BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh lima


__ADS_3

Satu bulan berlalu, aku kembali menjalani aktifitas rutin ku. Dengan mengajar di sekolah dan kuliah seperti biasanya.


" Fan, elu agak kurusan. . . apa begitu melelahkan kegiatan mengajarmu??? " ucap Dini padaku.


Aku terkejut mendengar ucapan Dini pada ku, Aku hampir tidak lagi memperhatikan sekujur tubuh ku dari saking sibuk nya aku beraktifitas.


" Ah, masa sih Din ??? Aku. . . aku tidak begitu memperhatikannya akhir-akhir ini " ucap ku dengan merogoh meraba kedua pipi ku.


" Aku jadi khawatir melihatmu Fanny. . . apa kau tidak minum vitamin, agar tubuh mu selalu bertenaga " Ucap Dini lagi.


" Aku baik-baik aja kok Din, hanya saja aku kurang begitu nafsu untuk makan beberapa minggu ini, malas ngapa-ngapain juga sih "


" Wah kau ini, apa Ammar menyuruhmu untuk diet??? hahaha " Dini mulai meledek ku.


" Yeee. . . kau ini, Ammar tidak suka melihatku kurus dia pasti akan memarahiku jika melihat ku begini. Beruntung, Ammar sedang sibuk. Kami sudah jarang menemuiku dalam satu bulan ini " Jelas ku pada Dini.


Dini mendengar ucapan ku dengan serius dan sedikit terlihat ada sesuatu yang dia bingungkan. Tatapan matanya seperti kosong. . .


" mmh. . . Fan, gue. . . gue mau kasih tau tentang Tristan ke elu. . . tapi pliss elu jangan pernah mikir yang enggak-enggak ya " Ucap Dini seperti ketakutan.


Aku menatapnya heran dengan mengerutkan kedua alis ku, ada apa dengan Tristan??? Ah. . . si cogan gramedia itu, sudah lama aku gak pernah lagi bertemu dengannya. Terakhir waktu badzar buku di sekolah tempat ku mengajar kan??? hmm. . .


" Tristan??? " Tanya ku.


" Iyaaa, si cogan gramedia itu. Huhft. . . sebenarnya gue cemburu sih. Mmh. . . dia sering nanyain elu ke gue setiap kali gue mampir kesana untuk beli buku, sepertinya dia suka deh ma elu " Jelas Dini dengan wajah sedikit manyun.


" What? Tristan??? suka ma aku??? Hahahahaa apaan sih Din, jangan ngaco deh " Jawab ku dengan tawa lepas.


" Tuh kan gue yakin elu pasti bakal ngetawain hal ini "

__ADS_1


" Ya gimana aku gak ngetawain hal ini coba??? secara aku dan Tristan cuma beberapa kali aja ketemu nya, itupun cuma dengan sapaan biasa Din. . . udah deh, lagian aku ini udah punya tunangan. Kalo besok-besok dia nanyain aku lagi bilang ya aku udah punya tunangan yang jaaaaaauh lebih dari segalanya cowok-cowok di kota ini " Jelas ku dengan sok PD.


" Huuuh. . . songong lu, hahahaaha " jawad Dini meledek ku dengan tawa. Yang kemudian di susul pula tawa ku.


POV Tristan


Hampir setiap hari Dini pergi ke gramedia tempat Tristan bekerja setiap hari nya. Dan entah sejak kapan, dia mulai hobby membaca komik. Karena Dini sering berkunjung ke gramedia tersebut, menjadikannya mulai akrab dengan Tristan.


" Hai Tristan " Sapa Dini


" Oh hai. . . mmh. . . Kamu. . .??? " Ucapn Tristan terhenti sejenak.


" Gue Dini. . . anak kampus sebelah " Jawab Dini mengingatkan namanya.


" Oh ya, Dini. Hehe wajah selalu gampang di ingat, kadang nama aja yang gak pernah terekam sengan baik dari saking banyak nya pengunjung disini, Maaf ya Din. . . " ucap nya yang kemudian clingak clinguk tolah toleh kanan kiri seperti sedang mencari seseorang.


" Elu cari siapa sih??? kebingungn gitu " Tanya Dini dengan heran dan ikut serta melihat sekeliling.


" Gue emang sendirian lah, karena gue emang masih jomblo " Jawab Dini dengan percaya diri.


" Hahaha. . . oh, itu mah aku tau. Yang aku tanyakan, mmh. . . teman mu si bu guru galak " Ucap Tristan dengan senyuman.


