BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh enam


__ADS_3

Berulang kali aku menelpon Ammar tak kunjung juga di angkatnya. Aku mulai berpikir negatif kali ini. . .


Ku coba sekali lagi untuk menelponnya.


**Halo sayang


Akhirnya Ammar menerima panggilan telepon ku, suara nya terdengar seperti sedang di keramaian yang jauh.


****Ammar, suara mu terdengar jauh apa kau sedang di jalan??? kenapa lama sekali angkat telepon ku daritadi???


Maaf yank, aku diluar nih temen-temen kampus ngajakin berenang. Sekalian refresh otak dulu karena sebentar lagi kita sudah akan mulai KKN**


Jawab nya seperti sedang habis berlarian, nafasnya ngos-ngosan. Apa dia baru saja habis berenang??? Kedengarannya memang sedang ramai di sekeliling Ammar banyak suara yang menyapa dan memanggilnya.


Ammar. . . sayang. . . ayo sini berenang lagi. . . temani aku, kau sedang menelpon siapa sih. . .


Degh !!! Terdengar suara beberapa wanita memanggil Ammar dengan genit. Siapa dia??? Aku sudah mulai bersungut-sungut penuh amarah.


SIAPA WANITA ITU HAH? MEREKA GENIT SEKALI PADAMU ???


Tanya ku dengan menekan nada bicara ku.


Sayang sayang jangan salah paham dulu, dia hanya teman-teman ku saja. Mereka hanya mengerjaiku karena menelpon mu. . . jangan diambil hati ya. . .


Ucap Ammar dengan gelagapan. Kelihatan sekali suaranya seperti ketakutan. . .


**Howw. . . jadi kau berenang dengan teman wanita mu hah??? bagus. . . bagus sekali. . . pantas saja kau lama sekali menerima panggilan telepon ku Ammar. Lanjutkan saja aku tidak akan ganggu. . .


Sayang, tunggu sebentar. Jangan marah, aku berani sumpah atas nama tuhan sayang, aku berenang dengan seluruh teman sekelas di kampus ku. Bukan hanya wanita saja sayang. . . astaga, percayalah**. . .


Aku terdiam mendengarnya berusaha menjelaskan begitu tegasnya. Sesak di dadaku sungguh membuat nafasku terengah-engah menahan amarah agar tidak meluap.


Sayang. . . bicaralah. . . halo. . .

__ADS_1


Terdengar kembali suara Ammar yang memanggilku, masih di tengah keramaian dan beberapa wanita tadi masih dengan genit memanggil nama Ammar mengajaknya kembali berenang.


**Ammar. Aku sakit sudah beberapa hari ini, rasanya. . . aku tidak ingin makan kecuali hanya buah yang rasanya asam. Tubuh ku terasa lemah sekali. . .


Astaga. . . sayang, Maafkan aku. Aku sibuk akhir-akhir ini, tapi kenapa baru mengabari ku jika kau sakit hah??? eh tunggu sebentar. kau. . . kau sejak kapan menyukai buah yang rasanya asam hah??? Ssst. . . katakan padaku kapan kau terakhir datang bulan**???


Tanya nya kemudian dengan suara berbisik. Membuatku sontak terkejut dengan jantungku yang semakin berdegub hebat. . . Seketika aku membangunkan diri dan melihat kalender. Aku gemetar. . . oh tuhan, bulanan ku telat seminggu. Seketika memanas sekujur tubuhku. . .


Hallo sayang. . . kenapa kau diam lagi??? jangan membuatku takut. . .


Tanya Ammar kembali dengan suara gugup. . .


**Ammar. . . aku. . . bulanan ku telat seminggu. Aku baru menyadarinya setelah melihat kalender barusan.


Oh sial !!! Aaarght. . . apa kau tidak lagi meminum pil nya lagi hah???


Ammar, kau memang brengsek. Kenapa kau jadi marah begitu padaku, apa kau lupa terakhir melakukannya dengan ku. . .??? aku kan sudah memberitahunya padamu jika aku sedang dalam masa subur**.


Amarah ku mulai memuncak menanggapi ucapan Ammar.


Bip bip bip. . .


Ammar mematikan panggilan ku begitu saja. Aku sudah mulai terkulai lemas tak berdaya kali ini. . . aku. . . aku. . . oh tuhan, bagaimana jika aku hamil??? tidak. . . ini tidak boleh. . . aku gak mau !!!


***********♡-♡**********


Tepat pukul 4 sore Ammar sudah tiba dirumah ku, entah bagaimana dia berbicara dan beralasan pada ayah dan ibu ku sehingga dia langsung menuju kamar ku.


