BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sembilan puluh enam


__ADS_3

Aku berlari seketika menuju ke dalam rumah, aku yakin Ammar sudah pasti menungguku di dalam. Apakah dia sengaja tidak memberi kabar dahulu, ingin membuat sebuah kejutan untuk ku. Ah dia memang selalu mengesankan begitu. . . hihi


Setelah tiba di ruang tamu langkahku terhenti dengan nafas ngos-ngosan berlari barusan, ku lihat Ammar sudah duduk manis di temani ayah dan ibu.


"Ammar " panggil ku.


Dia menoleh nya dengan senyuman hangat. . .


" Selamat siang bu guru, kejutaaaaan. . . lama tidak berjumpa " Sapanya menyambutku. Yang di susul tawa riang oleh ayah dan ibu, aku mulai menghampirinya dengan wajah cemberut.


Seketika aku langsung memukuli tubuh kekarnya tak peduli ini di hadapan ayah dan ibu ku, aku sungguh kesal.


Bugh bugh bugh !!!


" Aw aw Fanny hentikan, kau menyakitiku, hahahaa ampun, om tante tolong Ammar. . . . Fanny, aw. . . hahahaa " Sahutnya dengan tawa menahan pukulan ku ini.


" Hey hey sudah sudah Fanny, kasian Ammar. Baru saja tiba sudah kau pukuli begitu, hihihi " ucap ibu ku menghentikan ku.


" Biarkan saja dia kesakitan, dia sudah membuat Fanny kesal seminggu terakhir ini bunda " jawab ku sembari terus memukuli Ammar.


" Nak, berhentilah jangan begitu Kasihan Ammar " jawab Ayah menyela kemudian.


Aku terhenti sejenak melihat wajah Ammar yang sudah memerah meringis menahan pukulan ku. Kemudian dia tersenyum geli pada ku. . .


" Maaf Fanny, aku sengaja mengerjaimu dulu "


" Kau. . . !?! " aku kembali hendak memukulinya lagi, tapi ku tahan karena ayah dan ibu masih disini. sudah pasti akan membela Ammar lagi. uuugh. . .


" Sudah, kau ganti baju mu dulu sayang. setelah itu kembali turun temani makan siang Ammar " ucap ibu ku lagi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama lagi aku langsung bergegas menaiki anak tangga dengan setengah berlari untuk segera mengganti pakaian ku.


Tiba di kamar aku tergesa-gesa, hendak langsung mengganti baju santai. eh ku cium bau badan ku sudah bau keringat, lebih baik mandi saja dulu. Hari ini aku akan meluapkan segala kerinduan ku pada Ammar. . .


Hah. . . rasanya, sudah tidak sabar ingin bercumbu mesra dengannya. Aku rindu kecupan mesra bibirnya itu. . . pikiran ku mulai melayang lagi. Ah. . . aku sudah benar-benar menggila.


Selesai mandi dan berbenah diri merapikan segala pakaian dan polesan yang ku pakai hari ini, aku bergegas turun yang dengan sengaja ku pakai celana pendek dan baju kaos oblong ketat untuk menarik perhatian Ammar yang sudah cukup lama kami tidak bertemu.


Setelah itu kami lanjut makan siang, ku lihat Ammar hanya sesekali saja melirik ku dengan tatapan genit.


Ini tidak seperti biasanya, berbeda dari sebelumnya. Biasanya, melihatku berpenampilan seperti ini dia akan mencuri-curi kesempatan untuk genit pada ku tapi kali ini. . . ah jangan berpikir negatif dulu Fanny, mungkin saja Ammar jaga sikap melihat ayah dan ibu sedang ikut menemani makan siang bersama kami.


Setelah makan siang usai, aku dan Ammar hanya tinggal berdua saja. sepertinya ayah dan ibu sengaja menjauh untuk memberikan kami kesempatan waktu berdua.


" Ammar, jalan-jalan yuk. Kemana gitu, yang penting kita bisa berduaan " ujak ku dengan manja memeluk lengannya.


" Sayang, sore nanti aku akan langsung pulang. Kapan-kapan aja ya, aku masih ada kesibukan lain " jawab nya menolak.


