
Memang benar ya, pepatah bilang. Sepandai-pandainya tupai melompat ,pada akhirnya akan jatuh juga. Serapat mungkin kita menyimpan bangkai akan tercium juga. . .
Sepulang dari apartemen Tristan, semua amarah dan kecewa ku terhadap ucapan kedua orang tua Tristan sudah mulai reda. Aku sedikit bahagia lagi setelah Tristan menghiburku dengan banyak hal malam ini, bahkan kita sudah melakukannya lagi tadi. Sepertinya. . . aku sudah mulai kecanduan lagi dengan hal begituan.
Tiba halaman rumah ku, Tristan turun lebih dulu dan membuka pintu mobil untuk ku. Kemudian dia terus memandangi wajah ku dengan senyuman ketika aku sudah berdiri di hadapannya, dia mengecup mesra kening dan bibir ku dan aku membalasnya langsung.
" sayang, jangan sedih lagi ya. Aku mencintaimu " ucap nya kemudian.
" Aku juga mencintaimu Tristan, jangan pernah tinggalin aku sama seperti mantan tunangan ku dulu "
" Aku berjanji, tidak akan. Kita perjuangin cinta kita bersama sampai kapan pun ya, sampai kedua orang tua kita sama-sama merestuinya " ucap Tristan meyakinkan sembari memegangi kedua pipi ku di hadapkannya pada wajah nya begitu dekat.
Hingga terdengar suara teriakan yang kemudian membuatku sangat takut. . .
" FANNY !!! "
Seketika kami menoleh dan ku lihat Ibu sudah berdiri di teras memandang tajam ke arah kami. Ku dorong perlahan tubuh Tristan menjauh dari ku. . . Dengan sekunur tubuh gemetar aku menundukkan wajah ku.
" Tristan, mungkin ini sudah saatnya giliran ku meyakinkan ibu ku dan ayah akan hubungan kita " Ucap ku dengan bibir gemetar.
" Jangan takut, aku akan menemanimu Fanny. Aku yang akan berbicara dengan tante langsung "
Dengan langkah yang begitu tegas Tristan menggenggam tangan ku untuk menghampiri ibu ku di depan teras. Entah kenapa beliau tiba-tiba berdiri menunggu kepulangan ku di teras rumah. . . tak seperti biasanya.
Aaaarght. . . sial !!!
" Apa-apaan ini hah??? " tanya ibu ku dengan marah setelah melihat ku bergandengan tangan dengan Tristan tanpa ragu sedikitpun.
" Tante, aku mencintai Fanny. Mohon ijinkan kami menjalin hubungan sebagai kekasih " jawab Tristan kemudian dengan lantang.
Lama ibu terdiam tanpa suara, ku beranikan diri untuk menatapnya perlahan. Ku lihat tatapan ibu sungguh berapi-api. . .
" Bun. . .da. . . Fanny. . . "
__ADS_1
" Apa kau juga kini mencintainya Fanny??? "
Aku terdiam dengan anggukan pelan, dan. . .
PLAK !!!
Kembali sebuah tamparan ibu hadiahkan untuk ku tanpa ragu.
Sungguh, dalam hati bagai teriris pisau berapi. sangat perih ku rasa menyayat tanpa henti. Kenapa tuhan??? apa kali ini aku salah lagi mencintai seseorang???
" Tan. . .tante. . . tolong jangan menyakiti Fanny, aku yang seharusnya tante benci. Aku yang memintanya menerimaku sebagai pacar dan memohon padanya tante. . . " ucap Tristan dengan panik.
" Kau. . . tante memang sangat berterimakasih pada mu karena berkat mu juga Fanny berhasil kembali hidup normal. Tapi bukan berarti tante akan menyetujuimu sebagai kekasihnya ataupun suaminya kelak, tante tidak pernah menginginkan lelaki yang berbeda keyakinan sepertimu menjadi imam rumah tangga puteri ku. Dia anak perempuan satu-satunya, harapan kami. Terkecuali jika memang kau bersedia pindah keyakinan untuk Fanny, tante masih akan memikirkannya lagi. Apa kau paham Tristan??? "
" Tante. . . ku mohon, berikan kami waktu. . . "
" Sampai kapan hah??? sampai kapan??? bahkan kau sudah berani menyentuhnya, apakah sampai Fanny hancur dan merasakan sakit hati lagi seperti dulu hah??? "
" Diam kau Fanny !!! Masuk sekarang juga ke dalam "
Aku menggelengkan kepala ku, dengan tetap menggenggam erat tangan Tristan. Ini kali kedua ku lihat ibu sungguh kalap dalam amarahnya pada ku, dulu pun beliau demikian ketika aku bersama Ammar yang semata-mata bukan juga salah ku.
