
Mengingat aku yang belum sarapan tadi pagi, kak Rendy mengajakku nongkrong di sebuah restoran mahal yang tentunya masakannya di buat khusus oleh chef-chef terkenal.
"Kak Rendy lagi menang lotre nih," Aku meledeknya.
Kami sudah duduk di sebuah meja untuk memesan beberap makanan dan minuman di restoran ini.
Seorang pelayan wanita cantik dan muda menghampiri, sontak ka Rendy mulai beraksi menggodanya.
Ya ampun, kebiasaan kak Rendy gak pernah berubah. Ujarku dalam hati.
Kevin hanya tersenyum dan menggelengkan kepala menyaksikannya kemudian pandangan matanya mengarah padaku yang mulai menggerutu melihat sikap kak Rendy itu.
" Fan. Kamu cantik banget hari ini, kak Kevin jadi terkesima loh. Jadi makin cute aja dengan penampilan mu hari ini. " ucap Kevin kemudian.
Aku tersipu malu, salah tingkah dan gelisah mendengar ucapannya, aku jadi terus menahan malu.
" Ehm, makasih kak Kevin. " Jawab ku dengan kikuk.
" Ehhem. Ingat Vin. Inget.. Adek gua udah punya pa-car. " kak Rendy mengucapkannya lagi.
" Iya gua tau. Kan cuma muji doang." Kevin membalas dengan ekspresi sedikit kesal.
"Cuma muji doang tapi telinga lu keliatan merah, hahahaha.. " Kak Rendy kembali meledeknya.
Aku terdiam sesekali tersenyum nyengir melihat mereka begitu.
Mmh.. Kevin ini typikal cowok yang humor, dan selalu terbuka, jika sesuatu itu menyenangkan buatnya ya dia katakan suka. Jika tidak, dia langsung bilang tidak. Yang begini ini biasanya banyak fans nya, karena gak suka memberi harapan palsu sehingga banyak yang terluka oleh sikapnya.
Tanpa sadar aku terus memandang wajahnya yang kalau tersenyum itu, sangat manis dengan ciri khas gigi gingsul nya.
Aduuuh, meleleh rasanya ketika dia tersenyum pada ku.
" Fanny, ada apa? Hey.. " Kevin memanggilku membuyarkan lamunan ku tentang nya. Ku lihat dia sampai mengerutkan keningnya menatap ku.
" Ah, ehm, aaa.. apa kak? Kak Kevin berbicara padaku daritadi? " Lagi-lagi aku menjawabnyadengan kikuk.
Aaah.. sial!!
Fanny, kau ini. Ingaaaaat kata kak Rendy, kau sudah punya pa-car.
" Enggak. Cuma, daritadi kau melamun saja. Apa yang kau pikirkan? " Tanya Kevin.
" Haha, ah enggak kok kak.. Cuma lagi mikir sesuatu aja." Jawab ku
" Apa yang kau pikirkan Fanny? Apa kau ada masalah dengan pacarmu itu? " Tanya kak Rendy kemudian.
" Hmm.. Ya.. Ah, udah ah jangan di bahas lagi, lama banget ya kak makanannya datang? Fanny udah lapar banget ini." Jawab ku mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Padahal sedaritadi aku terhanyut dalam lamunan tentang senyuman Kevin yang manis itu, eh malah ngomongin si Ammar. Membuatku jadi kesal inget dia lagi.
Aku bergumam dalam hati.
" Fan, sudah izin sama Ammar kalau hari ini kamu seharian akan menemani kakak jalan-jalan ?" Tanya kak Rendy lagi.
Aku menggelengkan kepala dengan ragu, karena nyatanya enggak kan.
Upz.. Aku terlalu jujur !!
" Ngapain harus ijin segala, kan baru pacar. Jangan seolah merasa di kekang dalam suatu hubungan, gak baik. " Kevin nimbrung tiba-tiba.
" Iya juga sih, hahaha. Fanny, kamu yakin memilihnya jadi pacarmu saat ini? Bukannya kakak gak senang, hanya saja kakak kurang begitu suka dengan nya. Entah lah kenapa dan apa alasannya, kakak harap kamu gak terlalu cinta dan serius pacaran sama dia, apa lagi hubungan kalian jarak jauh begini. " Ucap kak Rendy dengan candaannya yang serius.
" Iya bener tuh, lagipula gak semua cowok bakalan betah pacaran jarak jauh begini. Hahaha.. " Ucap Kevin kembali sembari tertawa meledekku.
Seakan hatiku mulai memanas, mendengar ucapan dari dua lelaki di hadapan ku ini. Antara aku tidak suka mendengar mereka mencerca Ammar, atau aku memang merasa jika semua ucapan mereka benar.
Aku mulai menghela nafas panjang, mata ku mulai berkaca-kaca.
Beruntung seorang pelayan datang membawa beberapa makanan dan minuman yang sudah kami pesan sehingga aku bisa menyembunyikan kegalauanku ini.
