BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#145


__ADS_3

" Aku sangat senang sayang, kau menjawab bersedia menjadi istriku di hadapan semua nya tadi ". Ucap Kevin sembari tersenyum penuh kebahagiaan dalam perjalanan kami pulang.


" Vin, aku. . . maksud ku tadi. . . "


Kevin menoleh pada ku dengan senyuman yang rasanya. . . tak mungkin jika aku mengecewakannya dengan jawaban ku. Aku memang bersedia menikah dengan nya namun, tidak secepat yang dia inginkan saat ini. Apa lagi, mengingat mamanya tadi. . . ah aku jadi merasa sesak lagi di hati.


" Sayang, baru jam 9. Apa langsung mau ku antar pulang??? "


" Ehm, aku masih ingin kau temani " jawab ku merengek. Tiba-tiba aku teringat tebing tempat Tommy pernah membawa ku. Ah Tommy. . . aku jadi rindu. Bagaimana kabar nya setelah lama dia pindah dari kota ini dari kabar yang terakhir ku dengar.


" Sayang, gimana kalau kau antar aku kesuatu tempat. Kau pasti suka ". Jawab ku dengan penuh antusias.


" Ehm??? sungguh??? baik lah kita kesana sekarang ".


Kemudian Kevin dengan cepat melajukan mobilnya sembari menuruti arah petunjuk jalan dari ku.


Tiba di tebing yang kami tuju, aku bergegas keluar dengan riang gembira untuk berada di tempat yang lebih tinggi. Yang dimana di tempat ini kita bisa melihat keseluruhan kota B dari sudut manapun. Seperti biasa. . . udara malam disini lebih terasa dingin, namun pemandangan di bawah sana yang dihiasi gemerlap lampu menambah suasana malam terasa damai.


" Aaaaaaaaaaaaaarght ". Teriak ku dengan lantang. Sudah lama aku tidak berteriak mengeluarkan segala penat ku.


Biasanya, selalu Tommy yang menyuruh ku berteriak sesuka hati di saat aku merasakan kegundahan yang tak mampu aku lontarkan lewat kata. Ah jadi rindu dengan anak itu. . . apa kabar dia ya???


Berkat nya pula membuat ku hingga kembali seperti ini. . .


Tiba-tiba Kevin memelukku dari belakang, di rangkulnya tubuhku dalam dekapannya untuk berada dalam satu jaket yang di pakainya.


" Udara disini sangat dingin sayang, nanti kau bisa flu ". Bisiknya di telinga ku.


" Ukh, alasan. Bilang saja cari alasan supaya bisa puas memelukku ". Ucap ku meledeknya.


" Kau semakin pintar memahami apa ingin ku ".


" Iya dong, aku kan pacarmu ".


" Calon istri ku " jawab nya melirik ku.


" Yah. . . baik lah, baik lah. Lakukan sesuka mu saja ". Jawab ku mencubitnya.


" Tunggu sebentar, sayang. . . bagaimana kau tau tempat ini??? kenapa sebelumnya tidak pernah mengajakku kemari??? "


" Aku diajak seorang teman ketempat ini, disaat aku benar-benar terpuruk kala itu. Dia yang memperkenalkan aku pada tempat yang penuh kedamaian ini, dan Aku baru mengingatnya. maka dari itu baru mengajakmu kesini ". Jelas ku sembari menatap ke depan dengan pandangan kosong, mencoba kembali mengingat sosok Tommy ketika itu.


Perlahan Kevin melepaskan pelukan nya dari tubuh ku . Aku terheran saat melihatnya pun memalingkan wajah nya dari ku.


" Apa dia seorang lelaki??? "


" Heem. . . dia Tommy. Teman ah tidak, lebih tepatnya penyelamat hidup ku hingga aku kembali semangat menjalani hari-hari ku. Aku gak tau, jika saja tanpa dia yang selalu membangunkan ku dari keterpurukan, mungkin. . . kita. . . tidak akan ada disini bersama "

__ADS_1


Kevin terdiam menundukkan wajah nya, membuatku bertanya-tanya kembali.


Mungkin kah dia berpikir aku dan Tommy. . .


" Apa kau marah??? ". Tanya ku menyentuh kedua pipinya.


" Aku cemburu " jawab nya singkat menatap ku.


" Hahahhaa astaga Tuhan, apaan sih yank??? dia hanya teman ku. Tidak lebih, lagi pula dia sudah pindah dari kota ini "


Kevin masih terdiam sembari menatap wajah ku yang terus menertawainya. Yang benar saja, dia cemburu pada Tommy yang jelas-jelas hanya teman biasa ku saja.


" Jadi beneran ngambek nih??? Ya udah deh. . . aku gak ngomong lagi ". Jawab ku hendak membalikkan badan ku darinya namun dengan cepat dia memelukku kemudian menciumi bibirku. Aku tersenyum dalam hati. . .


Dia menggemaskan kalau sedang cemburu.


Semakin lama ciumannya semakin memanas hingga membangkitkan gairah ku. Aku mendorongnya perlahan melepaskan ciuman ku dari nya.


" Maaf sayang " jawab nya.