" Tante. . . aku janji, aku tidak akan pernah menyakiti Fanny sampai kapan pun " ucap Tristan lagi memaksa.
" Lalu, apa kau bersedia pindah keyakinan bersama kami hah??? bahkan sebelum pada akhirnya nanti kalian menjalani hubungan serius kau pun sudah harus berkeyakinan sama dengan kami "
Ini konyol !!! ini tidak adil. Sejak kapan hah??? sejak kapan aku mulai di atur untuk tidak boleh menjalin hubungan dengan lain keyakinan meski hanya sekedar pacaran??? apa ibu mulai se fanatik itu???
Aku masih terdiam dengan penahanan diriku, tapi. . . hatiku terhentak seketika, saat perlahan Tristan mulai melepas genggaman tangan nya dariku. Aku meliriknya dengan mata yang mulai memanas menahan untuk tidak terjatuh air mata ku.
" Tristan. . . kau. . . "
" Masuk lah Fanny, jangan mengecewakan ibu mu. Aku tidak ingin membuatmu menentang semua yang beliau inginkan darimu " Ucap nya yang membuat sekujur tubuh ku jadi lemah tak berdaya.
__ADS_1
" Fanny, masuk sekarang juga bunda bilang " Kembali ibu ku membentakku.
Aku sungguh muak dengan kondisi yang konyol seperti ini, cinta??? beda keyakinan? di tentang kedua orang tua? hah. . . kehidupan apa yang begini ini???
Lalu ku beranjak pergi berlari menuju kamar ku. Begitupun ibu menyusul ku dan menutup pintu membantingnya sekeras mungkin hingga terdengar oleh ku.
Entah bagaimana Tristan di luar sana mendapatkan perlakuan ini. Kenapa semua seakan penuh drama begini kisah ku. . . apakah ini mimpi buruk ku??? Hah. . . aku berharap begitu.
Aku berniat hendak tidur saja, berharap esok semua akan kembali indah. Ini pasti hanya mimpi buruk sesaat yang akan berubah indah kapan pun itu.
Tok tok tok. . .
Terdengar suara ketukan pintu kamar ku, aku beranjak lagi dan membuka nya. Ku lihat ibu kembali menatap ku dengan tajam memasuki kamar ku tanpa aba-aba lagi.
" Fanny, mulai besok bunda akan meminta ayah mu menyewa supir yang akan mengantarmu kemanapun kamu pergi. Dan kau, bunda batasi bermain diluar. Jangan coba kemana-mana tanpa seijin bunda. Mengerti??? "
" Kenapa sih bund, bunda jadi fanatik seperti itu??? ini bukan bunda yang Fanny kenal yang selalu bijak memberikan arahan dan nasehat untuk Fanny " Ucap ku memberanikan diri dengan tangisan yang kini sudah meluap.
" Apa yang kau harapkan dari seorang Tristan hah??? dari awal bunda kurang menyukainya. . . bukan kah bunda sudah memperingatkanmu berkali-kali. Jangan lebih dari sekedar teman biasa saja, jika lelaki itu berbeda keyakinan dengan kita. Termasuk Tristan Fanny. . . "
" Tapi kita baru saja berpacaran bunda. . . bukan menikah. . . "
" Tapi lambat laun ketika hatimu mencintainya begotu besar apakah rasa ingin menjadikannya suami tidak akan timbul??? Sadar lah Nak. . . kau puteri satu-satunya di keluarga ini, apa jadinya jika kau berpindah keyakinan dengan Tristan dan pada akhirnya sampai menikah. . . Kau. . . kau tidak akan lagi, bisa seenaknya menginjak kaki dirumah kami. Orang tua mu. . . itu sudah menjadi aturan dari keluarga kita. Mengerti lah. . . kami hanya ingin lelaki yang terbaik dan dari keluarga baik-baik, kami ingin melihatmu bahagia nantinya nak "
Hah. . . Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat bunda begitu keras melarangku berpacaran dengan Tristan. Tapi kenapa harus saat ini???
Disaat aku mulai jatuh cinta lagi, mulai merasakan indahnya bercinta lagi.
Ah, aku jadi teringat akan pesan Dini sahabat ku. Menjalin hubungan dengan lelaki yang berbeda keyakinan memang ribet dan hanya akan membebani kita. . . dan kini, aku sedang berasa di fase itu Dini. . .
Hikst. . .
Tangis ku pecah tak terhentikan lagi semalaman suntuk.
__ADS_1