" Woh.. Makanan tiba, cusss kita nikmati. Jangan lagi ngomongin Fanny atau pacar Fanny segala, Fanny lapar, Fanny ingin happy-happy hari ini bareng kalian. Oke, yuk ah makan. " jawab ku ngoceh tanpa menatap wajah mereka lagi, aku sengaja menyibukkan diri untuk mencicipi beberapa makanan yang telah siap, tak ingin rasanya mereka semakin menyadari kegundahan hati ku hari ini.
" Dasar tukang makan, haha.. Ya sudah makan yang banyak ya kalau kurang nambah lagi. " Jawab kak Rendy meledek ku.
**************♡-♡*************
1 Jam berlalu, aku menghabiskan semua makanan hari ini dengan lahap dan benar-benar kenyang sampai rasanya kancing celana ku hampir terbuka dengan sendirinya.
Tapi aku mulai merasa sedikit mual dan kurang nyaman di perut ku, ini gara-gara aku makan terburu-buru dengan lahap tadi.
"Fanny ke toilet sebentar ya, " Aku berlalu pergi dengan terburu-buru menuju toilet.
Tanpa sadar meninggalkan ponsel yang sedaritadi aku mainkan dan berselfie ria bareng kak Rendy dan Kevin, karena ini kali pertama aku makan di restoran mewah.
15 menit waktu yang cukup untuk ku berada di toilet, mengapa tidak?
Selain membersihkan diri, membuang segala kotoran di perut. Lalu kembali merapikan pakaian, rambut, poles make up lagi, dan tak lupa semprot-semprot spray cologne favorit aku.
Hmm... Aku mencium aroma tubuh ku sendiri dan menatap sekujur tubuh ku di depan kaca toilet.
Ku rasa sudah cukup kembali fresh, ucapku pada diri sendiri.
Aku keluar dari ruangan dan betapa terkejutnya aku melihat Kevin sudah berdiri menunggu ku di luar.
" Kak Kevin, kok disini? " Tanya ku heran.
__ADS_1
" Iya, Rendy memintaku menyusulmu. Karena kau begitu lama di toilet, Fan.. Apa kau baik-baik saja?" Jawab Kevin dengan eskpresi cemas.
" Astaga. Hahaha, iya sory kak, tadi emang sedikit mual dan rada nyeri di perut. Mungkin karena tadi aku makan terlalu terburu-buru kak, hehe.." Jawab ku sembari tersenyum nyengir.
" Apa kita perlu ke dokter Fanny? Ayo ke dokter saja dulu." Kevin makin terlihat panik dan khawatir.
" Hais.. gapapa kak, udah enakan. Nih lihat aku kembali fresh dan segar bugar." Sembari ku memutar mutar badan di depan Kevin, seketika Kevin mencubit gemas hidungku.
Aku tertegun kaku.
Oh my God, Kevin ini...
" Eh sory Fan, kakak jadi reflek lihat tingkah kamu yang selalu ngegemesin itu. " Seolah Kevin menyadari ekspresi ku yang tertegun kaku. Dia terlihat gelagapan minta maaf pada ku.
" Hahaha iya kak, gapapa kok. Yuk ah, nanti kak Rendy makin khawatir. " Ajak ku sembari berjalan yang kemudian di susul oleh Kevin.
Sejujurnya, aku sedikit gemetar dan salah tingkah ketika Kevin mencubit gemas hidungku tadi.
Ah, entah kenapa aku jadi merasa berdosa pada Ammar. Tapi mengingat kembali sikap Ammar malam tadi, aku masih merasakan sakitnya.
Aku terus berjalan dengan terburu-buru untuk menghindari jika mungkin Kevin mengejarku, dia akan melihat ekspresi ku ini.
Tiba di meja tempat kami duduk kembali, kak Rendy langsung menegurku.
" Fanny, kemana aja daritadi lama banget.. Kakak sampai khawatir tau, apa saja yang kau lakukan di toilet tadi, hah? " Tanya kak Rendy dengan nada marah.
" Iya iya ampun kak. Iiih kakak nih kayak gak ngerti aja, cewek itu emang selalu lama kalau udah ke toilet umum seperti ini... Hehe, tadi emang rada mual sih sama nyeri di perut."
" Ayo kita ke dokter dulu kalau gitu, kakak gak mau kamu kenapa-napa. "
" Tadi udah gue tawarin Rend, tapi dia menolaknya. Katanya udah sehat segar bugar tuh adik lu. " Ucap Kevin menyela.
" Ya sudah kalo gapapa, nih cowok kamu nelpon tadi." Ucap kak Rendy kembali sembari memberikan ponsel ku yang tertinggal di meja tadi.
" Ammar telpon? " Tanya ku terkejut.
Seketika ku raih ponsel dan membukanya, dan Ammar mengirim pesan singkat.
Bagus ya, bukannya menyadari lalu minta maaf malah asyik jalan-jalan bareng cowok lain.
Ku baca pesan dari Ammar dengan mata terbelalak. Rasanya tak percaya dengan apa yang aku baca ini.
Dengan cowok lain yang dia maksud ini siapa???
Bukan kah aku bersama kak Rendy saja, sekalipun ada Kevin ini bukan alasan. Bahkan kami berjalan bertiga, Rendy ini kakak ku.
Astaga Ammaaar.. Kau benar-benar keterlaluan menuduhku.
__ADS_1
Brengsek !!!