BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Empat puluh sembilan


__ADS_3

Selama perjalanan aku mencoba menelpon nomor Ammar. Tapi tidak diangkatnya, aku semakin panik dibuatnya. Apakah ini tidak keterlaluan??? berulang kali aku menelpon dia tetap mengabaikan panggilan dari ku. . .


" Ayo lah Ammar. . . angkat telpon ku. . . jangan membuatku semakin khawatir " Ucap ku dengan kegelisahan di dalam mobil.


Yang ku pikirkan hanya satu, dia tinggal sendirian saat ini. Bagaimana dia bisa merawat dirinya sendiri, pola makannya ketika sakit begitu. Mengingat postur badannya beberapa bulan lalu begitu kurus. . . aku semakin tidak tega.


Aku terus mengulang panggilan telpon padanya masih saja terabaikan.


" Pak sopir, bisa cepat sedikit gak???" Ucapku pada pak sopir.


" Baik non, sabar ini bapak sudah lumayan cepat. Tapi jalanan di kota ini cukup ramai ya non ?" jawab pak supir.


Aku hanya tersenyum kecut di balik kegelisahan ku ini.


Sudah memasuki perkotaan Ammar tinggal, aku memberikan alamat apartemen ammar yang sebelumnya dia pernah berikan pada ku.


" Pak, ke alamat ini ya " Ucap ku sembari menyodorkan sebuah kertas berisikan alamat apartemen Ammar.


45 menit kemudian sudah tiba di alamat yang di tuju. Aku bergegas turun dari mobil tepat di halaman apartemen tempat Ammar tinggal.


Pak supir tampak kebingungan melihat sekeliling. . .


" pak supir, tolonh rahasiakan ini dari ayah dan bunda ya. dimana Fanny saat ini, pliss pak. . . fanny mohon "


" Ta tapi non. . . "


" Pliss pak. . . mohom bantu Fanny, ini mendesak "


Aku memohon pada pak supir dengan mata berkaca-kaca.


" Ba. . .baiklah non baik, saya tunggu disini atau bagaimana non??? "


" Bapak pergil aja dulu jalan-jalan atau kemana gitu, nanti kalau kurang uang dari ayah Fanny tambahin. Ok, yaudah pak ya Fanny masuk dulu " Ucap ku terburu-buru kemudian bergegas masuk.


Aku mencari-cari nomor kamar Ammar, yang kemudian bertanya pada seseorang kamar Ammar ada di lantai dua.


Gila ya tu orang, tetep aja cari kamar di tempat ketinggian. Pikir ku dalam hati


Akhirnya tiba di sebuah pintu sesuai dengan nomor yang Ammar pernah berikan pada ku.


Dengan kaki sedikit gemetar aku melangkah kemudian memencet tombol bel nya.


Sekali dua kali masih belum dibukanya pintu di depan ku, ku ulang kembali sampai lima kali ku memencet tombol bel nya masih tertutup rapat.

__ADS_1


Aku mulai menyerah dan berpikir bagaimana jika meminta tolong pada seseorang.


Kemudian. . .


Ceklek !!! Terdengar suara pintu di depan ku sudah di buka perlahan. Aku menghela nafas panjang ketika ku lihat Ammar dengan mata setengah terpejam wajah dan bibir pucat serta hidung memerah, aku tertegun diam tanpa kata melihat kondisi Ammar.


" Fanny. . . kau, ini beneran kau??? apa aku bermimpi??? " Tanya nya dengan wajah terkejut.


" Ini nyataaaaa. Kau membuat ku panik sedaritadi aku menelpon mu Ammar, bahkan kau lama sekali membuka pintu mu. Aku khawatir tau " Aku mengomelinya.


Dia tersenyum lembut mendengarkan ku mulai mengoceh.


" Maaf Fanny, tadi aku benar-benar merasa kepala ku sangat berat dan badan ku menggigil. Lalu aku tertidur begitu saja, lalu kau. . . kau bagaimana bisa jauh-jauh kesini dengan siapa??? " tanya nya dengan panik.


" Apa kau akan terus mengobrol dengan ku di pintu begini??? " Tanya ku dengan wajah lesu.


" Oh ya ampun maaf. Aku terlalu kaget melihat mu tiba-tiba di depan kamar ku. Masuk lah. . . eh tapi, maaf jika sedikit berantakan. Aku belum sempat merapikannya "


Tanpa mendengar aba-aba darinya panjang lebar aku mendahului masuk begitu saja.


Ku lihat sekeliling memang sedikit berantakan, tersedia satu kamar, satu ruang tamu yang jadi satu dengan dapur, dan juga sepertinya satu kamar mandi di dalam kamar Ammar.


Tak luas namun cukup mewah bagi nya yang hanya tinggal sendirian. Emang dasarnya terlahir dari keluarga kaya ya selamanya akan tetap terlihat kaya, pikir ku.


" Kau mau minum apa Fanny. . . biar ku pesankan saja, kebetulan isi kulkas lagi kosong minuman ringan " ucap Ammar mengagetkan pandangan ku ke sekitar ruangan ini.


" sepertinya sudah sedikit mendingan, hanya saja kepala ku masih berat. Aku tadi cuma sarapan mie aja dan sudah minum obat. Nih aku sudah tidak batuk-batuk lagi kan??? " Jawab Ammar dengan santai.