" Aku. . . aku hanya, tidak ingin kau mengenang kembali laki-laki lain selain diriku. Aku takut kau akan meninggalkan ku kemudian "


Aku terperangah mendengarnya berkata demikian, hingga bibirku berbentuk huruf O. Kemudian ku katupkan bibir ku dan mendekatinya kembali. . .


" Di hatiku hanya ada kamu Kevin, tak akan terganti dengan mudahnya begitu saja "


Cup !!!


Ku kecup kembali bibirnya untuk menghentikan ucapannya yang sudah bisa ku tebak. Aku sungguh tak ingin membahasnya, bahkan mengingat sikap mama nya tadi menambah ketakutan ku akan hubungan ini.


" Kita pulang yuk "


" Hemm. .. baik lah sayang "


Hendak memasuki mobil langkah kami terhenti oleh suara dering ponsel Kevin. Yang kemudian dia langsung mengangkatnya, terdengar ia sedikit terkejut seolah bimbang dan berat hati. Aku tidak begitu mengerti dengan apa yang dia perbincangkan dengan seseorang dari ponselnya itu karena bahasa yang di gunakan Kevin bahasa asing.


" Apa ada masalah Kevin??? " tanya ku kemudian setelah dia menutup teleponnya.


" Sayang, aku. . . aku tidak tau harus bagaimana menjelaskannya pada mu tapi aku. . . besok aku harus. . .keluar negeri seminggu kedepan, ini sangat mendesak sayang "


" Seminggu??? " Tanya ku dengan mata terbelalak.


" Maafkan aku sayang, tapi jika kau tak mengijinkan ku pergi aku akan mencari alasan yang tepat untuk menolaknya aku akan memikirkannya nanti malam ".


" Jangan !!! Jangan di tolak. Jangan di tunda, pergilah. Aku tak apa, toh hanya seminggu kan??? "


" Aku usahakan lebih cepat dari itu sayang " jawab Kevin dengan suara lirih. Ku lihat di wajahnya seolah berat akan berpisah dengan ku walau itu hanya seminggu saja. Selama dua bulan kita menjalani hubungan, kami tidak pernah berpisah bisa dibilang sedetik pun tidak pernah.

__ADS_1


" Sayang, kenapa kau murung begitu??? ". Tanya nya lagi mengejutkan ku dari lamunan.


" Eh. . . tidak. . . aku hanya sedikit berpikir saja "


" Apa yang kau pikirkan Fanny??? "


" aku pasti akan sangat merindukan mu Kevin "


Seketika Kevin memeluk ku dengan erat. Sangat erat, hingga membuatku sedikit sesak rasanya.


Dia lama terdiam dengan posisi tetap memeluk tubuh ku. . .


Perlahan aku melepas pelukannya lebih dulu.


" Jangan sedih gtu dong yank, nanti aku malah makin sedih. Cuma seminggu aja kan??? ayo lah jangan begini, selama bertahun-tahun kau mampu menjalani dan menahan rindumu untuk bertemu dengan ku lagi, tapi ini hanya seminggu kau sudah berpikir kita akan berpisah selamanya "


" Ssst. . . jangan berkata seperti itu, ucapan bisa menjadi doa. Aku tidak ingin berpisah selamanya dengan mu Fanny, aku. . . aku janji akan mempercepat waktu ku disana ".


" Ya sudah kapan kau akan berangkat??? " tanya ku.


" Be. . .sok siang " jawab nya ragu.


" Aaaah. . . jadi kita ketemu malam ini aja nih??? aaaah jahaaaat ". Aku mulai merengek manja pada nya.


" Cup cup cup, kita masih ada waktu pagi besok sayang sebelum aku berangkat. Jadi kau temani dan bantu aku packing dahulu ya "


" Huhft. . . jadi besok aku harus ijin dulu ke sekolah untuk bisa menemani dan membantumu packing ".


" Makasih sayang " Jawab Kevin dengan senyuman paksa. Aku tau, dia tidak ingin pergi tapi mau gak mau harus. Karena sepertinya tempatnya bekerja di luar sana sangat membutuhkan.


Selama perjalanan pulang Kevin terus menerus menggenggam erat tangan ku dan di tempelkan nya di bibirnya selalu. Hingga tiba di depan pintu gerbang rumah ku, Kevin menghentikan mobilnya.


" Kenapa berhenti disini sayang??? " Tanya ku heran.


Lalu Levin mendekatkan wajahnya pada ku dan tersenyum lembut, membuat jantungku berdebar-debar. Senyumnya selalu menggoda.


" Beri aku satu ciuman sebagai ucapan selamat tidur "


" Cih, kau mulai nakal " jawab ku meledeknya.


" Satu kecupan singkat saja sayang ". Pintanya merengek pada ku.


Dengan tanpa berpikir panjang aku mengecup seluruh wajahnya tak sedikitpun terlewatkan seluruhnya. Dia tersenyum puas, kemudian aku hendak turun. Tapi lagi-lagi Kevin menarik tangan ku aku menolehnya dengan seketika Kevin menyerang ku dengan ciuman lagi.


Aku tau dia sangat tidak ingin berpisah dari ku malam ini, tapi rasanya tidak mungkin jika aku menginap di apartemennya. Hahahaha jangan konyol Fanny. . .


Pikir ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2