
" Fanny. . . Fanny, sayang. . . bangun lah " Terdengar suara Ammar dengan lembut di telinga ku.
Ku buka mata perlahan, dan melihat sekeliling. Aku. . . aku masih di halaman belakang???
Seketika aku membangunkan diri ku, entah sejak kapab aku tertidur dengan pulas berada di pangkuan Ammar.
" Ammar, maaf. . . kenapa kau membiarkan ku tertidur hah??? " ucap ku dengan kesal.
Ammar tersenyum membelai rambut ku kembali. . .
" kau begitu lelah ku lihat, tak apa. . . aku senang memandang mu saat tidur sayang "
" tapi waktu kita hanya sebentar, jadi terbuang sia-sia kan. . . gara-gara aku tidur pulas, hikst. . . " ingin rasanya aku menangis dan memaki diriku ini. kenapa aku bisa melewatkan waktu yang begitu singkat ini, bahkan aku sudah lama menantinya.
" Sudah, masih ada hari esok. Sabar lah sebentar ya " Ucap nya dengan lembut.
Kenapa. . . kenapa dia selalu meminta ku untuk bersabar sebentar terus menerus, apa maksudnya??? jangan membuatku takut Ammar. . .
" Ya sudah, aku harus segera kembali ke kota A Fanny. Ini sudah sore, aku harus pulang cepat sebelum kemaleman ".
Degh !!! hatiku mulai tak nyaman, mendengarnya terburu-buru ingin pulang.
" Ammar, apa kau sungguh-sungguh harus pergi sekarang??? aku masih merindukan mu Ammar, sangat merindukan mu " ucap ku dengan merengek manja kembali. berharap dia bersikap seperti dulu, yang tidak pernah tega meninggalkan ku dalam waktu sekejab. ini bahkan belum sehari kami menikmati waktu berdua. . .
" Fanny, maafkan aku sayang. Kali ini aku tidak bisa lama-lama menemanimu "
" Ok ok baiklah, aku tidak akan memaksa dan memohon lagi untuk kau terus disini menemaniku dulu " jawab ku dengan kesal.
" Sudah lah Fanny, jangan memulai lagi. Mengertilah. . . " ucap nya dengan tegas, kemudian Aku menepis tangannya yang hendak menyentuh tangan ku.
" Pulang lah, hati-hati di jalan " jawab ku dengan memalingkan wajah darinya.
" Ya sudah aku pergi sekarang, jaga mata dan hatimu selalu untuk ku Fanny. jaga kesehatan mu pula, aku mencintaimu " Jawab nya dengan sembari mencium kening ku. Aku tak bergeming, masih ku palingkan wajah ku darinya.
Hingga ia berlalu pergi begitu saja, tanpa aku berniat mengantarnya hingga teras depan. Aku sungguh ingin marah dan teriak menangis sepuasnya. . .
Tapi apa daya, air mata ini tak kunjung mengalir. Malah terasa perih dan sesak di hati. . .
Aku melangkah setengah berlari dengan pikiran kosong menuju kamar ku. Ku lirik jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul 5 sore, sudah terlambat untuk pergi ke kampus. Aaarght. . . sial !!!
Tristan. . . yah Tristan, lebih baik aku pergi ke tempat dimana biasa nya dia berada sore ini. Gramedia, yah. . . hanya disitu dengan Tristan aku bisa menenangkan pikiran dan hatiku. Dini tidak mungkin lagi ku ajak untuk bermain bersama, biarlah dia menikmati hari-harinya yang hendak menjadi seorang istri konglomerat.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa ku ganti pakaian ku lebih sopan dari tadi, dan ku raih tas mini kesayangan ku kemudian beranjak untuk pergi menuju gramedia tanpa menunggu apapun lagi.
************♡-♡***********
Tiba di gramedia, ku lihat Tristan sedang sibuk seperti biasa. menyapa para pengunjung dengan ramah, sibuk kembali membantu para pengunjung gadis ABG dan wanita seusia ku yang berlagak genit ku lihat dari kejauhan. Tampak Tristan menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan. . .
Good Job Tristan, harus profesional. hehe,
Ucap ku dalam hati. . .
Kemudian aku menghampirinya,
" Woey, sibuk banget " sapa ku.
" Hai bu guru, jam berapa ini? kenapa sudah disini??? gak kuliah??? " jawab nya gelagapan sembari melihat jam di tangan nya.
" Aku bolos " jawab ku singkat.
" Hmm. . . galau lagi nih??? " tanya nya dengan senyuman meledek ku.
" Cih, sok tau " jawab ku cetus.
" Ya ya ya, haha terserah kau saja. Terkhusus hari ini kau bebas disini ingin membaca buku manapun yang kau ingin baca sesuka hati mu. jika ingin membelinya kau bilang saja, aku yang akan membayarnya " ucap nya dengan riang gembira.
