
Seiring waktu berjalan, hubungan ku dengan Tristan sudsh berjalan 3 bulan lamanya. Hubungan kami semakin mesra dan selalu harmonis serta romantis. Aku selalu dibuat gemas oleh sikap manis Tristan yang selalu menggoda ku.
Apa kau percaya? aku dan Tristan sudah hampir melakukan nya. Namun, Tristan selalu menahan diri ketika melihat ekspresi ku seperti orang yang sedang sengaja ingin melampiaskan diri. Terkesan aku bagai wanita murahan. . .
Lalu hari ini, sudah mulai libur panjang di sekolah. Membuatku senang akan bertemu Tristan bisa kapan saja yang ku mau. Dan. . . malam nanti, aku mendapat undangan party dari salah satu teman Tristan, si Ega. Kami pernah berkenalan dan bertemu di taman ketika itu tanpa sengaja. . .
" Bunda, malam nanti Fanny ijin ya. Dapat undangan party di kafe X bareng Tristan " ucap ku pada ibu di halaman belakang.
" Teman??? teman kuliah??? "
" Ehm, bu. . .kan. . . teman kerja Tristan. Tapi Fanny juga mengenalnya "
" Baik lah. . . jangan pulang terlalu larut ya dengan Tristan. Dan ingat selalu pesan Bunda Nak. . . "
" Siap bos " jawab ku singkat saja. Aku tidak mau mendengar nasehat ibu yang lagi-lagi pasti tentang hubungan ku dengan Tristan untuk tidak lebih dari sekedar teman hanya karena kita beda keyakinan.
Tiba waktu malam, jam sudah menunjukkan pukul 19.00 Wita. Aku sudah siap dengan dandanan ku yang sengaja tampil beda malam ini, di balut dress mini berwarna peach dan rambut ku di tata se cantik mungkin.
Aku sudah mondar mandir di teras rumah menanti jemputan Tritan, beberapa menit kemudian dia sudah datang dan turun dari mobil dengan ekspresi tertegun menatap ku.
" Kau cantik banget malam ini sayang " ucap nya setengah berbisik.
" Kau, gombal " jawab ku meledek.
" Hahaha tapi kau suka kan "
" Hmm. . . ya udah yuk kita berangkat sekarang " ajak ku langsung tanpa banyak kata lagi.
" Eh tapi aku belum ijin sama om dan tante Fanny "
" Iih aku sudah ijin lebih dulu, sudah lah ayo cepat masuk ke mobil " sembari ku melangkah membuka pintu mobil Tristan. Aku tidak ingin berlama-lama apa lagi sampai Tristan bertemu ibu ku, aku tidak bisa membayangkannya dan tak akan tega jika dia mendengar ucapan ibu ku yang tidak pernah merestui hubungan kami jika lebih dari sekedar teman biasa.
Kemudian Tristan menyusul ku masuk ke dalam mobil lalu melajukan nya dengan perlahan. Sementara aku sedikit merapikan dress mini yang ku pakai beserta tatanan rambut ku untuk tetap rapi dan cantik.
" Sayang, berapa lama kau dandan malam ini??? hahahaha " ucap Tristan meledekku.
" Sekitar 4 jam, apa kau puas??? " jawab ku manyun.
" Astaga, hahaha. . . kau ini. . . pantas saja, aku hampir tidak mengenali pacar ku ini. Terlalu cantik. . . hmm. . . jadi ragu mengajakmu ke pesta malam ini, pasti bakalan jadi sorotan cowok banyak. Ugh, aku jadi cemburu duluan " Ucapnya terus mengoceh tanpa jeda.
" Biar saja, yang penting aku tetap menyukaimu. . . hehe " jawab ku dengan menggodanya.
" Hmm. . . aku akan menuntutmu jika kau berani mengingkarinya "
__ADS_1
" cih, apaan sih? hahahaa. . . "
Begitu lah aku dengan Tristan, setiap kali kami berdua saja. Di sela candaan kami dia selalu mengulang kata (Aku akan menuntutmu), membuatku takut saja meski itu hanya candaan semata tapi aku takut jika suatu hari aku pergi meninggalkannya dia akan benar-benar menuntut nya. Konyol gak sih???
Tiba di sebuah kafe yang kami tuju, aku sudah bersiap-siap hendak turun dari mobil tapi Tristan menarik tangan ku untuk tetap di mobil sejenak.
" Ada apa??? " Tanya ku menoleh nya.
Cup !!!
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir ku. Membuat ku terkejut hingga memejamkan mata ku. . .
Kemudian ku buka kembali mata ku perlahan, ku lihat wajah Tristan masih berada dekat di hadapan ku. Sangat dekat, sampai hidung kami hampir bersentuhan.
" Aku mencintaimu Fanny " ucap Tristan dengan lembut. Aku tersenyum menanggapinya. . .
Nafasnya mulai tercium cukup keras berirama di lubang hidung ku, ah. . . mungkinkah dia. . . kali ini. . .
" Tristan, apa kau sangat menginginkan ku malam ini??? " tanya ku memberanikan diri.
Namun lama dia terdiam menatapku dengan lekat. . .
" Apakah kau marah jika aku berkata jujur Fanny ??? " Jawab nya dengan suara lirih.
Aku tersenyum kecil membalas tatapan mata nya, aku tau. . . dia sudah sangat ingin melakukannya padaku, setelah berulang kali dia menahannya dengan alasan tak ingin diriku menjadikannya pelampiasan sesaat yang kemudian ku hempaskan setelah puas dan bosan.
Tampak wajah nya tersenyum lembut kemudian bertanya lagi pada ku. . .