Tok tok tok. . . tok tok tok. . .


" Fanny, ini aku Ammar. Boleh masuk??? " Terdengar suara Ammar di luar pintu kamar seperti terburu-buru memintaku untuk segera membukanya.


Perlahan aku turun dari atas ranjang ku dan melangkah menuju pintu untuk segera membukanya. Rasanya, mendapati Ammar tiba disini aku semakin takut.

__ADS_1


" Sayang, apa kau sudah baikan??? " Tanya Ammar dengan panik menyentuh kedua pipi ku. Telapak tangannya terasa sangat dingin. . . apakah dia sungguh mengkhawatirkan ku???


" Ammar. . . masuk lah dulu, aku masih sangat lemas untuk berdiri lama " Ucap ku sembari berbalik untuk mengajak Ammar masuk ke kamar ku. Ammar melangkah tergesa-gesa setelah menutup pintu. . .


" Fanny, ayo ke dokter. Aku yang akan menemani mu. . . atau. . . kita ke apotek terdekat dulu, untuk. . . memastikan satu hal yang membuatku takut saat ini Fanny " Ucap nya dengan wajah pucat pasi, terduduk di hadapan ku ketika aku sudah lebih dulu duduk di sofa mini ku.


" Ammar, apa kau takut aku hamil??? " Tanya ku dengan tegas, Ku tatap matanya dengan tajam.


" Aku. . . aku hanya. . . belum. . . siap untuk. . . menikahimu sayang, eh bukan begitu. Maksud ku, sebentar lagi, hanya selangkah saja aku akan segera menyandang gelar pendidikan yang ku nanti-natikan sayang, kau paham itu bukan??? "


Rasanya, aku ingin menampar keras wajah nya ketika mendengar ucapan nya itu. Hah. . . dia pikir bagaimana dengan ku??? Apakah aku pun tidak sama??? ingin sukses menyandang gelar pendidikan ku hah??? Aku begini juga karenanya, apa aku yang memulainya??? bodohnya aku. . . hah. . .


" Apa kau sungguh akan menjadikan ku istri mu Ammar??? " Pertanyaan ini mencuat begitu saja dari bibir ku.


" Fanny. . . aku sangat mencintaimu, kita sudah bertunangan kan??? itu artinya, kau akan menjadi istriku kelak, tapi bukan dengan cara terburu-buru begini sayang. . . " Jawab nya tanpa ragu.


Aku terdiam sesaat, sadar akan satu hal. Jika aku memilih jalan untuk segera menikahi Ammar. . . maka semua tidak akan sama. Cara ku menempuh pendidikan, dan profesiku sebagai guru nantinya. . . akan jadi terbengkalai kan???


" Baik lah. Ayo kita ke apotek terdekat dulu Ammar. . . setelah itu, apapun yang terjadi ku harap kau akan tetap di samping ku untuk melewatinya " Pintaku dengan wajah melas.


" Jangan khawatirkan itu sayang, aku janji. . . akan selaku setia di sisimu apapun yang akan terjadi "


Kemudian. . . Aku dan Ammar bergegas pergi menuju apotek terdekat, sebelumnya dengan ijin akan pergi ke dokter ayah dan ibu mengangguk tanda setuju.


Sepanjang perjalanan, aku sudah bisa membaca bahasa tubuh Ammar yang begitu panik dan ketakutan. Begitupun Aku. . .


Tiba di apotek, Ammar memintaku hanya menunggu di dalam mobil. Karena kondisi tubuh ku yang masih lemah, aku menurutinya. Tak lama kemudian, Ammar sudah kembali masuk ke mobil dengan sebuah tes kehamilan dan satu butir kapsul.


" Apa ini Ammar??? " Tanya ku dengan heran.


" Sayang, kita pastikan dengan alat tes ini dulu. Apapun hasilnya, kau harus tetap meminum kapsul ini. Efeknya memang akan sedikit memberimu sakit, tapi itu hanya sebentar. Kau tahan lah, aku akan menemanimu "


Aku kembali menghela nafas panjang menerima ini semua. . . semoga dugaan ku dan Ammar kali ini tidak benar adanya.

__ADS_1


❤ Hai readers ku yang setia, apa kabar kalian??? Sehat selalu ya, jangan lupa terus tekan like di setiap episode nya ya. Komen kalian pun ku butuhkan untuk penyemangat, ayo dong terus vote juga ya untuk karya ku ini. . . makasih semua ❤


__ADS_2