
Sejak hari itu. . . Selama Kevin di luar negeri, sikapnya bisa dibilang semakin over protektif meskipun tidak pernah melarang ku begini dan begitu atau keluar kemana pun dengan siapapun tanpa nya selama di luar negeri, tapi hampir setiap detik dia selalu menelpon dan mengirimkan pesan singkat pada ku.
Terkadang aku tertawa geli dengan sikap nya yang berlebihan itu, kemana pun dan bersama siapapun dia diluar negeri sana selalu memberitahuku untuk menghindari kesalahpahaman nantinya. Dia memang menggemaskan dan laki-laki idaman tentunya.
Dan ini sudah hari ke tiga dia di luar negeri. Berlalu cepat tapi tidak bagi ku, bagai tiga abad lamanya. Hehe, yah. . . siapa sih yang gak akan merasakan hal yang sama jika kita berpisah jauh dengan orang yang kita cintai walau hanya sedetik. Semulai pagi tadi Kevin belum menelpon ku, dia hanya mengirim pesan singkat sesekali untuk ku. Sepertinya dia sangat sibuk sekali hari ini.
Aaaah rasanya aku sudah rindu suara dan canda tawa nya itu. . .
" Fan, elu di cari temen lu tuh. Dia nungguin elu di pintu gerbang depan ". Ucap salah satu mahasiswa menghampiriku.
Aku hanya tertegun mendengar nya demikian, temanku???
Siapa???
Kenapa menungguku di pintu gerbang segala????
Kenapa tidak langsung saja mencari ku ke kelas.
" Hai tunggu, teman siapa yang kau maksud??? ". Aku mengejar mahasiswa tadi untuk bertanya siapa yang dia maksud teman ku.
" Aku mana tau, dia hanya berpesan untuk menyampaikan padamu kalau dia menunggu mu di pintu gerbang. Eh iya, gua gak yakin itu temen luh. Secara, cakep gitu ". Jelas mahasiswa itu yang kemudian berlalu pergi dari hadapan ku. Sementara aku masih kebingungan.
Teman??? cakep???
Apa itu Tommy??? eh gak mungkin. Kalau dia pasti bakalan langsung cari aku ke kelas.
Jangan-jangan. . . Kevin, dia mau memberikan ku kejutan. Iya pasti Kevin, eh tapi. . . Aaaah aku tau cuma dia yang bisa mengerjaiku seperti ini.
Dengan setengah berlari aku tergesa-gesa keluar kelas untuk segera menuju pintu gerbang. Hatiku sudah sangat di rundung kebahagiaan yang tak terbendung lagi. Berharap itu benar-benar Kevin.
Tiba di pintu gerbang, aku mencari-cari sosok Kevin yang belum juga terlihat olehku.
Dan kau tau. . . langkah ku yang terus sajs mondar mandir melihat sekeliling terhenti seakan membatu. Sosok lelaki yang tak ingin lagi aku temui kini dengan berani menginjakkan kaki nya di kampus ku.
Dengan penuh amarah yang membludak di hati, aku membalikkan badan untuk segera kembali ke kelas pergi menjauh dari nya.
" Fanny tunggu ". Panggil nya mengejarku dan dengan cepat meraih tangan ku dari belakang. Dengan kasar aku menepisnya.
" Fanny pliss, jangan kayak gini "
" Kau sudah gila Ammar, untuk apa kau kemari hah??? "
" Apa kau begitu membenciku Fanny??? aku sungguh minta maaf, saat itu aku bukan nya sengaja menghilang begitu saja. Tapi. . . sungguh ini bukan mau ku, aku terpaksa melakukannya "
__ADS_1
" Heh, terpaksa??? apa yang kau bilang terpaksa Ammar??? tunangan??? iya??? "
" Fanny, kau tau. . . mama ku sempat depresi karena papa selingkuh dan memilih selingkuhannya lalu pergi dari rumah ku. Keluargaku hancur, perusahaan papa ku diambang kehancuran. Dengan susah payah aku mengulang kembali dari nol, dan kau tau. Adik ku sempat di penjara karena narkoba ".