" Oooooh. . . elu nanyain Fanny, uuft. . . gue pikir elu mau nanya gue udah punya pacar apa belum. . . ih jadi malu GR duluan " Jawab Dini dengan wajah merah menahan malu.


" Upz. . . hahaha maafin aku Din, membuatmu salah paham gitu "


" iya gapapa. . . huuuuu. . . dasar. Lagian, ngapain elu nanyain Fanny??? Darimana juga elu tau dia berprofesi sebagai guru??? "


" Oh itu, gak sengaja sih aku ngadain badzar buku di sekolah tempatnya ngajar. Disitu kami sempat ngobrol, dia nya galak bener. Jutek, tapi jujur aku takjub. Dia sangat gigih dalam bekerja, sangat hangat pada murid-murid nya. Secara kan, mengajar murid-murid TK begitu butuh kesabaran ekstra. Tapi di balik sikap juteknya itu, kehangatan dan ke ramahannya pada anak didiknya sangat tulus ku lihat " Jelas Tristan panjang kali lebar sembari tersenyum kecil seolah membayangkan sosok Fanny yang baru di kenal nya.

__ADS_1


" Hmm. . . jangan bilang elu jatuh cinta ma sahabat gue ya " Ucap Dini meyakinkan.


" Ah. . . apaa sih, enggak. . . aku hanya ingin lebih mengenalnya saja. Gak lebih kok. . . besok-besok ajak kesini ya, hehe " Terlihat wajah Tristan yang memerah bak kepiting rebus di balik kulit wajah nya yang sangat putih mulus itu. Membuat Dini makin gemas memandang nya, walau di hatinya mulai bertanya-tanya benarkah Tristan menyukai Fanny sahabat nya itu. . .


Kalaupun benar Tristan menyukai Fanny sahabat gue, wah. . . keterlaluan lu Fan. Gue di salip kiri lagi, kapan dong akhiri masa jomblo ini. Hikst. . .


ucap Dini dalam hati.


Begitu lah seiring waktu berjalan terus, setiap kali Dini berkunjung ke gramedia, setiap kali itu juga Tristan selalu bertanya Fanny. Semakin membuat Dini yakin, jika Tristan memang menyukainya.


************♡-♡************


Dua minggu berlalu, aku melewati hari-hari dengan segala aktifitasku sampai akhirnya aku jatuh sakit karena kondisi tubuhku melemah dan semakin berkurang nafsu makan ku. Aku jadi terhenti sejenak dari kewajiban ku sebagai guru dan mahasiswi. Aku hampir setiap hari melewati sarapan pagi ku karena rasa mood ku untuk benar-benar suka hilang dengan sendirinya.


Dan kau tau, aku jadi lebih suka dengan buah-buahan yang rasanya lebih masam. Aku pun heran ini kenapa tiba-tiba.


" Sayang, badan mu demam. Makan lah sedikit, setelah itu minum obat nya ya " Ucap ibu ku sembari memaksaku untuk makan bubur isi sayuran buatan ibu ku, padahal itu salah satu makanan ampuh yang tidak bisa ku tolak ketika aku sakit sedari kecil. Tapi kali ini aku sungguh tidak ingin mencicipinya.


" Nanti saja bunda, Fanny sedang tidak ingin makan bubur. Fanny cuma perlu tiduran aja seharian setelah itu akan enakan kembali " Jawab ku dengan suara lirih terbaring dalam balutan selimut.


" Buburnya masih hangat loh ini, yakin di tolak??? " Tanya ibu lagi mencoba merayuku.


" Aaaah Bundaaaaa, Fanny gak mau maakaaan. Bawa saja ke bawah, nanti saat Fanny lapar Fanny akan ambil sendiri ke bawah ya " Jawab ku memalingkan tubuh bersembunyi dalam selimut tebal ku.


" Hmm. . . baik lah baik lah. . . kau istrahat saja jika begitu, dan perbanyak minum ya sayang. Bunda tinggal ke bawah dulu " Jawab ibu sembari mengecup hangat kening ku.


Setelah ibu berlalu keluar meninggalkan ku, aku jadi berpikir ingin mengabari Ammar saja. Bahwa aku sedang sakit beberapa hari ini.


Entah kenapa dia begitu susah untuk di hubungi beberapa hari ini. Sedang apa dia. . . ???

__ADS_1


Tanya ku dalam hati.


__ADS_2