
Seminar hari ke dua sekaligus hari terakhir acara ini berlangsung. . .
Aku sangat mengantuk, berat rasanya ini mata dan kepala ku setelah hampir semalaman Dini memaksaku, mengancamku, menganggu tidur ku, dan benar-benar menggila di kamar agar aku menceritakan semua awal mula hingga kini tentang aku dan Ammar.
Pada akhirnya aku terpaksa menceritakannya mengulang kembali ingatan kenangan ku bersamanya, pagi ini mata ku sembab karena tangisan semalam ku luapkan segalanya di kamar. Begitu juga dengan Dini, teman dekat ku. Dia sampai menangis tersedu-sedu berguling-guling di lantai layaknya anak kecil. Dia lebih sedikit lebay dari ku atau memang sikapnya yang terlalu seperti anak kecil.
Aku berjalan dengan lunglai, dengan mata sedikit sembab setengah melek berjalan bergandengan sengan Dini menuju aula.
Hendak memasuki pintu ruangan, seseorang menyodorkan segelas cup kopi susu di depan wajah ku dengan tiba-tiba.
Kyaaaa !!! Aku terkejut menghentikan langkahku dengan memejamkan mata ku. Hampir saja aku menabraknya dengan wajah ku ini. . .
Siapa. . . siapa yang sengaja memberinya pada ku.
Aku menggerutu dalam hati. . .
Sedang Dini sudah ***-remas tangan ku terus daritadi.
" Ini, minumlah dulu. Kau terlihat lelah dan mengantuk pagi ini "
Aku menoleh seketika, ku lihat. . . Ammar menyodorkan segelas cup kopi susu padaku.
Aku menghela nafas panjang menatapnya.
" Makasih. Tapi aku tidak terbiasa minum kopi saat pagi " Jawab ku cetus.
" Fanny. . . jangan keras begitu, ambil saja. jika kau tidak mau, biar aku yang meminumnya " ucap Dini berbisik.
Aku menatapnya dengan mata melotot, Dini ketakutan.
" Cobalah kali ini saja, tidak baik menolak rejeki pagi hari. Dan lagi mana bisa kau akan fokus jika dengan mata mengantuk begitu " Ucap Ammar dengan dingin sembari memberikan cup kopi tersebut di genggaman ku.
Lalu berjalan lebih dulu begitu saja,
" Ammar, kau. . . tolong jangan bersikap sok baik dan peduli lagi padaku. Dalam hal terkecil apapun itu, Jangan membuat ku tidak nyaman berada di kampus ku sendiri ".
" Kau bisa membuangnya jika tidak mau " Ucapnya dingin.
Cih. . . apaan coba, ini seperti di drama korea saja. Tapi. . . sikap Ammar sungguh telah berubah, dia menjadi sosok lelaki yang selalu dingin dan cuek sekarang. Siapa yang membuatnya demikian. . .???
" Fan, beneran gak mau nih??? Buat aku saja kalo gitu hehe " Ucap Dini membuat ku geli menahan tawa.
__ADS_1
Kemudian kami masuk ke ruangan yang sudah di penuhi para mahasiswa dan tamu-tamu undangan lainnya.
Sengaja aku memilih duduk paling belakang dengan Dini, untuk menghindari kalau nantinya rasa kantuk benar-benar tak tertahankan lagi.
Sedang berlangsung acara di mulai, Dini berbisik memulai beraksi lagi sifat kepo nya itu.
" Fan. . . gimana perasaan elu dapat perhatian pagi-pagi dari sang mantan??? hihi, aku aja berdebar loh sebagai penyimak " Ucap Dini cekikikan berbisik.
" Kesel malahan, dia begitu hanya sengaja mencari perhatian ku saja. Aku sudah tidak peduli lagi " Jawab ku kesal
" Jangan terlalu keras begitu padanya Fanny, Aku bisa melihat dari caranya menatapmu. Dia masih sangat mengharapkan mu, wajahnya selalu berekspresi dengan rasa pedih yag mendalam. Kasian tau. . . "
" Ah. . . sok tau aja, nona tomboy. . . jomblo akut aja sok tau perihal perasaan, hahahaha" jawab ku meledeknya.
" Dan kau. . . kau pun sama kan Fan, dari lubuk hatimu yang terdalam. Kau masih begitu sangat mencintai Ammar, bahkan mungkin. . . kau memang masih berharap suatu hari akan bertemu kembali dengan nya. Iya kan Fan??? " tanya Dini lagi.
Aku. . . aku terdiam dengan pertanyaannya itu. Aku tidak tau harus menjawab jujur atau tidak, tapi apapun itu semua hanyalah kenangan dan masa lalu. Aku selalu berpikir pantang bagiku untuk balikan lagi dengan mantan. Apapun keadaannya. . .
" Fan. . . Fanny. . . Woey " Dini mengejutkan ku yang terhanyut dalam lamunan.
" Ih apaan sih, gak. aku sama sekali gak mengharapkannya lagi " Jawab ku cetus.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk beristrahat sejenak. Aku mengajak Dini untuk pergi ke kantin sejenak, tapi Dini menolaknya ntah apa alasan dia.
Putar balik Fanny, ayo putar balik jangan terus maju dan kembali berpapasan dengan Ammar. Bujuk hati ku,
Dan bodohnya aku yang mufsh saja mengikuti apa yang di perintah oleh hatiku.
