BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sembilan Belas


__ADS_3

Ini sudah hari ke dua, aku masih terbaring lemah di tempat tidur tanpa aktifitas apapun. Dokter bilang hanya kelelahan dan perlu istrahat full serta jauhi tekanan pikiran yang hanya akan membuat tubuh ini semakin lemah.


Aku setengah tertawa mendengar ucapan itu.


Tekanan pikiran apa yang di maksud? I am really fine, hanya saja.. Entah kenapa aku tidak lagi semangat dan ceria seperti biasanya.


Bathin ku selalu bertanya dalam diam ku tanpa henti, Apakah aku merindukan Ammar?


Mulutku selalu dengan reflek menjawab TIDAK !!!


Apakah aku masih mengharapkannya, lagi-lagi mulut ku menjawab TIDAK !!!


Untuk apa? Namun ketika bathin ku bertanya masih kah aku mencintainya? Aku tidak tau.


Tapi mungkin, cinta ini malah sudah melekat di dinding hati ku yang paling dalam.


Ceklek !!!


Ku dengar suara pintu kamar ku terbuka pelan. Ku lihat ibu datang membawa sebuah mangkuk dan segelas air diatas nampan yang di bawanya.


" Sayang, waktunya minum obat. Makan buburnya dulu ya. " Ucap ibu dengan lembut.


Ku lirik jam di dinding sudah pukul 12 siang, aku menghela nafas panjang.


" Bund, Fanny gak mau minum obat lagi. Fanny gak mau makan, rasanya gak enak." Aku merengek ku manja pada ibu.


" Eh kapan sembuhnya kalo kayak gitu. Gak boleh kalah dong dengan penyakit, ayo aaaaaaaa buka mulut bunda suapin, "


Aku terpaksa membuka mulut setengah menganga. Aku gak ingin melihat ibu sedih nantinya.


Sudah selesai minum obat yang susah payah aku telan, ibu manemani ku di kamar. Aku tidur di panggkuan ibu, ibu tersenyum mengelus lembut kepala ku.


" Fanny, ada masalah apa sebenarnya antara kau dan Ammar? sepertinya, semenjak terakhir kali Ammar kemari mengantar mu pulang dari rumahnya, kalian sama sekali tidak berkomunikasi. Maaf, bunda tanpa sengaja mengecek ponsel mu tapi disitu sudah tidak ada nomor ponsel Ammar. Kenapa Nak, Apa kalian pu-tus? "


Aku terdiam, kemudian menggelengkan kepala dengan pelan.


" Bunda, apakah dulu ayah dan bunda sewaktu pacaran hubungan kalian selalu mesra seperti saat ini? " Tanya ku, membuat ibu sedikit heran memandang ku dengan setengah alisnya dinaikkan ke atas.


" Fanny, dengarkan bunda. Setahu bunda dari sekian banyaknya suatu hubungan di dunia ini masih belum ada yang berjalan benar-benar mulus sayang, karena jika semakin suatu hubungan di uji dengan berbagai masalah-masalah tertentu, akan semakin erat pula keharmonisan di dalamnya. "Jelas ibu sembari masih mengelus rambut ku.


" Iya kah Bun? Lalu bagaimana jika salah satu nya ada yang mengkhianati? Ya.. contohnya, selingkuh mungkin. " Jawab ku seadanya.


" Apakah Ammar berselingkuh sayang?" Tanya ibu seketika.


" Ah tidak, tidak. Ehm, tidak demikian bunda. " Reflek aku menjawabnya kemudian suara ku kembali melemah.

__ADS_1


Huhft, hampir aja keceplosan.


Pikir ku. . .


" Lalu ada masalah apa dengan hubungan kalian? Bunda tidak ingin terus melihat mu sedih dan lemah begini sayang, hanya jika kita melandasi suatu hubungan dengan ego masing-masing, maka hubungan itu tidak akan berlangsung lama. Cobalah untuk saling mengerti dan menerima satu sama lain, hadapi semua masalah bersama. Jika salah satu dari kalian mundur, dan hanya itu jalan yang terbaik nya maka lepaskan. Jangan lagi memaksa, jika masih bisa di perbaiki dan di pertahankan ya hadapi dan cari solusinya bersama. Puteri bunda ini sudah dewasa, bunda percaya kamu bisa menghadapi semua masalah yang kamu hadapi, jangan menyakiti diri sendiri hanya karena Cinta. Jangan mau di perbudak oleh cinta, oke !!! "


Aku tertegun mendengar penjelasan bunda daritadi. Mata ku sudah memanas, berkaca-kaca. Rasanya sudah ingin merembes mengalir air mata ku.


" Ya udah, sekarang.. Fanny istrahat dulu, tidur yang nyenyak. Kalau tidak ingin minum obat lagi, Fanny harus sembuh dan sehat kembali. Ok sayang, mmuach ". Ibu mengecup lembut kening ku, aku mengangguk pelan.


Kemudian ibu meninggalkan ku sendiri di kamar dan menutup kembali pintu dengan rapat.


Kembali aku mengingat ucapan ibu, pandangan ku kosong menatap atap kamar ku.