" aku akan memesan makanan atau cemilan untuk kau makan, lalu kau. . . berbaringlah. Biar ku kompres kepala mu. Hidungmu masih memerah Ammar, kau pasti masih flu berat " Sembari ku menarik tangannya, aku menuju ke suatu ruangan yang mungkin itu adalah kamar Ammar. Pikir ku dalam hati.


Aku membantu Ammar untuk merebahkan tubuh nya di atas kasur dan menyelimutinya, ku sentuh keningnya masih sangat demam terasa begitu panas di telapak tangan ku.


" Astaga, demam mu masih tinggi Ammar. Aku akan segera menyiapkan handuk untuk mengompres mu dulu. Kau diamlah disini, apa kau punya handuk kecil Ammar???"


Ammar hanya mengangguk dengan wajah polos sambil menunjuk ke sebuah kemari di samping kasur. Dan pandangan ku tertuju pada sebuah foto yang berdiri dengan bingkai indah di bawah lampu tidur kamar ini.


Betapa terkejutnya aku, ketika ku lihat dengan jelas. Itu adalah foto ku, yang entah kapan dia memotretnya diam-diam dengan gaya ku yang seperti itu, tertawa lepas. Sepertinya ketika kami masih pacaran. . .


Aku sengaja memalingkan wajah ku berpura-pura mencari kembali handuk kecil yang ammar tunjuk.


Kemudian aku segera membasahinya dengan air di baskom dan hendak mengompres Ammar.


Tapi. . . sepertinya dia tertidur lagi. Perlahan aku mendekatinya, dan mengompres kening ammar dengan pelan. Aku takut membangunkannya meski mungkin dia akan sadar dengan yang ku lakukan. . .

__ADS_1


Nafasnya masih terdengar sesak efek dari flu nya itu, matanya terpejam dengan rapat.


Ku pandangi wajahnya yang tertidur pulas itu. . .


Dia semakin terlihat kurus ku rasa, apa yang membebaninya selama ini sampai cukup menggerogoti badannya yang dulu sangat kekar berisi. . .


Aku terus memandangi wajah Ammar yang tertidur dengan wajah polosnya. . .


Ah tuhan. . . sudah lamaaa. . . rasanya, aku tidak lagi memandang wajah ini secara dekat. Jujur terkadang aku rindu dengan mata ini, hidung ini, pipi ini, dan. . . bibir mungil ini.


Oh astaga. Tidak, apa yang aku pikirkan ini. . . fokus Fanny, Fokus. . . jangan ngelantur dan berpikiran mesum begitu. Inget, kalian saat ini hanyalah teman. Teman baik yang susah payah terbangun selama 3 bulan ini. . .


Bathin ku bergumam dengan pikiran yang konyol. Aku terhanyut dengan lamunan ku memandangi wajah Ammar secara dekat. Ingin. . . meski ingin ku menyentuh pipinya. Tapi ku tahan, aku tidak ingin jika nantinya Ammar terbangun dan memikirkan hal yang aneh.


Kemudian suara bel terdengar, semakin mengejutkan ku saja.


Aaah sial, bikin kaget saja. Huh. . . pasti kurir pengantar makanan, pikir ku.


Setelah ku buka pintu memang benar seorang kurir mengantar makanan dan minuman juga beberapa cemilan yang ku pesan untuk Ammar tadi.


Lalu aku kembali masuk dan mengisinya di kulkas sebagian.


Sementara Ammar tertidur pulas, bagaimana jika aku membersihkan dan merapikan seluruh ruangan ini. Tidak seberap juga luasnya, jadi tidak akan membuat ku lelah bukan. . . pikir ku kemudian.


Setengah jam kemudian, aku sudah menyelesaikan semuanya. Begini lebih terlihat seperti berpenghuni pikir ku dalam hati, aku mulai lelah. . . dan meraih sebotol air mineral yang tadi ku simpan di kulkas.


Kemudian aku terduduk menghempaskan tubuhku di sofa, hah. . . nafasku sedikit tersengal-sengal.


Tak lama kemudian Ammar keluar dari balik pintu kamarnya itu, seketika aku berdiri melihatnya.


" Ammar, kau sudah bangun??? Eh. . . maaf, apa aku yang membangunkan mu??? Agak sedikit berisik ya? hehe. Aku hanya sedikit merapikan ruangan ini saja " Jawab ku gugup.


" Fanny, ku pikir aku masih bermimpi kau ada disini merawat ku yang sedang sakit. Bahkan kau membersihkan seluruh ruangan ini. . . Terimakasih Fanny "


" Hahaha apaan sih, kita kan teman baik. harus saling ada dan membantu satu sama lain kan??? Apa kau mau makan. . . ayo sini makan bareng yuk. aku sudah lapar nih " Ucap ku dengan sedikit manyun.


Ammar menertawaiku kemudian menghampiri duduk di dekat ku. . .


Degh !!! Tiba-tiba jantungku berdegub kencang dengan sendirinya.


Ya tuhaaaaan. . . kenapa masih saja berdegub kencang gini sih tiap di dekat Ammar.


Aku agak menjauh sedikit dari dekat Ammar, Ammar hanya tersenyum melihat tingkah ku.

__ADS_1


Dan entah ini jantung ku malah semakin berdegub kencang seakan sedang menari dan bernyanyi riang di dalamnya.


Berisik !!!


__ADS_2