
Disaat aku sedang bimbang dan bingung, Abel kembali mengiriku pesan singkat berulang kali tentang keberadaan Ammar di kost nya malam ini.
Aaaarght aku sudah muak. Ku pencet tombol untuk menelpon Ammar saat ini juga, tidak peduli Kevin berada di sampingku.
Tuuuuut. . . . tuuuutttt. . . .
Lama ku menelpon nomor Ammar belum juga di terimanya. Aku mengulang kembali hingga yang ke tiga kalinya. . .
Halo !!!
Akhirnya Ammar menerima panggilan telpon ku meski dengn jawaban yang sedikit cetus.
Ammar, kau sedang dimana? kenapa lama sekali menerima panggilan telpon ku sayang???
Aku masih berusaha berkata lembut dan menahan amarahku. . .
Aku sedang bersama Abel di kost nya. ada apa???
Degh !!! dia jujur. ntah karena memang jujur, atau ingin membuatku semakin marah.
**Pulanglah. . . jangan mengganggunya lagi, dia sudah memiliki pacar saat ini.
Apa ini saja yang ingin kau katakan??? Bukannya minta maaf atas kesalahan mu minggu lalu, kau masih saja salah paham. Aku disini tidak untuk mengganggu Abel, aku hanya menemaninya sebentar. Karena dia masih sakit**.
What??? menemani Abel??? jadi isi pesan Abel tadi padaku semuanya bohong, dengan bilang Andi menghiburnya saat ini???
Kau jangan gila Ammar, sampai kapan kau akan terus berpikir aku sengaja menyakiti abel dan membuatmu merasa bersalah begitu. Abel sudah memiliki Andi di sampingnya, kau tidak berhak lagi padanya. . . bagaimana bisa kau terus mengganggunya dengan berada di kost nya malam ini hah???
Mendengar ucapan ku ini, sepertinya kembali membuat Ammar kalap dikuasai amarah. Sementara Kevin hanya terdiam di sampingku seolah sedang merekam jelas obrolan ku dengan Ammar via telpon.
Fan, apa kau sedang merendahkan ku saat ini??? Apa kau menelpon ku hanya untuk berkata begitu??? Bahkan kau yang membuatku begini. . . kau masih saja keras kepala, tidak mau mengakui kesalahan mu.
Kenapa Ammar, kau terus mengulang perkataan mu dengan menyalahkan ku atas apa yang terjadi pada Abel waktu itu. . .
__ADS_1
Apa kau sungguh akan terus menyalahkan ku Ammar??? Kau tau, aku selalu ingin menanyakan hal ini padamu. Apa kau. . . sebenarnya menyukai Abel lebih dariku??? sehingga kau begitu peduli tentangnya dibandingkan aku tunangan mu.
Oooh jadi kau berpikir demikian??? setelah berapa kali ku jelaskan Abel hanya teman dekat ku saja. Karena kami selalu bersama dalam suka maupun duka dalam hal apapun juga selama ini.
Bukan jawaban itu yang ingin aku dengar Ammar, melainkan kejujuran hatimu. . . jika kau hanya menganggap Abel sebatas teman, kau tidak akan sedemikian khawatirnya.
Ammar, jawab dengan jujur. apakah hatimu Abel mempunyai tempat khusus selain aku??? apakah kau sungguh hanya menganggap nya teman tidak lebih???
Aku mulai gemetar menunggu jawaban dari Ammar yang terdiam cukup lama. Ntah apa yang saat ini Ammar pikirkan. . .
Jika aku bilang hanya sekedar mengagumi Abel sebagai wanita yang mandiri dan dewasa, Dia pintar dan tangguh tidak pernah merengek dengan masalah yang di hadapinya, tapi apa kau pun masih menganggap aku menyukainya hah??? Jika sekedar mengagumi saja kau anggap suka, oke. . . lanjutkan saja pikiran mu yang demikian. Memang susah membuat pikiran yang belum dewasa memaksanya untuk dewasa. Harusnya kau banyak belajar dari sikapnya ketika semalaman berada di kamar mu.
Jawaban ini yang ku tunggu selama ini Ammar, jawaban ini yang aku nantikanselama ini keluar dari mulut manismu itu. . .
Meski membuat hatiku benar-benar hancur detik ini, bibirku mulai gemetar kaki ku lemas.
**Baiklah Ammar, lakukan sesukamu saja. Jika kau masih ingin terus mengagumi wanita lain selain tunangan mu, aku ijinkan jika nyatanya kau memang tidak bisa menahannya. Teruslah kau seperti itu, lakukan sepuasmu. Kau memang tidak akan pernah bisa berubah Ammar. . . aku salah menilai kau akan benar-benar berubah, dengan tidak menghadirkan sosok abel dalam hubungan kita lagi.
Jadi kau mengancamku saat ini Fanny??? kau berani seperti itu??? Ok. Terserah setelah ini kau akan berpikir bagaimana. Aku sudah cukup menahan diri untuk tidak berkata kasar setiap kali kau berbicara tentang abel semaumu. Menilainya seperti wanita penggoda. . . Mulai detik ini kau bebas sesuka hatimu, tapi jangan pernah menyalahkan ku jika ucapan mu akan menjadikan ku untuk benar-benar menyukai Abel nantinya**.
