hanya tinggal kami berdua di kamar ini. Hati ku semakin dag dig dug bergetar hebat, dan ku lihat Ammar juga sedikit kikuk.
Mata kami saling memandang, kemudian kembali saling salah tingkah. Bahkan aku menertawakan diri ku dan dirinya saat ini.
" Eh aku, aku ganti baju dulu deh ya. " Jawab ku memulai pembicaraan.
" Jangan dulu, eh maksud ku ayo makan dulu. Nanti keburu dingin makan malammu, jadi hilang selera nanti. Ayo duduk dulu di sofa, aku akan menyuapi mu."
Ammar menarik tangan ku, dan mengarahkan ku untuk duduk di sofa kecil yang tersedia di kamar ku. Kemudian Ammar meraih makan malam ku dan segelas air yang semula dia taruh tadi.
" Ayo, aa. . aaaa buka mulut mu Fanny. Ayo makan dulu. " Ammar memaksa menyuapi ku.
Tapi aku masih menutup rapat mulut ku, mengatupkan bibir ku dan menggelengkan kepala.
" Aku masih kenyang Ammar. Aku makan buah saja ya, " Jawab ku menolak.
" Eh apaan coba? Makan buah dengan perut kosong dalam keadaan masih tidak stabil kesehatan mu, makan dulu Fanny. Kau tidak kasihan kah pada ku, jika tante tahu aku gagal menyuapi mu makan malam yang banyak malam ini? Lalu tante akan berpikir aku tidak pantas jadi pendamping mu nanti, lalu kita akan semakin sulit untuk bertemu nanti. Apa kau mau kita seperti itu Fanny? " Tanya Ammar dengan wajah lesu menunduk, aku jadi tidak tega melihatnya.
Dipikir-pikir ini juga demi kesehatan ku kan?
__ADS_1
Akhirnya aku mau di suapi oleh nya, cukup banyak aku makan malam ini. Dan Ammar tersenyum menang di wajah nya, puas berhasil melihat ku makan dengan lahap.
Kemudian aku kembali berlari ke kamar mandi untuk menggosok gigi ku, padahal sebentar lagi juga bakal nyemil lagi. Pikirku,
Keluar dari kamar mandi, aku melihat Ammar sedang duduk santai di sofa mini ku, menikmati potongan buah yang dibawakan oleh ibu tadi. Dan menyeruput jus jeruk hangat, aku menghampirinya kemudian menyeruput jus jeruk hangat juga, ibu membawanya dua gelas yang sepertinya memang sengaja untuk kami berdua menikmati langit malam ini.
Masih dengan memakai handuk baju dan rambut ku yang terurai setengah basah,
" Ammar, kau tunggu lah sebentar di teras depan ya. aku akan pakai baju dulu, aku tidak nyaman memakai ini terus-terusan. " ucap ku pada Ammar.
Kemudian Ammar berdiri mendekati ku, aku mulai kikuk perlahan mundur. Dengan cepat Ammar menangkap pinggang ku dan memeluknya.
" Kau ingat sayang, kau pernah berjanji bahwa kau akan memakai piyama handuk ini ketika di hadapan ku langsung, apa kau melupakan tantangan yang kau buat sendiri ketika itu? " Tanya Ammar setengah berbisik di telinga ku. Hembusan nafasnya membuatku merinding sesaat.
" Sayang, kesempitan itu ada karena kesempatan yang membuka peluangnya. Haha, ayo lah.. Biarkan aku tetap melihat mu memakai piyama handuk ini, malam ini saja. Yah.. Aku janji, gak akan macam-macam. Lagian ini di kamar mu, ada om dan tante juga di luar kan? " Jawab Ammar meyakinkan ku.
Perlahan Aku mengangguk pelan, tanda setuju.
Ammar tersenyum puas lalu mengecup kening ku.
__ADS_1
" Makasih sayang, aku mencintaimu. "
Kemudian kami di kejutkan oleh suara jendela yang tertutup dengan sendiri nya di terpa angin, aku berlari hendak menutupnya rapat.
Ugh... Ternyata hujan turun sangat deras di sertai angin. Ammar menyusul ku yang kemudian aku berdiri di depan teras kamar ku.
Betapa sangat segar ku hirup angin yang menerpa di balik hujan yang deras ini. Aku memejamkan mata memeluk tubuh ku sendiri yang terbalut handuk sedaritadi. Sedikit hangat ku rasa, aku tersenyum sendiri menikmatinya.
Kemudian suara Ammar mengejutkan ku dari arah belakang.
" Apa kau kedinginan Sayang? " Sembari berbisik di telinga dan memeluk tubuhku dari belakang.
" Sedikit. Tapi aku menyukainya, aku menyukai pemandangan ini. Hujan yang turun dengan deras selalu memberikan angan yang indah untuk ku. Maka itu, aku tidak ingin melewatkannya. Apalagi berdua bersama orang yang ku cintai saat ini." Aku memeluk tangan Ammar kembali di pinggang ku.
" Kau selalu memancing getaran hati ku berubah jadi nafsu Fanny, aku sangat takut jika suatu hari nanti aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku lagi. " Jawab Ammar sembari mempererat pelukannya pada ku.
Aku berbalik menghadapnya,
" Emang dasarnya kau mesum dan nakal. Hahaha, " Aku meledeknya dengan tawa, dan mencubit gemas hidungnya.
__ADS_1
Membuat Ammar meringis menahannya, kemudian kembali memelukku dengan penuh cinta.
❤ Hai hai hai jangan lupa tekan like nya ya, Happy reading ❤