Haist.. Bagaimana hubungan Ammar dan Nayla saat ini, ukh.. Mengingatnya saja aku sudah mulai muak ingin mengamuk lagi.


Jujur, aku merindukan mu Ammar. Tapi ego ku berkata lain. Kau tak pantas lagi ku rindukan !!!


Aku memejamkan mata kembali, yang entah berapa lama aku sudah mulai lelap kembali dalam tidur ku. Efek obat tadi begitu cepat bereaksi dalam tubuhku.


*****************♡-♡*****************


Hingga sore hari, aku merasakan sesuatu yang lembut mengelus pipi ku. Aku masih setengah lelap, mata ku masih berat untuk ku buka.


Reaksi obat itu benar-benar parah. Aku selalu dibuatnya mudah tertidur lelap. Pikir ku dalam hati.


Lama semakin lama, kembali aku mencium aroma wangi parfum yang selalu tercium dari tubuh Ammar. Dengan susah payah aku membuka mata ku perlahan mencari-cari aroma wangi itu.


Hati ku semakin berdegub kencang, sama seperti ketika aku berada di dekat Ammar. Aku masih belum menyadari sosok yang tengah duduk di samping sisi tempat tidur ku ini, mata dan kepala ku masih sedikit berat ku rasa.


What???


Betapa terkejutnya aku, hingga rasanya tubuh ini ingin meloncat dari atas kasur andai mampu.


Ku lihat Ammar sedang duduk di samping ku dengan senyuman khasnya. Wajahnya terlihat penuh kekhawatiran, aku tertegun memandangnya.


Apakah ini mimpi??? Tanyaku dalam hati.


Aku terus terdiam memandangi wajah lelaki yang saat ini sedang duduk di depan ku.


" Kau sudah bangun? " Sapanya dengan lembut.


Aku menelan ludah dengan paksa kemudian mengatupkan bibirku rapat-rapat.


Aku mengangguk reflek, masih tidak percaya bahwa kini sosok Ammar ada di depan ku.

__ADS_1


" Apa kau lapar? Mau minum? atau. . . " Telapak tangannya menyentuh lembut kening ku. Aku memejamkam mata sejenak.


Oh tuhan, ini pasti hanya mimpi. Tapi tangan lembut ini, aroma wangi parfum ini...


Ammar mendekatkan wajahnya, memegang pipi ku.


" Kau masih demam Fanny. " Aku membuka mata tersadar suaranya yang kian makin jelas terdengar.


Lama mata kami saling memandang, dan tiba-tiba air mata ku mengalir begitu saja.


" Sejak kapan kau disini Ammar? " Tanya ku dengan cetus,


Ammar tak bergeming melihat sikap ku. Dia tetap menatap ku dengan wajah sedih.


Kemudian dia menyodorkan segalas air putih.


" Minum dulu ya, biar sedikit tenang. " Jawab nya dengan lembut.


Ku palingkan wajah ku darinya, dan menghapus air mata yang sedaritadi merembes di mata ku.


" Untuk apa Ammar, kau datang menemuiku lagi hah? " Tanya ku lagi dengan cetus.


" Aku ingin kau segera sembuh dari sakit, jangan menyiksa diri begini Fanny. Kau membuat ku takut, "


" Cih.. terlalu narsis. Jangan GR dulu deh. Siapa juga yang sakit mikirin kamu, " Jawab ku seadanya.


" Aku tidak bilang bahwa kamu sakit karena memikirkan ku loh, kamu sendiri yang memberitahuku dengan jujur. " Jawaban Ammar menghentakkan hati ku dengan mata terbelalak.


Ya ampun, apaan sih.. Jawaban apa yang sudah ku ucapkan? Membuatku malu saja.


" Terserah apa yang kau pikirkan saat ini, tolong keluar dari kamar ku sekarang juga Ammar."


" Fanny, aku merindukan mu." Jawab Ammar seketika.


Aku menolehnya dengan tatapan tajam.


" Kau pembohong besar Ammar, kau bilang rindu pada ku karena rasa kasihan mu kan? Karena kau hanya merasa bersalah kan? Atau... Kau sudah puas bermain dengan Nayla dari pagi hingga malam menemaninya sakit? Atau kau sudah di campakkan dengan Nayla hingga kau akhirnya memilih untuk menemui ku lagi?"


Seketika Ammar memeluk tubuh ku dengan erat tak peduli aku yang terus saja ngoceh tanpa henti, sampai akhirnya aku benar-benar menangis lepas di pelukan Ammar.


Bathin ku. . .


Tuhan, sejujurnya aku sangat merindukan sosok lelaki ini di sisi ku kembali. Aku rindu suaranya, aku rindu pelukan nya, aku rindu desahan nafasnya, aku rindu aroma tubuhnya, aku rindu semua yang ada pada dirinya.


Tapi tuhan, aku masih belum bisa lepas dari semua bayangan rekaman tentangnya bersama Nayla, bahkan sikapnya yang terakhir di kampus ketika itu membuat ku tak lagi bisa memaafkannya. Benar-benar muak, aku benci !!!

__ADS_1


__ADS_2