" Sayang, mengerti lah. lain kali saja ya, hari ini kita dirumah aja "


" Iya deh iya. . . gapapa, tapi main di kamar aku yuk. hehe "


" Ssst. . . jangan dulu, kita di halaman belakang aja ngobrol yuk. gak enak ada om dan tante " jawab nya setengah berbisik.


Apakah ini sebuah penolakan halus dari nya??? ah. . . ini sungguh membuatku malu dengan sikap ku, apa aku kali ini lebih agresif padanya??? aaaaaaarght. . . kenapa Ammar bersikap demikian? apakah dia bosan padaku??? atau. . .


" Ammar, apa kau tidak ingin melakukannya lagi??? " tanya ku dengan berani.


" Ssst. . . pelankan suara mu Fanny, nanti tante dan om dengar " jawab nya menggertak ku pelan.

__ADS_1


" iya maaf, habisnya. . . kau berubah "


" Ayo lah, jangan mikir macam-macam lagi. Yuk ngobrol di halaman belakang saja, seperti biasa " jawab nya sembari menarik tangan ku untuk mengikuti langkahnya menuju halaman belakang.


Dengan berat melangkah aku menurutinya, otak ku mulai di serang dengan banyak pertanyaan gila.


Kenapa Ammar. . .??? apa kau sungguh sudah bosan? atau kau. . . sudah tak lagi merasakan rindu berat pada ku? atau kau. . . sudah mulai perlahan ingin menghindariku??? atau. . . kau sedang ingin membangun hubungan yang sehat dengan ku setelah ini???


Bahkan tiba di halaman belakang, Ammar tak sedikitpun menyentuh ku dengan mesra seperti dulu. justru aku yang selalu memulainya lebih dulu, mengecup pipi dan bibirnya. Bersandar manja padanya. . .


" Ammar. . . " panggil ku dengan memandang wajah nya.


" Ya sayang, kenapa??? " jawab nya dengan membelai lembut rambut ku, tapi. . . entah kenapa tatapan matanya selalu berusaha menghindariku.


" Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ku Ammar??? " Tanya ku dengan suara lirih. Ammar tersenyum paksa padaku. . .


" Apa aku terlihat demikian sayang??? " Dia melempar balik tanya padaku.


" He'em " jawab ku singkat menganggukkan kepala.


" Fanny, aku tetap selalu mencintaimu. Tidak akan pernah berubah, kau adalah wanita tersabar yang pernah ku temui. Sabar lah sebentar. . . semua akan kembali seperti biasanya, kita akan menikah " Jawab nya dengan lembut penuh kehangatan.


Mendengar ucapannya yang begitu meyakinkan ku, hatiku luluh kembali. Ku tepis jauh-jauh pikiran negatif ku semula, demi dia yang ku cinta.


" Aku mencintaimu Ammar, aku akan selalu menunggu hari bahagia itu datang dari mu. Hari dimana kau akan menjadi suami ku kelak " jawab ku dengan mata yang mungkin sudah mulai berkaca-kaca menatap wajahnya itu.


" Terimakasih sayang, aku juga mencintaimu "


Rasanya aku ingin memeluk erat tubuhnya, yang lama ku rindukan. aku ingin menciuminya saja, tapi hasrat ini ku tahan sekuat tenaga ku. Sepertinya. . . Ammar pun sama, sedang menahan diri untuk tidak berbuat lebih padaku kali ini. Entah apa alasannya, dulu. . . bahkan sedetik rasanya dia sudah tidak mampu untuk tidak menyentuh seluruh tubuh ku.

__ADS_1


Ammar berubah. . . aku suka, aku lega dia begini. Tapi. . . entah kenapa aku merasa ada yang menggajal di hati. Semoga ini hanya firasat burukku. . .


❤ Hai hai readers setia ku, jangan lupa like nya ya. Plissss aku butuh vote kalian juga untuk karya ku ini berada di ranking terbaik minggu ini. . . ayo dong ayo dong, agar aku lebih semangat up episode lebih dari 2 dalam sehari nya, makasiiih ❤


__ADS_2