BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sembilan puluh dua


__ADS_3

Semakin lama berbincang dengan Tristan sore ini, semakin membuat sikap ku terbuka dengan mudah nya. Luluh untuk menerima sikap ramah nya meski selalu dia tujukan bukan hanya pada ku saja.


Di tengah senda gurau ku dengan nya, ponsel ku berdering . . . aku terkejut dan langsung merogohnya di tas ku.


Ammar memanggil. . .


Oh tuhan betapa bahagianya aku kini, Ammar menelpon ku setelah berapa lama menghilang tanpa kabar.


Aku melirik Tristan dan memberikannya isyarat untuk diam dulu. . . Tristan mengangguk pelan.


** **Halo Ammar, akhirnya kau menelpon ku juga.


Sayang, maaf aku sangat sibuk. KKN sudah akan berakhir bulan depan jadi aku beserta kelompok ku sibuk buat laporan deh. . . Apa kau marah???


Tidak. . . tidak Ammar. Mana mungkin aku marah dengan kegiatan mu, itu demi masa depan mu juga.


Halo Fanny, kau sedang dimana??? kenapa begitu ramai**???


Aku merapatkan kedua bibirku dan melirik Tristan dengan gelagapan. Ku lihat Tristan mulai mengerutkan alinya menatap wajahku.


**Aku. . . aku sedang. . . di taman


Dengan siapa hah??? kenapa tidak ijin dahulu**.


Ku dengar suara Ammar mulai terdengar kesal. Apa dia tidak membaca pesan ku dahulu tadi. . .?


**Aku. . . aku bersama Dini. Aku sudah mengirim pesan padamu seharian ini, tapi tak satupun kau membalasnya. . .


Maaf, aku sungguh sibuk sangat sibuk sayang. Jangan berpikir aneh-aneh dulu tentang ku Fanny.


Tidak, aku percaya padamu. Jaga selalu kesehatan mu Ammar, dan ku harap. . . kau. . . sungguh masih setia padaku.


Baik lah, aku akan mandi dulu. Nanti ku kirim pesan pada mu, pulang lah dulu ya. Ingat, jaga pandangan dan jangan tebar pesona jauh dari ku sayang.


Iya iya. . . aku akan selalu ingat pesan mu itu. Ya sudah aku akan pulang setelah ini, i love you.


Love you too Honey**. . .


Klik !!! Panggilan telepon berakhir.


Aku menghela nafas panjang, ada perasaan lega menghampiri. Tanpa sadar bahwa Tristan sudah memandangku semulai tadi. . .


" Fanny. . . apa, kita harus pulang sekarang juga??? " tanya nya kemudian.

__ADS_1


" Ah. . . maafin Tristan. Aku harus pulang "


" Haha . . . aku mengerti, tidak perlu minta maaf begitu padaku. Aku yang seharusnya mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mau duduk bersamaku disini "


" Tristan, kau sungguh baik sekali. Terimakasih sudah mau mengerti dan menemaniku disini, jika tidak ada kau. . . aku. . . aku pasti tetap bosan sendirian " ucap ku yang kemudian berdiri tergesa-gesa hendak pulang.


" Eh tunggu Fan, kau kesini sendirian tadi naik apa "


Tanya nya, menghentikan langkah ku.


" Aku tadi naik taxi, ya sudah ya aku pulang duluan "


" Fan, aku antar ya " Tanya Tristan lagi, aku menoleh dan menatapnya. . . wajahnya terlihat memelas.


Bagaimana ini??? jika ku tolak. . . aku terkesan tidak menghormati niat baiknya, tapi. . . jika aku menerimanya, bukan kah. . . sedikit. . .tidak nyaman, meski aku terbilang lama mengenalnya, tapi masih sangat canggung.


" Fan. . . Fanny, apa boleh aku antar??? Ehm, jika kau takut tunangan mu tahu. . . tak apa, aku tak kan memaksa ". Ucap nya dengan senyuman.


Oh tuhan, kenapa sikapnya semakin membuatku mengingat sosok Kevin. . . aaaaarght !!!


Eh lagipula, ini sudah mau petang. Gak ada salahnya kan menerima tawarannya kali ini, sekali ini saja. . . ya sekali ini saja. Lagian Ammar tidak akan mengetahuinya kan. . .


" Baik lah " Jawab ku singkat.


Kemudian aku melangkah lebih dulu, lalu Tristan mengikutiku dari belakang dengan senyum-senyum sendiri.