Aku tertegun sejenak, bibir ku gemetaran mendengar hal yang sudah di alaminya itu. Tapi itu bukan alasan jika dia baru memberitahuku saat ini semua sudah terlambat bagiku.
" Aku turut prihatin dengan keadaan mu, dan tolong kau cepat pergi dari hadapan ku Ammar. Aku sangat muak melihat mu lama-lama di hadapan ku ".
" Fanny, apa kau mau memaafkan ku??? "
" Baik. Baik lah Ammar, aku akan memaafkan mu. Tapi setelah ini jangan lagi kau muncul di hadapan ku, aku sungguh muak ".
Aku sudah tidak tahan lagi Tuhan, kuatkan hati ku. . . kuatkan hatiku untuk tidak gegabah dalam emosi kali ini.
Kembali aku hendak pergi meninggalkan Ammar begitu saja, namun dengan cepat dia melangkah berada tepat di hadapan ku.
" Apa lagi Ammar??? ". Tanya ku dengan memalingkan wajah dari nya.
" Fanny, aku sangat merindukan mu. Kembali lah pada ku seperti dulu Fanny, aku tidak rela kau dengan laki-laki lain termasuk Kevin ".
Plak !!!
Yah. . . Tangan ku ini sudah tidak mampu lagi menahan untuk tidak memberikan sebuah tamparan untuk mulut manis nya itu.
" Sampai kapan Ammar??? sampai kapan kau akan terus merendahkan ku??? Kenapa kau selalu saja menghina ku semaumu hah??? ". Kini butiran bening sudah mulai mengalir di pipi ku. Sangat sakit ku dengar ucapan nya itu, yang dengan gampang dia lontarkan di hadapan ku yang kini hampir semua orang-orang di kampus menatap kami heran.
" Fanny, tidak ada sedikitpun niatku seperti itu "
" Apa kau lupa status mu saat ini Ammar??? Kau sudah bertunangan dengan orang lain, apa kau sengaja ingin membuatku terkesan perebut kekasih orang??? bisa kah kau menjalani saja kehidupan mu sendiri saat ini ??? "
" Aku bisa membatalkan pertunangan ku dan kembali padamu jika kau mau menerima ku lagi Fanny "
" Ammar cukup. . . cukup Ammar, pliss jangan membuat hatiku semakin sakit mendengarnya. Aku sudah bahagia dengan Kevin saat ini. Ku mohon jangan mengganggu ku lagi Ammar, ku mohon biarkan aku bahagia dengan Kevin ".
Kini tangisan ku semakin pecah hingga membuatku merasa pusing dengan sesak di dada.
" Katakan pada ku, apa kau sungguh semudah itu melupakan ku Fanny??? setelah sekian tahun kita bersama dan kita sudah melakukannya berulang kali tak terhitung lagi, apa kau sungguh bisa melupakan itu Fanny??? "
Aku sungguh ingin menamparnya lagi, tapi aku tak ingin mengotori tangan ku kembali dengan menyentuh nya yang sangat aku benci saat ini.
" Lalu bagaimana dengan mu Ammar??? heh. . . ku yakin kau pun sudah lupa dan mungkin kau sudah melakukannya lagi berkali-kali dengan tunangan mu atau dengan wanita lainnya selain tunangan mu ".
Lama Ammar tak bersuara, dia menatapku semakin tajam dengan mata nya yang sipit itu. Aku menghindari tatapannya, entah apa yang kini ada dalam otaknya yang kotor itu.
__ADS_1
Dengan menghela nafas panjang dia kembali bertanya pada ku.
" Apa kau. . . sudah. . . melakukannya dengan Kevin Fanny??? "
Jleb !!!
Aku terdiam membisu dengan mengatupkan kedua bibir ku rapat-rapat.
Aku tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu pada ku. Dia sungguh merendahkan ku tidak tanggung-tanggung.
" Jawab Fanny, apa kau sudah melakukannya dengan Kevin??? sejak kapan, sejak kapan??? apa kau juga melakukannya ketika kau berselingkuh dengannya dari ku Fanny??? Katakan pada ku. . . ".