Aku mulai beraksi berkeliling dan membaca. Seperti biasa aku mulai kecanduan membaca komik yang kemudian beralih pada buku kumpulan syair, hingga mataku tertuju pada satu syair karya Kahlil Gibran yang membuat hatiku terenyuh seketika.
** jika anda mencintai seseorang, biarkan mereka pergi, karena jika mereka kembali, mereka selalu milikmu. Jika tidak, mereka tidak akan ada **
Entah kenapa, ini terasa sesak di dada membacanya. Mengingat akan sosok lelaki yang ku cintai sepenuh hati, perlahan berubah. Alasannya apa aku tidak berani menyatakannya. . .
Waktu berlalu begitu cepat, 1 jam berlalu aku mulai jenuh dan bosan serta tak ingin kembali mengingat tentang Ammar lagi, bahkan. . . aku tak tau apakah dia sudah sampai dirumah nya apa belum. Dia belum memberiku kabar. . .
" Tristan, aku pulang ya "
" Ah??? kenapa terburu-buru begitu, tunggu lah sebentar. kerjaan ku akan segera ku selesaikan, setelah itu kita cari makan ya " ucap Tristan menghentikan ku.
Ada baiknya juga aku menurut saja, karena setiba dirumah aku akan semakin menggila karena Ammar.
" Gimana??? " tanya Tristan lagi.
" Baiklah baik lah. . . " jawab ku menyetujui.
__ADS_1
Tak ama kemudian, Tristan sudah bergegas mengajakku pergi.
Di tengah perjalanan aku hanya terdiam seribu bahasa, meski Tristan selalu melirikku penuh tanda tanya. Ku biarkan saja dia berpikir sesuka hatinya. . . aku sedang tidak ingin banyak bicara dulu kali ini.
Tiba di sebuah restoran kami berhenti, dan segera menuju ke dalam.
" Fan, pilih makanan sesuka mu. Aku yang traktir, sebelum kenyang banget kita jangan pulang dulu Haha "
Seketika membuatku tertawa lepas mendengar ucapannya itu.
" Kau memang pandai menghibur " jawab ku kemudian membuka suara.
" setahuku, setiap wanita jika merasakan patah hati atau kegalauan nafsu makan nya selalu bertambah. Hehe "
" Cih, siapa bilang aku sedang patah hati??? aku hanya galau saja, lebih tepatnya jengah " ucap ku dengan helaan nafas panjang.
" Soal tunangan mu lagi??? " tanya Tristan kemudian.
" Dia berubah, tidak lagi semesra dan seromantis dulu pada ku "
" Hahahaa ternyata kau typikal wanita yang agresif " Ucap Tristan meledek ku.
" Heh, apa kata mu??? bilang sekali lagi??? " jawab ku dengan nada marah.
" Hahahaa aku hanya bercanda, astaga. kau sensitif sekali " ucapnya dengan tawa kecil.
" Aku serius kali ini Tristan, aku sungguh kesal dibuatnya. Kau tau, siang tadi dia tiba-tiba datang setelah lama tanpa kabar dengan alasan sibuk KKN. Tapi yang sedikit membuatku heran, telponnya sibuk mulu " jawab ku dengan wajah cemberut.
" Fan, boleh sekali lagi aku memberikan ketegasan??? disini. . . aku berusaha tetap menjadi sahabat yang baik tanpa melewati batasan ku. Bisakah kau belajar lebih tegas sedikit??? "
Aku tediam mendengar ucapannya, ku katupkan bibir ini serapat mungkin. . . bahkan sekedar menelan ludah saja aku tidak mampu, terasa kering di tenggorokan ku.
" Apa aku terlihat sangat bodoh Tristan??? "
" Tidak. Kau hanya perlu mengubah sikap mu yang lemah itu, sehingga kau terlihat bodoh di mata orang-orang yang tidak mengenalmu lebih jauh "
" Tristan, aku harus setegas apa lagi??? " Mataku mulai panas kali ini, ah sepertinya penahanan ku kali ini akan membaur jadi satu dalam tangis.
" Fanny, aku ingin kau selalu bahagia dengan orang yang kau cinta. Tapi aku pun tak ingin kau di bodohi oleh orang yang sangat kau cinta. . . hatiku akan ikut sakit menyaksikannya, meski aku tidak pernah tau apa yang di lakukan tunangan mu di luar sana selama kalian jauhan beginu, tapi. . . aku berani jamin, mengingat semua yang pernah kau ceritakan padaku sebelumnya. . . aku. . . aku takut tunangan mu kembali mengulang kesalahan yang sama. Apa kau percaya jika dia sungguh setia pada mu??? "
Jleb !!! kenapa terasa sangat pedas menusuk hati ku semua ucapan Tristan kali ini.
__ADS_1
" Aku. . . aku tidak tau, aku. . . aku sangat mencintainya " Ucap ku dengan terbata-bata.