Sepanjang perjalanan, Tristan tak banyak bicara. Sepertinya dia peka dengan kegelisahan ku untuk segera tiba di rumah. Karena aku sungguh ingin segera sampai dirumah dan menelpon Ammar, aku sudah sangat rindu suaranya.


Tristan mengikuti arahan ku untuk menuju alamat rumah ku.


Tiba di depan pintu gerbang rumah ku, aku meminta Tristan untuk menghentikan mobilnya.


" Tristan, aku turun disini saja. Dan maaf aku tidak bisa mengajakmu masuk ke dalam, kapan-kapan saja ya. Aku sangat terburu-buru saat ini "


Ku lihat Tristan kembali tersenyum dengan sumringah. . .


" Sungguh??? apakah besok-besok aku boleh berkunjung kerumah mu ini Fanny??? " Tanya nya.


Oh tidak !!! kenapa aku berkata demikian tadi??? ya ampun Tuhan. . .


" Ya ya ya baik lah, ya sudah ya aku masuk dulu " ucap ku buru-buru menutup pintu mobilnya dan berlalu masuk menuju halaman rumah ku.


***********♡-♡**********

__ADS_1


Tiba di kamar aku langsung meraih ponsel di dalam tas miniku, ku lihat sudah ada satu pesan singkat dari Ammar. Aku langsung menelpon nya dengan tergesa-gesa..


Panggilan teleponnya sibuk, sekali dua kali tetap sibuk. Yang ke tiga kali nya baru lah tersambung yang kemudian diangkatnya seketika seolah dia memang sedang bermain ponselnya semulai tadi.


Halo sayang, apa kau sudah tiba dirumah???


Aku terdiam sesaat. menahan diri untuk tidak langsung mendettenya.


Iya, aku baru saja tiba dirumah. Apa kau sibuk Ammar???


Tidak sayang, daritadi aku sudah menunggu panggilan mu. . .


Lalu kenapa panggilan mu sibuk terus daritadi Ammar???


Tanya ku dengan berusaha selembut mungkin, aku masih menahan diri. Aku takut menyinggungnya dan membuatnya marah. Aku sangat merindukan suaranya, aku ingin mendengar suaranya lebih lama malam ini.


Si. . .sibuk??? ah. . . benarkah??? ta.. tapi aku baru saja menyentuh ponselku. Oh mungkin, operator sedang cemburu pada kita. hehe. . .


Mendengarnya berkata demikiaj membuatku semakin yakin, dia berbohong padaku.


Ammar. . . aku rindu.


**Aku berusaha menepis segalanya agar perbincangan yang sudah lama aku rindukan tidak berkahir dengan pertengkaran. Aku tidak ingin membebaninya juga.


**Aku juga merindukan mu sayang, sabarlah sebentar ya. Saat kegiatan KKN ku berakhir aku akan segera menemuimu melepas rindu sepuasnya**.


Baik lah aku akan sabar. . . tapi. . . bagaimana kegiatan mu? apa berjalan lancar???


**Yah. . . sangat lancar. Karena kami sekelompok sungguh bekerja keras dan solid**


syukur lah. . . aku bahagia mendengar kau bisa melewatinya.


Fanny, apa kau sungguh bersama Dini tadi sore**???


Seketika aku terkejut mendengar ucapan Ammar kali ini. Seolah dia bisa merekam segala aktifitas ku saja, atau. . . dia bisa membaca hatiku? Hahaha tidak mungkin kan. . .


**Apa kau mulai tidak percaya padaku Ammar???


Haha aku hanya bercanda sayang, aku percaya kau akan selalu menjaga kesetiaan mu untuk ku. Dan. . . begitu juga dengan ku**.


Aku sungguh gugup saat ini, jantung ku mulai berdegub kencang. Mengingat tentang Tristan tadi, aku jadi semakin takut. Bagaimana jika Ammar tau akan hal itu. . . membayangkannya saja membuatku takut.


Dan. . . hah. . .

__ADS_1


entah lah obrolan kami sampai dimana dan berakhir kapan. Karena aku sudah tertidur tanpa mengingat apapun lagi, dan kau tau. . . yang ku rindukan dari Ammar bukan hanya suara nya saja, melainkan obrolan manja dan mesra seperti biasanya. Tapi kali ini, dia berubah. . . hanya sesekali dia mengucap kata rindu dan mengingatkan ku akan kesetiaan selama dia jauh dari ku.


__ADS_2