" Apakah kali ini kau juga mengingikannya Sayang??? " sembari mengelus lembut rambut ku dia bertanya. . .
Jujur, aku memang sudah tidak tahan dengan gairah ku yang selalu melunjak beberap minggu ini. Aku sangat ingin melakukannya lagi sama ketika bersama Ammar dulu, rasanya. . . aku sudah sangat rindu dengan sentuhan-sentuhan mesra di sekujur tubuh ku ini.
" Ya. . . aku juga sangat menginginkannya Tristan, ini bukan pelarian. Tapi rasa ingin memilikimu seutuhnya, mendorongku untuk melakukannya dengan mu "
" Kau membuatku semakin tidak sabar " ucap Tristan sembari mengecup kening ku dengan mesra.
" bagaimana jika sekarang saja kita ke apartemen ku " ajak Tristan.
" Hahaha. . . kau gila, sabar lah sedikit. kita akan menghadiri undangan sahabat mu Ega, masuk lah dulu sebentar. setelah itu kita. . . "
" Baik lah, ayo kita harus segera masuk kemudian pulang ke apartemen ku " Jawab nya dengan penuh semangat. Membuatku semakin tertawa geli. . .
Tiba di dalam kafe, ku gandeng lengan Tristan dengan mesra sehingga semua para tamu undangan yang juga teman-teman reunian Tristan yang ikut hadir menatap kami dengan tatapan yang tak biasa. Dengan bangga dan penuh percaya diri Tristan berjalan terus mencari sosok Ega untuk memberinya selamat atas pencapaian proyek di pekerjaannya.
__ADS_1
Begitupun aku yang memberinya ucapan selamat pada Ega. Kami saling berjabat tangan, dan. . . tatapan mata ega sedikit genit tak biasa padaku. Dia terus memandangku dan menggenggam lama tangan ku yang berjabatan semulai tadi.
Aku sedikit kikuk mendapati sikapnya ini, menyadari akan hal itu Tristan melepaskan tangan ku dari tangan Ega dengan paksa.
" Bro, aku gak bisa lama disini. Aku sedang ada acara lain dengan pacar ku setelah ini, sekali lagi selamat ya. Sukses selalu " ucap Tristan dengan tatapan serius membuat Ega jadi canggung.
" Eh. . . ah. . . kau ini, santai lah dulu disini Tristan, nikmati pesta malam ini. Lagi pula semua teman-teman masa SMA kita ada disini semua bro " ucap Ega sembari melirik ku lagi.
" Ah tak apa, biar nanti ku undang kalian di acara pertunangan ku dengan Fanny. Ya udah ya, aku pergi dulu bro ".
Sembari menarik tangan ku dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan aku kebingungan dengan sikap Tristan ini, tanpa menunggu ku berpamitan dahulu pada Ega. Aku menoleh kebelakang, dan kau tau. . . ku lihat Ega mengedipkan mata nya padaku dengan kecupan jauh.
So what??? cowok brengsek, genit. Huh. . . pantas saja Tristan tergesa-gesa menarikku untuk segera keluar dari pesta ini. . .
Gak lagi deh aku ketemu atau berada dalam satu tempat bersama Ega cowok genit itu.
Umpat ku dalam hati.
Sementara Tristan terus menarik tangan ku hingga kami sudah berada dalam mobil. Ku lirik Tristan terdiam dengan hembusan nafas yang tersengal-sengal. . . haha, sepertinya dia sedang marah.
" Cemburu niye " ucap ku meledeknya.
" Kenapa? gak boleh??? " Jawab nya cetus.
" Hahaha astaga, kau ini. Memangnya aku ngapain hah??? "
" Aku gak suka Ega terus saja memandangmu begitu, meski dia sahabat dekat ku tapi aku tetap cemburu dia cukup lama menyentuh tangan mu saat di dalam tadi. Apakah dia lupa kau ini siapa ku??? "
" Iya aku tau, aku ini tunangan mu " jawab ku meledeknya lagi.
Seketika Tristan menoleh ku dengan wajah malu-malu. . .
" Maaf Fanny, aku. . . maksud ku. . . tadi. . . emm. . . " Dia mulai gelagapan malu-malu.
Tanpa menunggunya melanjutkan ucapannya lagi aku memagut bibirnya dengan mesra. Tristan memberikan perlawanan nya dengan lembut. . . hingga kami bercumbu mesra kembali di mobil malam ini.
" Fanny, aku. . . mari kita lanjutkan di apartemen ku saja. Kau sudah berjanji tadi. . . " pinta nya dengan lembut.
" Ayo, siapa takut " jawab ku singkat kemudian mengecup bibir nya kembali.
Kemudian Tristan melajukan mobilnya dengan cepat hingga sampai di apartemennya yang tak cukup jauh dari kafe tadi, lalu tanpa langkah ragu aku melangkah bersama dengan Tristan menuju ke dalam ruangan nya.
Tak terhitung aku sudah berapa kali menginjakkan kaki ku di apartemen nya ini, semenjak kita berstatus pacaran. Tapi kami selalu berhasil lolos dari godaan setan, hehe.
__ADS_1
Namun kali ini. . . aku tidak yakin lagi. Karena baru saja ku langkahkan kaki masuk ke kamar Tristan, Tristan sudah mulai menciumiku lebih panas dari sebelumnya. Aku membalasnya dengan mengikuti semua arahan nya. . .
Dan. . . pada akhirnya, kau bisa bayangkan setelah itu apa yang terjadi. Kami. . . benar-benar melakukannya. Pertahanan jiwa dan ketakutan ku, janji ku untuk tidak lagi melakukan ini. . . runtuh seketika. Karena aku sungguh sangat sudah lama merindukan sentuhan ini. . .