Aku memutar balik tubuh ku lalu setengah berlari aku mempercepat langkah ku ini.
Tapi. . . ini memang benar-benar seperti di drama korea bagiku. Ammar berhasil meraih tangan ku dan menariknya dengan kasar untuk berjalan mengikutinya, sepanjang lorong kampus dia menarik tangan ku terus dengan kasar untuk terus mengikutinya dari belakang.
" Ammar. . . apa-apaan kau ini??? Lepas. Semua orang sedang melihat kita Ammar, kau gila. . . kau gila Ammar "
Ammar terus berjalan menarikku tanpa mendengarkan keluh ku, cengkraman tangannya benar-benar menyakiti pergelangan tangan ku.
Ammar terus menarik ku hingga kembali aku berada di aula. Yang di dalamnya kini hanya ada aku dan Ammar.
Gila. . . ini gila, kenapa aula ini sungguh sepi di jam istrahat begini. Sekarang apa??? Apa lagi yang akan dilakukan Ammar??? Oh tuhan. . . seseorang. . . tolong aku. . .
Aku berteriak memohon dalam hati meski hanya Tuhan yang mendengarnya.
__ADS_1
Aku menghempaskan tangan Ammar dari pergelangan tangan ku,
Ammar terkejut dan menatapku dengan tajam.
" apa lagi ini Ammar??? kenapa kau terus saja menggangguku di kampus ini hah??? ini kampus ku. Kau tidak bisa semena-mena begitu, jangan membuat ku malu di kampus ini, Brengsek kau Ammar " Aku terus berbicara dengan nada marah dan memakinya.
Ammar hanya terdiam kaku menatap wajah ku yang penuh amarah ini.
" Kenapa Fanny, Kenapa kau selalu berusaha menghindariku??? Apa kau benar-benat sudah tidak ingin melihat ku lagi di kehidupanmu??? " Tanya nya dengan nada tinggi.
" Kenapa kau terus menanyakan hal yang sama Ammar??? Kita sudah putus. Jangan membahasnya lagi, semua sudah berlalu. . . jangan lagi menyiksaku " Aku mulai membentaknya dengan nada yang lantang.
Ntah lah. . . kenapa aku begitu tidak bisa menahan emosi ku ini.
Aku menatap wajah Ammar yang mulai lesu menatap wajah ku semulai tadi.
Aku memalingkan wajah ku dan mencoba melangkah melewatinya untuk keluar dari aula ini. Aku tidak ingin orang-orang di kampus ini semakin beroikir yang aneh-aneh. Selama aku belajar di kampus ini, aku selalu menolak dan menghindari kontak mata dengan lawan jenis.
Entah lah. . . rasanya aku masih belum siap untuk memulai suatu hubungan lagi dalam hal pacaran.
Ammar menarik bahu ku lagi. . . aku melangkah mundur dan kembali saling berhadapan dengannya.
Dan kau tau. . . Ingin rasanya aku menggila melihat sikap Ammar begini.
Ammar bersimpuh di hadapanku dengan wajah tertunduk lesu.
" Ammar, kau. . . apa lagi yang akan kau lakukan??? bangun gak??? jangan lebay gitu. Kita bukan anak ABG lagi Ammar " Aku terkejut dan semakin memarahinya.
" Fanny. . . ku mohon, berhenti menghukumku seperti ini. . . jangan selalu berusaha untuk menghindari ku lagi. . . hatiku sakit melihatnya Fanny. . . aku mohon. . . " Ucap Ammar dengan suara serak.
Oh tuhan. . . kenapa. . . kenapa dia sampai memohon seperti itu. . . aku. . . aku tidak tega melihatnya demikian. . . apakah aku sudah keterlaluan. . . Ah tidak tidak. Kuatkan aku, untuk tidak mudah goyah lagi.
" Ammar, apa kau sengaja melakukan ini semua untuk membuat ku malu di kampus ku sendiri hah??? " Cepat bangun Ammar jangan membuatku lebih marah lagi ".
" Katakan satu hal Fanny, jujur padaku. Apakah di hatimu, namaku benar-benar telah kau bunuh??? " Tanyanya lagi. seakan mampu membungkam mulutku yang sedaritadi terus menggertakkan gigiku.
Lama aku terdiam. . . hatiku sesak, mataku mulai memanas. Oh tuhan. . . jangan sampai menangis. Kuat. . . kau kuat Fanny.
Haaaah. . . ku tarik nafas dalam-dalam. Hatiku berbicara. . .
Namamu masih duduk manis di tempatnya dalam hatiku Ammar. Belum tergantikan, dan mungkin tidak akan pernah tergantikan. Tapi. . . biarlah hanya aku dan tuhan saja yang mengetahuinya. Sungguh aku tidak ada niat menghukummu demikian, aku bukan Tuhan Ammar. Hanya saja. . . hatiku belum yakin dan siap, aku selalu menghindarimu karena aku takut mulai terhanyut kembali dalam kenangan masa lalu kita. Sehingga hatiku kembali goyah, meski kau telah berubah dingin saat ini. Tapi ntah kenapa, getaran di hati ini tetap kuat saat melihatmu.
__ADS_1