Panggilan telepon ku diakhiri oleh Ammar begitu saja. Sedang aku. . . aku masih belum selesai berbicara padanya. apa aku terkesan mengancamnya malam ini???
Ku tarik nafas dalam-dalam, dan berbalik hendak masuk keruangan lagi. Aku ingin mengajak ayah dan ibu pulang saja. Aku ingin pulang. . . aku tidak mungkin terus berada disini dengan kondisi hati kacau seperti ini.
" Fanny tunggu " Kevin menghentikan langkahku ketika aku melewatinya begitu saja.
" Ada apa??? apa kau baik-baik saja dengan Ammar??? " Tanya nya dengan wajah heran.
" Maaf kak, aku ingin pulang. Aku akan kedalam untuk pamit dan mengajak ayah bunda pulang bersamaku "
" Ikut dengan ku. . . " Tiba-tiba Kevin menarik tangan ku dan berjalan mengikutinya, yang sepertinya hendak menuju taman belakang rumah kak Rendy.
Tiba di tempat, Kevin berdiri di hadapan ku. Menatap wajah ku dengan lembut, lalu kembali melempar senyumannya pada ku.
__ADS_1
" apa kau ingat tempat ini Fanny??? disini. . . di tempat ini kau pernah memutuskan untuk mengalah dengan perasaan mu ketika itu. Tapi pada akhirnya, kau tetap kembali menerima Ammar dan menjadikannya tunangan. Apa itu adil bagiku??? Andai saja kau memberikan pilihan secara langsung pada kami saat itu, mungkin aku. . . aku tidak akan menggila dengan terus memikirkan dan mengharapkan mu Fanny. . . "
Aku tertegun mendengar nya berbicara demikian. Kembali aku terbayang dengan semua yang sudah terjadi kala itu. . . aku masih ingat bagaimana Kevin yang tetap tenang dan selalu tersenyum menanggapi amarah Ammar yang sudah memuncak.
Seharusnya lelaki seperti ini yang aku pertahankan. . . bukan dengan bodoh kembali dan menerima Ammar dan menjadikannya tunangan ku saat ini.
" Fanny, apa aku sungguh tidak bisa memikiki tempat di hatimu??? walau sedikitpun itu. . . " Tanya nya lagi.
Aku menengadah menatap matanya, kami saling memandang satu sama lain. Mencoba memahami dan menelaah hati kami. . .
Dan kau tau. . . ntah siapa yang memulainya lebih dulu, tapi ini sudah terjadi begitu saja. Dan aku hanyut di dalamnya. . .
Kevin mengecup bibirku dengan lembut, dan ini terasa sangat hangat. . . bibir lembutnya terus mengecup lembut bibirku. Aku memejamkan mata ketika aroma nafas Kevin tercium oleh ku begitu memukau. . . wanginya. . . sangat lembut, membuat bibirku terbuka dengan sendirinya. Membuat Kevin lebih leluasa memagut lembut bibirku.
Aaah. . . ini manis sekali. . . ini sangat lembuuuut, aku suka caranya menciumi bibirku. . . tanpa sadar aku membalas permainan bibir nya di bibirku.
Ciuman ini, berhasil memecah pertahananku. . . aku suka ciuman ini, caranya sangat lembut. Berbeda dengan Ammar. . .
Ammar. . . oh tidak, apa yang ku lakukan saat ini??? Aku berciuman dengan Kevin. Fanny sadar !!!
Aku hendak mendorong tubuh Kevin yang sedikit jauh dariku, dan melepaskan diri dari ciuman bibirnya.
Namun seketika dia menarik pinggang ku untuk lebih dekat dan menempel pada tubuhnya yang sangat kekar dan tinggi tegap itu.
Dia masih menciumi bibirku dengan sangat lembut meski kedua tangannya telah menahan tubuhku dengan erat. Membuatku tidak ingin lepas dari bibirnya yang terus menciumiku dengan lembut.
Aaaaah ini gilaaaa, aku sudah gila. Kenapa aku malah semakin merasakan kenikmatan menjalar di sekujur tubuhku, manis. . . seperti sedang ku nikmati madu dari bibir Kevin.
Ini hanya ciuman bibir, tapi. . . aaah ini nikmat sekali. Tanpa sadar aku mengalungkan kedua tangan ku di leher Kevin, meski aku setengah menengadahkan kepala. Tapi sensasi ini lebih menantang, ketika kedua tangan Kevin sudah beralih memegangi kedua pipi dan leherku. . . menahannya seolah tak ingin aku melepaskan diri lagi dari lumatan bibirnya.
Ciuman bibir ini berlangsung begitu cukup lama, hingga nafas ku mulai tak terkendali. Sementara Kevin, nafasnya masih terdengar lembut berirama. Ku buka mata sejenak, melihat bagaimana ekspresi wajah sosok lelaki di depan ku ini, yang sudah dengan berani mencium bibirku.
Dia memejamkan matanya, Karena di taman ini cukup ada cahaya. . . sehingga dengan jelas aku bisa melihat lentik bulu matanya yang panjang seperti seorang wanita. Aaaaah membuatku iri saja, kembali ku kecup bibirnya dengan mesra.
__ADS_1
" Mmh. . . " Dia sedikit melenguh manja mendapati kecupanku di bibirnya.