Ammar mulai berteriak pada ku, membuatku terkejut hingga bibir ku gemetaran.
" Apa aku terlihat seperti itu di mata mu Ammar??? jadi kau sungguh berpikir aku berselingkuh dan tidur dengan Kevin saat itu??? iya??? maka dari itu kau sangat membencinya bukan ".
Aku mencoba memberikan perlawanan pada nya, sembari memalingkan tatapan ku dari matanya. meski sungguh hatiku sudah semakin memanas.
" Lalu kenapa kau menghindari tatapan mata ku Fanny??? kenapa??? apa kau sudah melakukannya dengan Kevin??? jawab aku Fanny. . . jawab aku. . . ".
Ammar terjatuh bersimpuh di hadapn ku. Suaranya terdengar semakin lirih, Aku tidak menyangka jika kali ini Ammar kembali menitikkan air mata di hadapan ku.
" Aku memang sudah melakukannya dengan Kevin, bukan hanya dengan nya. Tapi dengan para lelakiku setelah aku putus dengan mu, aku sudah tidur dengan banyak lelaki, tapi tidak dengan dulu. Aku tidak pernah mengkhianatimu sedikitpun Ammar. Apa kau puas dengan jawaban ku ini??? "
" Kenapa kau tega memberikan jawaban yang begitu menyakitiku Fanny. . . kenapa??? apa kau begitu sangat membenciku hingga kau ingin membunuhku dengan jawaban mu itu. Aku tidak menyangka kau akan melakukannya dengan banyak lelaki aku tidak menyangka dengan mudahnya kau menerima cumbuan dari lelaki lain Fanny. . . kenapaaaaa??? "
" Semua karena kau. Karena kau Ammar, kau yang lebih dulu menghancurkan hidup ku. Kau yang membuatku berani melakukan itu semua, semua itu karena kau. . . kau Ammar, kau. impian ku hancur, harapan ku musnah, apa kau tau aku hampir membunuh diriku sendiri karena aku berpikir ini tidak adil. Dunia seolah terus mengejekku karena kebodohan ku yang rela melepas semua nya untuk lelaki brengsek sepertimu. . .semua karena mu Ammar. . . ".
Aku tidak mampu lagi menahan ini semua tangis ku pecah, tak tertahankan. Sementara Ammar terlihat semakin kacau dan ku lihat sebuah kehancuran dari sorot matanya.
" Fanny. . . aku. . . aku tidak tau harus dengan cara apa agar kau mau bersungguh sungguh memaafkan ku, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Fanny. Kembali lah pada ku. . . "
" Sudah terlambat Ammar. Terlambat, karena hatiku sudah mati rasa pada mu. Di hati ku kini hanya ada Kevin yang dengan tulus bersedia menerima ku apa adanya meskipun dia tau aku sudah tidak suci karena mu "
" Tidak. Jangan mengancam ku Fanny, ku mohon. Aku janji akan memperbaiki semuanya, aku janji akan menjadikan mu wanita satu-satunya di hidupku. Aku tidak akan pernah bisa rela melihatmu bahagia dengan yang lain Fanny. Pliss mari memulai dari awal lagi "
ucap Ammar berusaha meraih tangan ku dalam genggamannya.
" Maafkan aku Ammar, jangan memaksa ku lagi. Pulanglah, jangan semakin mempermalukan dirimu sendiri disini. Berbahagia lah dengan tunangan mu, dan biarkan aku bahagia dengan Kevin. Calon suami ku ".
Kemudian aku beranjak pergi melewatinya begitu saja. Aku berlari sekuat tenaga melangkahkan kaki ku untuk tidak lagi berhasil di cegah oleh Ammar.
Bathin ku. . .
__ADS_1
Kevin, andai detik ini kau bisa hadir di depan ku. . . mungkin tak akan sesakit ini. Bisakah kau lebih cepat kembali ke indonesia bersama ku??? aku takut. aku takut kembali bertemu dengan Ammar, aku takut hatiku berhasil dia goyahkan dengan kegilaan nya itu. Aku hanya ingin kau yang menemani hidupku sampai akhir Kevin. . . cepatlah kembali.